Padepokan Witasem
Jejak di Balik Kabut

Jejak di Balik Kabut 4 (Jilid 1)

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, ”Orang itu tiba-tiba saja menuduhku, bnhwa aku telah mengetahui rahasianya. Aku tidak tahu, apakah ia benar-benar mengetahui bahwa aku menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh para perampok itu atau sekedar mencari alasan untuk melakukan kekerasan. Tetapi agaknya orang itu benar-benar ingin membunuhku.”

Sura mengangguk-angguk. Katanya, ”Jika demikian, kita memang harus berhati-hati. Tampaknya mereka sudah membuat persiapan-persiapan menjelang kehadiran Kebo Lorog.”

“Mungkin sekali, Paman.”

“Karena itu, besok jangan berjalan-jalan setelah lewat senja. Tampaknya keadaan menjadi gawat. Bukan saja ceritera tentang hantu keranda, tetapi orang-orang itu telah langsung melakukan kekerasan.”

loading...

Paksi mengangguk-angguk kecil sambil menjawab, ”Baik, Paman.”

“Bila Kebo Lorog itu benar-benar akan datang saat padukuhan ini merti desa, maka keadaan akan menjadi gawat.”

“Tetapi apakah Paman dan para bebahu padukuhan ini pasti, bahwa Kebo Lorog akan melakukan tindakan kekerasan terhadap padukuhan ini. Aku sekedar melihat hasil kerja orang-orangnya yang berkeliaran di sekitar tempat ini dan menyembunyikan harta-bendanya di kuburan itu?”

“Kita memperhitungkan keadaan yang paling gawat yang mungkin terjadi, ngger.” jawab Sura. ”Kita semuanya memang berharap bahwa Kebo Lorog tidak akan mengganggu padukuhan ini. Tetapi jika gangguan ini terjadi, maka kita tidak akan tinggal diam.”

Paksi mengangguk-angguk.

Sementara Sura itu berkata selanjutnya, ”Karena itu, maka kita akan mempersiapkan diri sejauh dapat kita lakukan. Kita harus mempertahankan harga diri agar kita untuk selanjutnya tidak akan menjadi ampas kelapa yang diperah sampai kering.”

Paksi memandang wajah Sura sejenak. Wajah itu tampak bersungguh-sungguh. Bahkan sekali dua kali Sura mengusap keringatnya yang mengembun di kening. Paksi mengerti, bahwa persoalan yang telah dibicarakan oleh Ki Bekel dengan para bebahunya itu dianggap persoalan yang gawat sekali, karena akan menyangkut kehidupan di padukuhan itu. Dengan ragu-ragu Paksi pun bertanya, ”Paman, jadi apakah yang akan dilakukan oleh Ki Bekel dan para bebahu menghadapi kemungkinan kedatangan Kebo Lorog?”

“Kita akan bersiap. Ki Jagabaya akan mengumpulkan anak-anak muda serta laki-laki yang berani serta masih mempunyai kemampuan untuk berkelahi. Ada tiga atau empat orang bekas prajurit di padukuhan ini yang akan diminta kesediaannya memimpin perlawanan. Selain mereka, Ki Jagabaya, Ki Bekel sendiri dan adik Ki Bekel yang bernama Adeg Panatas itu.”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Agaknya para penghuni padukuhan ini akan mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk melindungi diri sendiri. Paksi berkata, ”Paman. Jika persiapan itu diketahui oleh para pengikut Kebo Lorog, apakah bukan berarti bahwa kita justru mengisyaratkan agar Kebo Lorog datang dengan kekuatan yang lebih besar.”

Sura mengerutkan dahinya. Sambil mengangguk kecil Sura berkata, ”Memang mungkin sekali. Persiapan-persiapan yang kita lakukan akan membuat Kebo Lorog dan para pengikutnya menjadi berhati-hati serta memuat perhitungan yang lebih bersungguhsungguh.”

“Jika terjadi demikian, maka keadaan padukuhan ini akan dapat menjadi parah sekali.”

“Ya. Seharusnya hal ini juga diperhitungkan.” Sura mengangguk-angguk. Lalu katanya pula, ”Biarlah besok aku bertemu dengan Ki Jagabaya.”

“Agaknya Ki Jagabaya juga perlu diberi tahu, bahwa orang-orang yang membuat hantu-hantuan itu adalah orang-orang yang sangat garang. Mereka tidak ragu-ragu untuk bertindak kasar.”

