Ki Bekel mengangguk-angguk. Namun katanya “Bukankah kau tidak akan segera meninggalkan padukuhan ini?”
Adeg Panatas tersenyum. Katanya, “Tidak kakang. Bukankah aku orang padukuhan ini? Aku memang sudah memutuskan untuk pulang dan tinggal di padukuhan ini.”
“Syukurlah” berkata Ki Bekel, “aku memperhitungkan, bahwa padukuhan ini tidak akan pernah dilupakan oleh Kebo Lorog. Jika pada suatu saat ia tidak mempunyai kesibukan, maka ia akan teringat kepada kekalahannya di padukuhan ini.”
Adeg Panatas tersenyum. Katanya, “Aku mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri. Juga mempersiapkan anak-anak muda padukuhan ini untuk menerima kedatangan Kebo Lorog dan para pengikutnya. Bersama orangorang yang memiliki keberanian dan dua tiga orang bekas prajurit, aku akan dapat berbuat banyak di padukuhan ini.”
“Terima kasih,” Ki Jagabaya lah yang menyahut, “kehadiran adi Adeg Panatas memang membuat hati kami menjadi tenang.”
Paksi mendengarkan pembicaraan itu sambil mengangguk-angguk kecil. Tetapi Paksi sendiri tidak mencampurinya sepatah kata pun juga. Sementara itu, orang-orang padukuhan itu juga masih belum sempat melihat kemampuan Paksi yang sebenarnya. Baru kemudian ketika ada kesempatan, Paksi itu pun telah menyatakan niatnya untuk minta diri. Ki Bekel dan orang-orang lain yang ada di banjar itu terkejut. Dengan dahi yang berkerut, Ki Bekel berkata, “Bukankah kau mendengar sendiri Paksi, bahwa kau diharapkan dapat datang ke Kwarasan?”

Bumbu pecel dapat pula pesan di sini
Paksi sambil menunduk berkata, “Mungkin pada suatu saat aku akan menghadap Ki Tumenggung di Kwarasan. Tetapi sebelumnya aku ingin melanjutkan pengembaraanku. Aku sudah bertekad untuk melakukannya” Ternyata tidak seorang pun yang dapat menahan Paksi. Sura juga tidak.
Namun Sura masih minta agar Paksi menyempatkan diri untuk memberitahukan kepergiannya kepada Salam. “Katakan bahwa kau akan pergi. Tetapi katakan juga bahwa kau akan kembali.”
“Apakah anak itu tidak akan selalu berharap?” bertanya Paksi.
“Bukankah kau memang akan kembali pada suatu saat?” bertanya Sura.
Paksi tidak segera menjawab. Namun akhirnya ia pun mengangguk. Katanya, “Ya, Paman. Pada suatu saat aku ingin kembali ke padukuhan ini.”
Ki Bekel masih juga berkata, “Kau adalah orang yang menjadi lantaran untuk memecahkan persoalan ini, Paksi. Jika kau bukan seorang anak muda yang berani, maka padukuhan ini dan beberapa padukuhan yang lain masih akan tetap dibayangi ketakutan karena hantu keranda yang dapat terbang sendiri itu.”
“Hanya satu kebetulan saja, Ki Bekel.”
“Mungkin memang satu kebetulan. Tetapi jika kebetulan itu terjadi pada orang lain, maka orang yang melihat keranda terbang itu tentu akan menjadi pingsan.”
Tetapi Paksi masih juga memenuhi permintaan Sura. Ia singgah di rumah Sura untuk minta diri kepada keluarga yang menurut pendapat Paksi adalah keluarga yang baik Salam memang menjadi gelisah. Bahkan mulai merengek. Tetapi Paksi pun kemudian berkata, “Pada lain hari, aku akan datang lagi kemari, Salam.”
“Kakang berkata sebenarnya?” bertanya Salam.
“Ya. Aku berkata sebenarnya” jawab Paksi.
