Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 43 – Agung Sedayu: Kebenaran yang Datang Terlambat

Sunan Agung memberi tanda pada Pangeran Purbaya: bila ada yang akan diucapkan oleh paman beliau tersebut.

Pangeran Purbaya mengangguk lalu menjawab dengan isyarat pula agar pertemuan dilangsungkan sewajarnya.

“Ki Rangga, silakan,” kata Sunan Agung dengan suara yang tidak mengesankan memberi perintah.

Keheningan datang sesaat. Basa-basi telah selesai menjalankan tugasnya. Percakapan pun bergeser pada persoalan yang tidak bisa lagi disebut ringan.

Agung Sedayu maju setapak, memberi hormat pada dua wibawa di dekatnya. Sejenak kemudian, dia mengurai garis besar peristiwa yang terjadi di Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Beberapa keadaan tidak dikatakan terus terang olehnya dengan pertimbangan ada wilayah pribadi yang tidak bersinggungan dengan keamanan Mataram.

Pangeran Purbaya menghela napas pendek sepertinya sudah menduga laporan yang disampaikan Agung Sedayu. Sebelum pertemuan, bayangan laporan sudah terbentuk dalam pikirannya: garis besar dengan kewajaran dalam ukuran pemadaman pemberontakan. “Tanah Perdikan Menoreh selalu diterpa keadaan khusus yang membuat keadaan menjadi rumit,” katanya. “Apalagi ketika banyak kepentingan bertemu pada waktu yang sama.”

Sunan Agung memandang sejenak pada Pangeran Purbaya, kemudian Agung Sedayu. Sejujurnya, dia tidak dapat membantah atau membela salah seorang di antara dua bawahannya itu.

Pernyataan Pangeran Purbaya pun terdengar seperti ucapan yang sengaja ditujukan untuk menghantam ketenangan Agung Sedayu. Senapati tangguh itu mengangguk, sikapnya tetap tenang tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk memberi tanggapan.

“Yang lain bersifat lapangan, Pangeran. Siasat tempur maupun segala penyesuaian yang diperlukan untuk mempersempit ruang gerak lawan. Tidak mengubah keadaan yang kini ada,” ucap Agung Sedayu kemudian.

Sunan Agung tetap diam, tetap memandang bergantian dengan tarikan napas tenang.

Pangeran Purbaya menarik napas perlahan, menahan sesuatu yang hampir keluar sebagai nada keras. “Beberapa sebab dan akibat justru bermunculan saat rincian mendapatkan sentuhan. Hari ini saya yang bertanya, tapi orang lain bisa bertanya besok, pekan depan atau tahun-tahun mendatang.”

Agung Sedayu memilih diam sambil menundukkan pandangan. Tidak semua dapat diungkapkan dengan jelas meski siasat perang. Beberapa yang lain mungkin justru harus ditahannya sendiri.

“Baiklah, untuk saat ini, kita berhenti pada hasil. Gangguan keamanan yang disebabkan ulah Raden Atmandaru sudah diselesaikan. Permasalahan lain yang mungkin atau pasti timbul sebagai akibat, biarkan itu menentukan waktunya sendiri,” ucap Sunan Agung.

Pangeran Purbaya mengangguk hormat sambil tetap menyimpan pertanyaan yang sedang gelisah di dalam pikirannya. “Yah, pertanyaan itu akan muncul dengan sendirinya,” ucap Pangeran Purbaya dalam hati.

Dalam waktu itu, Sunan Agung tidak membuat keputusan. Raja Mataram tersebut kembali diam lalu mengalihkan pandangan.

Kesunyian kembali datang melanda tapi tidak cukup lama.

“Ki Rangga,” ucap Pangeran Purbaya dengan suara rendah. “Ada perkara yang tidak ada.”

Agung Sedayu mengangguk tapi masih tetap diam, menunggu.

“Kematian Ki Gede Menoreh,” lanjut Pangeran Purbaya. “Yang ternyata tidak benar-benar terjadi.”

Ketegangan menerkam seisi ruangan!

Kalimat itu bukan tuduhan tapi terasa seperti ada sesuatu yang disesalkan. Apakah kebenaran selalu datang terlambat atau kebenaran itu menjadi sesuatu yang selalu memilih penundaan?

“Ki Rangga, siasat Anda sudah jelas bukan siasat kecil,” kata Pangeran Purbaya denagn nada sedikit tekanan. “Ada pemimpin, ada rakyat. Ada banyak lapisan yang mendengar. Tapi, sekarang kita berada di sini karena tahu bahwa itu kebohongan besar.”

Kebohongan besar, pikir Sunan Agung. Kalimat pendek yang mengguncang Mataram beberapa waktu terakhir. Walau begitu, dia tetap diam mengamati perkembangan di antara dua orang itu.

Pangeran Purbaya dapat menilai bahwa sikap diam Agung Sedayu bukan jalan menghindar atau pembangkangan, tapi ada sesuatu yang lain.

