Sepak terjang Agung Sedayu akhirnya dapat mengembalikan keseimbangan pasukan. Untuk sejenak, dia mengamati gelanggang Ki Demang Brumbung yang mulai kepayahan dengan tekanan berat dari Ki Sor Dondong.
Agak jauh dari lingkar perkelahian itu, pertarungan Nyi Banyak Patra dan Ki Manikmaya telah berubah menjadi pertarungan yang sulit dilihat. Seolah-olah mereka tidak lagi seperti bayangan tapi sesuatu yang sulit dijabarkan.
Agung Sedayu menengadahkan wajah.
Gaung bende dari kubu Raden Atmandaru berkumandang. Untuk pertama kali memantulkan suara ke segala arah.
Hampir serentak terjadi perubahan! Meski demikian, perubahan itu belum dapat dirasakan oleh orang-orang yang berada di lereng barat. Tapi para pemimpin kelompok dari Menoreh dapat menyadari tekanan yang berkurang. Setapak demi setapak, lawan mengambil jalan mundur.
Ki Garu Wesi melengkingkan suitan yang berbeda nada. Anak buahnya tiba-tiba berbalik arah menuju perkemahan dengan cepat. Demikian juga yang dilakukan Ki Sambak Kaliangkrik menarik mundur pasukannya sambil melepaskan anak panah dengan perhitungan yang sangat baik.
Namun, Glagah Putih dan Ki Lurah Plaosan tidak tampak mengejar. Mereka membeku dengan kesiagaan tinggi sambil mengawasi pergerakan lawan.
Tapi itu tidak terjadi di tempat Agung Sedayu berada.
Di barat, pantulan bende datang terlambat. Dengan usaha keras, pasukan Ki Sor Dondong beringsut setapak demi setapak. Sekali-kali mata mereka membentur tubuh-tubuh yang tak bergerak.
Di lereng yang licin oleh hujan, banyak orang telah terbaring tanpa napas. Lereng itu berubah menjadi tempat istirahat sementara bagi mereka yang berangsur-angsur mendingin.
Ki Sor Dondong melepas ikat pertarungannya dengan Ki Demang Brumbung—padahal belum ada yang benar-benar terdesak di antara mereka.
Tekanan lawan mengendur, lalu surut. Gerak mereka teratur tapi Agung Sedayu tidak memberi perintah untuk mengejar. Dia memilih untuk kembali mengambil jarak.
Gaung bende yang masih menggantung di udara ketika dia menghampiri satu demi satu anak buahnya yang terluka. Merapikan jasad yang masih hangat. Perintah pun disusulkan olehnya sebagai tindakan menghormati kawan yang pergi tanpa pesan.
Ki Manikmaya tiba-tiba berbalik. Tidak ada aba-aba, tidak ada kata. Dia menyelinap di antara tubuh-tubuh yang ditinggalkan, menuruni lipatan tanah. Kepergiannya cepat dan senyap.
Nyi Banyak Patra merasakan perubahan itu paling awal—bukan lewat mata, melainkan lewat tarikan napas yang mendadak terasa asing. Dia menyapu medan dengan pandangan yang tajam: lawan mundur. Alisnya berkerut. Ini bukan pola yang dikenalnya. Terlalu banyak yang berubah dalam rentang yang terlalu singkat. Dia melangkah tenang ke jalur selatan dengan pikiran masih tertuju pada satu orang; Kinasih.
Dari kejauhan, medan mengendur. Tapi Gunung Kendil masih menyimpan berita yang belum diungkapkan.
Maaf
Gaung bende telah mengendap, tetapi medan belum sepenuhnya menjadi sunyi.
Pasukan telah ditarik mundur. Di tengah perkemahan, enam orang duduk melingkari sebongkah batu yang tak pernah dipindahkan sejak malam pertama mereka tiba. Api kecil menyala tapi hanya cukup untuk menahan hawa dingin.
Empat tempat kosong di lingkaran itu tidak menjadi perhatian. Semua orang tahu: Ki Astaman tidak kembali sejak serangan yang gagal dari bagian belakang kediaman Ki Gede Menoreh. Ki Garjita yang tak junjung menampakkan diri sejak Watu Sumping jatuh ke tangan Mataram. Ki Hariman dan Gendhis yang tiba-tiba menghilang sejak mereka menerima kabar kematian Ki Gede. Tapi kehilangan itu tidak diratapi karena menyisakan kegeraman dalam hati banyak orang.