Sura mengangguk-angguk. Paksi sendiri sudah mengalaminya. Untunglah bahwa Paksi dapat melarikan diri. Karena malam menjadi semakin dalam, maka Sura mempersilahkan Paksi untuk beristirahat. Tetapi ketika Sura sempat memperhatikan pakaian Paksi, maka ia menawarkan untuk meminjami Paksi sepengadeg pakaiannya.

“Terima kasih, Paman” jawab Paksi yang mulai merasa gatal-gatal dengan pakaiannya yang kotor dan berlumpur. Malam itu Paksi mendapat sepengadeg pakaian dari Sura, sehingga besok ia dapat mencuci pakaiannya yang dipakainya sejak meninggalkan rumahnya. Di sisa malam itu, Paksi berbaring di bilik yang diperuntukkan baginya. Meskipun agak sulit, tetapi akhirnya Paksipun tertidur pula. Namun jika sekali-sekali ia terbangun, maka badannya masih terasa nyeri di beberapa bagian. Kepalanya masih pening dan perutnya masih mual. Tetapi ketika ia terbangun menjelang matahari terbit, tubuhnya terasa semakin segar. Apalagi setelah ia menimba air untuk mengisi jambangan di pakiwan, kemudian mandi dengan air dingin.

Kitab Kiai Gringsing

Hari itu, pagi-pagi Sura mengajak Paksi untuk menemui Ki Jagabaya.  Sura berusaha menjelaskan bahwa persiapan yang berlebihan justru akan memancing perhatian para pengikut Kebo Lorog. Dengan demikian, mereka akan memperkuat barisan mereka jika mereka memang ingin menguasai padukuhan itu.

Ki Jagabaya menganggap pendapat itu masuk akal. Maka ia berkata, ”Kami akan menghimpun orang-orang yang sudah siap untuk terjun ke medan pertempuran untuk melawan para perampok. Selebihnya baru anak-anak muda di padukuhan untuk melawan para perampok.”

“Bagaimana kita mempersiapkan mereka tanpa menarik perhatian?”

“Kita akan menentukan orang-orang tertentu untuk memimpin sekelompok kecil anak-anak muda dari tiga atau empat orang. Mereka harus mempersiapkan kelompok mereka masing-masing bisa sampai saatnya mereka tidak mengecewakan. Tetapi persiapan yang tinggal sedikit itu tidak akan menarik perhatian.”

Sura mengangguk-angguk sambil berkata, ”Juga untuk menghindari kecurigaan, merti desa akan” berlangsung seperti biasanya. Ki Bekel sudah berjanji untuk menyelenggarakan tari tayub di bulak sawah padukuhan kita sesudah padi dituai.”

“Besok kita sudah mulai menuai padi di bulak itu.”

“Ya. Kita akan menyelenggarakan merti desa menurut hari yarig sudah kita tentukan.” Ternyata Ki Jagabaya kemudian telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Sementara Ki Jagabaya mempersiapkan perlawanan dengan diam-diam, maka Ki Bekel dan bebahu yang lain telah mempersiapkan sebuah keramaian untuk merti desa.

Dalam pada itu, maka para perampokpun telah bersiap-siap sebaik-baiknya pula untuk menyambut kedatangan salah seorang pemimpin mereka, Kebo Lorog. Jika Kebo Lorog hadir dilingkungan itu, maka Kebo Lorog akan melihat hasil kerja mereka. Barang-barang yang telah mereka simpan di kuburan, serta keramaian merti desa di padukuhan sebelah.

“Apakah orang-orang padukuhan itu bersedia menerima kita untuk ikut hadir dalam keramaian merti desa itu?” desis salah seorang perampok itu.

Kawannya tertawa. Katanya, ”Sambil membawa keranda?” Kawan-kawannya yang lain pun tertawa.

Namun seorang dari mereka berkata, ”Bersedia atau tidak, kita akan menentukan sikap kita sendiri.”

“Maksudmu?”

“Di saat mereka sedang menyelenggarakan keramaian, kita akan lewat. Jangan terlalu dekat. Maka mereka akan menjadi sangat ketakutan. Keramaian itu akan bubar. Masing-masing akan melarikan diri dan pulang dengan tubuh gemetar.”

“Apa keuntungan kita?” bertanya seorang kawannya.

“Hari itu memang tidak ada. Tetapi pada kesempatan lain, jika kita memasuki padukuhan itu dan mengambil harta-benda yang tersimpan di dalamnya, tidak akan ada seorang pun yang berani keluar rumahnya. Kita akan dapat dengan leluasa melakukannya.”

