Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 8 – Hari Kedelapan Kedatangan Agung Sedayu

Benturan itu meledak tanpa suara.

Fajar di Menoreh tidak membawa terang, hanya mengubah hitam menjadi abu-abu yang lebam. Di jalur setapak yang melilit pinggang bukit, kabut menggantung rendah, menyamarkan batas antara batang pohon dan raga manusia. Daun basah yang tidak berderak membuat hutan merasa bersalah.

Glagah Putih mematung. Telapak tangannya terangkat perlahan, jari-jarinya merapat—sebuah isyarat yang membekukan seluruh pergerakan di belakangnya. Matanya menyipit, bukan mencari bentuk, melainkan menangkap getaran yang mendahului rupa. Di balik kelokan, dia merasakan hembusan napas yang tertahan dan tumpuan berat yang tidak alamiah.

Di seberang tikungan, Ki Sambak Kaliangkrik merasakan desir yang sama pada tengkuknya. Kaki yang baru saja hendak melangkah, tertahan di udara sebelum kembali menapak tanpa tekanan. Dia memiringkan kepala sedikit, membiarkan nalurinya meraba kesunyian yang terlalu padat di depannya. Ada kewaspadaan yang memancar dari balik kabut, tajam dan dingin.

Mereka bertemu saat jarak pandang hanya tersisa dua langkah.

Tanpa satu pun kata yang pecah, benturan itu meledak. Hanya ada kilatan baja yang membelah kabut dan pergeseran kaki yang menggali tanah lembap. Glagah Putih merunduk, sebuah serangan luput dan hanya menyambar udara kosong di atas kepalanya. Dia memutar tubuh, mengirimkan serangan balasan yang memaksa lawan terhuyung ke belakang.

Ki Sambak Kaliangkrik tidak membalas dengan amarah. Dia menata kembali kuda-kudanya, menatap lurus ke dalam mata Glagah Putih. Di sana, mereka saling membaca: ada ketangguhan yang setara, dan ada tujuan yang lebih besar dari yang pernah dibayangkan.

Benturan meledak tanpa suara!

Glagah Putih memberikan isyarat dengan ayunan tangan yang pendek dan tegas ke arah belakang. Tubuhnya mundur satu langkah, namun matanya tak lepas mengunci lawan. Ki Sambak menanggapi dengan gerakan kepala yang hampir tak kentara—sebuah pengakuan sekaligus perintah bagi anak buahnya untuk ikut surut.

Mereka menjauh perlahan. Bayangan raga mereka menyatu kembali dengan kabut dan rimbun hutan. Jalan setapak itu kembali sunyi, hanya meninggalkan jejak tanah yang terkeruk dan aroma keringat yang menguap, membiarkan hutan menyimpan sendiri rahasia tentang siapa yang hampir kehilangan nyawa di fajar itu.

Glagah Putih tetap bergerak sesuai perintah Agung Sedayu; rapat, sempit, diam.

Uji Jarak Dua Senapati

Hampir seharian, sejak pagi, hujan seakan enggan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Memang bukan hujan deras yang memaksa orang berteduh, tapi tirai air yang terus-menerus, membuat hutan lembap dan licin, menyamarkan bunyi langkah sekaligus menghapus jejak. Lembah curam terbentang di bawah, disilang aliran-aliran kecil yang membelah tanah seperti parit-parit terbuka. Di tempat seperti ini, kuda pun dipaksa patuh pada kehati-hatian.

Ki Sor Dondong menarik kekang kuda, ada gerak tangan darinya. Pasukan berkudanya memperlambat gerak, kaki-kaki kuda menapak serong, menghindari lumpur yang bisa menelan pergelangan.

Senapati andalan Raden Atmandaru itu membaca medan sambil mendengar hujan. Air yang jatuh menimpa daun besar kerap menipu telinga, tetapi ada ketukan lain yang tak sepenuhnya alamiah. Derap tertahan. “Napas kuda” dia mendesis dalam hati.

Di seberang lekuk lembah, Ki Lurah Sora Sareh sudah lebih dulu menghentikan laju. Kurang dari sepuluh penunggang kuda di belakangnya berdiri setengah berjejer dengan tubuh rapat pada leher kuda. Ki Lurah Sora Sareh mengamati aliran sungai di depannya sebagai batas alami. Satu lompatan, cukup, pikirnya. Tapi dia tahu lebar aliran tidak akan cukup untuk menahan bila terjadi pertemuan yang tak diinginkan.

Benturan terjadi di titik sempit ketika dua jalur setapak menyatu. Kuda-kuda saling mendekat tanpa teriakan. Tombak menyentuh, pedang menepis. Satu kuda terpeleset, segera ditahan sebelum jatuh. Air sungai terciprat oleh hentakan, arusnya pecah sebentar lalu kembali menyatu. Tidak ada serangan penuh; hanya uji jarak dan niat, cepat dan terukur.

Ki Sor Dondong menakar kekuatan lawan, demikian pula Ki Lurah Sora Sareh.