“Saya tidak mengejar isi atau kedalaman laporan karena Anda sudah menguraikan itu,” kata Pangeran Purbaya dengan nada datar. “Saya hanya menanyakan keadaan.”

Agung Sedayu tetap diam.

Pangeran Purbaya menggeser langkah setengah jengkal. “Kabar tentang Ki Gede telah mendatangi kotaraja jauh sebelum kita bertemu pada hari ini. Dan saya tidak mendengar kabar itu dari jalur yang seharusnya.”

Putra Panembahan Senapati itu berhenti sebentar, memberi kesempatan seandainya Agung Sedayu mengatakan sesuatu. Tapi ternyata Agung Sedayu belum berubah.

“Di kotaraja,” Pangeran Purbaya melanjutkan, “orang-orang bergerak karena kepercayaan pada Ki Gede Menoreh. Bahkan kami pun hampir mengirim utusan khusus ke Tanah Perdikan Menoreh, lalu kami batalkan karena perkembangan terakhir menuntut perubahan. Tapi dalam waktu itu, sebagian orang mengira kami lemah sehingga ada beberapa orang menguatkan barisan. Ada yang menolak karena luka lama, luka yang mungkin ada sebelum Mataram ada. Semua itu terjadi bukan karena perang, tapi karena satu kabar.”

Pangeran Purbaya menarik napas panjang, kemudian berkata lirih, “Hingga akhirnya kabar itu terbukti tidak benar. Ki Gede tidak mati.”

Agung Sedayu tetap diam.

“Aku telah mengatakan seluruhnya,“ katanya pelan, “selanjutnya pilihan berada di tangan Ki Rangga. Penting untuk diingat dengan baik, bahwa kami tidak sedang menuduh Ki Rangga. Tapi kebohongan ini telah mengubah keadaan di kotaraja. Keadaan yang tidak dapat dibenahi dengan ucapan: maaf, aku keliru.”

Agung Sedayu bergeming dalam sikapnya.

“Entahlah, aku tidak dapat menduga salah satu di antara banyak orang di Tanah Perdikan yang mengusulkannya, memulainya dan melaksanakannya,” lanjut Pangeran Purbaya. “Apakah ada tujuan? Aku tidak tahu. Yang pasti adalah setiap kebohongan tidak akan dapat diselubungi dari segala sesuatu.”

Agung Sedayu masih diam. Seolah ia tahu betul bahwa setiap kata yang keluar sekarang justru akan merusak sesuatu yang sedang dipikirkan orang lain.

Sunan Agung tampak sedikit menggerakkan tubuh. Dia kini duduk tegak dengan punggung menjauh dari sandaran kursi.

“Ki Rangga berada di Tanah Perdikan ketika Ki Gede wafat,” kata Sunan Agung dengan tenang. “tapi di mana Ki Rangga pada waktu itu? Apakah di kediaman Ki Gede atau barak pasukan? Laporan yang diperdengarkan pada kami menyatakan Ki Rangga tidak tampak di banyak tempat.”

Agung Sedayu berdiri tegak. Wajahnya tenang, nyaris tanpa riak. “Nyuwun duka, Sinuhun. Saya berada dalam siasat yang tidak dapat dibuka sepenuhnya.”

“Tidak dapat dibuka?” Pangeran Purbaya mengulang, alisnya tertaut. “Ki Gede terbunuh di rumahnya sendiri, kemudian Ki Rangga melarang Nyi Pandan Wangi melihat jasad ayahnya. Pasukan khusus bergerak tanpa penjelasan. Sekarang, Ki Rangga menyebut itu sebagai siasat yang tidak dapat dibuka?”

Agung Sedayu tidak segera menjawab. “Keadaan di Menoreh tidak sesederhana kematian satu orang, meski beliau adalah Ki Gede.”

“Sebaiknya Ki Rangga tidak mempersempit sudut pandang. Guncangan di Tanah Perdikan dapat merembet jauh hingga pesisir utara,” tukas Pangeran Purbaya dengan tajam. “Ki Gede bukan hanya orang  tua yang sakit di puncak bukit. Beliau adalah wibawa dan harga diri Tanah Perdikan.”

Agung Sedayu menghadapkan diri pada Sunan Agung sepenuhnya. Sebentar kemudian, dia menoleh pada Pangeran Purbaya lalu berkata, “Yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh bukan kebohongan yang lahir dari siasat lapangan, Sinuhun, Pangeran. Orang-orang Raden Atmandaru menjelajahi dan berada di setiap jengkal wilayah Tanah Perdikan. Tidak ada jalan yang lain yang dapat ditempuh dengan segala akibat yang pasti muncul di kemudian hari.“

Sunan Agung memindahkan pandangan dari Agung Sedayu ke Pangeran Purbaya. Kemudian putra Panembahan Hanykrawati itu bertanya pada Agung Sedayu dengan tatap mata yang berbeda. “Ada satu keadaan yang membuat saya bertanya-tanya, mengapa Ki Rangga tidak mengirim utusan agar kami dapat melakukan sesuatu atau setidaknya memikirkan satu hal saja?”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 33 – Gaung Keras dari Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.