Ruang tahanan itu diterangi cahaya pagi yang gagal menembus dinding tapi terpantul dari balik jendela. Pemandangan yang sangat mencolok dan benar-benar membedakan perlakuan pada tahanan! Pasukan khusus Mataram tidak mengikat dua tangan Ki Garu Wesi. Bahkan terkesan orang itu adalah tamu yang harus dihormati, padahal Ki Garu Wesi adalah senapati utama kelompok Raden Atmandaru. Sekali-kali dia juga bertanya pada prajurit yang mengantarkan makanan untuknya: mengapa dia tidak ditempatkan di ruang tahanan bersama tawanan perang yang lain? Tapi hanya senyum dan sapaan pendek yang diterimanya sebagai jawaban.
Ki Garu Wesi duduk bersandar, wajahnya menyimpan bekas perkelahian dengan sorot mata yang seperti sedang memikirkan ulang pertempuran. Kemampuannya nyaris tak tersentuh oleh seluruh orang di barak pasukan khusus, selain Agung Sedayu, tapi dua senapati Mataram mampu membuat dirinya seakan tidak bertaji lagi.
Ki Lurah Sanggabaya masuk perlahan tanpa pengawal. Usianya membuat geraknya tenang.
“Pemimpin Anda tidak dapat melanjutkan rencana,” katanya lirih.
Ki Garu Wesi mengangguk. “Beliau memilih menetap di Gunung Kendil. Itu keputusan yang sangat terhormat.”
“Apa rencana Kyai selanjutnya?” tanya Ki Lurah Sanggabaya dengan nada yang sama, bahkan menggunakan sebutan yang mengesankan bahwa dirinya tahu cara menghormati seseorang dengan sikap yang patut. “Gunung Kendil sudah menerangkan segalanya begitu jelas.”
Ki Garu Wesi menatap lantai sejenak lalu menarik napas panjang. “Saya hanya ingin bertanya pada Ki Lurah, bagaimana jika saya menyerang lalu menghancurkan seisi barak pasukan ini?”
“Pertanyaan yang sangat menarik tapi kami tidak terbiasa menggunakan kata misalnya atau andaikata,” ucap Ki Lurah Sanggabaya disertai anggukan kepala. “Jika itu memang keinginan Kyai dan tidak dapat dihentikan, maka sudah barang tentu kami pasti memberikan perlawanan.”
KI Garu Wesi beringsut maju dari pembaringan, lalu duduk di bagian tepi.
“Kalian, atas perintah Ki Rangga Agung Sedayu, menyimpan tujuan tersembunyi di balik perlakuan yang tidak semestinya ini.”
Ki Lurah Sanggabaya tersenyum, lalu berkata, “Yang semestinya itu, apakah kami harus menyiksa Anda untuk mencari jawaban? Tidak, Kyai. Kami bukan sekumpulan orang yang gemar melakukan kekerasan. Yah, benar jika kadang-kadang diperlukan kekerasan untuk memastikan sesuatu tapi tidak selamanya seperti itu.”
“Kalian ini, apakah sedang menguji batas kesabaran sendiri?” Ki Garu Wesi bertanya sampil menyipitkan mata.
“Pada awalnya, ya,” jawab Ki Lurah Sanggabaya. “Tapi manusia sering berubah, Kyai.” Kemudian dia beranjak bangkit, katanya kemudian, “Kyai dapat tinggal di tempat ini. Jika waktunya tiba, bukan tidak mungkin Kyai dapat berjalan bebas di dalam barak.”
Ki Garu Wesi menyambut kalimat itu dengan tawa tertahan. “Tapi, mengapa orang yang sejak tadi berada di luar tidak segera masuk? Adakah sesuatu yang menahan dirinya?”
“Kami bukan sedang berpura-pura, tapi Ki Rangga ingin berlama-lama dengan Anda.” Ki Lurah Sanggabaya merendah, menghormat lalu berkata lagi, “Silakan Kyai duduk dan berbicara bebas dengan Ki Rangga. Saya mohon izin.” Salah satu pimpinan pasukan khusus yang mendapat tempat di hati banyak orang Tanah Perdikan itu memutar tubuh, melangkah keluar ruangan.

