Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 54 – Ki Wedoro Anom Menusuk dalam Lipatan

Agung Sedayu lalu berbalik, melangkah menuju bangunan mungil di belakang kediaman induk. Pintu setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara air dituangkan dan langkah halus di atas lantai kayu.

Sekar Mirah sedang menyiapkan air hangat untuk keperluan bayinya. Setelah menerima Sekar Mirah dari Agung Sedayu, dia memenuhi kebutuhan bayi perempuan itu hingga merasa kenyang. Sejenak kemudian, Sekar Wangi kembali lelap dalam tidurnya.

Untuk sesaat, Sekar Mirah memandang suaminya dengan tatap mata penuh arti.

“Saya mendengar kabar Ki Gede wafat,” kata Sekar Mirah dengan suara yang cukup tenang.

Agung Sedayu mengangguk pelan.

“Saya sempat bertanya-tanya, mengapa justru Ki Gede yang menjadi orang yang berada di garis terdepan? Sedangkan saya paham bahwa Kakang selalu mendahulukan yang sepuh baru kemudian anak-anak dan perempuan,” lanjut Sekar Mirah. “Bahkan, saya sudah kehabisan akal ketika Kakang melarang Mbokayu Pandan Wangi melihat jasad Ki Gede. Bagaimana Kakang dapat melakukan itu semua?”

Senapati Mataram itu paham bahwa akan menjadi sesuatu yang sia-sia jika mengatakan semua itu adalah bagian dari rencana perang. Sekar Mirah, serba sedikit, juga mengerti kewajiban dan larangan yang dapat ditegakkan dalam pertempuran. Melarang Pandan Wangi melihat jasad Ki Gede jelas bukan dari siasat perang.

Dari sisi lain, murid Kyai Gringsing itu sadar bahwa dia tidak dapat mengatakan sejujurnya bahwa jika membiarkan Pandan Wangi melihat jasad Ki Gede tapi ternyata orang itu adalah Mpu Wisanata yang menyamar dan masih hidup, maka perubahan wajah Pandan Wangi dapat dibaca oleh orang-orang yang berwajah dua yang bermata tajam. lalu didisebarkan ke dalam bentuk yang tidak terbayangkan satu orang pun,

Kemudian Sedayu berkata, “Aku mengkhawatirkan keberadaan orang bermuka dua yang berada di sekitar Pandan Wangi.”

Dia berhenti sejenak, menahan dadanya yang bergemuruh hebat, lalu berkata lirih dan terputus-putus, “Aku tidak ingin membebaninya dengan rahasia itu. Biarlah aku yang disebut pembohong.”

“Tapi, bukankah Kakang dapat memberitahukan terlebih dulu pada Mbokayu? Bukan malah menganggapnya tidak penting. Beliau harus diorangkan, Kakang. Mbokayu bukan boneka dan bukan perempuan tanpa perasaan yang selalu gagal berpikir. Sungguh, saya masih sulit untuk mengerti bagaimana rencana itu ditutup sangat rapat dari Mbokayu padahal dia adalah anak dari orang yang ditempatkan paling depan.”

Agung Sedayu mengusap wajah. Memijat kening kemudian memandang Sekar Wangi yang tertidur.

Sangat pelan, Agung Sedayu berkata, “Pandan Wangi adalah putri pemimpin Tanah Perdikan. Tidak sepantasnya dia menanggung akibat dari kesalahan rencana orang lain. Jika ada yang keliru dalam rencana ini, itu aku. Bukan dirinya.”

Sekar Mirah menarik napas panjang sedikit berulang. “Saya masih belum dapat mengerti.”

Raut wajah yang sulit digambarkan terpancar jelas dari Agung Sedayu. Waktu mengapung lambat sejak Sekar Mirah mengucapkan kalimat itu.

Sekar Mirah beranjak perlahan dari duduknya.

“Apakah Kakang tetap ke Jati Anom menilik Paman Widura? Sebaiknya jangan terlalu lama karena Kakang masih harus segera balik kek Tanah Perdikan,” ucap Sekar Mirah lalu menyiapkan perbekalan untuk suaminya dan sekadar buah tangan untuk Ki Widura dan keluarga Ki Untara di Jati Anom.

Agung Sedayu mengangguk dengan tatap mata lekat pada Sekar Mirah sedangkan jemarinya membelai Sekar Wangi. “Terima kasih, Mirah.”

Angin siang menyusup pelan melalui celah dinding kayu. Sesekali terdengar suara kain bergesekan ketika Sekar Wangi menggeliat cukup kuat. Kehidupan di di dalam rumah kecil itu kembali berdenyut dengan wajar.

Sekar Mirah telah merapikan kain penutup bakul. Dia tidak lagi menatap suaminya, perhatiannya tertuju perbekalan yang akan dibawa Agung Sedayu ke Jati Anom. Gerak tangannya teratur dan tenang.

“Kakang, ajaklah serta Kyai Bagaswara dan Ki Tanu untuk bersama menikmati makan siang,” kata Sekar Mirah. “Saya akan siapkan seluruhnya di beranda.”

