Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 40 – Pandan Wangi: Kebenaran yang Tertunda

Agung Sedayu tidak langsung keluar dari kediaman Ki Gede Menoreh. DIa mengayun langkah menuju beranda belakang yang berhadapan lurus dengan punggung Gunung Kendil. Puncak perasaan yang sepertinya belum bersedia pergi cukup menggetarkan hati pemimpin pasukan khusus itu.

Pandan Wangi memandang arah kedatangan Agung Sedayu dengan sinar mata yang tegas meminta jawaban.

“Kakang akan meninggalkan Menoreh?” tanya Pandan Wangi setelah terlebih dulu bertegur sapa.

Agung Sedayu mengangguk.

Tidak ada basa-basi lagi di antara mereka. Untuk sementara pada siang itu, waktu terasa seperti sesuatu yang sangat rapuh tapi mampu mengikis tebing perasaan yang tajam.

Agung Sedayu melangkah mendekat, berhenti pada jarak yang cukup untuk berbicara seperlunya.

“Seseorang telah mendahului Kakang,” kata Pandan Wangi seperti akan mengabarkan sesuatu yang penting dengan suara pelan. “Menyampaikan kabar… larangan yang pernah terjadi pada saya.” Dia berhenti sesaat, lalu menyambung kalimatnya, “Dan peristiwa lainnya.”

Tidak mudah bagi Agung Sedayu untuk menata perasaan setiap kali dibenturkan pada dua kenyataan itu. Maka dia tidak segera menjawab. Tapi setelah menarik napas panjang, dia berkata, “Dan ada lagi yang lainnya. Tidak hanya Paman Argajaya, tapi seseorang lainnya.”

Pandan Wangi tidak tampak terkejut. “Pamanku mempunyai hak sebagai orang tua, tapi orang lainnya, saya tidak dapat membuat perkiraan. Paman Argajaya berkewajiban menjaga adat, tapi untuk orang lain, saya tidak tahu. Paman bukan orang yang banyak bicara dan bicara pun tidak dengan banyak orang, tapi orang lainnya, saya juga tidak tahu. Dari semua itu, Paman tidak mempunyai kepentingan di kotaraja.”

“Itulah yang membuat keterangan beliau menjadi wajib untuk didengar,” kata Agung Sedayu.

Pandan Wangi menarik napas. “Kalau demikian, Kakang sudah mendapatkan bayangan atau dugaan tentang yang akan terjadi dan ditanyakan oleh Sinuhun maupun Pangeran Purbaya.”

“Itu sudah semestinya dan kewajibanku adalah menjelaskan dengan terang benderang.”

“Bagaimana dengan Kepatihan?”

“Kedatangan Nyi Ageng Banyak Patra dan Ki Lurah Plaosan mungkin akan muncul sebagai pertanyaan. Jika aku terlebih dulu singgah di Kepatihan lalu bicara dengan Ki Patih, itu lebih cenderung akan dinilai sebagai bagian dari perlindungan. Tapi sudah barang tentu, aku harus menghindarkan kesan itu demi Ki Patih Mandaraka. Seandainya kemudian berkembang menjadi dugaan liar, itu sudah pasti berada di luar jangkauan semua orang.”

“Seperti yang terjadi dan dialami Ki Gede Menoreh,” ucap Pandan  Wangi, begitu lirih.

Hening datang sesaat untuk menyapa mereka berdua.

“Kakang,” kata Pandan Wangi lagi. “Tentang kematian Ki Gede yang tertutup bagi sebagian orang. Saya tidak begitu yakin dapat menerima atau tidak, tapi melibatkan Mpu Wisanata, Nyi Dwani dan Sayoga? Saya masih belum sanggup meraba hingga bagian itu.”

Agung Sedayu menegakkan punggung.

“Kenapa semuanya ditutup rapat dariku?” Pandan Wangi melanjutkan. “Kenapa aku—anaknya—harus menjadi orang terakhir yang tahu, bahkan menjadi yang pertama serta satu-satunya orang yang tidak boleh melihat jasad Ki Gede?”

Tidak ada getar di suaranya. Justru itulah yang membuat pertanyaan terdengar lebih tajam. Agung Sedayu memandangnya lama lalu menunduk.

Wajah Pandan Wangi tidak meminta belas kasihan. Bahkan tatap matanya pun sangat tegas: meminta penjelasan. Walau begitu, dia juga tahu ayahnya —Ki Gede— pun tidak akan mudah menyerahkan penjelasan kepadanya.

