Medan Timur
Nyaris serentak! Benturan pecah di semua medan. Regu Ki Sambak Kaliangkrik berhamburan seperti genangan air yang terciprat tanpa bentuk dan rupa. Gelar dan gerak hampir menjadi ketiadaan. Sangat kacau. Perintah saling tindih, aba-aba terlambat, dan arah serang tidak lagi sejalan. Semua orang berteriak tanpa kejelasan maksud atau tujuan. Sebagian mencoba membentuk garis, sebagian lain bergerak tanpa poros, terjebak antara naluri bertahan dan dorongan menyerang.
Pasukan gabungan Ki Demang Brumbung menerobos masuk dengan perhitungan masak, langkah terukur lalu memotong-motong kelompok kecil yang kehilangan arah dan pimpinan.
Hanya ada pekik perang yang segera lenyap di dalam mulut kabut. Derak senjata, napas tercekik, dan seruan pendek bergantian menggeliat menembus kepekatan kabut lereng timur Kendil.
Ketika kebingungan menjadi musuh pertama mereka, ketika kekacauan itu telah menjatuhkan korban, Ki Sambak Kaliangkrik menahan diri. Pandangannya menyapu sisi timur perkemahan. Seseorang ada di berada di balik ini semua, pikirnya dengan yakin.
Ki Sambak Kaliangkrik bergerak menyusur pinggir lingkar pertempuran, menghindari benturan langsung, menyingkap kabut dengan kesadaran nalar. Kemudian tampak seseorang yang berdiri tenang, memberi isyarat dengan aba-aba pendek yang hanya dimengerti pasukannya.
Panggraita Ki Demang Brumbung cepat; mengisyaratkan datangnya pemangsa yang mengintai di balik gelap. Dia berpaling pada arah Ki Sambak Kaliangrik. Pandangan terbatas – meski sesungguhnya mereka sudah saling menatap dalam satu garis lurus.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Kekacauan melanda kubu Raden Atmandaru sekalipun mereka telah bersiap, tapi siapa sangka Agung Sedayu dan Tanah Menoreh datang menggebrak ketika alam justru bersikap kejam?
Pusat Kendali
Ki Manikmaya berdiri agak jauh dari Ki Sonokeling di tepi hiruk pertempuran. Pandangannya tertambat pada Agung Sedayu. Sesuatu sedang menarik perhatiannya. Yah, dia mengamati cara Agung Sedayu bertempur.
“Dia masih berada di luar jangkauan ilmunya,” ucap Ki Sonokeling.
Ki Manikmaya mengangguk. “Tidak ada getaran. Orang itu bertumpu pada kecepatan dan ketepatan perhitungan. Saya kira jika dia adalah Agung Sedayu, maka medan ini sepertinya sudah berada dalam kendalinya.” Terbersit keinginan untuk menjajal kemampuan senapati Mataram tersebut. Dia sadar bahwa dirinya tidak mempunyai persoalan pribadi dengan pemimpin pasukan khusus itu. Tapi, justru karena tidak ada permasalahan itulah yang membuat dirinya tertarik untuk menantang Agung Sedayu. “Saya ke sana.”
Ki Sonokeling mengangguk kemudian mengarahkan pandangan pada tempat Raden Atmandaru berada.
Ki Manikmaya menggeser langkah, mendekati Agung Sedayu melalui sudut yang tidak mengundang. Kabut memberinya perlindungan meski cahaya tetap bersikap kejam. Saat jarak cukup untuk saling menyadari, Ki Manikmaya berhenti. Hanya kehadiran yang disengaja untuk menghisap perhatian.
Agung Sedayu menangkapnya. Putaran cambuk mereda untuk membuka ruang.
Mereka berhadapan, saling menguji dengan tatap dan sikap tubuh, Mereka sama-sama mampu menahan keseimbangan dan jarak. Dua orang itu saling menakar batas sekaligus kedalaman.
Pertarungan lain terus berlangsung di sekitar mereka, tetapi di titik ini, waktu berjalan dengan ukuran yang berbeda.
Nyi Banyak Patra melangkah di antara sela pertempuran dengan langkah yang selayaknya perempuan tua berjalan meski tidak terganggu dengan tanah berlumpur. Tapi aneh! Setiap senjata yang salah sasaran atau memang kesengajaan selalu menyambar ruang kosong. Guru Kinasih itu pun tidak terlihat menghindar dengan lompatan atau langkah yang dipercepat. Sepertinya semua berjalan sangat wajar.
Nyi Banyak Patra mengayun kaki dengan wajah tenang, pandangan bersih, tapi inderanya bekerja tajam. Di tengah riuh, dia menangkap getar yang tak asing—pancaran ilmu yang pernah dikenalinya dengan baik. Ki Manikmaya.
Namun Nyi Banyak Patra tidak mempercepat langkah. Dia memotong sudut, memintas ruang yang tidak dijaga.
Saat jarak menyempit, dia menghentakkan tumitnya perlahan—cukup untuk memecah keseimbangan halus yang menopang sikap Ki Manikmaya. Pada saat yang sama, telapak tangannya bergerak pendek dan lurus, tanpa ayunan, tanpa niat membunuh. Serangan kejutan itu datang bukan dari tenaga, tapi dari pilihan waktu.
