Dari barat, para pemanah—dengan perintah sebelumnya dari Agung Sedayu—segera menarik busur dengan serempak, dilepas tanpa henti, dan panah-panah meluncur membentuk sapuan mendatar, turun seperti hujan yang menimpa perkemahan Raden Atmandaru. Puluhan atau mungkin ratusan anak panah saling bersilang, menancap, memantul, patah. Tidak ada teriakan. Yang terdengar hanya bunyi kayu pecah, besi beradu, dan desir cepat yang berulang.
Namun berbalas serangan panah itu tidak lama. Setelah beberapa tarikan, panah berhenti dilepas. Dua kubu seperti sedang menahan diri pada garis baru yang telah terbentuk.
Fajar meminta kabut agar segera menepi untuk memperjelas garis-garis medan yang sudah ditandai batang panah.
Raden Atmandaru menghadap lereng selatan yang mulai terbuka oleh cahaya fajar. Ki Sonokeling mendekat, menunjuk arah barat dengan kata-kata lirih diucapkan.
Raden Atmandaru mengangguk dengan pandangan tidak lepas dari jalur selatan.
Di lereng barat, yang sedikit terbuka dengan permukaan yang tidak dapat dianggap curam, pasukan Ki Sor Dondong merangkak naik dengan tameng kayu di tangan. Perlindungan berlapis itu diperkuat pula oleh cahaya matahari yang menyorot dari punggung mereka walau terhalang kabut.
Pada jalur sempit, bayangan-bayangan itu merayap naik dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh prajurit terlatih. Dari belakang kelompok itu, puluhan atau ratusan anak panah meluncur dengan desing yang mengerikan lalu turun dengan kecepatan terukur. Yah, puluhan batang panah itu tampak seperti benteng yang mengapung, melindungi mereka dari kemungkinan serangan balasan dari puncak.
Bayangan pasukan Ki Sor Dondong terus bergerak. Melipat ruang tanpa gentar menjejakkan kaki, menekan tanah, lalu mengadu keberanian dengan pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Brumbung.
Benturan pertama terjadi tanpa teriakan. Bunyi besi bertemu besi terdengar tumpul. Dua pasukan beradu ketangguhan, kekuatan dan juga kecepatan dalam jarak dekat.
Sejak awal, tidak ada ruang untuk ragu.
Di medan timur, yang terjadi justru bertolak belakang dengan lereng barat. Di sini, permukaan tanah seakan sedang berusaha mengulurkan damai dan ketenangan, tapi setombak di atasnya, udara menolak sangat keras!
Tarikan busur, pelepasan, lalu desir panjang yang saling silang tetap menjadikan hari itu menjadi hari yang bising. Apakah ada yang salah ketika panah dilepaskan tapi tidak untuk mencari sasaran?
Glagah Putih berulang-ulang mengangkat tangan – perintah bagi anak buahnya agar tetap menahan langkah. Setapak maju berarti ada korban meski lawan tidak diuntungkan dari segi penglihatan. Yah, para pemanah yang dikendalikan Ki Sambak Kaliangkrik sedikit tersudut karena berhadapan langsung dengan keperkasaan matahari. Walau demikian, mereka tetap bergerak maju sambil melontarkan panah dari dalam gelar perang yang ketat.
Kebisingan itu dijawab. Dari seberang, balasan datang dengan aba-aba Glagah Putih. Mempunyai jeda yang nyaris serupa, memiliki tujuan yang hampir sama sehingga perang terlihat seperti mainan belaka.
Mereka menghentikan langkah dalam jangkauan serang yang nyaris sempurna. Tapi udara timur masih dipenuhi suara yang saling mengalahkan. Masing-masing pimpinan, baik Glagah Putih maupun Ki Sambak Kaliangkrik, seakan ingin menegaskan kehadiran.
Lalu, seperti sebelumnya, panah berhenti dilepas.
Udara menjadi sunyi. Keheningan mencengkeram meski gaung dari arah seberang masih terdengar.
Jalur selatan menjadi sunyi terlebih dahulu.
Gema perang memilih untuk mengendap lalu merayap, menyebar di permukaan tanah dan air.
Ki Lurah Sanggabaya menepuk pundak senapati pendamping, lalu mengangguk pada Ki Gede dan dua orang lainnya – Nyi Banyak Patra dan Ki Lurah Plaosan. Perlahan tapi tidak dapat disebut pelan, Ki Lurah Sanggabaya menarik diri ke belakang.