Salam menjadi sedikit tenang, meskipun tampak ragu-ragu. Ibunyalah yang kemudian berusaha untuk meyakinkan Salam, bahwa ia tidak dapat menahan Paksi lebih lama lagi. “Kakang Paksi mempunyai tugas yang penting. Jika ia tinggal disini terlalu lama, tugasnya tidak akan selesai.”
Meskipun Paksi tahu bahwa ibu Salam itu sekedar menenangkan anaknya, tetapi jantungnya menjadi berdebar-debar. Ia memang mempunyai tugas yang penting. Tugas yang tidak diketahui, bagaimana ia harus melakukannya.
Demikianlah, maka hari itu, Paksi akan meninggalkan rumah Sura. Paksi menolak kelika Sura menawarkan agar Paksi membawa sepengadeg pakaiannya. “Kau memerlukan ganti pakaian di perjalanan,” berkata Sura.
“Aku dapat mencucinya” jawab Paksi.
Sura memang tidak memaksanya, Tetapi ia sempat berdesis, “Kau berhak untuk mendapatkan hadiah, karena kau telah menemukan benda-benda yang nilainya tidak terhitung itu.”
“Barang-barang itu ada yang memilikinya, Paman, Jika Ki Pituhu kelak memberi tahukan siapa saja yang telah dirampoknya, maka barang-barang itu akan dapat kembali kepada pemiliknya. Setidak-tidaknya sebagian.”
“Hadiah itu tidak terdiri dari sebagian benda-benda berharga yang diketemukan itu. Tetapi hadiah itu seharusnya kau dapatkan dari Pajang.”
Paksi tersenyum. Katanya, “Aku belum memerlukan sekali, Paman. Entahlah kelak.”
Sura melihat kejujuran memancar di mata Paksi. Karena itu, maka ia pun berdesis, ”Mudah mudahan kejujuranmu akan dapat membawamu kepada kemujuran, meskipun dapat pula terjadi sebaliknya.”
“Maksud Paman?” bertanya Paksi.
“Kejujuran justru dapat menjerat seseorang kedalam kesulitan,” jawab Sura.
“Jadi maksud paman, sebaiknya orang tidak berlaku jujur?” bertanya Paksi.
“Tidak. Tidak. Bukan itu maksudku. Orang yang jujur adalah orang-orang yang terpilih. Aku bermaksud ingin mengatakan suatu kenyataan, bahwa di antara orang orang yang jahat, dengki dan iri hati, maka orang-orang jujur akan dianggap sebagai racun, sehingga mungkin sekali mereka yang jujur itu akan mengalami kesulitan. Namun bagaimanapun juga kejujuran adalah suatu mahkota yang tidak ternilai harganya.”
Paksi menarik napas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku mohon doa paman, bibi dan seluruh keluarga.”
“Semoga Yang Maha Agung akan selalu melindungimu di sepanjang perjalananmu. Semoga kau akan dapat mencapai keinginanmu dengan pengembaraanmu.”
Paksi meninggalkan rumah Sura dengan han yang berat. Tetapi ia sudah memantapkan hatinya untuk berjalan terus. Jika ia tetap tinggal di rumah Sura, maka akan sulit baginya untuk dapat menemukan cincin yang dicari nya itu. Ketika Paksi keluar dari regol padukuhan, matahari sudah tinggi di langit. Ia membayangkan, debu yang dilemparkan oleh derap kaki kuda sekelompok prajurit yang mengiringi Ki Tumenggung Wirayuda ke Kwarasan. Tetapi arah perjalanan Paksi lain dengan arah perjalanan Ki Tumenggung Wirayuda. Mendekati tengah hari, maka jalan-jalan terasa sepi di tengah-tengah bulak. Orang yang bekerja disawah pun mulai menjadi letih. Keringat membasahi kulit mereka yang terbakar oleh sengatan sinar matahari:
Sekali-sekali Paksi bertemu dengan perempuan yang membawa kendi berisi air, serta bakul berisi nasi dan kelengkapannya. Perempuan-perempuan itu membawa makanan bagi suami, ayah atau anak-anak mereka yang bekerja di sawah dan tidak sempat pulang di siang hari untuk makan siang. Ketika Paksi sampai di simpang empat, maka Paksi berhenti sejenak di bawah sebatang pohon randu yang daunnya tidak begitu banyak. Tetapi di cabang-cabang dan rantingnya bergayutan buah randu yang sudah menjadi tua dan kering. Warnanya menjadi kecoklat-coklatan. Satu dua yang telah pecah, melontarkan kelentengnya dan menghamburkan kapuknya yang berwarna putih. Paksi menarik napas dalam-dalam.