“Cukup,” ucap Nyi banyak Patra dengan sedikit lambaran tenaga cadangan agar tidak tergencet kabut yang pekat.
Agung Sedayu mengenal suara itu, lalu bergeser mundur. Melirik sebentar kemudian mengangguk.
“Terima kasih, Ngger,” lanjut Nyi Banyak Patra ketika Agung Sedayu membuka ruang untuknya.
Ki Manikmaya tidak tampak terkejut. Agaknya dia sudah mengira bakal ada pertemuan berulang antara dirinya dengan Nyi Banyak Patra. Napasnya terkendali meski ada yang tetap disesali; gagal menjajagi kedalaman ilmu Agung Sedayu. Orang ini juga sadar bahwa waktu seperti sekarang pun pasti tetap datang untuknya.
Kabut terbelah tipis di antara mereka.
Nyi Banyak Patra berdiri di jarak yang tidak aman tapi sepenuhnya terkendali.
“Tidak perlu ada perbincangan dan pembelaan diri. Semua orang menganggap dirinya benar dengan ribuan alat pembenaran,” kata Ki Manikmaya.
Nyi Banyak Patra memandangnya lekat, kemudian berkata, “Terima kasih dengan tidak menyentuh muridku.”
Ki Manikmaya mengangguk tanpa merasa tersanjung. Dia tidak berurusan dengan Kinasih meski gadis itu dapat dikatakan mewarisi jalur ilmu Banyubiru. “Aku hanya tidak mengenal wajahnya dan juga tidak bertemu langsung dengannya walau kebetulan saja.”
“Tapi kau dapat mencarinya.”
“Aku tidak ingin membuang waktu,” kata Ki Manikmaya.
Di sekitar mereka, pertempuran terus mengalir, tetapi keseimbangan mulai goyah dengan suara dan darah.
Murid utama Kyai Gringsing ini kemudian bergeser tempat. Dia menurunkan tekanan hingga tinggal sisa gerak yang sekadar menjaga jarak. Tekanan di sekelilingnya menyusut seiring tanda-tanda keseimbangan medan mulai jelas. Senapati Mataram ini berjalan, menyusuri tepian pertempuran dengan langkah tenang.
Di salah satu bagian perkemahan, pandangannya menangkap dua sosok. Yang satu duduk di atas batu rendah dengan sikap yang seolah kekacauan di sekeliling tidak menganggu perhatiannya. Yang lain berdiri dengan sikap siaga. Mereka jelas sedang mengawasi pertempuran dengan ketenangan yang tidak wajar.
Agung Sedayu mendekat tanpa mempercepat langkah. Jarak menyempit.
Orang yang duduk melihat perubahan arah itu. Sedayu, pikirnya lalu bangkit, merapikan kainnya, lalu melangkah pergi membelah kabut dengan langkah tanpa tergesa, tanpa menoleh.
Yang berdiri menyesuaikan sikap, membuka sudut pandang, tapi seperti juga masih tak peduli dengan keberadaan Agung Sedayu yang kian dekat.
“Selamat malam,” ucap Agung Sedayu ketika semakin dekat dengan orang yang berdiri itu. Sapaan Agung Sedayu itu terdengar seperti sebuah sindiran karena waktu belum benar-benar malam. Bahkan, batas siang dan senja pun seakan tidak ada!
Orang itu, Ki Sonokeling, mengangguk lalu menyahut, “Berhentilah di sini.”
Agung Sedayu berhenti karena lengan Ki Sonokeling terjulur merintangi jalurnya. Tatap mata mereka saling bertemu. Mereka sama-sama tahu tidak ada jalan tengah yang tersedia untuk selanjutnya meski tidak selalu harus berakhir dengan pertarungan.
Hening menyelubungi jarak di antara mereka. Lengan Ki Sonokeling tetap terjulur, Agung Sedayu menerimanya tanpa perubahan sikap.
Pandangan mata Ki Sonokeling tidak goyah, Agung Sedayu menoleh sekilas ke belakang, memastikan pertempuran tetap terkendali. Lantas kembali menatap Ki Sonokeling.
“Kyai, waktu Anda semakin sempit. Tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi. Saya harap Kyai berkenan untuk mempertimbangkan,” kata Agung Sedayu.
Ki Sonokeling mundur setapak lalu memandang Agung Sedayu dengan tatapan mata dingin. Dia memastikan bahwa, setelah ucapan itu, tidak ada perubahan pada sikap Agung Sedayu. “Ini kepercayaan diri dan keyakinan yang tinggi,” ucapnya dalam hati.
Di belakang mereka, arus pertempuran terus mengalir. Di depan mereka, batas sudah terpasang.
Medan kembali bekerja dengan caranya sendiri.
Di tepi lingkaran, pada batas luar pertempuran di dalam perkemahan, beberapa senapati pendamping diam-diam menyelinap searah dengan jejak Raden Atmandaru.