“Siasat,” ucap Pandan Wangi seakan menjawab sendiri pertanyaannya. “Kakang mungkin akan menggunakan kata itu untuk menahan atau menyembunyikan keterangan. Seandainya benar, saya tidak tahu daya tahan untuk menahannya. Apakah akan menantang waktu atau ada sesuatu yang lain? Saya hanya ingin tahu: siasat untuk siapa?”

Agung Sedayu menghela napas pelan. “Belum sekarang.”

“Belum sekarang?” Pandan Wangi mengulang. “Jawaban yang nyaris sama dengan pertemuan Kakang dengan Kakang Swandaru pada malam benturan di Watu Sumping.”

Pandan Wangi menghela napas sejenak, lalu berkata, “Belum sekarang atau mungkin, tidak pernah.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Dia tahu, jawaban pada hari ini sama dengan menantang kekuatan waktu. Sedangkan Pandan Wangi tahu diam itu bukan karena ketidakmampuan, melainkan pilihan.

Setelah menggeser kedudukan sedikit menjauh tapi sejajar dengan Agung Sedayu, Pandan Wangi berucap, “Baiklah, saya dapat menerima satu ketidakjujuran yang Kakang sebut sebagai siasat. Tapi  sebagai orang yang mengenal baik rumah ini dan masa lalu, apakah Kakang bermasalah dengannya?”

Pertanyaan itu datang tanpa kemarahan, tapi mengandung keputusan. Agung Sedayu menangkap isyaratnya dengan cepat. “Aku tidak mempunyai urusan pribadi dengannya,” jawabnya hati-hati. “Yang ada hanyalah pertimbangan.”

“Pertimbangan keamanan?” Pandan Wangi memotong.

“Pertimbangan pilihan,” kata Agung Sedayu. “Kami adalah saudara seperguruan dari masa lalu, sekarang dan yang akan datang kemudian. Kitab guru yang belum pulang dan belum jelas keberadaannya. Apakah Swandaru pergi mencarinya atau dia sedang berbuat yang lain? Swandaru tidak mengatakan semuanya pada malam itu.”

Pandan Wangi menatap ke halaman belakang, yang menjadi benteng terakhir ketika kediaman Ki Gede diserbu oleh anak buah Ki Suta Jaladri. “Ada penyelesaian dan jalan keluar yang tertunda karena keberadaan yang tidak diketahui banyak orang sekarang. Ki Gede sudah menyediakan ruang untuk sekadar bicara tentang dirinya dan masa depan tanah ini.”

Kalimat Pandan Wangi terdengar seperti memang segalanya sudah mencapai kesimpulan akhir. Kesimpulan yang tidak datang sesaat tapi sebuah perjalanan panjang. Kalimat yang tidak dapat dinilai sebagai keluhan dan juga bukan ancaman. Itu keputusan.

“Aku dapat mengerti,” kata Agung Sedayu sambil memandang arah Gunung Kendil.

“Kelak jika terjadi sesuatu, saya harap tidak ada nama Ki Gede dan Tanah Perdikan yang disebut.”

Agung Sedayu mengangguk hormat. “Aku akan memastikannya.”

Mereka berdiri saling berhadapan untuk terakhir kalinya hari itu. Tidak ada janji, tidak ada penghiburan. Hanya dua orang yang sama-sama berada di persimpang tapi begitu berat untuk menentukan pilihan. Meski demikian, Agung Sedayu dan Pandan Wangi telah mempunyai cara untuk menanggung akibat dengan jalan yang berbeda.

“Semoga urusan di kotaraja berlangsung dengan baik,” kata Pandan Wangi.

Agung Sedayu berbalik dan melangkah pergi lalu tiba-tiba berhenti sejenak. “Wangi,” katanya. “Bertahanlah. Tidak ada sesuatu yang salah hanya karena ada perbedaan cara pandang.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Dia berdiri tegak, memandang punggung Agung Sedayu yang menjauh. Dalam hatinya, dia tahu satu hal: keberangkatan Agung Sedayu ke kotaraja bukan sekadar perjalanan seorang prajurit yang akan melaporkan segala akibat di Tanah Perdikan. Ada kepercayaan dan keyakinan yang akan diuji dengan sangat berat di sana, di depan Sunan Agung dan Pangeran Purbaya.

“Seandainya aku dapat menyertainya,” ucap lirih Pandan Wangi dalam hati.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 9 – Pandan Wangi Dilarang Melihat Jasad Ayahnya

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 16 – Serangan Fajar Hari Sembilan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.