“Maaf, Ki Sanak. Saya tidak paham maksud dari kata-kata Anda.”
“Aku adalah Ki Hariman, seorang murid yang tidak beruntung sehingga tidak pernah berguru langsung pada Kyai Gringsing.”
Ki Widura mengerutkan kening.
“Tapi melalui kitab ini, aku telah menyadap segalanya,” lanjut Ki Hariman sambil mengeluarkan kitab bersampul lusuh lalu diperlihatkan pada Ki Widura begitu terbuka.
Ki Widura memicingkan mata tapi belum benar-benar ingin memberikan pendapat. Dia ingat dan mengetahui bahwa Kyai Gringsing meninggalkan sebuah kitab untuk dua murid utamanya, Agung Sedayu dan Swandaru. Tapi wujud kitab baru dilihatnya pada sore itu.
“Saya mendengar Ki Sanak saat ini,” kata Ki Widura dengan nada menggantung.
“Yah, beritahu aku satu hal,” kata Ki Hariman lalu maju selangkah sementara Ki Widura sudah berdiri sejak mereka membuka percakapan.
“Apakah itu? Saya harap dapat membantu,” sahut Ki Widura.
“Apa yang kau ketahui dari kitab ini? Seberapa dalam pemahaman Kyai terhadap kitab Kyai Gringsing ini,“ kata Ki Hariman yang sedikit menaikkan nada tapi bukan perintah.
Ki Widura menggeleng. “Saya tidak tahu sedikit pun dari kitab itu.”
“Jika demikian, aku minta Kyai keluar dari perguruan ini karena selanjutnya aku yang mengurus segala sesuatunya,” kata Ki Hariman.
Ki Widura membuang pandangan jauh ke lereng Merapi. “Bagaimana Ki Sanak mengatakan itu sedangkan saya sendiri bukan siapa-siapa di perguruan ini?”
Ki Hariman menyimpan kitab Kyai Gringsing di balik pakaiannya.
Tiba-tiba dia menerjang Ki Widura dengan serangan yang menghentak jantung.
Ki Widura melompat ke samping, membuang diri ke tanah lapang lalu tegak berdiri di sana.
Dalam kecepatan hebat, tiba-tiba sehelai cambuk telah berada dalam genggaman Ki Hariman. Dengan senjata itu, dia menyerang Ki Widura dengan kekuatan yang terukur.
Ki Widura terkejut karena tata gerak lawannya sama persis dengan dasar-dasar Perguruan Orang Bercambuk, tapi dia tidak mempunyai waktu untuk bertanya atau mengamati lebih jauh.
Serangan Ki Hariman menjadi semakin dahsyat. Cambuknya menyambar-nyambar ke segenap tubuh lawannya. Setiap gerak kakinya adalah tendangan yang mengarah pada bagian tubuh yang lemah dan berbahaya. . Berkali-kali dia melepaskan serangan yang mematikan.
Di bawah kejutan dan tekanan yang masih mengalir, Ki Widura melawan dengan cukup kuat. Sambaran cambuknya berdesing sebagai pertahanan sekaligus serangan balik mengarah pada seluruh tubuh musuhnya. Orang ini, pikirnya, tidak membual dengan kitab Kyai Gringsing
Halaman itu menjadi bising dan sangat berisik dengan bunyi ledakan yang sahut menyahut.
Beberapa cantrik perguruan berhamburan menuju halaman lalu cepat membuat lingkar pengepungan.
Ki Hariman tajam membuat kesimpulan dan perhitungan. Kemampuan Ki Widura sama sekali tidak mencerminkan kedalaman isi kitab Kyai Gringsing. Mungkin dia benar-benar tidak tahu. Selain itu, melihat susunan gelar kepungan cantrik perguruan, Ki Hariman dapat menakar kemampuan seluruh orang yang berada di halaman. Tapi, apakah bentrokan itu setara yang dengan tujuannya?
Dari arah barak Jati Anom, terdengar derap beberapa orang berlari-lari mendekati arena pertarungan. Mereka adalah prajurit Mataram yang mendapatkan giliran untuk berlatih kanuragan pada sore itu. Ketika melihat perkelahian di halaman, kelompok prajurit itu segera menggabungkan diri dalam gelar kepungan sebagai pelapis.
“Tidak menguntungkan,” pikir Ki Hariman saat mengenali tanda keprajuritan yang tersemat pada pakaian orang-orang yang datang belakangan. Dia menghentikan serangan dengan melompat tinggi, menjauhi Ki Widura.
Seakan mengerti tujuan orang yang berkelahi dengannya, Ki Widura kemudian berkata lantang, “Jika kau mencari Agung Sedayu, dia sudah meninggalkan tempat ini, baru saja. Kau kejarlah Sedayu, mudah-mudahan ada jawaban darinya.”
