Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 9 – Pandan Wangi Dilarang Melihat Jasad Ayahnya

Siang itu suasana pendapa Keraton tidak begitu ramai. Langkah para abdi dan punggawa seakan tertahan. Percakapan di antara mereka cepat diredam air yang turun tanpa jeda.

Di dalam, ruang pertemuan terasa lebih sempit dari biasanya seolah dinding-dinding saling merapat karena kedinginan.

Sunan Agung duduk tenang, punggung tegak, lengan lurus berbaring pada tumpuan. Pandangan raja Mataram ini tidak terpaku pada satu titik perhatian. Dia diam dalam tenang dengan sorot mata yang seolah terhalang tirai yang menggantung dari dalam pikirannya.

“Sinuhun,” kata Pangeran Purbaya yang duduk berjarak agak serong di depan Sunan Agung. Suaranya jelas dan tersimpan ketenangan yang nyaris seimbang dengan sikapnya. “Pergeseran pasukan khusus dengan pengawal tentu bukan keadaan yang dapat dibiarkan berlangsung terus-menerus atau diizinkan untuk terulang. Dari sudut pandang keprajuritan, Ki Rangga Agung Sedayu dapat dinilai telah menyimpang.”

“Sudah barang tentu ada keberatan atau alasan kuat yang menjadi dasar kata penyimpangan,” ucap Sultan Agung.

“Saya tidak ingin mengatakan sesuatu yang buruk terhadap diri beliau, tapi itu bukan tuduhan yang berawal dari bukti atau saksi yang dipaksakan ada,” sahut Pangeran Purbaya.

Ada udara yang seolah berhenti mendadak di antara mereka.

Samar gesekan dapat diraba. Laporan Pangeran Purbaya pun bukan tuduhan atau berangkat dari kecurigaan. Semuanya itu kenyataan yang hanya menunggu waktu untuk dikabarkan padanya.  Sunan Agung mengangguk.

“Saya tidak dapat mengatakan ada kelemahan dalam siasatnya atau sesuatu yang sama dengan itu, tapi kenyataan pahit sudah terjadi,” lanjut Pangeran Purbaya, menahan jeda sejenak. “Wafatnya Ki Gede Menoreh.”

“Medan utara akan tetap dibiarkan sunyi atau sepi oleh siapa pun yang menjadi kepala keamanan Tanah Perdikan. Ki Rangga mungkin sedang bernasib buruk karena keberuntungan ternyata tidak sejalan dengan kehendaknya,” kata Sunan Agung kemudian. “Kenyataan adalah kenyataan yang tidak dapat diubah sekalipun kita menarik mundur waktu. Beberapa hari ini adalah hari penuh kekosongan di Tanah Perdikan.”

Pangeran Purbaya mengangguk. Tadi dia sadar bahwa keinginan tetap harus ditahan sampai raja Mataram tersebut memberi sedikit penerangan.

“Nyi Pandan Wangi, nama yang menggetarkan. Keberaniannya tidak perlu diragukan, tapi sikapnya pada Pangeran Selarong akan terbayang oleh banyak orang yang menjadi saksi kejadian,” lanjut Sunan Agung. “Swandaru, ke mana dia setelah pertempuran Watu Sumping? Saya tidak mendorong Paman membuat keputusan untuk orang itu secara khusus. Meninggalkan rumah tahanan, turut bertempur, lalu menghilang. Ki Rangga Agung Sedayu juga tidak diketahui keberadaannya. Tapi kita tidak dapat masuk untuk mengarahkan. Kewenanganku pun ada batasnya.”

Sunan Agung kembali diam. Matanya bergerak sedikit, menatap pemandangan di luar jendela.

“Saya akan mengirim dua atau tiga kelompok pasukan Menoreh meski mereka tidak meminta bantuan,” kata Pangeran Purbaya memecah kesunyian.

Sunan Agung mengangkat tangan. “Pangeran Selarong sudah berada di perbatasan. Dia berjaga di timur Kali Progo,” ucap Sunan Agung yang seperti menjadi tanda agar Mataram tetap menunggu. “Ketika tiga pasukan Paman  tiba di Menoreh, lalu mengalami kekalahan, saya sulit menerima kenyataan itu.”