Agung Sedayu bangkit perlahan, menyentuh ambang pintu sejenak sebelum melangkah keluar.

Di halaman, Kyai Bagaswara dan Ki Tanu masih bercakap ringan. Keduanya menoleh ketika Sedayu muncul.

“Mari, kita makan dahulu sebelum lapar benar-benar turun ke sawah sendirian,” ujar Sedayu mencairkan suasana.

Kyai Bagaswara dan Ki Tanu tersenyum lebar. Mereka bertiga lantas melangkah bersama menuju beranda rumah kecil Sekar Mirah.

Tidak ada pembicaraan berat di antara mereka. Hanya kabar perjalanan, keadaan Jati Anom, dan sedikit gurauan yang tidak terlalu panjang. Sekar Mirah menghidangkan sepantasnya yang cukup untuk mengisi perut dan menjaga kebiasaan.

Menjelang matahari lingsir, Agung Sedayu berdiri, menerima bungkusan kecil dari Sekar Mirah—bekal perjalanan dan buah tangan untuk Ki Widura serta keluarga Ki Untara.

Sedangkan Ki Tanu bergeser ke tempat kuda ditambatkan. Dia cekatan menyiapkan kuda. Dalam waktu hampir bersamaan, Kyai Bagaswara justru masuk ke dalam lalu keluar dengan Sekar Wangi dalam gendongan.

Agung Sedayu mengusap dagu putrinya, menatap Sekar Mirah sebentar lalu turun ke halaman, menaiki kudanya dengan gerak yang tenang. Sekali lagi, dia memandang ke arah rumah sebelum memutar kendali.

Debu tipis terangkat ketika kuda itu mulai bergerak menuju jalan ke Jati Anom.

Kunjungan Kedua Ki Wedoro Anom

Pada pagi yang sama ketika Sangkal Putung berputar dengan tenang, Ki Wedoro Anom melangkah masuk ke salah satu ruangan di sekitar Keraton.

Setelah kematian Ki Ramapati di Dusun Benda, dia datang karena ada kejanggalan yang terjadi di barak pasukan khusus. Kewajiban memang ada di pundaknya untuk menegakkan paugeran di dalam barak.

Pada kursi kayu jati berwarna gelap yang ditempatkan dekat dengan dinding ruangan, Ki Wedoro Anom duduk tenang sambil menunggu izin untuk menghadap Pangeran Purbaya.

Seorang prajurit jaga kemudian datang menghampirinya.

“Ki Rangga,” ucap prajurit itu. “Silakan, Pangeran Purbaya berdua dengan Pangeran Selarong sudah menunggu Anda.”

Ki Wedoro Anom bangkit tanpa tergesa, lalu melangkah mengikuti prajurit jaga melewati lorong dalam yang lebih sepi dari halaman luar. Tidak tampak seorang pun yang berlalu lalang di sekitar lorong yang dibatasi sebidang ruang terbuka.

Pangeran Purbaya berdiri berhadapan dengan Pangeran Selarong sambil menghadap meja yang di atasnya terpampang selembar kain yang penuh coretan-coretan alam.

“Bagaimana keadaan Ki Rangga hari ini?” tanya Pangeran Purbaya setelah menerima penghormatan Ki Wedoro Anom.

“Pangestu, Pangeran,” jawab Ki Wedoro Anom sambil menghadapkan wajah pula pada Pangeran Selarong.

“Lalu, bagaimana suasana di barak dan sekitarnya?” lagi Pangeran Purbaya bertanya.

Ki Wedoro Anom menarik napas sesaat. Dia tidak langsung menjawab karena ketenangan menjadi perhatian utama baginya.

“Segalanya berjalan baik, Pangeran,” ucap Ki Wedoro Anom kemudian. “Hanya saja, saya ada keraguan mengenai keadaan yang sebenarnya.”

Pangeran Selarong menautkan alis. Dia bertanya, “Ragu dengan keadaan. Bagaimana Ki Rangga menyatakan itu?”

“Dua tahanan berada di ruang yang justru mengesankan mereka diperlakukan sebagai tamu atau orang terhormat,” kata Ki Wedoro Anom tegas.

Pangeran Purbaya dan Pangeran Selarong bertukar pandang. Keadaan menjadi hening beberapa lama. Kemudian suara Pangeran Purbaya memecah keheningan, “Kami akan pertimbangkan masukan Ki Rangga.”

Setelah menambahkan beberapa pesan, Pangeran Purbaya mempersilakan Ki Wedoro Anom untuk mengambil waktu istirahat di bagian belakang Keraton. Karena kesibukan pula, Pangeran Purbaya mengizinkan Ki Wedoro Anom meninggalkan Keraton tanpa perlu berpamitan lagi.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 51 – Tahanan Bebas Berbuat di dalam Barak Pasukan Khusus

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 57 – Kepercayaan Tinggi Pangeran Purbaya untuk Pelayan Dalam

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 32 – Gema Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.