Riak di Gerbang Istana
Dia bangun ketika embun masih menggantung di daun pisang, saat rumah-rumah di pedukuhan induk masih terkatup dan ayam baru sekali berkokok. Tubuhnya tua, tetapi geraknya tidak gemetar. Dia mengambil tongkat, mengenakan pakaian sederhana – lebih menyerupai pakaian orang yang mengurus masalah kecil. Dia bukan orang besar dan berpengaruh.
Dia berhenti sejenak di depan regol. Dari balik bilah kayu yang dingin, dia memandang rumah Ki Gede. Tidak ada suara yang mendaki angkasa, menembus langit. Tidak ada air mata. Yang ada hanya tarikan napas panjang seperti orang yang sedang mengakui sesuatu pada dirinya sendiri.
Bertahun-tahun dia menerima hukuman tak tertulis. Duduk di sudut saat musyawarah, dipanggil belakangan, kadang tidak dipanggil sama sekali. Dia menahan semuanya karena satu hal: Ki Gede masih ada. Selama saudaranya itu hidup, diamnya punya arti.
Pagi ini, diam mempunyai batas kekuatan lalu runtuh.
Larangan pada Pandan Wangi menancap lebih dalam daripada kabar kematian itu sendiri. Ki Argajaya tidak memikirkan siasat, tidak memikirkan pasukan khusus, tidak mempunyai kepentingan. Argajya dibenturkan pada satu hal; adat yang dilangkahi, hak anak yang dirampas tanpa penjelasan. Dalam kepalanya, urutan peristiwa itu terpampang jelas dan menyakitkan.
Ki Argajaya melangkah pergi tanpa menoleh.
Jalan tanah yang dikenalnya sejak muda dilaluinya dengan langkah cepat. Sesekali orang-orang yang berangkat ke ladang melihatnya, heran melihat orang tua itu berjalan pagi-pagi dengan arah yang tak biasa. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang menahan. Ki Argajaya membawa wajah orang yang sedang menutup pintu lama dan membuka pintu lain.
Saat matahari naik setengah dari pohon kelapa, dia sudah jauh dari pedukuhan. Yang dibawanya ke kotaraja bukan senjata telanjang dan amarah yang berteriak. Di tanah Mataram, diamnya Tanah Perdikan lebih berbahaya daripada dua ratus kelompok perang..
Kali Progo, jalanan berdebu dan udara panas tanpa sinar matahari menjadi saksi untuknya. Di atas ayun kakinya, Ki Argajaya tahu bahwa Keraton tidak mudah ditembus oleh orang tua berbaju lusuh dari Menoreh.
Tapi tahu itu dan tidak akan memaksa masuk. Di samping alun-alun, Ki Argajaya melihat banyak pedagang kecil, pengantar barang, dan orang-orang berlalu lalang dengan berbagai urusan dan tujuan. Yah, tujuan, mereka sama dengannya ; rela berjalan jauh demi tujuan.
Ki Argajaya mendatangi gardu jaga Keraton lalu berbicara kepada penjaga, kepada orang yang melewatinya, kepada orang berhenti lalu mendengar.
“Ki Gede Menoreh sudah tiada,” katanya datar. “Anaknya dilarang melihat jasad. Beginikah adat diperlakukan?”
Kalimat itu berpindah lebih cepat daripada langkah kuda. Mulut ke mulut, telinga ke telinga. Ada yang menoleh, ada yang bertanya ulang, ada yang menambahi sendiri. Dalam waktu singkat, kata dilarang berubah arti menjadi ditutup, ditahan, disembunyikan, dilarikan. Wajah para penjaga berubah. Nama dan tempat yang disebut orang itu tidak dapat diabaikan.
“Ki Sanak, adakah keperluan yang lain?” sapa seoran gpenjaga dengan nada rendah.
Ki Argajaya menggeleng. “Saya tidak mempunyai keperluan lain. Hanya mengabarkan Ki Gede wafat dan anaknya dilarang pasukan khusus untuk melihatnya terakhir kali.”
Dua penjaga datang mendekat karena mereka mendengar; anaknya dilarang pasukan khusus!