Mereka saling menatap tajam dengan lambaran batin yang mendorong seperti kekuatan lahar, dingin dan mematikan.

Mereka tahu itu.

Tidak termasuk dalam perintah Agung Sedayu, Ki Lurah Sora Sareh mundur diikuti anak buahnya dengan wajah tetap menghadap arah lawan yang terhalang air hujan. Kuda-kuda ditarik ke jalur masing-masing, berderap meninggalkan medan yang mengejutkan, senjata tersarungkan. Air hujan kembali menguasai suara, menutup rapat sisa benturan.

Ketika Ki Lurah Sora Sareh mundur, ketika Ki Sor Dondong bergeser ke selatan, di depan mereka terjadi pertarungan sengit yang kacau. Kabut menjadi penghalang. Air menutup pandangan. Satu orang roboh terlentang. Jasad disembunyikan, yang selamat bergerak memberitakan.

Lima Kejapan di Batas Pategalan

Dari ujung  ke ujung, dari lembah ke lembah seakan ada penjelasan yang sedang digantungkan di kaki langit. Hujan turun tanpa perasaan – sepertinya – membasahi pategalan dan sawah yang memanjang seperti kulit bumi yang terkelupas. Tanah tidak rata, berlubang oleh bekas aliran air dan pijakan kaki manusia yang sudah lama berlalu.  Genangan tipis menjadi jebakan, maka setiap gerak harus memilih landasan agar tidak  salah tumpu. Tergelincir, bunyi kecil di bawah atap langit berhujan adalah kelemahan yang tetap terdengar oleh pendengaran terlatih.

Ki Garu Wesi menghentikan pasukannya di tepi petak sawah yang belum ditanami. Jumlah mereka tak lebih dari dua puluh orang. Wajah-wajah tertutup air hujan, mata menyipit, senjata terbungkus erat dalam genggaman. Ki Garu Wesi tidak memberi perintah keras. Dia membaca suasana, pandang matanya tajam ke bawah. Tanah di depannya baru saja terinjak, jejaknya samar tapi belum sepenuhnya larut.

Empat puluh langkah atau kurang dari itu, Ki Demang Brumbung sudah merendahkan tubuh bersama pasukannya di batas pategalan, Pasukannya tersebar renggang. Ada sesuatu yang ganjil, menurutnya. Gerak tangan memutar pun mengudara, mereka menyebar, membuat lingkaran yang tidak tampak oleh mata. Hujan membuat keadaan terasa lebih sulit.

Sukra menempati sayap kiri, bergerak pelan, merayap lambat, hampir tidak ada gesekan air saat tapak kakinya berpindah tempat. Napas teratur, pandangan menyapu rendah, mencari perubahan kecil di permukaan tanah. Air mengalir terpotong putus lalu bersatu lagi. “Ada orang,” katanya dalam hati.

Jarak tiba-tiba menghilang.

Sukra meledak! Menggebrak dengan ayunan tongkat kayu yang dijadikannya senjata! Bilah senjata dalam keriuhan hujan yang berisik. Dua pengawal Tanah Perdikan maju, melabrak lawan yang berada dalam jangkauan. Air muncrat, lumpur tercampur hujan. Tidak ada teriakan. Tidak ada perintah maju. Satu tebasan yang tertahan, satu orang tergelincir. Kelompok pasukan khusus melesat cepat. Sangat cepat. Gelar tersusun tanpa aba-aba.

Mendadak sunyi menjadi bayangan yang mengapung di sekitar mereka. Lima kejapan mata. Tidak lebih.

Dalam waktu sesingkat itu, dua pihak itu dapat menimbang banyak hal: jumlah, kedudukan, medan licin dan pengorbanan yang belum mempunyai harga.

Ki Demang Brumbung mengendurkan sikap tanpa menurunkan kewaspadaan. Sukra menahan langkah, membaca keputusan yang tidak diucapkan. Demikian pula barisan pasukan khusus yang tergabung dalam kelompok Ki Demang Brumbung.

Ki Garu Wesi menarik senjatanya setengah jengkal sambil menggelengkan kepala. Lengannya membuat gerakan memutar. Tidak ada rasa gentar yang membayang pada wajah anak buah Ki Garu Wesi, tapi mereka harus tunduk.

Pasukan bergerak kembali pada wilayah perondaan masing-masing. Cukup pelan dan sangat pelan.

Pada bagian lain, berjarak sekitar dua ratus langkah dari tempat panas, di sudut pategalan sempit. Benturan singkat terjadi. Laga yang tidak lama dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang tahu batas waktu selesai. Hujan membuat genggaman licin. Tebasan tidak sempurna. Dua orang terkapar, satu orang terluka parah, merayap meninggalkan gelanggang sambil berharap dapat mencapai permukiman.

Dua jasad ditinggalkan di tepi jalur tapi yang selamat berjanji sendiri pasti kembali.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 3 – Menahan Dera di Menoreh

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 12 – Kabut dan Desis Kali Tinalah

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 9 – Pandan Wangi Dilarang Melihat Jasad Ayahnya

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.