“Kita membawa barang-barang itu dengan keranda?”

“Justru tidak. Keranda itu akan kita tutup agar tidak kelihatan.” jawab orang yang berbicara terdahulu, ”hanya jika terjadi ditempat lain yang agak jauh, keranda itu akan tampak memasuki kuburan itu dan hilang di luar regol.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka mengerti bahwa jika perampokan itu terjadi di tempat yang terlalu dekat dengan terlihatnya keranda yang berjalan, apalagi di padukuhan sebelah, orang-orang dari padukuhan itu akan mempertanyakan, apakah memang ada hubungannya antara perampokan itu dengan keranda yang lewat.

Demikianlah hari-hari pun menjadi semakin dekat. Padi di sawah sebagian besar sudah dibawa pulang dan disimpan di lumbung. Jerami di sawah sudah mulai dibabat, ditimbun di beberapa tempat di antara kotak-kotak sawah dan kemudian dibakar. Abunya akan dapat menjadi pupuk selain beberapa pupuk yang lain, termasuk pupuk kandang. Di kotak sawah Ki Bekel yang juga sudah dituai, telah dibuat tratag anyaman bambu. Sebuah tratag bertiang bambu yang akan dipergunakan oleh para penari tayub untuk menari serta bagi para pengiring gamelan. Alas dari tratag dibentangkan anyaman bambu pula.

Pecel Madiun

Dari kejauhan satu dua orang perampok ikut menyaksikan orang-orang padukuhan yang sibuk itu. Setiap kali mereka tertawa membayangkan apa yang bakal terjadi pada saat keramaian itu diselenggarakan. Jika sebuah keranda berjalan sendiri di kejauhan, maka mereka yang ikut menyaksikan tari tayub itu berlari meninggalkan tempat itu pulang kerumah masing-masing. Mereka akan menjadi sangat ketakutan, sehingga di malam malam berikutnya mereka tidak akan berani keluar setelah gelap turun. Keyakinan itulah yang kemudian akan mereka sampaikan kepada Kebo Lorog. Peristiwa itu akan dapat menjadi bahan tontonan yang sangat menarik bagi pemimpin mereka yang sangat mereka takuti itu.

Sementara itu, orang-orang di padukuhan sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Beberapa orang yang dianggap memiliki bekal untuk turun tangan jika benturan kekerasan itu benar-benar terjadi, telah menyiapkan masing-masing dua atau tiga orang anak muda. Seorang bekas prajurit yang meskipun rambutnya sudah beruban, tetapi masih tegar, telah mengajari tiga orang anak muda, bagaimana mereka harus mempergunakan senjata. Sementara itu, kepada mereka Sura dan Mertawira telah berusaha meyakinkan, bahwa tidak ada hantu keranda. Yang ada adalah sebuah tipuan untuk mengelabuhi orang-orang padukuhan. Bukan hanya padukuhan mereka, tetapi beberapa orang padukuhan yang lain.

Sementara itu ceritera dari mulut ke mulut yang merambat dari padukuhan ke padukuhan telah menyebar ke tempat yang luas. Bahkan telah merambat keluar Kademangan. Karena itu, menjelang malam yang biasanya menggembirakan bagi seisi padukuhuan itu, bahwa ceritera tentang keranda itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk.

“Tidak ada keranda yang dapat berjalan sendiri,” berkata Ki Jagabaya tanpa menceriterakan bahwa dua orang penghuni padepokan itu sudah dapat memberi kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu sudah dapat memberikan kesaksiannya. Ki Jagabaya memang harus memberikan keterangan yang berbeda kepada orang-orang padukuhan itu, agar kesiagaan seisi padukuhan itu tidak didengar oleh para perampok yang akan menyambut kedatangan pemimpin mereka. Tidak sebagaimana Sura dan Mertawira meyakinkan anak-anak muda di padukuhan itu. Meskipun demikian, Ki Jagabaya, Ki Bekel dan para bebahu padukuhan itu mengerti, bahwa usaha untuk menjebak orang yang bernama Kebo Lorog itu adalah satu kerja yang mengandung kemungkinan yang sangat buruk bagi padukuhan mereka. Tetapi kehadiran adik Ki Bekel yang sudah lama meninggalkan padukuhan, yang agaknya telah menyadap ilmu kanuragan itu, telah memberikan harapan baru bagi Ki Bekel dan para bebahu. Hari-hari yang mendebarkan akhirnya datang juga. Sebagian dari orang-orang padukuhan itu memang mulai percaya, bahwa memang tidak ada keranda yang berjalan sendiri.