Raden Atmandaru duduk dengan dua tangan bertumpu ringan pada lutut. Tidak ada kegelisahan pada sikapnya meski empat orang yang sebelumnya digadang-gadang dapat dihadapkan secara langsung dengan orang-orang Menoreh tiba-tiba menghilang. Wajahnya pun menunjukkan keyakinan; bahwa semua telah berjalan sesuai rancangan.
Siasat atau rancangan Agung Sedayu, baginya, bukan lagi teka-teki. Agung Sedayu tidak mengejar pengikutnya berarti tidak ada yang berubah dalam barisan senapati Mataram itu. Penarikan pasukan barusan justru menguatkan dugaan lama: tidak ada perubahan posisi. Tidak ada lompatan berani. Tidak ada langkah di luar kebiasaan.
“Apakah Raden tidak berencana mengubah kedudukan para senapati?” tanya Ki Sonokeling dengan berani.
“Agung Sedayu akan menunggu karena hanya itu yang dapat dilakukannya saat ini,” sahut Raden Atmandaru. “Watu Sumping, dia menunggu. Di rumah induk, dia juga menunggu. Di Alas Krapyak, dia pun menunggu. Agung Sedayu setia dan sabar menunggu lawannya membuat kesalahan atau bergerak lebih dulu. Itu adalah senjatanya yang utama.”
“Raden tidak salah,” ucap Ki Garu Wesi. “Tapi dengan mengubah kedudukan, kita dapat memberi kesan dan pesan yang berbeda, terutama pada pasukannya.”
“Aku mengerti. Bahwa kita tidak terguncang, itu benar. Kita tidak terluka, itu benar. Tapi dengan mengubah kedudukan setiap atau beberapa orang, itu akan memantik perhatiannya. Dia akan memutar pula pengikutnya lalu mengguncang perkemahan ini,” kata Raden Atmandaru.
Ki Garu Wesi dan Ki Sonokeling hanya dapat menarik napas. Sedangkan Ki Manikmaya seakan tidak peduli dengan pembicaraan itu.
Raden Atmandaru tidak lagi menoleh. Tidak perlu, pikirnya. Dia memandang lekat tanah yang diinjaknya. Semua telaah sudah dilakukan: lintasan medan, kebiasaan lawan, gelar perang saat menyerang dan bertahan, membuat jebakan, bahkan jeda yang sengaja diciptakan. Rumusan itu tersusun rapi di kepalanya, terikat dan saling menguatkan. Dia tahu, pada titik tertentu, orang akan menyebutnya terlalu yakin atau keras kepala. Tapi dia juga tahu keyakinan dan keras kepala itu lahir dari penguasaan dan pembelajaran yang lama diasah.
Namun ada satu hal yang tidak sepenuhnya tunduk pada perhitungan. Bayangan Ki Suta Jaladri melintas tanpa diundang. Kematian itu tidak merusak rencana, tetapi meninggalkan kecemasan. Ki Suta Jaladri adalah satu-satunya orang yang menguasai medan seperti Gunung Kendil. Dia sangat mengerti tanda alam maupun letak tebing meski tak sebaik orang wilayah. Bagi Raden Atmandaru, celah itu sangat sulit ditambal.
Sekali-kali terdengar gemuruh guntur di kejauhan. Raden Atmandaru mendongakkan wajah, kemudian turun sejenak lalu berkata, “Perintahkan orang-orang untuk kembali pada kedudukan masing-masing. Sedayu mungkin akan datang malam ini.” Dia mengambil jeda sejenak dengan rahang mengeras. “Atau mengulangnya lagi besok pagi.”
Api berkeretak pelan. Kabut makin menebal.
Gaung bende telah mengendap, tetapi medan belum sepenuhnya menjadi sunyi.
Bau logam, tanah basah, dan napas manusia yang tertahan masih mengapung di lereng Gunung Kendil. Belum ada jaminan selamat sekalipun dua pasukan sudah menarik diri. Jarak masih membentang dan persoalan belum mendapatkan jawaban.
