Ada sedikit perubahan pada garis wajah Agung Sedayu. Yah, dia sudah mengetahui upaya jahat yang dilakukan oleh orang-orang Raden Atmandaru. Dia pun sudah menimbang segala akibatnya. Dan ketika akibat itu menyentuh rumahnya sendiri, Agung Sedayu tidak dapat menghindari rasa getir yang singgah sebentar di dadanya. Untuk waktu agak lama, tatap matanya terpaku pada wajah cerah putrinya.
“Aku akan menemui Kyai Bagaswara,” kata Agung Sedayu kemudian.
Sekar Mirah mengangguk. “Pergilah, Kakang. Beliau juga sudah lama ingin bertemu dengan Kakang.”
Seseorang terlihat sedang membersihkan rumput di sudut halaman. Tanu, nama orang itu dan dia sudah bekerja di kediaman Ki Demang Sangkal Putung sejak enam atau tujuh tahun yang lalu. Wajahnya tampak sumringah saat menoleh pada arah langkah kaki yang mendekat padanya.
“Ki Rangga,” ucapnya.
“Ki Tanu,” sahut Agung Sedayu.
Mereka saling mengulurkan tangan, erat dan hangat untuk beberapa lama. Agung Sedayu lantas duduk di lincak bambu yang menempel dinding halaman. Dari tempat itu, dia dapat mengamati keadaan yang sedikit berubah. Ada bekas pertempuran yang sulit dihilangkan.
“Itu perkelahian luar biasa,” katanya dalam hati kemudian tangannya bergerak mengusap kepala Sekar Wangi. Kulit pohon yang terkelupas memberinya gambaran mengenai kehebatan pertarungan yang pernah terjadi di sekitar tempatnya duduk.
Usai membenahi peralatannya, Ki Tanu mengangguk dalam-dalam ketika mendapati Agung Sedayu tampak memperhatikan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh.
“Malam itu, Ki Rangga,” kata Ki Tanu kemudian, “saya mendapatkan tugas dari Angger Dharmana untuk berjaga di sekitar kediaman.”
Dengan nada suara yang ditahan, Ki Tanu lantas menceritakan hampir yang dialaminya pada saat sekelompok orang berhasil menerobos rumah Ki Demang Sangkal Putung. Banyak peristiwa yang disampaikan olehnya, terutama saat terjadi perkelahian singkat antara pemimpin gerombolan dihadang oleh Kyai Bagaswara di tempat mereka berbincang.
Agung Sedayu sekali-kali menghela napas yang cukup berat. Dia mengenang kembali Raden Atmandaru yang ternyata benar-benar menjangkau sampai tempat yang dianggap paling aman untuk Sekar Mirah dan putrinya. Sejenak dia teringat pula pelayan dalam yang dilihatnya di dalam Keraton. Terbersit pikiran buruk padanya lalu cepat pula dia menyisihkannya.
“Itu adalah kemungkinan yang tetap harus menjadi bagian yang diperhitungkan,” ucapnya dalam hati.
Ki Tanu cukup berhati-hati setiap menyebut nama Pandan Wangi ketika keterangannya mulai menyentuh bagian pengamanan di halaman depan rumah kecil itu. Serba sedikit Ki Tanu mendengar pula siasat yang mampu meremas jantung dan larangan yang membakar perasaan setiap orang, termasuk dirinya yang bimbang di antara percaya dan tidak percaya.
Perintah membuat lubang jebakan dan pemasangan beberapa senjata yang tersembunyi diungkapkan oleh Ki Tanu dengan perasaan tidak menentu. Dia terdiam cukup lama. Tangannya mengusap wajah beberapa kali seolah ingin menghapus sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Kemudian suaranya lebih rendah ketika ia berkata, hampir seperti bergumam pada dirinya sendiri, “Kadang saya bertanya dalam hati… apakah ini semacam saling menutup siasat. Ki Gede selamat waktu itu karena siasat Ki Rangga. Malam itu, di sini, Sangkal Putung… Nyi Sekar Mirah selamat karena perintah Nyi Pandan Wangi.”
Ki Tanu berhenti. Napasnya panjang. Kepalanya menggeleng perlahan.
“Entahlah,” desahnya pelan. “Sepertinya tidak ada pertentangan. Tidak juga ada perselisihan. Tapi saya sulit untuk mengerti.”

Dia mengusap wajah sekali lagi kemudian berucap lirih, “Saya orang kecil. Sering tidak mengerti tentang pekerjaan atau rencana besar. Yang saya tahu, malam itu, Nyi Sekar Mirah selamat karena pengamanan sudah disiapkan. Sementara Ki Gede dan Tanah Perdikan juga selamat seperti yang diinginkan banyak orang seperti saya.”
Agung Sedayu mengangguk berulang. Tangannya menyentuh bahu Ki Tanu dengan tekanan yang hangat.
“Terima kasih, Ki,” katanya pelan. “Ki Tanu berkenan membahayakan diri demi keluarga saya.”
Ki Tanu menggeleng pelan, sedikit beringsut. “Ah, sudah semestinya, Ki Rangga. Sudah semestinya.”
Untuk sebentar waktu, suasana menjadi sunyi.
