Kediaman itu terasa lebih sempit dari biasanya. Dinding-dinding kayu seakan menyerap duka, membuat udara di dalamnya berat dan enggan bergerak. Di luar, orang lalu-lalang dengan langkah terukur, tetapi perasaan dan pikiran menggantung enggan di kaki awan. Kehidupan Menoreh seolah terpuruk ke dalam embung kering dengan gaung yang sama ; benarkah berita duka itu?
Sayoga duduk bersila di dekat tiang utama. Punggungnya tegak dengan tatap mata lurus menghadap arah Pandan Wangi. Dia merasa lelah yang tak terkira padahal pertempuran hanya mengambil waktu pada sisa malam. Matanya sembab, karena duka yang ditahan. Di sampingnya adalah Ki Prana Aji yang tegak meninggalkan Pandan Wangi seorang diri. Ki Prana Aji duduk dengan sikap seorang prajurit: rapi, terkendali, seolah perasaan adalah sesuatu yang harus disimpan di ruang lain.
Di antara mereka, segelas air dibiarkan mendingin tanpa disentuh.
“Kabar ini,” ujar Ki Prana Aji akhirnya, memecah sunyi dengan suara rendah, “tidak bisa ditahan terlalu lama. Kematian Ki Gede bukan perkara kecil. Kotaraja harus tahu.”
Sayoga menghela napas. Dia sudah menduga arah pembicaraan ini. “Saya tidak mengatakan untuk menutupinya selamanya,” jawabnya pelan. “Saya hanya meminta agar tidak disebarkan sekarang. Ki Rangga sedang tidak bersama kita. Tidak hari ini.”
“Menunda sama saja dengan menyembunyikan,” Ki Prana Aji menimpali, nada suaranya tetap datar. “Dan menyembunyikan berita sebesar ini akan menimbulkan curiga.”
“Curiga sudah pasti menjadi keniscayaan, Ki Lurah,” kata Sayoga lalu menebar pandangan. “Justru karena itu kita harus berhati-hati.”
Ki Prana Aji menatap Sayoga lebih lama. Dia mengenal pemuda itu cukup baik untuk tahu bahwa kata-katanya tidak lahir dari kecemasan. Ada pertimbangan adil di sana walau berbalut lara tanpa darah.
“Sebagai prajurit,” kata Ki Prana Aji kemudian, “kewajibanku jelas, harus ada laporan. Setidaknya pada Ki Lurah Sanggabaya. Beliau berhak tahu, dan dari sanalah berita akan mengalir ke kotraja.”
Sayoga mengangguk pelan. “Saya dapat mengerti kewajiban Ki Lurah,” katanya. Dia berhenti sejenak, memilih kata-kata berikutnya. “Saya bicara sebagai bagian Tanah Perdikan yang cemas dengan akibatnya.”
Ki Prana Aji tidak segera menjawab. Di benaknya, perintah dan empati saling berhadapan, berdiri sama tegaknya. “Akibat seperti apa?” dia bertanya.
“Nasib Ki Rangga,” jawab Sayoga tanpa ragu.
Nama itu jatuh berdentang pada lantai batu di ruangan yang sangat sunyi. Tidak keras tapi cukup kuat untuk menggetarkan udara. Ki Prana Aji menghela napas perlahan.
“Kau khawatir Ki Rangga akan disudutkan,” katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan. “Tanpa pembelaan dan saksi mata. Terlebih lagi, kekalahan regu yang saya pimpin dapat menjadi pemberat pula bagi beliau.”
“Bukan khawatir,” Sayoga berkata, “tapi keyakinan pada satu kepastian.”
Sayoga mengusap wajah kemudian mengucap lagi, “Kepergian Ki Gede terjadi di saat keadaan sedang genting. Larangan melihat jasad, pasukan khusus yang berjaga, keputusan-keputusan yang tidak dijelaskan ke semua pihak, seluruhnya bersumber pada satu nama saja. Ki Rangga Agung Sedayu.”
Ki Prana Aji menunduk sejenak. Dia tidak bisa menyangkal kemungkinan itu. “Jika Ki Rangga bersih,” katanya, “maka kebenaran akan membelanya.”
“Kebenaran sering datang terlambat,” sahut Sayoga cepat, lalu meredam suaranya kembali. “Dan dalam keterlambatan itu, fitnah bisa tumbuh liar. Kematian tanpa arti akan cepat menyebar. Di atas itu semua, kegelisahan dapat menjadi pukulan yang membunuh orang dengan perlahan.”