Pangeran Purbaya tidak memberi tanggapan tapi benaknya penuh dengan kalimat yang senada; Agung Sedayu benar-benar mencemaskan. Pembiaran Sunan Agung hanya membuat pengaruh senapati itu semakin kuat. Memang dia tidak memegang kendali pasukan dalam jumlah banyak dan tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan yang berpangkal di Jati Anom, tapi pengaruhnya jauh lebih berbahaya daripada jumlah orang dan senjata. Agung Sedayu juga tidak mungkin merebut Mataram, pengaruhnya adalah pembeda yang sangat kuat menjadi penentu.

Penangguhan bukan berarti pengampunan atau pembiaran. Tapi setara dengan itu, diam juga bukan tanda kelengahan. Pangeran Purbaya memutar mata ke segala arah di dalam ruangan dengan sorot seperti sedang berharap sesuatu akan datang sebagai keterangan.

“Pengaruh Agung Sedayu tumbuh tanpa perintah,” lanjut Sunan Agung perlahan seakan dapat membaca isi pikiran, “tidak selalu berangkat dari niat menantang. Kadang dia hadir karena kekosongan yang kita biarkan terbuka terlalu lama.” Ucapannya berhenti. “Ketika  ada orang yang ingin menggantikannya, sebaiknya dia mempertimbangkan seseorang yang datang dari masa lalu.”

“Siapakah dia?” suara Pangeran Purbaya pun pecah. Dia memahami ucapan itu sebagai beban tambahan. Segala gerak Agung Sedayu, meski yang paling kecil, kini bukan sekadar urusan medan atau keprajuritan, melainkan perkara arah. Dia tahu, arah selalu menjadi sebab utama kegelisahan raja.

Sunan Agung tidak menjawab dan tak tampak pula perubahan pada raut wajahnya. Waktu mengapung perlahan ketika dua orang agung itu sama-sama memilih diam. Satu ucapan tambahan akan mengubah keadaan, menggeser pertimbangan.

Gelombang Sesak Amarah dan Gunjingan di Tanah Perdikan

Selepas dini hari, hampir di seluruh permukaan Tanah Perdikan Menoreh, hujan turun tanpa memilih. Jalan menuju Dusun Benda berubah menjadi tanah licin yang membuat  langkah harus melambat. Rombongan berjalan pada jarak yang terukur dengan kesan mereka terpisah.

Pandan Wangi segera memimpin iring-iringan setelah mendapatkan pesan singkat dari Agung Sedayu. Gelap dan dingin, mungkin itu kesan yang menjejak dalam benak putri tunggal Ki Gede Menoreh yang sedang menanti penjelasan. Bukan tentang pengosongan atau medan utara yang jebol, tapi campur tangan pasukan khusus ketika Ki Gede dibernagkatkan ke tempat peristirahatan terakhir.

Sebelum fajar merekah, ketangguhan batin Pandan Wangi tampak utuh. Seperti pelita  yang menerangi penduduk Menoreh yang berduka, keberhasilannya menghalau ancaman di bagian belakang halaman rumah Ki Gede menjadi pelipur lara. Betapa Ki Gede mangkat, tapi putrinya ternyata sekuat bapaknya, demikian kira-kira isi pikiran orang-orang.

Sehari sebelumnya di Tanah Perdikan Menoreh.

Pasar induk dan banjar pedukuhan tetap hidup. Bukan hidup yang segar karena banyak tertunduk lesu. Wajah-wajah dewasa yang lelah tapi enggan pulang. Orang-orang berdiri berkelompok. Tidak rapat dan tidak pula benar-benar terpisah. Seperti kata-kata yang ingin diucapkan tapi masih tertahan di dalam kepala atau di ujung lidah.

Di dekat banjar pedukuhan, beberapa lelaki terlihat sedang jagongan dengan raut wajah sungguh-sungguh.

“Sehari tapi terasa begitu lama,” kata seseorang. Suaranya datar, seolah sedang menghitung hari menunggu musim tanam tapi sorot matanya sayu.

