Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 16 – Serangan Fajar Hari Sembilan

Yang Datang dari Rumah Agung Sedayu

Benturan besi dengan besi tenggelam di bawah hujan yang kian rapat. Tubuh dan kuda beradu tanpa jeda, tanah bergelombang mematahkan laju, membuat penunggang yang masih memaksa kecepatan kehilangan keseimbangan. Teriak singkat bercampur dengus kuda yang terkejut, lalu lenyap di antara semak dan rumput liar yang tergilas.

Pasukan khusus berlompatan keluar dari persembunyian. Membuka gelar per kelompok dalam jumlah kecil tapi menggiriskan. Mereka terus-menerus mengubah gelar, dari Wulan Tumanggal menjadi Cakrabhuya – menarik setiap penunggang lalu melindas dengan tekanan penuh.

Pandan Wangi tidak berhenti pada satu arah. Dia bergerak menyilang, memotong ruang di antara dua penunggang yang hampir bertubrukan. Menjauhkan penduduk biasa atau pengawal yang terjepit. Tapi dia tidak mengejar; ia beralih, memutus gelombang berikutnya yang datang tanpa susunan rapi.

Ki Jayaraga bergerak di sisi yang lain. Sulit baginya untuk mengerahkan Sigar Bumi di antara senjata yang tidak bermata. Dengan sisa tenaga yang masih terkumpul, Ki Jayaraga memaksa dua penunggang kehilangan jarak aman. Satu jatuh lebih dulu, satu lagi terseret kuda sendiri.

Kepala keamanan Tanah Perdikan Ki Prastawa, menusuk ulang dengan para pengawal Tanah Perdikan. Dia cerdas memanfaatkan kekacauan itu, menyapu bersih bagian samping, mendesak lawan cepat, menutup celah yang nyaris menjebol pertahanan terakhir kediaman. Berada di dekatnya, Ki Argajaya menyusul dengan gerak yang tak lagi muda, tapi masih cukup tegas untuk menahan satu serangan lurus yang berbahaya.

Anak-anak panah terus datang, tapi hujan dan jarak membuat bidikan tidak lagi rapi. Beberapa menancap di tanah, beberapa patah oleh benturan tubuh kuda yang tumbang.

Di tengah kebisingan itu, seorang lelaki menyelinap keluar dari balik bayangan hujan. Dia tidak turut bertempur. Tubuhnya basah, napasnya teratur. Begitu jarak aman tercapai, dia berpaling lalu menembus arah yang berlawanan—menuju rumah Agung Sedayu.

Satu kalimat saja yang dia sampaikan bagi beberapa orang yang menunggu, singkat dan dingin, “Benturan terjadi.”

Di pategalan, gelombang penunggang mulai kehilangan tenaga. Mereka tidak lagi datang sebagai satuan, melainkan potongan- potongan kecil yang terseret keadaan. Pandan Wangi kembali menyambar, memaksa satu kelompok terpental ke arah semak. Suara patahan ranting dan desah tertahan terdengar jelas, lalu lenyap.

Ratap hujan dan kekacauan tidak dapat menyamarkan derap lain yang muncul.

Bukan dari hutan.

Bunyi itu datang dari arah yang lebih dalam, dari jalur yang mengarah ke rumah Agung Sedayu. Tidak cepat dan tidak tergesa.

Beberapa orang yang berada di pinggir pategalan lebih dulu menoleh lalu yang lain menyusul.

Seorang lelaki muncul dari balik tirai hujan, menunggang kuda dengan tubuh condong menahan sakit tahunan. Tangannya menggenggam tombak pendek. Jaraknya sudah kurang dari lima puluh langkah, tapi kehadirannya sudah memutus keraguan. Di kanan kirinya, dua sosok lain mengiringi: Mpu Wisanata dengan balutan luka yang belum sepenuhnya kering, dan Nyi Dwani yang memegang kendali kuda dengan tenang, tegang tapi terjaga. Paling belakang adalah Sayoga yang tajam mengamati pergerakan kecil dari arah yang mungkin tidak terduga.

Tidak ada seruan mengenalkan rombongan kecil yang datang belakangan. Tidak ada penjelasan dari orang-orang yang datang dari arah rumah Agung Sedayu..

Pandan Wangi merasakan perubahan udara sebelum menoleh. Dia melihatnya. Satu tarikan napas tertahan, lalu dilepas perlahan. “Ayah,” desahnya dalam hati. Tidak ada waktu yang tersisa selain untuk bergerak. Dia seperti terbang menerjang ke penunggang kuda yang lengah melintas di sampingnya.

Satu penunggang nekat menerobos perisai hidup dan berhasil mendekat. Ki Gede Menoreh menurunkan tombak pendeknya dengan gerak pasti. Ujung tombak menyentuh lebih dulu, memaksa penunggang itu terjungkal sebelum sempat mengayun senjata. Ki Gede menahan kudanya, napasnya berat tapi terjaga.

Mpu Wisanata ikut turun sebentar, menahan satu serangan yang tersisa dengan gerak singkat, lalu mundur kembali. Nyi Dwani melompat turun bertempur bersama Sayoga di sayap kiri pategalan.

Suasana menjadi makin bising tapi bukan sebab kemenangan.

Bising karena tidak percaya; Ki Gede masih hidup!