Di tengah hari itu, leher Paksi memang terasa kering. Tetapi ia berharap untuk menjumpai sebuah kedai di padukuhan yang agak besar di ujung bulak itu. Tetapi, untuk berjalan ke kedai itu rasa-rasanya kakinya menjadi berat. Paksi lebih senang duduk di bawah pohon randu yang meskipun daunnya tidak begitu lebat, tetapi dapat melindunginya dari terik matahari. Paksi mengangkat wajahnya ketika ia melihat seorang gadis yang menggendong sebuah bakul kecil sambil menjinjing kendi lewat. Gadis itu sempat berpaling kepadanya. Tetapi gadis itu berjalan terus. Paksi mengerutkan dahinya, gadis itu berjalan di bawah matahari yang bertengger di puncak langit, Paksi pun kemudian bangkit berdiri dan meneruskan langkahnya menuju ke padukuhan di ujung bulak itu Keringatnya yang mengalir dengan derasnya lelah membasahi pakaiannya. Semakin dekat langkahnya dengan padukuhan di depan, maka Paksi melihat padukuhan itu bukan saja besar, tetapi tentu juga sebuah padukuhan yang terhitung mempunyai tataran kesejahteraan yang tinggi. Regol padukuhan itu tidak sekedar memenuhi kebutuhan. Tetapi dibuat dengan bahan yang baik. Buatannya-pun tampak baik dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Demikian Paksi memasuki regol padukuhan itu, udara rasa-rasanya menjadi sejuk. Angin membelai lembut menyentuh dedaunan yang hijau. Padukuhan itu memang sebuah padukuhun yang memiliki kesejahteraan yang tinggi bagi para penghuninya. Pada regol padukuhan itu terukir huruf-huruf yang berbunyi, “Muncar.” Paksi menarik napas dalam-dalam. Ia telah memasuki sebuah padukuhan yang bernama Muncar. Seperti yang diduga, padukuhan itu tampak lebih ramai dari padukuhan-padukuhan yang pernah dilewatinya. Sambil melihat-lihat halaman rumah yang bersih di sebelah-menyebelah jalan, Paksi berjalan terus di jalan induk padukuhan itu. Halaman-halaman rumah yang pada umumnya terbentang luas di seputar rumah yang besar dan terawat, ditanami dengan beberapa batang pohon buah-buahan, sehingga suasananya menjadi sejuk. Anak-anak kecil masih saja tampak bermain-main di halaman yang luas meskipun di tengah hari. Suaranya riuh memancarkan kegembiraan yang bebas. Namun demikian, leher Paksi masih juga terasa kering. Ia masih membutuhkan sebuah kedai untuk mendapatkan minuman.
Beberapa saat kemudian maka Paksi pun telah sampai ke sebuah pasar. Pasar itu agaknya sebuah pasar yang agak besar. Tetapi di saat matahari telah sampai ke puncak langit itu, pasar itu sudah tampak sepi. Tetapi yang dicari oleh Paksi hanyalah sebuah kedai. Sedangkan di dekat pasar yang sudah sepi itu terdapat beberapa buah kedai yang masih membuka pintunya. Beberapa orang masih berada di kedai itu. Mereka adalah orang-orang yang baru saja selesai berjualan di pasar itu. Setelah mengemasi sisa dagangan mereka, maka mcreka pun singgah barang sebentar untuk minum dan makan di kedai itu. Paksi pun kemudian telah duduk di salah satu di antara kedai yang masih membuka pintunya itu, Dua orang masih berada di dalam kedai yang terhitung cukup besar itu, yang mempunyai tempat duduk cukup banyak.