“Siapa yang pernah melihatnya?” bertanya Ki Jagabaya. ”Semua orang mengatakan, kata orang. Jika ada orang yang merasa pernah melihat, keterangannya sangat meragukan. Karena itu, jangan takut. Kita akan merayakan keberhasilan panen kita seperti biasanya.”

Sebagian orang-orang padukuhan itu sependapat dengan Ki Jagabaya. Keranda yang berjalan sendiri itu tidak lebih dari cerita ngaya-wara.

Dalam pada itu, para pengikut Kebo Lorog yang semula memang sedikit ragu, apakah merti desa di padukuhan itu dapat berlangsung seperti biasanya, menjadi semakin mantap. Jika orang-orang padukuhan yang terlanjur menjadi ketakutan itu urung merayakan kegembiraan atas hasil panen  mereka maka pertunjukan yang menarik itu tidak dapat mereka perlihatkan kepada Kebo Lorog.  Mereka tidak akan dapat melihat bagaimana orang-orang yang sedang mengikuti keramaian merti desa itu lari tunggang langgang, saling bertubrukan serta berteriak-teriak ketakutan melihat keranda yang berjalan sendiri agak jauh dari tempat keramaian itu, menuju ke kuburan.

Sementara itu, di sebuah rumah yang terhitung besar, di sebuah padukuhan yang lain, beberapa orang tengah menunggu, Di rumah itu tinggal seorang yang termasuk disegani oleh tetangganya, karena orang itu terhitung orang yang kaya di padukuhannya. Bukan saja seorang yang kaya, tetapi ia juga dianggap seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tidak seorang pun yang pernah berprasangka buruk terhadap Ki Putuhu, pemilik rumah itu meskipun kadang-kadang satu dua orang tetangganya merasa heran, dari manakah datangnya kekayaan Ki Putuhu itu. Menilik sawahnya yang tidak terlalu luas serta sehari-harian ia lebih banyak di rumah, maka menurut penalaran mereka, penghasilannya tentu tidak begitu banyak. Sedangkan menurut pengetahuan tetangga-tetangganya. Ki Pituhu juga tidak pernah mendapatkan warisan yang cukup, karena orang tuanya juga bukan orang berada. Namun bagi tetangga-tetangganya, Ki Putuhu adalah seorang yang sangat baik. Ia seorang yang sangat sering sekali memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Juga kepada padukuhannya, Ki Putuhu sering memberikan sumbangan yang berarti.

Tidak seorang pun yang mencurigai bahwa di rumah Ki Pituhu yang baik itu tinggal beberapa orang yang hari itu sedang menunggu kehadiran seseorang yang bernama Kebo Lorog. Ketika dua orang yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang berjalan melalui jalan padukuhan, memang tidak banyak menarik perhatian. Seorang anak muda yang kebetulan memperhatikan kedua orang itu, sempat juga bertanya di dalam hatinya, siapa sajakah kedua orang yang lewat itu. Tetapi karena keduanya berada di jalan yang banyak dilalui orang yang memang tidak dikenalinya, maka anak muda itu menganggap bahwa keduanya adalah orang yang lewat sebagaimana orang yang lain. Apalagi kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan. Mereka berjalan sebagaimana orang lain berjalan. Sedikit berbincang dan kadang-kadang memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Karena itu maka anak muda itu tidak menghiraukannya lagi, Sehingga dengan demikian, maka anak muda itu tidak tahu, bahwa kedua orang itu telah memasuki regol halaman rumah Ki Putuhu. Kedatangan kedua orang itu telah disambut dengan hangat oleh orang-orang yang memang sudah nenunggu di rumah Ki Putuhu, terutama Ki Putuhu sendiri. “Marilah, Kakang” Ki Putuhu mempersilahkan.

Kedua orang itu pun naik ke pendapa dan duduk di antara beberapa orang yang menunggunya.

“Aku sudah menjadi cemas, bahwa Kakang tidak jadi datang hari ini.”

“Apakah aku sering ingkar janji?” jawab salah seorang dari kedua orang itu.

“Tidak, Kakang Kebo Lorog memang tidak pernah ingkar janji,” desis Ki Putuhu, ”karena itu, kami sudah menunggu Kakang di sini bersama beberapa orang kawan kami.”

“Aku ingin melihat apa yang telah kalian lakukan di sini, Aku sudah mendengar permainan kalian dengan hantu-hantuan itu.”

