Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 26 – Menjelang Laga Pamungkas Gunung Kendil

Tumbangnya Ki Sambak Kaliangkrik

Ki Sambak Kaliangkrik menarik napas pendek, mengatur ulang kuda-kuda. Waktu semakin menipis seiring dengan medan yang semakin sempit.

Pedang Ki Lurah Plaosan kembali menyambar datar, menyilang rendah, sementara Ki Demang Brumbung menekan dari sisi lain, memaksa jarak tetap rapat. Tidak ada ruang untuk mengembangkan ilmu simpanan yang dahsyat. Dua lurah Mataram itu benar-benar tidak memperlihatkan celah yang dapat dimanfaatkan olehnya. Satu-satunya jalan baginya adalah menerobos pertahanan Ki Lurah Plaosan yang dianggapnya paling lemah dibandingkan Ki Demang Brumbung.

Ki Sambak Kaliangkrik menghentak segenap kekuatan, menerjang maju. Ki Lurah Plaosan membenturkan pedang tapi dia terdorong setapak. Tiba-tiba dari belakang Ki Lurah Plaosan, sebatang tombak prajurit dari pasukan khusus terangkat, Ki Sambak Kaliangkrik terlambat menghindar. Ujung tombak pun menancap tepat di bawah  ketiak! Dia terhuyung lalu jatuh terkulai dengan tatap mata tidak percaya.

Perang bukan panggung tunggal.

Ki Lurah Plaosan dan Ki Demang Brumbung berhenti serentak. Mereka sadar bahwa itu bukan tikaman yang disertai perhitungan. Seorang prajurit tersadar terlambat, lalu memandang dua pemimpin pasukan Mataram itu.

“Tidak ada yang patut disalahkan. Inilah perang,” gumam Ki Demang Brumbung, suaranya datar. “Sering kali merebut hasil dari kejadian yang tidak diinginkan.”

Sayap timur terdiam sesaat, lalu bergerak lagi. Kendali beralih sepenuhnya pada pasukan gabungan Mataram. Nama besar dan kesaktian runtuh karena ketidaksengajaan yang digerakkan oleh kesadaran untuk bertahan.

Namun kabut tetap menghalangi pandangan setiap orang sementara hujan terus mengguyur Pegunungan Menoreh tanpa peduli dengan jumlah korban.

Apakah Kinasih dapat bertahan?

Ketika mengetahui Kinasih berkelebat memburu mangsa yang gagal diterkam Sayoga, Pandan Wangi bergerak cepat.  Dia membagi tugas tanpa suara. Sayoga dan Sukra kembali menempati kedudukan awal, menjaga simpul jalur. Sedangkan Pandan Wangi menuruni lembah, menuju jejak Kinasih. Secepatnya dia harus dapat menemukan gadis itu atau sesuatu yang buruk dapat terjadi.

Kabut kembali menutup, hujan tetap merata.

Pandan Wangi cukup mengenal baik lingkungan yang diperkirakannya menjadi tempat pendaratan Kinasih. Itu ada di antara dua tebing curam dengan dasar yang menyimpan lereng sempit yang miring. Hujan sejak beberapa hari lalu membuat permukaan yang tidak rata itu menjadi   licin dan tidak rata, bahkan satu jalur dapat berubah menjadi sungai untuk sementara waktu bila hujan bertambah lebat. Tanah berubah menjadi lumpur yang membenamkan kaki. Itu bukan masalah kecepatan atau kekuatan, tapi apakah ada jebakan alam di bawah permukaan lumpur?

“Jika Kinasih dapat bertahan hidup, dia akan tersesat. Jika dia mati, setidaknya aku bisa bawa pulang jenazahnya,” kata Pandan Wangi dalam hati.

Kabut menjadi lawan terberat bagi perempuan tangguh itu ketika memulai pencarian jejak Kinasih. Jarak pandang cukup pendek dan cahaya cukup tegas karena tidak ingin berbagi. Suram yang benar-benar muram. Apakah saat itu masih petang atau menjelang malam? Tidak ada sesuatu yang dapat memandu. Sekali waktu kilat agak berbaik hati meski sumber terangnya sangat jauh, tapi setidaknya cukup untuk mengamati lingkungan.

Pandan Wangi tahu keadaan tempat yang sedang dijelajahinya. Bila cuaca bersahabat, maka tempat itu mempunyai pemandangan terbaik di seluruh perbukitan Menoreh. Bila cuaca buruk, maka tempat itu akan berubah sifat.

Tebing memantulkan suara tidak utuh—sebagian terserap oleh lumut dan batang pohon yang basah. Langkah di atas lumpur dapat terdengar tapi tidak akan diketahui secara pasti, apakah lebih dekat atau lebih jauh dari aslinya? Napas sendiri dapat terdengar seperti napas orang lain. Maka pantaslah jika putri Ki Gede Menoreh ini cemas dengan keselamatan Kinasih meski gadis itu mungkin berada pada tataran kanuragan yang lebih tinggi darinya. Yah, Pandan Wangi sadar kadang-kadang alam memang sulit dimengerti.

 

Setelah meninggalkan tubuh diam Ki Sonokeling dan pusat perkemahan yang mulai dapat dikendalikan laskar gabungan Mataram, Agung Sedayu mengayun langkah lebar secara mantap. Dia sudah menyerahkan penjagaan jalur utara pada Pandan Wangi di jalan setapak yang dikenal terbatas sebagai jalur ular.

Dalam waktu itu, Agung Sedayu sedikit disentuh dengan sebuah bayangan kejadian yang akan datang. Mungkin Keraton akan bertanya tentang keputusannya. Mungkin Kepatihan juga bersikap sama. Seandainya itu terjadi, bagaimana dia menjawab itu semua dengan jujur dan terbuka? Secara tiba-tiba pula, wajah Swandaru muncul sebagai bayangan kelam dalam pandangannya. Ke mana dia pergi? Apakah dia yang menjadi sebab kepergian adik seperguruannya itu?

Pada arah yang ditempuh Agung Sedayu, segala sesuatu menjadi tidak masuk akal termasuk ketika dia memasuki wilayah atau lingkungan yang nyaris tidak terjangkau. Suasana dan keadaan alam yang tidak bersahabat dengan akal sehat.

Dia berhenti di sana, di lorong atau mungkin tanah sedikit lapang? Entahlah, beberapa langkah di sampingnya adalah semak-semak padat dan akar yang membujur lintang. Di depan hanya tampak kabut dan sisa cahaya yang sebenarnya tidak dapat dikatakan tersisa.

Dari celah tebing di sisi yang lebih tinggi, seseorang turun dengan langkah pasti dengan keyakinan tinggi. Sekali-kali dia berhenti, mengedarkan pandangan lalu berjalan lagi. Kakinya mencari pijakan yang paling masuk akal di tanah licin, lalu berpindah lagi. Kabut menutup tubuhnya sebagian, tapi seakan tidak menjadi halangan ketika pergerakannya mengarah pada jurusan yang jelas: lereng sempit di bawah.

Raden Atmandaru berhenti pada jarak yang tidak ingin diketahui. Tebing di sampingnya menutup kemungkinan lain; lereng di bawahnya tidak menerima kesalahan. Dia berdiri mematung seperti sedang memaksa keadaan segera bicara lantang padanya. Walau demikian, dia tampak tenang meski tak ada pilihan.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 23 – Gempuran Laskar Gabungan Menoreh di Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 17 – Dia Akan Datang: Ucap Raden Atmandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.