Pagi itu, di ruang yang terlalu layak untuk orang yang kalah perang, Ki Garu Wesi sadar bahwa pada akhirnya segala sesuatu harus dipikul sendirian sebagai kelanjutan dari sebuah keputusan. Segala akibat dari rasa bersalah, kehilangan, kesenangan dan mungkin juga harus memilih ulang; itu semua adalah terjalin dalam satu barisan yang setiap bagian terhubung sangat rapat.
Raden Atmandaru tidak kembali. Kawan seperjalanan yang tidak pernah berat untuk membantunya, kini tinggal nama yang menggema. Gema yang dapat terkikis waktu dan pengalaman hidup berikutnya.
Pagi itu adalah hari pertama dia dapat duduk bersandar tapi tidak ada lagi kata-kata Raden Atmandaru yang mewarnai hidupnya.
Nyi Banyak Patra pelan menapak lantai ruangan, disusul Agung Sedayu di belakangnya. Mereka bertemu di jurusan yang sama setelah menyelesaikan kesibukan awal. Waktu itu, mereka melihat Ki Garu Wesi sedang menatap lantai. Dua orang itu seolah sepakat untuk mengurungkan niat, mereka mundur lalu menunggu di lorong panjang.
Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.
Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;
Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Ki Garu Wesi mengetahui kedatangan dua orang itu tapi lebih memilih diam. Dia menyerahkan sepenuhnya pada dua orang yang kemudian menarik diri mundur.
Kembali sendiri, Ki Garu Wesi menelusur balik jejak hidupnya. Berapa banyak keputusan dan keyakinan yang muncul karena percaya? Berapa kali dia takut kehilangan? Dia pernah menyebut kesetiaan sebagai kehormatan, padahal mungkin itu juga cara paling aman untuk tidak bertanya. Sekarang pertanyaan-pertanyaan itu berderet-deret datang dengan tenang tapi cukup menyesakkan: untuk apa semua ini, jika orang yang dihormati sekaligus dibelanya ternyata gugur lebih dulu? Apakah karena dirinya gagal sebagai senapati atau dia salah menginjakkan kaki?
Di luar, terdengar suara prajurit yang berlatih teratur. Dunia berjalan seperti biasa.
Ki Garu Wesi menarik napas panjang. Dia sadar bahwa dirinya tidak akan selamanya dapat bersama Raden Atmandaru. Seandainya berumur panjang, dia tidak dapat menjamin Raden Atmandaru tidak berubah sikap dan perhatian. Bahkan pada dirinya sendiri pun, Ki Garu Wesi mulai ragu: apakah dia tetap setia pada kawan seperjalanannya itu?
Kesadaran itu terasa seperti tikaman ujung belati yang terpaksa harus dilihat dengan mata sendiri. Jika melangkah, maka tidak ada nama yang mendampinginya. Bukan Agung Sedayu, bukan Ki Gede Menoreh, bukan pula menyematkan nama perguruan atau gurunya sendiri.
Kening Ki Garu Wesi serasa mengeras, sadar sepenuhnya bahwa keputusannya hari ini adalah hasil percabangan masa lalu; antara ya dan tidak yang selalu memunculkan persimpangan baru.
Terdengar pintu diketuk perlahan. Ki Garu Wesi menoleh.
“Apakah saya diizinkan memasuki ruangan,” tanya Nyi Banyak Patra dari sisi luar.
“Oh!” Ki Garu Wesi turun dari tepi pembaringan, bergegas menyambut Nyi Banyak Patra yang berbuat banyak untuk merawat luka yang dideritanya.
“Ini adalah wilayah Panjengan,” ucap Ki Garu Wesi sedikit gagap dan tubuhnya menjadi lebih rendah. “Nyi Ageng bahkan dapat membunuh saya setiap saat.”
“Aku tidak punya hak mengambil hidup seseorang,” ucap Nyi Ageng Banyak Patra. “Seandainya ada yang mati terbunuh di tanganku, percayalah itu bukan kehendakku.”
“Saya, Nyi Ageng,” kata Ki Garu Wesi lalu menyiapkan bangku agar Nyi Banyak Patra dapat duduk mapan dengan tenang.
Di belakang mereka berdua, berdiri di samping pintu, Agung Sedayu mengedarkan pandangan pada dinding, atap dan juga tiang penyanggah. Tidak ada kerusakan, pikirnya.