Di jalur selatan, pasukan Agung Sedayu yang terdiri dari gabungan pasukan khusus Mataram dan pengawal Tanah Perdikan Menoreh masih berada dalam barisan yang rapat. Sebagian tampak merawat kawan-kawan mereka yang terluka di lereng barat. Sejumlah orang yang lain terlihat membenahi perlengkapan persenjataan.
Suasana berkabung jelas merundung hampir seluruh pasukan Menoreh. Berpisah dengan kawan dengan banyak kenangan yang tertinggal menjadi cerita lain di lereng Gunung Kendil. Tidak ada sorak kemenangan, meskipun lawan pun banyak jatuh korban. Kemenangan tidak ditimbang berdasarkan selisih korban, tapi keteguhan dan ketangguhan jiwani saat melampaui itu semua. Mereka sadar bahwa yang terjadi saat fajar bukanlah akhir dari perjalanan.
Agung Sedayu duduk berdampingan dengan Nyi Banyak Patra. Dua orang tersebut tidak mengalami banyak perubahan pada garis-garis wajah – masih tampak tenang. Sekali-kali mereka memandang ke lereng barat. Yah, ada duka yang tercecer di sana tapi tidak ada kawan yang berbaring dengan kesunyian.
Dalam waktu itu, Agung Sedayu tidak bertanya alasan guru Kinasih datang ke Gunung Kendil. Itu sudah jelas sebuah keadaan yang dapat dimengerti. Namun demikian, senapati Mataram tersebut sempat menimbang, apakah kekuatan ilmu Nyi Banyak Patra dapat diserap ke dalam gugus tempur? Tak lama kemudian, Agung Sedayu menggerakkan kepala.
“Ada apakah, Ngger?” tanya Nyi Banyak Patra yang menangkap gerakan kecil itu.
Agung Sedayu menarik sedikit napas, lalu berkata, “Bukan sesuatu yang pantas diucapkan di depan sesepuh seperti Anda, Nyi.”
“Itulah dirimu, dalam keadaan di bawah tekanan masalah besar, masih juga menimbang pantas dan tidak pantas,” ucap Nyi Banyak Patra diiringi senyum yang mempunyai banyak arti.
Lereng Gunung Kendil tampak mengendur. Yang terdengar hanyalah bisik-bisik beberapa orang, derap langkah prajurit dan pengawal yang masih terikat oleh kegiatan dan sedikit urusan penting lainnya.
Agung Sedayu beranjak bangkit, memisahkan diri dari Nyi Banyak Patra dengan kesan penuh penghormatan. Tak lama setelah itu, beberapa orang sudah mengelilingi pemimpin pasukan khusus tersebut. Dia mengungkapkan beberapa hal, di antaranya adalah pergeseran dilakukan dengan pertimbangan yang wajar. Glagah Putih beralih ke lereng barat. Jalur selatan akan dikendalikan langsung oleh Agung Sedayu dengan Ki Prana Aji sebagai senapati pendamping. Medan timur akan ditempati Ki Demang Brumbung.
Sejumlah orang yang berada selapis dari lingkaran mengernyitkan dahi. Ki Prana Aji di lereng selatan? Mereka semula tidak keberatan karena di belakangnya ada Ki Lurah Sanggabaya. Tapi, bukankah Ki Prana Aji terpukul mundur berturut-turut di medan utara pedukuhan induk dan kediaman Ki Gede?
Agung Sedayu mengetahui keberatan yang tidak terucap melalui sinar mata dan wajah kebanyakan orang, lalu katanya, “Jalur selatan ini mempunyai kemiripan lingkungan yang hampir serupa dengan medan utara. Ki Prana Aji melangkah mundur di medan utara bukan karena ketidakmampuan, tapi karena sesuatu yang tidak terduga. Di sini, beliau tidak sendiri. Ada Ki Sanak sekalian yang saya yakin akan lebih cepat mengulurkan tangan sebelum kecemasan itu datang.”
Meski pemimpin mereka tidak mengatakan terus terang, tapi mereka paham keterusterangan justru akan membuat retakan di dalam jiwani Ki Prana Aji dan sebagian orang. Mereka mengangguk, lalu menyimak kembali pesan-pesan Agung Sedayu dengan segenap perhatian.