“Saya tidak meminta untuk masuk atau bertemu Sinuhun maupun yang lain. Hanya sebuah kabar, Ki Gede wafat dan anaknya dilarang pasukan khusus untuk melihatnya terakhir kali.”
Kerumunan kecil terbentuk.
Bukan rusuh, tapi cukup gaduh untuk membuat orang-orang di balik halaman berpaling lalu bertukar pandang. Dua nama, Ki Gede Menoreh dan Pandan Wangi. Ada bobot istimewa dari suara datar Ki Argajaya.
Seorang perwira memerintahkan agar Ki Argajaya dibawa menjauh. Orang tua itu tidak melawan. Dia berdiri, tongkat diketukkan sekali ke tanah.
“Aku tidak meminta masuk,” katanya. “Aku hanya ingin yang di dalam tahu bahwa Ki Gede Menoreh tiada dan anaknya dilarang melihat jasad ayahnya terakhir kali. Inilah yang sedang berlangsung di Mataram.”
Ucapan yang menikam tepat di jantung – berlangsung di Mataram.
Kalimat itu sampai ke telinga yang tepat.
Pangeran Purbaya mendengar kabar itu bukan sebagai laporan resmi, tapi riak yang tak wajar. Dia keluar dari ruang dalam dengan langkah tenang, wajah tak berubah, namun nalarnya bekerja cepat. Dia melihat kerumunan, melihat lelaki tua yang berdiri tanpa takut, tanpa hormat berlebihan.
Pangeran Purbaya tidak langsung bertanya. Dia membiarkan suasana mereda sambil membaca wajah-wajah di sekitarnya. Sejenak kemudian, dia mendekat tapi tidak sebagai pangeran tapi orang yang ingin tahu.
“Siapakah Ki Sanak?” tanya Pangeran Purbaya.
“Ki Argajaya,” jawab singkat orang tua tanpa mengurangi rasa hormat dan tidak menunjukkan rasa cemas.
Pangeran Purbaya mengangguk singkat. Nama itu bergerak seperti pisau tipis di benak Pangeran Purbaya. Saudara Ki Gede. Orang yang pernah dipinggirkan. Orang tua yang sudah tidak punya kepentingan. Tidak ada janji yang diucapkan Pangeran Purbaya untuk menyelesaikan persoalan. Tidak ada perintah pengusiran yang diucapkan tegas. Tapi ada kepastian; berita kematian Ki Gede dan larangan bagi Pandan Wangi tidak datang dari petugas sandi maupun prajurit.
Kerusuhan kecil mereda.
Ki Argajaya segera menjauh. Dia sadar bahwa dirinya tidak dapat berlama-lama di depan Keraton. Sesuatu yang sama tidak pantasnya dengan larangan bagi Pandan Wangi, tapi dia sudah memberi kesaksian, sudah menyampaikan kebenaran, selesai.
Pangeran Purbaya kembali ke dalam dengan wajah tetap tenang. Tapi di kepalanya, satu keberanian yang selama ini hanya menjadi kabar angin ternyata menampakkan diri tanpa diminta. Benar, wajah yang membayang di dalam benaknya harus diawasi lebih hati-hati.

Ki Wedoro Anom – Laporan yang Menggeser Arah
Ki Wedoro Anom tiba di Karta ketika matahari sudah lingsir ke barat. Batu-batu halaman Keraton tampak tertekan tapi Ki Wedoro Anom tidak peduli dengan itu. pDia langsung menuju pintu dalam. Dia tahu bahwa dirinya sedang mengendalikan angin dan cuaca.
Segalanya masih tampak seperti hari sebelum keberangkatannya ke Tanah Perdikan. Tenang mengalir seakan tidak tersentuh oleh kebisingan Menoreh.
Tidak ada kebingungan, tidak ada tanya berulang.
Ki Wedoro Anom rela menunggu karena tahu kesibukan hari-hari di Keraton. Telalu banyak urusan dan permasalah. Dia tidak tergesa. Orang yang membawa kemenangan kecil dan kabar besar tidak boleh terlihat tergesa dan bersikap seperti pahlawan.