“Tidak ada satu tanda pun,” sahut yang lain. Tangannya menunjuk ke arah hutan dan perbukitan, entah menunjuk pepohonan atau meluapkan kekecewaan. “Aku tidak mengerti keadaan ini. Kita terus-menerus mendapatkan kabar bahwa ada orang yang memberontak, ada orang yang berlari ke tanah ini setelah berhasil membunuh mendiang Panembahan. Tapi, kita bisa lihat, di balik bukit pun tidak ada apa-apa.”

Seseorang yang sepertinya berusia lebih banyak kemudian menambah, “Dan tidak pula kerusuhan atau kejahatan yang membuat Ki Gede turun tangan.”

Ketika nama Ki Gede disebut sangat jelas, tiba-tiba, wajahnya seperti mengambang di udara. Orang-orang seketika terdiam lalu mengenang saat-saat kebersamaan.

“Pemimpin pasukan khusus itu,” ujar seorang perempuan dewasa sambil merapikan dagangannya yang basah di sisi dalam pasar induk, “seolah-olah kematian ini bukan urusannya.” Nada suaranya tidak marah. Itu yang justru membuat orang lain menoleh.

“Barangkali dia sedang menahan diri,” kata seseorang mencoba bijak. Tapi kata-katanya justru menjadi pemantik. “Menahan diri atau menahan Nyi Pandan Wangi? Mengapa beliau tidak mendapat izin melihat jasad ayahnya?”

“Menahan diri agar keadaan tetap tenang?” potong yang lain. “Lucu! Katanya ada pemberontak, katanya ada orang jahat. Tapi, mana? Mana? Ini bukan ketenangan, tapi mati perasaan.”

Seorang lelaki yang berada di samping pedagang perempuan itu, menggeser duduknya.

“Dulu,” kata laki-laki itu pelan, “Ki Gede adalah sandaran banyak orang. Ki Gede berhasil menyatukan kita ketika pecah kerusuhan yang disebabkan Ki Tambak Wedi. Belasan tahun yang lalu. Meski terluka, Ki Gede memimpin kebangkitan dan kita sampai pada keadaan seperti sekarang ini. Dulu, kepala prajurit itu bukan apa-apa di sini lalu datang membantu saat usianya masih belasan tahun. Tapi, sekarang…”

“Pasukan khusus,” sahut yang lain cepat, seolah takut kehilangan giliran marah. “Katanya atas perintah. Selalu begitu alasannya.”

 “Itulah, itulah,” balas suara lain cepat. “Kalau kematian orang sebesar Ki Gede disebabkan, yang katanya, salah menerapkan siasat, lalu kalau kita yang mati? Lihat, mati karena siasat saja dibiarkan. Apalagi orang seperti kita yang paling-paling mati tanpa siasat atau kesempatan membela diri.”

Hari makin siang tapi pasar enggan untuk bubar. Orang-orang tidak benar-benar berbelanja. Mereka menunggu. Menunggu kabar yang sudah pasti tidak dapat mengembalikan kenyataan pahit.

Ada yang menggelengkan kepala. “Berhati batu,” katanya singkat dengan nada seperti menjatuhkan palu. Kata itu tidak keras, tapi cukup membuat beberapa orang menarik napas lebih dalam.

Seorang lelaki lain tertawa kecil, “Mempunyai batin seperti itu sebenarnya barang mewah. Tidak semua pemimpin membawanya. Kalau anak tidak boleh melihat ayahnya untuk terakhir kali, lalu apa yang masih tersisa dari martabat?”

Dari sudut kerumunan, seorang perempuan dewasa bertanya, “Lalu siapa yang akan memimpin Tanah Perdikan?” Tak seorang pun menjawab. Tak ada berani yang menertawakan. Pasar kecil itu mendadak terasa semakin sempit ketika pikiran-pikiran saling bertabrakan, tapi selamat karena satu keadaan; Pandan Wangi.

Pikiran itu bergerak dengan benar karena Swandaru sama sekali tidak terlihat dalam waktu belakangan, tidak terlihat ketika Tanah Perdikan di bawah tekanan dan ancaman.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 5 – Menari di Atas Kematian Ki Gede

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 12 – Kabut dan Desis Kali Tinalah

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 4 – Kepercayaan yang Retak di Perbukitan Menoreh

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.