Semangat anak buah Raden Atmandaru runtuh seketika bukan karena kalah jumlah atau kemampuan, tapi buat apa? Tujuan utama serangan gagal: meruntuhkan simbol Tanah Perdikan. Kenyataan sebelumnya tiba-tiba terasa begitu getir ketika mereka benar-benar menjadi saksi kehadiran Ki Gede Menoreh di pategalan.

Ki Gede tidak melangkah lebih dalam ke pategalan. Dia mengangkat sebelah tangan lalu bergeser ke kediaman. Dan hujan masih turun tanpa peduli waktu.

Hari Sembilan Fajar

Gunung Kendil masih dicengkeram malam meski tampak longgar. Apakah langit timur tampak ragu ketika yang tampak hanya garis tipis berwarna merah?

Suitan nyaring bersahut-sahutan, melengking tinggi, memantul pada lereng-lereng yang basah oleh kabut. Gema berlapis, saling susul seperti gaung yang ingin mencari benturan.

Pada bagian tengah perkemahan, Raden Atmandaru memandang arah selatan. “Dia datang,” ucapnya pendek.

Seorang pengamat mendekati Raden Atmandaru, datang dengan langkah lebar, lapornya, “Bukan Agung Sedayu, tapi Ki Gede Menoreh.”

Raden Atmandaru terkesiap sesaat. Pandangannya tertahan sekejap, lalu mengangguk tenang.

Dari bagian depan perkemahan Raden Atmandaru, lima belas pengawal pilihan membunyikan berbagai alat dengan suara yang cukup kencang dan berirama cepat. Benar-benar gaduh, benar-benar kebisingan yang tak terkira dan itu untuk mengelabui lawan agar mengira mereka datang dengan jumlah yang banyak.

Ki Gede berkuda di barisan depan, memantau perkembangan bersama Nyi Banyak Patra dan Ki Lurah Plaosan, dengan wawasan yang mampu menembus lapisan kabut..

Dari jarak yang cukup, sesuai pengenalannya pada medan, Ki Gede mengangguk. Tombak pendeknya bergerak, tiba-tiba, separuh pengawal melepaskan anak panah pada arah tidak beraturan.

“Apakah Sedayu yang melepaskan panah?” tanya Ki Sonokeling seperti  bertanya pada dirinya sendiri. Tapi dia segera menepis keraguan itu.

Raden Atmandaru, yang berada di sampingnya, menggeleng. “Dia tidak memanah untuk mencari korban, tapi membatasi ruang gerak kita.” Kemudian berseru pada Ki Garu Wesi supaya membalas serangan lawan mereka.

Balasan datang dengan tujuan yang sama. Panah-panah dilepaskan sebagai jawaban dengan jarak yang terhitung. Sebagian menancap pohon, sebagian menikam tanah. Tanah di antara mereka kini dipenuhi batang-batang kayu ramping yang berdiri miring, membentuk pagar tak bertuan.

Nyi Banyak Patra dan Ki Lurah Plaosan mengerutkan kening. Itu bukan seperti yang mereka dengar dan saksikan selama mengikuti pertempuran.

Dari samping belakang Ki Gede, desir kaki-kaki yang merambat pelan terlebih dulu datang daripada bayangan. Pergerakan mereka tidak tergesa, Mereka berjalan begitu pasti dengan kepala tegak

Ki Lurah Sanggabaya bersama sekelompok orang dari pasukan khusus.

Sebagian orang tersentak.

Beberapa kepala menoleh cepat ke arah yang sama seolah masih menunggu sosok lain muncul dari balik kabut, tapi cukup lama dan tidak ada lagi tanda kedatangan yang lain.. Tapi, yah, yang datang itu adalah Ki Lurah Sanggabaya, dengan wajah yang menyimpan ketegasan lama serta mata yang mengamati medan dengan sangat kuat.

Kebisingan masih menggaung di udara. Panah-panah masih bergetar bersama derak batang yang patah. Namun demikian, di sekitar Ki Gede, waktu seperti berhenti sesaat. Kejutan kecil yang nyata. Mereka berharap yang akan muncul adalah Agung Sedayu.

Ki Lurah Sanggabaya berhenti pada jarak yang terukur. Dia berdiri di sisi Ki Gede, sedikit ke belakang. Ki Lurah Sanggabaya bersikap benar meski Ki Gede bukan kepala prajurit, tapi dia adalah pemilik wilayah.

Beberapa pengawal Tanah Perdikan saling berpandangan singkat. Ada yang memahami arti kehadiran Ki Lurah Sanggabaya, tapi ada juga yang belum.

Ki Gede menoleh lalu mengangguk. Tidak ada kejutan pada garis wajah dari orang yang sukarela menyediakan lahan bagi barak pasukan khusus pada awal pendirian.

Ki Lurah Sanggabaya tetap diam.

Nada suitan berubah. Tidak lagi melengking panjang, melainkan terpotong dan lebih rendah seakan mematahkan udara.

Pada saat yang sama, pada jalur selatan, para pengawal Tanah Perdikan bertukar kedudukan dan tugas. Pemanah awal bergeser mundur, kemudian menyebar, menempati sudut baru di belakang barisan pohon dan bebatuan besar

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 8 – Hari Kedelapan Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.