Agung Sedayu Pulang Kampung
Berkuda menuju tanah kelahirannya terasa cukup dekat untuk ditempuh Agung Sedayu. Matahari belum benar-benar berada di tepi sore hari saat dia menapak jalan di bawah regol pedukuhan.
Beberapa orang yang mengenalinya tampak segera mendatangi senapati pasukan khusus itu. Mereka bertegur sapa lalu berbincang ringan dan juga mengundang kehadiran Agung Sedayu di rumah masing-masing. Tentu itu adalah kewajaran yang sudah menjadi bagian hidup orang-orang Jati Anom. Dalam pandangan mereka, Agung Sedayu bukanlah tamu meski dia tinggal di Menoreh sangat lama.
Pemandangan agak lain muncul di hadapannya ketika dia tiba di depan rumah peninggalan orang tuanya. Yah, rumah itu kini menjadi pusat perintah untuk barak pasukan yang dibangun di sekelilingnya. Agung Sedayu tidak mempermasalahkan keputusan kakaknya. Dia tidak keberatan seandainya ada bagian haknya yang digunakan untuk pengembangan barak pasukan. Segala yang diterimanya dari I Untara justru jauh lebih bernilai dan berharga jika dibandingkan tanah peninggalan Ki Sadewa untuknya.
Agung Sedayu melangkah masuk sambil menuntun kuda. Seorang prajurit jaga segera menghampirinya, menyapa ramah lalu mengambil alih kekang kuda kemudian menempatkan hewan itu di kandang yang terletak di bagian belakang barak pasukan.
Ki Untara sudah menunggunya. Ketika Agung Sedayu datang seperti yang diucapkan sebelumnya saat mereka berkuda meninggalkan kotaraja, dia menyambut adiknya dengan senyum yang tidak berubah sejak dulu—hangat, tapi tidak berlebihan. Nyi Untara dan putra mereka tampak pula di serambi depan.
“Mbokayu,” kata Agung Sedayu sambil menyerahkan dengan santun buah tangan dari Sekar Mirah. “Sekadarnya saja dari ibu si bayi.”
Nyi Untara tersenyum, tertawa pendek lalu berkata, “Oh, jadi sekarang ada yang percaya diri berkata ‘dari ibu si bayi.’”
Ki Untara yang mendengar pun tersenyum pula kemudian menepuk bahu adiknya sambil mengundangnya masuk ke pringgitan.
Dua orang tampak sudah melantai di atas tikar pandan. Mereka adalah Ki Lurah Panuju, Sabungsari—wajah yang akrab dengan Agung Sedayu.
Mereka berbincang singkat tentang keadaan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan, tentang cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat, dan tentang orang-orang yang mulai kembali pada kebiasaan lama setelah hari-hari yang berat di Watu Sumping.
Sejenak kemudian, setelah Nyi Untara menghidangkan kudapan dan minuman jahe, Ki Tumenggung Untara menampakkan kesungguhan pada garis wajahnya.
“Sedayu. Aku tidak sedang mengguruimu di depan beliau berdua. Aku menganggap mereka sama denganmu, keluarga sendiri,” ucap Ki Untara pelan.
Agung Sedayu dan dua orang di sampingnya mengangguk bersamaan.
“Angin tidak selalu datang dari depan,” lanjut Ki Untara. “Kadang dari samping. Kadang dari belakang. Kadang dari orang yang merasa kau lindungi.”
Agung Sedayu tekun mendengar ucapan kakaknya.
“Semakin tinggi orang berdiri,” Ki Untara meneruskan, “semakin sempit tempatnya berpijak sedangkan pandangannya semakin jauh dan luas. Saat kau berdiri di sana, kau tidak lagi bebas memilih hanya yang kau sukai. Kau akan dipaksa memilih.”
Agung Sedayu menunduk dalam-dalam. Demikian pula Sabungsari dan Ki Lurah Panuju. Bagi mereka, nasihat Ki Untara berlaku pula pada diri mereka.
“Aku tahu kau tidak mengingkan kedudukan. Itu tidak berubah sejak kau diangkat sebagai lurah pasukan khusus oleh mendiang Panembahan Senapati. Tidak ada orang yang mengira keputusan beliau. Tidak ada, bahkan gurumu sekalipun mungkin tidak akan mempunyai bayangan seperti itu, tidak pula aku.”