Ki Gede dan pengawal Tanah Perdikan turut bergerak mundur, sedangkan pasukan khusus merambat maju setapak demi setapak sampai lengan senapati pendamping terangkat. Pergeseran yang teratur tanpa mengurangi kesiagaan.
Ki Lurah Sanggabaya sudah tidak berada di depan. Dia menarik diri ke belakang, menjaga hubungan antarlini agar tetap utuh, merapatkan yang terserak dan yang mundur karena salah mengartikan perintah.
Sebuah bayangan meluncur dengan kecepatan yang tak terukur dari arah kedatangan Ki Lurah Sanggabaya. Menapak kaki tanpa suara. Agung Sedayu berdiri tegak di samping Ki Gede, lalu menyapa Nyi Banyak Patra dan Ki Lurah Plaosan secukupnya.
Seorang pengamat datang tersaruk-saruk. Berita penting.
“Barat hampir tersapu,” lapornya pada Agung Sedayu. Sambil berbisik pada Agung Sedayu, dia mengatakan bahwa seorang lelaki tua dengan ciri tertentu, terjun ke medan lalu membuat segalanya nyaris runtuh,
Lereng barat nyaris jatuh itu benar.
Sebelum pengamat itu masuk jalur selatan, dalam waktu itu, Ki Sor Dondong mengatur kerapatan dan kerapian gelar pasukannya dari kedudukan yang tidak wajar. Ini benar-benar ganjil! Dia tidak berada di depan tapi berada di samping pasukannya yang menyebar memenuhi lereng barat. Gema perintahnya memantul melalui pekik perang yang dilantangkan anak buahnya.
Ki Demang Brumbung masih berada di puncak lereng yang tersambung dengan kaki lereng Gunung Kendil memicingkan mata. Memeras otak untuk menjaga keseimbangan. Tapi ketidakwajaran itu datang dengan kesulitan yang sangat tinggi. Lawan mereka pun bukan orang berkemampuan rendah atau sekadarnya – benar-benar terlatih dengan kepatuhan tinggi.
“Tidak ada jalan lain,” Ki Demang Brumbung berkata pada dirinya sendiri dengan suara yang cukup jelas didengar orang di sebelahnya. Medan tempur memang sangat berat meski bagi prajurit yang sarat pengalaman seperti dirinya. Betapa tidak, untuk mencari pemimpin lawan pun begitu sulit dan hampir sangat sulit. Dengan perhatian yang terpecah ketika lapis pertama tumbang serta hujan panah yang ternyata turut bergerak maju, maka pemindaian pun butuh waktu lebih lama bagi Ki Demang Brumbung untuk memastikan pemimpin lawan.
Tiba-tiba Ki Demang Brumbung melesat tajam, menyambar sayap kanan barisan lawan!
“Ki Demang,” orang itu berkata pula tanpa menoleh pada pemimpin pasukan. Suaranya tertinggal di belakang bayangan.
Ki Sor Dondong melayang tinggi dari samping yang sejajar dengan titik tengah barisan, menerjang barisan pelapis pasukan Ki Demang Brumbung dengan serangan membadai.
Suasana sangat kacau! Beberapa orang terguling saat keseimbangan mendadak hilang. Sebagian terlempar ke atas. Itu kekuatan yang tidak main-main!
Ki Demang Brumbung mendekat, melabrak dengan kekuatan yang digandakan dari kecepatannya. Lurah Mataram ini segera mengikat Ki Sor Dondong dalam perkelahian yang sangat seru.
Pada saat lereng barat diterpa kekacauan luar biasa, ketika fajar tegas memilih jalan untuk menepi, derita pasukan Ki Demang Brumbung menjadi berlipat. Bayangan terus bergerak. Ada yang tumbang lalu terguling ke bawah. Ada yang tumbang lalu membujur begitu saja. Ada pula yang tegak tanpa sorak kemenangan.
Ledakan terjadi beruntun di lereng barat. Derita pasukan Ki Demang Brumbung makin bertambah hebat ketika Ki Manikmaya melabrak mereka dengan kekuatan penuh!
Raden Atmandaru memalingkan pandangan meski terhalang baris pepohonan yang tidak teratur. Pengamatnya juga melaporkan bahwa kendali ada di tangan mereka. Tapi Raden Atmandaru tetap bersikap dingin. Tidak ada ucapan yang manggambarkan suasana hatinya ketika orang sekitarnya menyerukan ucapan penuh semangat.
“Dia akan datang,” ucapnya datar.