“Sehari-hari, di saat pasar ini masih ramai, kedai ini tentu ramai juga.” berkata Paksi dalam hatinya. Demikian Paksi duduk, maka seorang pelayan telah mendekatinya dan bertanya, apa yang dipesannya. Paksi pun kemudian telah memesan minuman untuk membasahi kerongkongannya. Sambil meneguk minuman dan mengunyah makanan yang dihidangkan, maka Paksi telah mendengarkan kedua orang yang berada di kedai itu memperbincangkan ceritera tentang keranda yang terbang di malam hari memasuki kuburan. Keduanya juga sudah mendengar bahwa keranda itu tidak lebih dari sebuah tipuan. Paksi sekali-sekali memandang kedua orang ini Tetapi tidak ada yang menarik perhatian selain cara mereka berceritera. Bahkan kemudian pemilik kedai yang duduk di antara geledeg-geledeg rendah ikut berbicara pula tentang hantu hantuan itu. Paksi memang belum jauh berjalan dari padukuhan yang pernah dicengkam oleh ketakutan itu.
“Pada waktu itu,” berkata pemilik kedai, “berita tentang keranda itu juga telah menakutkan kami di padukuhan Muncar ini. Aku sendiri memang bimbang antara percaya dan tidak percaya. Namun akhirnya terbukti bahwa hantu keranda itu adalah sekedar hantu-hantuan saja.”
Kedua orang itu tertawa. Di sela-sela derai tertawanya, seorang di antara mereka berkata, “Apakah tidak ada seorang saja yang mempunyai sedikit keberanian untuk membuktikan bahwa keranda itu sama sekali bukan hantu?”
Namun pemilik kedai itu menjawab, “Tentu ada, karena akhirnya hantu-hantuan itu telah terbongkar.”
“Tetapi sesudah berjalan untuk waktu yang lama,” sahut seorang yang lain.
Tetapi pembicaraan itu terputus. Seorang yang bertubuh tinggi tegap dan berdada bidang memasuki kedai itu pula. Di lambungnya tergantung sebilah pedang di dalam wrangkanya yang menarik. Warangka kayu yang dihiasi dengan lilitan-lilitan tali yang beraneka warna. Juntai rambut yang hitam pada tangkai pedang yang berukir Itu.
Paksi memandang orang itu sekilas. Tetapi ia pun segera menunduk kembali memandangi nasi dengan laukpauknya yang telah dipesan pula. Meskipun Paksi sebenarnya masih belum lapar, tetapi selagi ia berada di kedai, maka sekaligus ia telah memesan nasi di samping sekedar makanan dan minuman.
Orang itu memandangi kedua orang yang sudah lebih dahulu berada di kedai itu dengan tajamnya. Kemudian ia pun berpaling pula kepada pemilik kedai itu. Sejenak kemudian, orang itu pun kemudian telah duduk pula di tengah-tengah kedai itu menghadap kedua orang yang telah lebih dahulu duduk dan menikmati minuman dan makanan itu.
“Orang ini menyeramkan,” berkata Paksi kepada diri sendiri. Karena orang itu tidak menghadap ke arahnya, maka Paksi sempat memandanginya pula. Dari samping, Paksi melihat wajah orang yang garang itu. Seleret kumis tampak diulas bibirnya yang tebal.
Paksi terkejut ketika orang itu tiba-tiba bertanya dengan suaranya yang berat menekan, “Apa yang kalian tertawakan?”