Seorang penjaga kemudian datang lalu mempersilakan masuk ke ruang pertemuan sisi luar. Pengawal itu mengatakan bahwa Pangeran Purbaya sudah menunggunya di sana.
Hati berbunga, siapa dirinya hingga seorang pangeran bersedia menunggu? Apakah berita kemenangan di Dusun Benda sudah tiba sebelum dirinya? Itulah kemewahan.
“Aku mendengar ada kemenangan di bagian barat,” Pangeran Purbaya membuka percakapan.
Ki Wedoro Anom mengangguk, rasa kemenangan tertahan. “Dusun Benda, Pangeran.”
“Adakah berita lain?”
Wedoro Anom tetap berdiri di tempatnya dengan jantung berdenyut lebih cepat dari biasanya. Bertanya pencapaian? Suaranya tetap rendah, terukur. Dia melaporkan yang terlihat dan yang terdengar; tentang Ki Gede yang sebab kematiannya seperti disembunyikan, yang jasdanya tidak diperlihatkan jasadnya; tentang pasukan khusus yang bergerak dan menutup rapat segala sesuatu.
Ki Wedoro Anom tidak sedang mencurigai seseorang atau menyebabkan pihak tertentu menjadi tertuduh. Tidak, dia memang hanya mengatakan yang diketahui saja. Dia hanya mengabarkan kenyataan saja.
Nama dan wajah seseorang tiba-tiba menggantung di antara mereka.
Pangeran Purbaya berkata kemudian, “Sinuhun sudah menentukan sikap. Mungkin ada keputusan yang dapat memperbaiki beberapa keadaan.”
Ki Wedoro Anom memahami artinya seketika: memperbaiki beberapa keadaan.
Rasa kemenangan tetap harus ditahan. “Aku tidak menginginkan jabatan dalam keadaan pelik seperti sekarang ini,” katanya dalam hati.
“Siap perintah, Pangeran,” ucap Ki Wedoro Anom sambil membenahi sikap berdirinya.
Pangeran Purbaya mengatakan sesuatu padanya dengan suara pelan, sangat pelan.
Setelah Ki Wedoro Anom pergi, Pangeran Purbaya tidak segera memanggil satu orang pun. Dia sendirian di dalam ruangan sambil membuka kembali urutan waktu di kepalanya: orang dusun lebih dulu, lalu prajurit. Keluhan adat lebih dulu, lalu pertempuran. “Peristiwa ini bukan suatu kebetulan. Ini terlalu rapi jika sengaja dirancang. Ki Patih Mandaraka pun tidak akan mungkin gegabah membuat rancangan seperti ini. Ini adalah akibat dan dia mengalir,” katanya dalam hati.
Pangeran Purbaya memikirkan Agung Sedayu tapi bukan sebagai tersangka, bukan pula sebagai korban. Agung Sedayu ada orang yang seharusnya mampu mencegah kekacauan semacam ini. Kekacauan yang meluas; hanya ada dua kemungkinan gagal, atau pembiaran.
Putra Panembahan Senapati itu tidak menyukai keduanya.
Namun dia sadar satu hal lain: apakah Sinuhun sudah mengetahui? Seandainya tahu, suara tidak boleh dilantangkan keras-keras. Keliru menyikapi kematian Ki Gede, maka Keraton sedang membakar bangunannya sendiri. Terlambat memutuskan, Keraton akan kehilangan wibawa.
Pangeran Purbaya memanggil seorang sandi. “Pergilah ke Tanah Perdikan. Buatlah pembagian tugas. Perkembangan Menoreh tidak boleh dilewatkan setengah hari pun!”
“Dan pasukan khusus?” tanya abdi itu hati-hati.
Pangeran Purbaya beranjak, melangkah menuju ruang dalam. Hanya satu keputusan dan tindakan yang dapat diperbuatnya; menunggu.
Kebisingan di Menoreh, cepat atau lambat, pasti akan membuat gaduh di kotaraja. Sementara dari jalur sandi yang lain, Pangeran Purbaya sudah mengetahui bahwa api sudah menyala di Bukit Menoreh.