Ki Untara mengatur napas sejenak, lanjutnya, “Aku tidak pernah memintamu memilih untuk menjadi prajurit atau guru di padepokan. petani atau apa saja. aku hanya memintamu tetap menjadi dirimu sendiri.”
“Mudah-mudahan saya tetap dalam keadaan yang diharapkan oleh Kakang, guru dan seluruh keluarga kita,” sahut Agung Sedayu.
Di luar, dari halaman matahari tampak mulai bersembunyi di balik rimbun daun pohon nangka yang tumbuh di atas halaman yang melahirkan mereka. Untuk sesaat, semuanya terasa biasa. Tapi di antara kata-kata yang sederhana itu, bagi Agung Sedayu, Ki Untara seolah sedang menempati kedudukan Kyai Gringsing.
Tak lama berselang, Agung Sedayu meminta diri. Dia mengatakan akan mengunjungi Ki Widura di Jati Anom sekaligus menengok Perguruan Orang Bercambuk. Sabugnsari dan Ki Lurah Panuju menawarkan diri untuk menemani. Agung Sedayu tidak keberatan. Selanjutnya, mereka berjalan kaki tenang menuju padepokan yang diasuh oleh Ki Widura.
Beberapa murid sedang berlatih dengan tertib, cambuk-cambuk mereka berdesing ringan membelah udara pagi. Sekali-kali terdengar ledakan cambuk yang dihentak dengan tenaga wadag.
Agung Sedayu berdiri di bawah regol dengan mata terpejam. Dia mengenang masa awal belajar ilmu cambuk dari Kyai Gringsing. Seulas senyum menghias wajahnya. Sabungsari dan Ki Lurah Panuju saling pandang lalu mengangguk dengan tersenyum pula.
“Sedayu,” seru seseorang dari dalam bangunan yang berada agak menjorok di dalam. Seorang lelaki yang sudah bergaris-garis senja di wajahnya terlihat bergegas keluar, berjalan dengan langkah kaki ringan sebagaimana wajarnya seseorang yang berlatih kanuragan, Ki Widuran.
“Paman,” sahut Agung Sedayu penuh hormat saat melihat pamannya menyongsong dirinya.
Setelah meraih punggung tangan Ki Widura, Agung Sedayu merendahkan tubuh, lalu mereka berangkulan dengan hangat, sebuah pertemuan yang meniadakan sekat kerinduan setelah sekian waktu terpisah oleh tugas.
“Marilah, masuklah. Jangan biarkan angin senja membuat pembicaraan kita membeku di bawah regol,” ajak Ki Widuran dengan nada suara yang kebapaan.
Langkah mereka kemudian beriringan melintasi halaman yang tertata rapi. Sabungsari dan Ki Lurah Panuju mengikuti dari belakang dengan langkah yang tetap terjaga kesopanannya. Mata Agung Sedayu sempat menyapu keadaan sekeliling; setiap sudut bangunan ini seolah memanggil kembali kenangan lama yang sempat mengendap.
“Kabarmu di Menoreh selalu sampai ke telingaku, meski terkadang lewat angin yang membawa berita peperangan,” Ki Widura menghentikan ucapannya. Dia sadar ada batas yang tidak perlu diucapkan, maka yang terucap kemudian, “Mudah-mudahan Ki Gede dalam keadaan baik dan sehat selalu.”
Agung Sedayu menarik napas panjang. “Selalu ada kisah dari perjalanan panjang seseorang, tapi segala sesuatu tetap di bawah perlindungan Yang Maha Agung.”
Kesibukan para cantrik berlatih benar-benar menjadi sesuatu yang menambah kehangatan. Bahkan Sabungsari menyatakan ketertarikan untuk turut berlatih, demikian pula Ki Panuju. Agung Sedayu tersenyum dengan kepala terangguk-angguk ketika Ki Widura memperkenankan permintaan itu.
Sepeninggal dua orang itu, Ki Widura dan Agung Sedayu pun bercakap tentang perkembangan Glagah Putih dan Rara Wulan. Ki Widura sempat menitipkan pesan pada Sedayu agar Glagah Putih menyempatkan diri untuk datang ke Jati Anom.
