Menjelang senja hari delapan sejak kedatangannya, cahaya di jalan utama sudah kehilangan warna. Bangunan di belakang Agung Sedayu masih menyisakan bayang pintu ketika tubuhnya melesat ke depan. Tidak ada suara langkah. Hanya perubahan udara, seperti sesuatu yang lewat terlalu cepat untuk dikenali. Dalam sekejap, dia sudah menjauh ke arah timur pasar induk—lenyap di antara lorong-lorong yang mulai lengang.
Di pinggir pasar, seekor kuda telah menunggu. Agung Sedayu meloncat ke punggungnya tanpa memperlambat gerak. Kuda itu berbalik tajam dan melaju, meninggalkan debu tipis yang segera turun kembali ke tanah.
Jalan menyempit. Sungai kecil mengiringi sisi kiri, airnya mengalir tenang, memantulkan cahaya senja yang kusam. Pepohonan di tepi sungai berdiri rapat, daun-daunnya berdesir pelan diterpa angin sore. Agung Sedayu menunduk rendah di punggung kuda, pandangannya lurus ke depan. Tidak ada keraguan di sana—hanya arah.
Beberapa kali dia menyeberangi jalan tanah yang basah oleh sisa hujan. Bau lumpur, dedaunan, dan air sungai bercampur menjadi satu. Kuda mempercepat langkah saat jalan mulai menanjak, lalu melambat ketika memasuki wilayah depan Dusun Benda.
Ki Lurah Sora Sareh memandang arah derap kuda menembus senja. Dia menunggu di balik pagar kayu rendah dengan sikap siaga. Dia tidak berencana menyambut dengan kata, tangannya menggenggam tongkat pendek milik Ki Jambuwok. Hanya satu anggukan kecil ketika dilihatnya Agung Sedayu melompat turun dari punggung kuda. Mereka berjalan berdampingan, menjauh dari jalan, masuk ke ruang yang terlindung oleh rumpun bambu.
Mereka berdiri berhadapan. Senja menutup wajah mereka setengah-setengah. Agung Sedayu berbicara pelan, hampir tak terdengar. Kata-katanya pendek, terukur. Ki Lurah Sora Sareh mendekat sedikit, mendengarkan tanpa menyela. Sesekali dia mengangguk, matanya menyempit, menyimpan setiap petunjuk.
Tidak ada peta yang dibentangkan. Tidak ada gerak tangan yang berlebihan. Hanya bisikan, jeda, lalu bisikan lagi—tentang arah maju, tentang menutup celah, tentang mempersempit ruang gerak tanpa memancing bunyi.
Waktu berjalan tanpa disadari. Ketika senja berubah menjadi abu-abu tua, Agung Sedayu sudah melangkah mundur. Ki Lurah Sora Sareh menunduk hormat, lalu berbalik menuju wilayah jaganya.
Tanpa mengungkapkan rencana, Agung Sedayu akan mendatangi Glagah Putih yang pasti dalam keadaan siap—diam, rapat, dan menunggu.
Malam sudah mapan ketika Agung Sedayu berjalan meninggalkan pos jaga Ki Lurah Sora Sareh. Tidak ada kuda. Tanah dingin menyerap bunyi langkahnya. Suara serangga berlapis-lapis, menutup ruang seperti tirai tipis yang tak pernah benar-benar diam.
Perintah Senyap Sang Sepupu
Jalan setapak membawanya ke arah tempat Glagah Putih menjaga wilayah. Di sana, di batas cahaya dan gelap, dia tampak berdiri dengan tubuh tegak, tangan di belakang punggung. Dia tidak bergerak ketika melihat bayangan gelap mendekat, seolah kedatangan itu seperti sudah diperkirakan—dan dinanti.
Mereka berhenti berjarak dua langkah.
Tidak ada sapaan.
Glagah Putih menoleh lebih dulu. Wajahnya tenang, tapi mata itu tidak. Ada sesuatu yang belum dilepas di sana. Sambil meredam gejolak, dia menunggu penjelasan.
Agung Sedayu tidak menyinggung kabar yang telah lewat. Dia bicara pelan, langsung ke inti. Perintah maju. Arah gerak. Cara mempersempit langkah lawan. Menyudutkan sampai pada lingkungan yang diinginkan. Kata-katanya terukur, bersih dari ledakan, seperti yang disampaikan pada Ki Lurah Sora Sareh—tapi dengan penyesuaian yang hanya bisa dimengerti oleh Glagah Putih.
Glagah Putih mendengarkan tanpa menyela. Rahangnya mengeras tipis. Sesaat, seolah ingin bertanya. Tapi pertanyaan itu tidak pernah keluar. Dia hanya menarik napas pendek, lalu mengangguk satu kali.
“Laksanakan,” kata Agung Sedayu, lebih pelan dari sebelumnya.
Glagah Putih menjawab singkat. Suaranya datar, nyaris tanpa warna. Tangannya mengepal, lalu dilepas kembali di belakang punggungnya.
Agung Sedayu mundur selangkah. Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembenaran, berbalik dan berjalan pergi, membiarkan suara serangga kembali memenuhi ruang di antara mereka.
Glagah Putih tetap berdiri. Malam terasa lebih berat. Bukan karena perintah itu sulit, melainkan karena satu hal yang tidak dikatakan—dan sengaja dibiarkan tetap menggantung.
Malam sudah menutup rapat ketika Agung Sedayu meninggalkan pos jaga Glagah Putih. Langkahnya mula-mula tenang, lalu tiba-tiba memanjang—tanah seakan tertarik ke belakang tubuhnya. Dalam beberapa tarikan napas, dia sudah jauh, lalu kembali berjalan biasa. Suara burung hantu melintas dari balik pepohonan, memotong sunyi yang tebal.