Rasa kesal benar-benar terpancar dari wajah dan sorot mata Ki Hariman.
“Aku pergi,” katanya lalu melesat keluar dari lingkungan perguruan kemudian menghilang di ujung persimpangan.
Sore yang belum bersentuhan dengan senja menjadi batas nalar Ki Hariman saat dia sudah mencapai hutan kecil yang berada di luar wilayah Jati Anom. Di dalam pikirannya, muncul kesimpulan bahwa Sangkal Putung jelas bukan tempat aman baginya karena dihuni pula oleh orang berkemampuan tinggi. Sedangkan Jati Anom justru menjadi tempat paling berbahaya seandainya dia berdiam dua atau tiga pekan lagi. Barak prajurit dan petugas sandi Mataram adalah pengunci ruang geraknya.
“Tangan Purbaya terlalu keras jika aku tetap berada di sini,” ucapnya dalam hati sambil mengira-ngira wilayah yang cukup aman dari jangkauan orang-orang kotaraja. Gunung Kendil, mengapa tidak? Meski perkemahan Raden Atmandaru sudah rata dengan tanah, tapi setidaknya wilayah itu perlahan-lahan akan dijauhi orang.
Ki Hariman tetap bergerak. Untuk kali ini, dia akan kembali ke Gunung Kendil sambil menunggu kesempatan bertatap muka dengan Agung Sedayu. Yah, setidaknya orang yang menjadi lawannya di Jati Anom memberikan keterangan yang dipercaya.
Kabar Kitab Kyai Gringsing Tiba di Istana
Di dalam ruang dalam mulai redup ketika cahaya matahari terhalang puncak Merapi, Pangeran Purbaya berdiri menghadap jendela terbuka yang mengarah ke alun-alun.
Seorang petugas sandi datang menghadap, melaporkan perkembangan terakhir yang terjadi di Jati Anom.
“Seseorang muncul di Jati Anom dan benturan terjadi ketika Ki Widura mencoba menghalanginya,” ucap petugas sandi.
Pangeran Purbaya mengangguk.
“Menurut Ki Tumenggung Untara, Ki Widura mengatakan bahwa orang itu datang untuk memintanya mundur dari kedudukan sebagai penanggung jawab Perguruan Orang bercambuk,” lanjut petugas sandi.
Sekejap kemudian, sunyi datang menyapa. Pangeran Purbaya mengerutkan kening.
“Cukup menarik,” sahut pendek Pangeran Purbaya.
“Pangeran,” kata petugas sandi dengan nada sedikit ditahan. Sorot matanya telebih dulu menyatakan sesuatu yang membuat seseorang tidak nyaman. Prajurit ini diam sedikit lebih lama.
“Mengapa tiba-tiba Anda berhenti?” tanya Pangeran Purbaya.
“Saya, Pangeran,” kata petugas sandi sambil menahan napas. Keningnya berkerut seakan dia berpikir keras untuk memilih kata-kata yang akan diucapkan.
“Ki Untara menyatakan ada sesuatu yang patut dicurigai dengan kemunculan orang itu di Jati Anom,” jelas petugas sandi.
“Bagaimana lengkapnya itu?”
“Ketika orang itu pergi meninggalkan halaman padepokan, Ki Lurah Panuju dan Sabungsari sedang bergegas menuju tempat terjadinya benturan, di latar depan Perguruan Orang Bercambuk. Dari yang diterima Ki Untara, Ki Lurah Panuju dan Sabungsari sepertinya mengenal orang itu,” lanjut petugas sandi.
Dua lurah Mataram mengenali orang yang membuat masalah di padepokan yang selama ini cukup adem dan tenang, bahkan telah cukup banyak membantu Mataram melewati masa sulit. Lintas pikiran Pangeran Purbaya mulai sibuk dengan cabang-cabang peristiwa yang mungkin dapat terjadi dalam waktu dekat atau justru malah memendam bahaya untuk masa depan.
“Ki Untara mengatakan di depan saya, dan kebetulan Ki Lurah Panuju serta Sabungsari ada di dekat kami berdua. Kata Ki Untara, orang itu besar kemungkinan adalah pengiku Raden Atmandaru. Ki Lurah Panuju dan Sabungsari juga mengatakan pada saya sebuah keterangan yang cukup kuat dijadikan bukti,” kata petugas sandi lalu menyampaikan keterangan itu pada Pangeran Purbaya dengan suara hampir berbisik. Pangeran Purbaya bergumam, lalu bertanya, “Bagaimana perkelahian itu berhenti?”
