Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

Agung Sedayu Memahat Luka

Sekar Mirah duduk beranda bangunan mungil yang terletak di belakang bangunan inuk kediaman Ki Demang Sangkal Putung. Di hadapannya, Kyai Bagaswara menata kata-kata seperti orang yang tahu bahwa kabar ini tidak akan ditolak, tapi akan ditimbang.

“Berita dari Menoreh,” kata Kyai Bagaswara akhirnya. “Ki Gede wafat.”

Sekar Mirah tidak menampakkan terkejut meski jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia menunduk sebentar, memberi ruang peghormatan bagi nama itu. Ki Gede bukan orang asing baginya. Bahkan, dalam banyak hal, lelaki tua itu adalah pijakan pertama dari jalan yang kini dijalani Agung Sedayu.

“Bagaimana keadaan Mbokayu Pandan Wangi?” Sekar Mirah bertanya tenang.

“Tidak begitu baik,” jawab Kyai Bagaswara. “Ada pasukan khusus. Ada larangan. Banyak hal yang sengaja tidak dibuka.”

Sekar Mirah mengangguk pelan. “Apakah itu berarti siasat?” dia bertanya singkat. Sekar Mirah tidak perlu penjelasan panjang. Dia tahu pola itu. Dia pernah berada di dalam keadaan yang sama: ketika keselamatan banyak orang harus dibayar dengan kebisuan, ketika keputusan diambil tanpa sempat meminta restu seseorang.

Namun setelah itu, Sekar Mirah menghela napas panjang. Dan di sanalah nada berubah. “Yang saya sesalkan,” katanya dengan nada lebih berat, “bukan siasatnya.”

Kyai Bagaswara menatapnya.

“Kakang Agung Sedayu bukan orang yang mengorbankan orang tua demi rencana,” lanjut Sekar Mirah. “Beliau mungkin memilih jalan paling sunyi, paling berbahaya. Tapi  selalu memastikan orang yang lebih dulu memberi kepercayaan berada di tempat aman.”

Sekar Mirah mengepalkan jemarinya di pangkuan, gerakan kecil yang menahan kemarahan yang hampir menghancurkan. “Ki Gede adalah orang pertama yang menerimanya tanpa syarat. Memberinya tempat, memberinya pengakuan, memberinya kepercayaan penuh—bahkan ketika banyak orang masih menimbang untung rugi.”

Sekar Mirah mengangkat wajahnya. Matanya tajam, bukan basah. “Jika hari ini Ki Gede seda dalam pusaran siasat yang tidak dijelaskan, maka itu bukan hanya kegagalan keadaan. Itu penyimpangan dari watak Kakang Agung Sedayu sendiri.”

Kyai Bagaswara terdiam. Kata-kata itu terlalu tepat untuk dibantah.

“Saya tahu Kakang Sedayu tidak ceroboh,” Sekar Mirah melanjutkan, suaranya kini mengandung kemarahan yang jujur. “Saya tahu beliau menghitung jauh. Tapi justru karena itu aku bertanya: mengapa Ki Gede tidak dilindungi lebih dulu?”

Dia berdiri. Langkahnya mantap. “Jika Kakang Sedayu memilih tidak memberi tahu siapa pun, saya bisa mengerti. Tapi jika memilih siasat, demi kemenangan yang belum pasti, lalu membiarkan Ki Gede berada di pusat badai… Sangat sulit buat saya untuk menerimanya begitu saja.”

“Nyai,” Kyai Bagaswara berkata hati-hati, “mungkin ada hal yang belum kita lihat.”

“Mungkin,” Sekar Mirah mengangguk. “Dan aku akan menunggu penjelasan itu. Tapi  sampai kedatangan beliau, saya adalah orang yang paling berhak untuk marah.”

Sekar Mirah melempar pandangan keluar pendapa. “Dengan kemampuan dan daya nalar Ki Rangga yang luar biasa, saya tidak mempunyai alasan untuk cemas. Tapi sebagai orang yang mengenal betul watak beliau, saya tahu bahwa Kakang Sedayu sedang memahat luka pada dirinya sendiri. Dan saya adalah orang yang paling cemas dengan hal itu.”

Agung Sedayu tetap terlindung atau berlindung di tempat tersembunyi.

Namun di Sangkal Putung, ada perempuan yang paling paham keadaan justru menjadi pihak yang paling keras menuntut kejelasan; bukan karena tidak mengerti siasat, tapi karena terlalu mengerti bahwa Ki Gede Menoreh adalah orang yang seharusnya dilindungi lebih dulu.

Menari di Atas Duka

Awalnya, kemenangan di Dusun Benda terasa seperti kemegahan yang tidak terukur dan tidak ternilai. Ketika berita itu menjangkau pendengarannya, tiba-tiba kejayaan di Dusun Benda musnah tiada bekas bagi Ki Wedoro Anom.