Paksi yang sudah mulai makan itu di luar sadarnya telah mengangkat wajahnya. Ternyata orang itu memandang kedua orang yang telah lebih dahulu duduk itu. Kedua orang itu menjadi pucat. Karena mereka tidak segera menjawab, maka orang itu bertanya lebih keras, “He, apa kalian berdua tuli atau bisu? Apa yang kalian tertawakan?”
Kedua orang itu menjadi gagap. Seorang di antaranya menjawab dengan suara bergetar, “Tidak: Kami tidak mentertawakan siapa-siapa. Kami sedang berkelakar.”
“Apakah kalian mentertawakan aku?” bertanya orang itu.
“Tidak. Sungguh tidak Ki Sanak.”
Orang itu mengangguk-angguk kecil. Kemudian ia pun memberi isyarat kepada pemilik kedai itu untuk mendekat. Seorang pelayan dengan ragu-ragu melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Apakah yang Ki Sanak pesan?”
“Nasi dengan lauk seekor ayam utuh.”
Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Kami tidak mempunyai ayam yang utuh, Ki Sanak. Yang ada hanyalah sepotong-sepotong.”
“Jangan dungu. Bukankah yang sepotong-sepotong itu dapat dibentuk menjadi seekor yang utuh. Dua buah paha, gending, sayap, dada, ekornya, lehernya dan kepalanya.”
“Baik, baik, Ki Sanak.” jawab pelayan itu.
Beberapa saat orang itu menunggu. Dengan tergesa-gesa pelayan dan pemilik kedai itu menyediakan pesanannya. Ketika pelayan itu menghidangkannya, nasi dan potongan-potongan ayam goreng yang digenapi menjadi seekor ayam utuh, sambal serta lalaban, maka orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang serta berwajah garang itu berkata sambil menunjuk kedua orang itu, “Mereka yang akan membayar.”
Kedua orang itu terkejut. Seorang di antara mereka bertanya, “Kenapa kami?”
Orang bertubuh tinggi itu bangkit berdiri sambil bertanya, “Kau berkeberatan?”
Orang itu menjadi ketakutan. Dengan tubuh gemetar orang itu menjawab, “Tidak. Kami sama sekali tidak berkeberatan. Aku hanya ingin menjelaskan saja.”
“Terima kasih” berkata orang bertubuh tinggi tegap itu, “jika kau berkeberatan, aku tidak akan menyentuh hidangan ini.”
“Tidak. Kami tidak berkeberatan sama sekali.”
Orang itu pun kemudian duduk kembali, Sejenak kemudian maka ia pun telah sibuk dengan nasi, sambal, lalaban dan ayam goreng itu. Seekor utuh. Paksi menarik napas dalam-dalam. Hanya dalam waktu singkat, nasi dan ayam yung seekor itu telah habis dimakannya. Yang tinggal hanyalah sisa sambal dan lalapan serta tulang-tulang saja.
Ketika Paksi sedang memandanginya dengan heran, di luar dugaan orang itu berpaling kepadanya. Dengan cepat Paksi menundukkan kepalanya. Tetapi terlambat. Orang itu sempat melihat Paksi memperhatikan orang itu. “He, kenapa kau membelalakkan matamu?” bertanya orang itu.
Paksi tidak mengangkat wajahnya, Ia masih saja menunduk.
“He, kenapa?” bertanya orang itu pula.
“Tidak apa-apa, Paman. Aku tidak sengaja,” jawab Paksi.
Orang itu pun kemudian bangkit berdiri. Selangkah demi selangkah ia mendekati Paksi. Tangannya yang masih kotor dan berminyak itu tiba-tiba telah diusapkan pada ikat kepala Paksi sambil berkata, “Aku pinjam ikat kepalamu, anak muda.”
Paksi bergeser menjauh. Dengan sigapnya ia berdiri sambil menebas tangan orang itu. Orang bertubuh tinggi dan berwajah garang itu membelalakkan matanya. Ia tidak mengira bahwa Paksi telah menebas tangannya dan bergeser menjauh. “Kau berani menghindar, anak muda” geram orang itu.