Geram di Tepi Embung
Jalur menuju embung gelap dan lembap. Air diam di cekungan tanah memantulkan potongan langit, nyaris hitam. Angin tipis menggerakkan ilalang. Agung Sedayu berhenti di tepi bayang, menunggu.
Ki Demang Brumbung dan Sukra datang dari arah berlawanan. Wajah Ki Demang Brumbung keras tapi kusut; Sukra berjalan cepat, napasnya belum turun. Mereka sedang menunggu lawan salah langkah. Sejenak kemudian, berhenti beberapa langkah, memicingkan mata seperti mengenal baik orang yang berdiri tegak menunggu mereka dengan isyarat tertentu, Agung Sedayu. Tidak ada salam.
Pemimpin pasukan khusus, orang kepercayaan Ki Gede Menoreh itu langsung bicara. Pendek. Perintah maju. Arah berbeda dari Ki Lurah Sora Sareh dan Glagah Putih. Di sini, gerak dipaksa rapat, menutup dari sisi yang tidak biasa. Tidak ada jalan mundur. Tidak ada alasan untuk penjelasan.
Ki Demang Brumbung mengangguk, lalu berhenti setengah. Matanya menyempit, seperti menghitung sesuatu yang tak pas. Dia menahan kata-kata yang ingin keluar. “Baik,” katanya akhirnya, suaranya berat. Kebingungan tidak hilang, hanya ditelan.
Sukra tidak bergerak. Rahangnya mengeras. “Ki Lurah,” katanya, sekali—tajam. Tidak ada jawaban.
Agung Sedayu melanjutkan, lebih pelan. Penekanan kecil pada waktu dan jarak. Perintah tetap maju, tapi dengan jejak yang diputus, dengan orang-orang yang ditarik lebih ke dalam.
“Ki Lurah.” Sukra mengulang. Kali ini suaranya naik, pecah. Amarah itu tidak diarahkan, tapi menuntut. Malam di sekitar embung terasa bergetar.
Agung Sedayu menoleh sebentar. Tidak menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan. Dia hanya menatap Sukra, singkat, lalu kembali ke Ki Demang Brumbung. “Laksanakan,” katanya.
Ki Demang Brumbung menarik napas, mengangguk lagi. Kebingungan itu kini menjadi beban yang harus dibawa sambil berjalan. Sukra memalingkan wajah, tangan mengepal, lalu terlepas.
Agung Sedayu melangkah pergi. Beberapa langkah biasa, lalu tubuhnya melesat dan lenyap di gelap. Di tepi embung, burung hantu bersuara lagi. Perintah sudah tertinggal—dan amarah belum.
Bila Anda berkenan dan demi kelangsungan berbagai kisah, kerjasama dan gotong royong adalah hal baik mengingat website ini dibatasi biaya sewa domain dan hosting.
Donasi dapat disalurkan sebagai bagian tenaga cadangan ke :
BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831
Demikian pemberitahuan. Terima kasih.
Kabar Tanpa Rupa
Malam masih basah oleh suara air ketika Agung Sedayu meninggalkan embung. Langkahnya menyusur tanah lembap, lalu tiba-tiba seakan menghilang, tubuhnya melesat, melipat bumi lalu memotong jarak. Untuk beberapa waktu lamanya, derap kaki Agung Sedayu seakan tidak menyentuh ujung rumput yang terinjak. Dari kejauhan, kediaman Ki Gede sudah terlihat sebagai gumpal gelap di antara pepohonan. Agung Sedayu kembali melangkah seperti biasa.
Dia berhenti sebelum memasuki halaman. Waktu tidak cukup. Rencana penyampaian langsung diputus di situ juga.
Di gardu jaga, seorang pengawal berdiri tegak. Dia menoleh saat Agung Sedayu muncul dari gelap. Tidak ada tanda pengenal yang jelas, hanya sosok yang datang terlalu cepat untuk orang biasa.
“Siapa?” tanya penjaga itu.
Agung Sedayu mendekat satu langkah. Suaranya rendah. “Sampaikan pada Nyi Pandan Wangi,” katanya singkat. “Ambil sebagian pengawal. Bergerak ke Dusun Benda. Sekarang.”
Penjaga itu mengangguk cepat. Tidak bertanya. Tidak meminta penjelasan. Dia menjadi pucat saat melihat Agung Sedayu. Dia berbalik dan berlari menuju bangunan utama.
Pandan Wangi keluar rumah beberapa saat kemudian. Wajahnya pucat, mata merah. Amarah dan duka belum selesai bertengkar di dadanya. “Siapa yang datang?” tanyanya keras.
“Ki Rangga,” jawab penjaga itu. “Beliau berpesan agar sebagian pengawal segera ke Dusun Benda.”
Pandan Wangi terdiam. Dadanya naik-turun. Dia melangkah ke halaman, memandang ke arah gelap yang sudah kosong. “Kenapa tidak menunggu?” katanya dan terdengar seakan pada dirinya sendiri. Penjelasan yang ingin didengarnya pun mengapung pergi bersama malam.
Dia berbalik dengan rahang mengeras. Ditujukan pada penjaga yang berjarak sepuluh langkah di sampingnya. “Siapkan orang,” perintahnya. “Sekarang.”
Di halaman yang kembali sepi, suara air terus mengalir—sementara satu kesempatan untuk bicara telah lewat, tanpa bekas.
Di sisi halaman, Kinasih berdiri berjarak dua puluh langkah. Dia hanya melihat bayangan seorang lelaki yang sudah berbalik pergi. Tidak ada yang mengenali. Hanya langkah yang terlalu cepat, lalu hilang.
Agung Sedayu bergerak lagi. Tanah, air, dan gelap menelan jejaknya.