Matahari baru saja merangkak naik dari balik perbukitan ketika darah di tanah mulai mengering, dan jerit yang sempat memenuhi udara tinggal gema di kepala. Lawan-lawan sudah tercerai, sebagian lari, sebagian ditinggalkan. Penduduk dusun menjunjung namanya. Kemenangan yang menakjubkan, demikian orang-orang bersuara. Tapi Ki Wedoro Anom tidak menanggapi. Dia tahu, kemenangan di medan kecil seperti itu akhirnya hanya menjadi satu batu pijakan, bukan tujuan.

Dia sedang membersihkan senjata ketika kabar lelayu datang.

Bukan lewat teriakan, bukan lewat pengumuman. Hanya bisik cepat dari Ki Lurah Sarwana Tiban.

Ki Gede, nama itu disebut dengan ragu, lalu dengan keyakinan yang dipaksakan. Dibunuh. Di rumahnya, Tanah Perdikan Menoreh. Pasukan khusus. Tidak ada jasad yang boleh dilihat.

Ki Wedoro Anom berhenti mengusap bilah pedang. Ucapan lurah pasukan khusus itu masing terngiang dan berputar-putar di dalam benaknya.

Kematian Ki Gede adalah puting beliung yang menyapu bersih kemenangannya di Dusun Benda, demikian pendapatnya. Dia mengamati keadaan dan ruang yang jauh lebih luas, selanjutnya dia dapat memperkirakan waktu musim panen bagi dirinya sendiri. Ki Wedoro Anom mengembangkan senyum penuh harapan. Keadaan esok hari menjadi tidak lebih penting lagi, bukankah tidak ada perintah susulan dari Agung Sedayu atau Ki Lurah Sanggabaya?

Arah angin sudah berpindah. Ki Wedoro Anom tahu arah kepergiannya. Tidak perlu bertanya dan melakukan penyelidikan demi bahan lebih banyak. Perkembangan terakhir harus segera dilaporkan pada orang yang paling kuat; bukan Sunan Agung, bukan pula Ki  Patih Mandaraka, tapi Pangeran Purbaya!

Matahari masih rendah ketika prajurit Mataram itu meninggalkan Dusun Benda tanpa kata-kata yang ditinggalkan untuk Ki Jayaraga. Kuda dipacu dengan kecepatan yang tidak akan mengundang tanya tapi tidak terlalu lambat untuk kehilangan waktu. Setengah hari perjalanan, menurut perkiraannya adalah waktu tempuh yang masuk akal.

Perjalanan ke kotaraja pun hampir tanpa jeda.

Di jalan, pikirannya bekerja lebih cepat dari langkah kudanya.

Agung Sedayu, nama itu muncul tanpa diundang. Bukan sebagai tuduhan, bukan pula sebagai kesimpulan. Agung Sedayu adalah bayangan yang mustahil dapat dihindari selama kakinya masih berpijak di Menoreh. Nalar pemimpin pasukan khusus itu terlalu cerdas. Siasatnya terlalu rapi tapi kehadirannya terlalu sering berada di tempat yang salah pada waktu yang genting. Ki Wedoro Anom mengangguk-angguk ketika bicara pada dirinya sendiri, “Aku tidak perlu membawa bukti atau alasan pembuktian. Cukup mengatakan segala yang terjadi tanpa perlu tambahan atau pengurangan peristiwa. Pangeran Purbaya dan Sinuhun sudah pasti akan mempunyai pendapat sendiri.”

Ki Wedoro Anom menoleh sejenak ke belakang – Menoreh terasa jauh, tapi dampaknya terasa dekat.

Saat matahari meninggi dan bayangan pohon menjadi pendek di permukaan, Ki Wedoro Anom sudah memantapkan satu hal: kabar ini tidak boleh singgah di mulut terlalu banyak orang. Setiap singgah akan mengubah bentuknya. Secepat mungkin dIa ingin kabar itu sampai ke satu orang saja; Pangeran Purbaya.

Menjelang siang, atap rumah penduduk kotaraja sudah tampak dari kejauhan. Ki Wedoro Anom memperlambat laju kuda, menata napas, berbenah diri. Dia tahu dan sudah berhitung bahwa laporan yang akan disampaikan nanti tidak hanya membawa kabar kematian seorang Ki Gede, tapi sesuatu yang mungkin dapat membantu dirinya memanjat sedikit lebih tinggi.

Inilah yang menjadikan jauh lebih berharga daripada kemenangan di Dusun Benda; laporan!

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 1 – Hari Ketujuh Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 7 – Agung Sedayu Melipat Senja

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.