Keheningan kembali turun. Dari luar terdengar suara langkah dan gumam pelan, tanda bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar sepi hari ini.
“Anda meminta saya untuk melanggar kewajiban, Ngger,” kata Ki Prana Aji.
Sayoga menggeleng. “Bukan tapi saya sedang berusaha meminta Ki Lurah menimbang waktu,” Sayoga membetulkan. “Bukan menolak laporan, hanya menahannya sampai keadaan lebih tenang. Sampai duka ini tidak lagi bercampur dengan prasangka.”
Ki Prana Aji mengangkat wajahnya. Matanya jernih, tetapi di dalamnya ada tarik-menarik yang jelas. “Itu dapat dimengerti. Tapi jika saya menunda, dan keadaan memburuk, saya menjadi orang pertama yang akan dimintai pertanggungjawaban.”
“Tapi jika Ki Lurah melapor sekarang,” lanjut Sayoga, “sementara Ki Rangga belum jelas keberadaannya, maka beliau akan terseret ke dalam pusaran yang tidak dimulainya.”
“Yah, meski tidak seluruhnya persis seperti itu,” kalimat ini hampir terlontar keluar dari Ki Prana Aji, tapi dia cukup kuat untuk bertahan tanpa jawaban. Ki Prana Aji merasakan beban seragamnya hari ini lebih berat dari biasanya. Dia adalah prajurit—itu jati dirinya. Tetapi dia juga manusia yang berhubungan dekat dengan Agung Sedayu, yang sedang duduk di rumah duka, berbicara dengan seseorang yang sama-sama kehilangan. Dia menarik napas lalu membuangnya perlahan. Katanya kemudian, “Bukan tidak dimulainya. Dari sudut lain, musibah ini adalah akibat berat dari siasat Ki Rangga. Saya kira Sinuhun dan Pangeran Purbaya dapat menggunakan sudut itu.”
Suasana kembali hening di sekitar mereka.
“Ki Lurah Sanggabaya bukan orang gegabah,” kata Ki Prana Aji mencoba meyakinkan, entah pada Sayoga atau dirinya sendiri.
Sayoga mengangguk. “Saya harap laporan itu sampai di depan Sinuhun dalam keadaan utuh, tidak terburu-buru, tidak tercemar bisik-bisik yang sudah mulai beredar.”
Ki Prana Aji terdiam lama. Dia menatap wedang jahe yang masih tak tersentuh, lalu menggesernya sedikit, seolah memerlukan jeda untuk berpikir. “Baiklah, segera dibuat laporan lisan dan terbatas,” ucap Ki Prana Aji. “Hanya pada Ki Lurah Sanggabaya. Tanpa mengalirkan kabar itu ke kotaraja dulu. Semoga ada waktu satu atau dua hari. Mudah-mudahan ketika upacara duka selesai maka semuanya mereda.”
Sayoga mengangguk perlahan. “Dengan tetap menyimpan sekam yang membara.”
Ki Prana Aji sadar yang akan dilakukannya bukan termasuk pelanggaran terang-terangan, tapi juga bukan kepatuhan penuh.
“Keadaan sulit,” katanya kemudian.
“Tidak akan ada penyangkalan maupun pengingkaran,” ujar Sayoga lirih. “Ki Gede telah pergi. Dan yang tertinggal harus menjaga agar kepergiannya tidak menjadi alasan bagi perselisihan yang lebih besar.”
Ki Prana Aji menutup mata sejenak. Ketika membukanya kembali, ada keputusan di sana—tidak sepenuhnya mantap, tetapi cukup untuk dilangkahkan. “Baiklah, kita coba lakukan sambil tetap berharap Ki Rangga hadir kembali dalam waktu dekat.
Sayoga menunduk hormat. “Ini sudah lebih dari cukup.” Dengan wajah sungguh-sungguh sambil menghadapkan wajah pada Ki Prana Aji, dia berkata lagi, “Mudah-mudahan dan terima kasih.”
Mereka kembali terdiam.
Di luar, persiapan keberangkatan jasad Ki Gede semakin dekat. Matahari terus bergerak. Para pengawal pedukuhan saling berbisik dengan kebisingannya sendiri. Sedangkan pasukan khusus Mataram tidak banyak bertukar kata. Mereka semua adalah orang yang sama-sama berduka dan kebingungan. Ki Gede tiada, Ki Rangga Agung Sedayu pun tiada secara raga. Pandan Wangi sedang berduka. Bagaimana seandainya tiba-tiba lawan datang lalu membakar Bukit Menoreh?