Agung Sedayu mengangguk, katanya, “Dia pasti melakukan itu setelah Tanah Perdikan mulai agak tenang.”
Sesuatu yang lain memancar dari mata Ki Widura tapi dia memilih untuk menahan diri. Benar, Ki Widura merasa bahwa dirinya sudah tak perlu lagi bertanya segala hal yang terhubung dengan keputusan keponakannya itu sebagai pemimpin prajurit. Yang terpenting baginya adalah Tanah Perdikan dan semua orang di atasnya berada dalam keadaan sejahtera.
Waktu melayang sedikit lama hingga Agung Sedayu merasa tiba saatnya untuk kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.
“Paman,” sahut Agung Sedayu seraya beringsut mundur untuk berpamitan. “Terima kasih atas segalanya. Paman sudah menjaga perguruan ini seperti harapan guru.”
Sabungsari melangkah maju, diikuti Ki Lurah Panuju. Mereka juga meminta diri kembali ke barak.
“Berhati-hatilah,” kata Ki Widura diiringi anggukkan mantap.
Ketiganya kemudian melangkah meninggalkan pendapa. Ayun kaki mereka membentuk bayangan agak panjang di atas tanah halaman yang penuh dengan tanaman asri.
Tidak lama kemudian mereka bertiga sampai di rumah Untara yang juga menjadi pusat kendali barak prajurit di Jati Anom.
Agung Sedayu berhenti sejenak di halaman, menarik napas panjang sebelum melangkah mendekat.
Pintu terbuka ketika langkahnya terdengar.
Ki Untara menyambut di ambang pintu.
“Saya kembali ke Menoreh, Kakang.”
Ki Untara mengangguk. “Jaga diri dan semua orang.”
Dari dalam rumah, Nyi Untara melangkah keluar membawa bungkusan kecil. Ia menyerahkannya kepada Agung Sedayu tanpa banyak kata.
“Untuk perjalananmu,” ucapnya lirih.
Agung Sedayu menerima bungkusan itu dengan penuh hormat. Dia kemudian menundukkan kepala kepada Untara. “Kakang, aku mohon diri.”
Tidak ada kata-kata panjang setelah itu.
Agung Sedayu memutar langkah kembali ke regol. Seekor kuda telah disiapkan untuknya. Kuda dibedal perlahan meninggalkan Jati Anom. Jalan tanah yang membentang menuju arah Menoreh tampak biasa saja. Beberapa orang yang berpapasan menghentikannya sekadar untuk bertegur sapa. Tidak ada yang menahan lebih lama.
Dalam waktu yang diperkirakan Agung Sedayu telah melewati kotaraja, seorang lelaki melangkah masuk melalui regol perguruan orang Bercambuk. Langkahnya tampak serasi dengan raut wajahnya yang tenang tapi penuh kesungguhan. Dia berhenti sejenak di ambang halaman, memandang ke arah tempat para murid berlatih, sebelum kemudian melangkah lebih dalam.
Ki Widura masih duduk di serambi depan dari pondokan mungil yang terletak sedikit menjorok ke dalam tapi dapat melihat kesibukan di regol. Paman Agung Sedayu itu terkejut ketika mengenali orang yang memasuki halaman lalu berjalan mendekat padanya adalah orang yang pernah bertarung dengannya, Ki Hariman.
“Selamat sore, Kyai,” sapa Ki Hariman tenang meski ingatannya sedikit terusik saat raut wajah Ki Widura benar-benar dikenalinya.
“Selamat sore, Ki Sanak,” ucap Ki Widura tenang tapi penuh waspada.
“Apakah aku tidak mendapatkan izin untuk masuk lalu duduk di dalam?” tanya Ki Hariman sedikit tajam.
“Saya belum begitu kenal dengan Ki Sanak,” sahut Ki Widura. “Atas keperluan apakah Ki Sanak datang ke perguruan kecil ini?”
“Oh ya, saya adalah Ki Hariman,” sahut Ki Hariman. Bola matanya tampak bergerak tapi cukup jauh dari kesan sedang mencari atau mengamati sesuatu.
“Perguruan kecil,” ucap Ki Hariman mengulang. “Perguruan kecil yang mengajarkan tata cara bercambuk sehingga dikenal sebagai Perguruan Orang Bercambuk.”