Agung Sedayu kemudian meminta diri. Ia mengatakan akan menemui Kyai Bagaswara. Ki Tanu mengangguk, lalu berjalan sedikit di depan untuk mengiringi senapati Mataram itu.
Agung Sedayu berhenti sejenak di tepi halaman sebelum melangkah mendekat. Ki Tanu mengundurkan diri, kembali ke pekerjaannya semula.
Kyai Bagaswara berdiri dengan kepala sedikit tertunduk. Namun ketika merasakan kehadiran di depannya, dia mengangkat wajah.
“Ki Rangga,” ucapnya sambil mengulur tangan.
Agung Sedayu mengangguk dalam, membalas uluran itu.
“Oh, rupanya dia masih pulas,” kata Kyai Bagaswara setelah menengok ke dalam gendongan Agung Sedayu.
“Hanya bangun sebentar, Kyai, sebelum dimandikan ibunya,” sahut Agung Sedayu.
Kyai Bagaswara terkekeh pelan. Jemarinya menyentuh dagu kecil Sekar Wangi. “Yah, begitulah dia selama ini.”
Untuk sejenak, mereka bercakap ringan tentang perkembangan Sekar Wangi—tentang tangisnya yang mulai jarang, tentang sorot matanya yang makin jernih.
“Saya banyak merepotkan Kyai,” kata Agung Sedayu akhirnya. “Terutama dalam waktu belakangan ini. Kami sekeluarga bahkan melibatkan Kyai dalam bahaya.”
Agung Sedayu merendahkan tubuhnya. Kepalanya menunduk dalam sebagai permohonan maaf.
Kyai Bagaswara cepat menahan bahu senapati itu. “Tidak, tidak perlu sampai seperti ini, Ngger. Saya malah merasa terhormat sudah dianggap sebagai bagian keluarga.”
“Bukan dianggap lagi, Kyai,” sahut Agung Sedayu sambil tersenyum dan sedikit mengedepankan Sekar Wangi. “Kyai memang kakek dari bocah ayu ini.”
Mereka saling memandang tanpa basa-basi.
Kyai Bagaswara duduk pada bangku panjang yang menempel dinding gandok. Agung Sedayu lantas mengikuti.
“Banyak peristiwa yang terjadi,” ucap Kyai Bagaswara pelan, “dan banyak pula yang tidak saya mengerti.”
Agung Sedayu menggerakkan kepala. Berucap lirih, “Tempat itu belum benar-benar bebas dari imbas pertempuran.”
Sejenak Kyai Bagaswara menarik napas karena memahami ada batas yang tidak dapat dilampaui. Dia mengetahui persoalan pelik yang sedang dialami oleh Sangkal Putung ketika Swandaru pergi meninggalkan kademangan—kepergian yang ternyata tidak menjadikan Tanah Perdikan sebagai tujuan.
Di dalam kesadarannya, Kyai Bagaswara tahu bahwa dirinya adalah pendatang yang datang bersamaan dengan persalinan Sekar Mirah. Selanjutnya, atas perkenan Ki Demang Sangkal Putung, dia diizinkan untuk tinggal menetap di kediaman atau bagian lain di kademangan. Kyai Bagaswara pun berusaha keras menjaga pikiran dan perasaan meski kadang terusik dengan keadaan itu.
Setelah merenung beberapa lama, memilih kata yang akan diucapkan, Kyai Bagaswara berkata tenang, “Saya bukan orang yang pandai berperang. Tidak pintar juga mengenai siasat perang. Adat dan kebiasaan kita telah tersentuh, Ngger. Itu berada dalam penjagaan dan berpagar kepercayaan.”
Agung Sedayu tidak segera menanggapi. Wajahnya tetap tenang, meski jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.
“Saya tidak mempunyai hak untuk menggugat, Ngger. Saya hanya mempunyai keyakinan bahwa di balik setiap keputusan besar hampir selalu ada wewenang yang mendukungnya.”
Setelah menarik napas panjang, membelai kepala putrinya, Agung Sedayu menjawab, “Keadaan itu, saya merasa telah melukai banyak orang. Hanya saja, waktu tidak dapat diputar ulang.”
Kyai Bagaswara mengangguk perlahan dengan sorot mata yang tidak goyah. Baginya, kalimat Agung Sedayu itu sudah lebih dari cukup.
Setelah masing-masing mengendapkan diri, Kyai Bagaswara pun bertanya tentang keadaan Sayoga dan juga Sukra. Percakapan kemudian mengalir secara wajar di antara mereka. Namun demikian, Kyai Bagaswara merasa pagi itu belum menjadi waktu yang tepat bila bertanya kemungkinan Sayoga atau Sukra diangkatnya sebagai murid.
Demikianlah kemudian terdengar rengek lirih dari Sekar Wangi.
“Sepertinya cah ayu ini sudah merindukan ibunya, Kyai,” kata Agung Sedayu hangat.
Kyai Bagaswara terkekeh, ucapnya kemudian, “Antara berat karena akan ditinggal lagi oleh ayahnya atau merindukan ibunya, itu sangat tipis.”
Mereka lantas tersenyum bersama lalu berjabat tangan.