Nyi Banyak Patra, yang masih cekatan pada usianya, sibuk meracik reramuan bahan-bahan dari tumbuhan. Sekali-kali dia meminta Agung Sedayu untuk menyiapkan beberapa kebutuhan. Oleh sebab itu, Ki Garu Wesi dan Agung Sedayu kadang-kadang berdiri bersebelahan di belakang Nyi Banyak Patra,
“Sudah selesai,” ucap Nyi Banyak Patra. Setelah memandang berganitan dua orang di dekatnya, Nyi Banyak Patra meminta diri untuk keperluan lain.
Agung Sedayu, seperti biasa, tampak wajar jika mendahului langkah Nyi Banyak Patra. Tapi Ki Garu Wesi malah lebih cepat melakukan itu—berdiri di samping pintu dengan sikap hormat.
Meski terkejut, tapi tidak ada yang lebih baik bagi Senapati Mataram itu selain membiarkan sealanya berjalan alami.
Ruangan menjadi sunyi sepeninggal Nyi Banyak Patra.
Agung Sedayu berjarak beberapa langkah dari Ki Garu Wesi. Wajahnya tenang, suaranya rendah.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, ?” tanya Agung Sedayu.
Ki Garu Wesi mengangkat bahu sedikit, lalu menjawab singkat, “Ya, begitulah.”
“Apakah itu berarti lebih baik dari sebelumnya?”
“Bisa dibilang begitu. Tidak jauh beda.”
Agung Sedayu mengangguk pelan. “Orang-orangmu, apakah mereka tetap terkendali?”
“Kira-kira,” jawab Ki Garu Wesi. “Pastinya, aku tidak tahu karena aku berada di depanmu sekarang. Dan tentu saja , sebagian orang pun menjadi tahanan seperti aku saat ini. Dan sisanya justru engkaulah yang lebih tahu.”
“Orang-orangku, apakah ada yang bertindak di luar batas manusiawi?”
Ki Garu Wesi menghela napas pendek. “Tidak ada yang istimewa. Semua berjalan sebagaimana mestinya.”
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan?”
“Untuk saat ini, tidak.”
Agung Sedayu terdiam sejenak, seakan menimbang jawaban-jawaban itu. “Jadi, semuanya baik-baik saja?”
Ki Garu Wesi memalingkan pandangannya. “Ya. Begitulah.”
Orang ini, pikir Agung Sedayu, tidak jujur, dan bahkan tidak repot menyamarkannya. Sebagian jawabannya memang benar, tapi kebenaran itu tetap disembunyikan sengaja.
Dia, pikir Ki Garu Wesi, bertanya hal-hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan oleh orang secerdas dirinya. Dia tahu Agung Sedayu mengerti jawabannya sejak awal, tapi tetap bertanya seolah kecerdasan itu hanya alat untuk bersandiwara. Ki Garu Wesi menertawakan sikap itu dalam hati—karena terlalu dapat ditebak.
“Minumlah,” kata Agung Sedayu sambil menjulurkan mangkuk jamu racikan Nyi Banyak Patra.
Ki Garu Wesi menerima lalu membuang muka. Dia tidak segera meneguknya. Sikap Ki Garu Wesi seakansedang menimbang: apakah diminum di depan Agung Sedayu atau nanti? Meski demikian, racikan itu bukan racun yang diolah Nyi Banyak Patra. Racikan itu benar-benar penyembuh dalam arti sebenarnya. Ki Garu Wesi tidak meragukan itu, tapi Agung Sedayulah masalah sebenarnya.
Seakan tahu isi pikiran Ki Garu Wesi, Agung Sedayu berkata, “Setidaknya hargailah orang yang bekerja keras demi kesembuhanmu.”
“Aku tahu tanpa kau katakan itu,” sahut ketus Ki Garu Wesi lalu tandas meneguk isi mangkuk.
Belasan langkah dari ruang itu, Nyi Banyak Patra tersenyum, menggeleng kepala. Yah, guru Kinasih ini pula yang menjadi salah satu sebab Ki Garu Wesi tidak dapat berbuat banyak di dalam barak pasukan khusus. Meski tangannya bebas bergerak, meski biliknya tidak pernah dalam keadaan terkunci, selain rasa segan karena kerja keras Nyi Banyak Patra. Demi keselamatannya sendiri, ketinggian ilmu saudara Panembahan Senapati juga menjadi alasan lain. Ki Garu Wesi akan membeku sebelum kakinya bergeser dari tempatnya.