“Aku tidak mempunyai ikat kepala lain kecuali yang aku pakai ini. Karena itu, aku tidak rela bahwa ikat kepalaku ini kau kotori.”
“Jadi kau berani melawan aku he? Kau lihat bahwa kedua orang itu dengan ikhlas telah bersedia membayar minuman dan makanan yang aku pesan. Kenapa kau berkeberatan hanya sekedar meminjamkan ikat kepalamu. Bukankah ikat kepalamu tidak akan menyusut atau menjadi koyak?” “Lebih baik aku membayar pesananmu itu daripada aku harus menerima penghinaan ini.”
Wajah orang itu menjadi merah. Dengan lantang ia berkata, “Tundukkan kepala. Aku akan membersihkan tanganku.”
“Tidak,” teriak Paksi, “aku masih mempunyai harga diri.”
Dengan marah orang itu meloncat maju. Tangannya terayun deras menampar wajah Paksi. Tetapi Paksi tidak membiarkan wajahnya disakiti. Karena itu, maka ia telah menepis tangan orang yang bertubuh tinggi kekar itu. Sekali lagi orang itu terkejut. Anak muda itu telah berani menepis tangannya. Bahkan tanpa ragu-ragu. Karena itu, maka orang itu menjadi semakin marah. Didorongnya lincak tempat duduk serta geledeg rendah tempat meletakkan minuman dan makanan sehingga terguling. Dengan geram orang itu berkata, “Aku ingin mengoyak mulutmu. Tidak seorang pun yang pernah berani membantah kata-kataku.”

Klik di sini atau klik gambar untuk mengikuti kisah Kitab Kyai Gringsing dengan lengkap.
Tetapi Paksi pun telah mempersiapkan dirinya. Terngiang kata-kata ayahnya, “Umurnya sudah menginjak tujuh belas tahun.” Dan. Paksi pun sadar, bahwa ia memang sudah dewasa. Ia tidak boleh membiarkan seseorang menghinanya. Yang terjadi justru sangat mengejutkan orang bertubuh tinggi kekar itu. Demikian lincak bambu dan geledeg itu terguling, belum lagi mulutnya terkatub rapat, Paksi sudah menyerangnya. Dengan cepat kakinya terjulur menyamping, mengarah ke dagunya. Orang itu tidak sempat mengelak. Tetapi ia mencoba menahan serangan itu dengan tangannya. Tetapi serangan Paksi demikian derasnya, sehingga tangan orang itu justru terdorong menimpa wajahnya, sehingga wajahnya itu pun terangkat tinggi. Untunglah bahwa orang itu tidak jatuh terlentang Ia masih sempat menahan keseimbangannya.
Namun dalam pada itu, Paksi masih juga sempat memikirkan kerusakan yang dapat terjadi jika ia berkelahi didalam kedai itu. Karena itu, pada saat keseimbangan lawannya berguncang, Paksi justru tidak menyerangnya, tetapi ia telah melangkah ke pintu sambil berkata, “Aku tidak akan lari. Aku menunggumu di luar.”
Orang bertubuh tinggi, tegap dan berdada bidang itu dengan cepat telah menyusulnya ke halaman pula sambil menggeram, “Kau memang seorang anak muda yang berani. Tetapi kau jangan cepat menjadi besar kepala. Kemenangan tidak ditentukan dengan kejutan kejutan kecil yang dapat mengguncang lawannya, tetapi dalam perkelahian, kemenangan ditentukan pada saat perkelahian itu berakhir.”
Paksi tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Sejenak kemudian, maka keduanya telah berhadapan di halaman kedai itu. Dua orang yang semula ada di dalam kedai telah menghambur lari ketakutan selagi ada kesem patan. Sedangkan pemilik kedai itu dan para pelayannya menjadi gemetar. Mereka memang tidak mengira bahwa anak itu dengan berani telah melawannya. Bahkan pada benturan benturan yang terjadi, anak itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ia memiliki kemampuan.