“Apakah cara itu menarik perhatian kakang Kebo Lorog?” bertanya Ki Putuhu.

”Aku sedang mempelajarinya,” jawab Kebo Lorog.

“Besok malam keramaian merti desa itu akan diselenggarakan, Besok malam kami akan mempertunjukkan tontonan yang tentu menarik bagi kakang Kebo Lorog.”

“Tontonan apa?”

“Keranda itu akan berjalan tidak jauh dari tempat keramaian itu diadakan.”

Sebelum Ki Putuhu berceritera lebih lanjut, Kebo Lorog sudah tertawa lebih dahulu, Katanya, ”Kau akan menunjukkan kepadaku, bagaimana orang-orang padukuhan itu berlarian kalang kabut.”

“Ya.” Ki Putuhu tersenyum.

Tetapi Kebo Lorog menggeleng sambil berkata, ”Pertunjukan itu belum tentu dapat berlangsung.”

“Kenapa?” bertanya Ki Putuhu. “Sejak sebelumnya orang-orang padukuhan itu sudah ketakutan. Karena itu, maka mereka tidak akan berani keluar dari rumah mereka setelah senja turun. Tratag sudah dibuat di sawah Ki Bekel. Tampaknya keramaian itu tetap akan diadakan.”

“Mungkin saja. Tetapi apakah ada yang menonton atau tidak, kita masih belum dapat memastikannya” berkata Kebo Lorog. ”Itu tidak penting. Yang penting bahwa kalian berhasil melakukan tugas kalian didaerah ini.”

“Kami akan menunjukkan kepada Kakang Kebo Lorog. Kami simpan hasil kerja kami di kuburan.”

“Kenapa tidak di tempat ini?” bertanya Kebo Lorog.

“Tampaknya lebih aman disimpan di kuburan itu. Sebagian dari hasil kerja kami memang dibawa ke rumah ini dan disimpan di sini untuk satu dua pekan. Selanjutnya, semua kami bawa dan simpan di kuburan itu sekaligus sambil bermain hantu-hantuan.”

“Apakah di rumah ini tidak dapat dijamin pengamanannya?”

Ki Putuhu menarik napas dalam-dalam. Katanya, ”Rumah ini masih terhitung rumah warisan yang akan dimiliki oleh tiga orang, karena aku masih mempunyai dua orang bersaudara.”

”Di mana ‘mereka sekarang?”

“Keduanya perempuan. Mereka ikut suami mereka. Tetapi kadang mereka datang berkunjung kemari. Aku adalah yang tertua di antara kami bertiga, sehingga kedua adikku itu merasa wajib untuk setiap kali datang,” jawab Ki Putuhu, ”selebihnya aku harus mencurigai orang-orangku sendiri yang tidak terlibat dalam kerja ini.”

“Maksudmu, siapakah mereka itu?”

“Aku mempunyai beberapa orang yang membantu kesibukan keluarga kami. Ada yang mengurusi ternak dan kuda. Ada yang mengurusi sawah dan ladang dan ada pula yang membantu isteriku di dapur, mencuci pakaian dan sebagainya. Aku mengkhawatirkan, bahwa tidak dengan sengaja mereka menemukan sesuatu yang dapat menarik perhatian mereka. Karena itu, barang-barang itu tidak boleh terlalu lama berada di sini.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Kapan kita akan melihat hasil kerja kalian.”

“Besok malam, setelah kita menonton pertunjukan yang kita harapkan dapat menarik itu.” jawab Ki Putuhu.

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya ”Apakah pembantu-pembantumu itu tidak mencurigaimu jika di rumah ini terdapat beberapa orang seperti sekarang ini?”

“Tidak. Menurut pengertian mereka, aku adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, sehingga dengan demikian maka mereka tidak pernah menaruh perhatian terhadap tamu-tamuku yang mereka anggap kawan berdagang atau bahkan pembantu-pembantuku dalam perdagangan ini.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Sebenarnyalah orang-orang yang bekerja dirumah Ki Putuhu sama sekali tidak menghiraukan apa saja yang pernah dilakukan oleh Ki Putuhu. Meskipun ada di antara mereka yang sekali-sekali diganggu oleh pertanyaan dari-mana datangnya kekayaan Ki Putuhu, namun mereka berusaha untuk melupakannya. Mereka memang mencoba untuk meyakini bahwa Ki Putuhu adalah seorang saudagar perhiasan, permata dan wesi aji, meskipun Ki Putuhu tampaknya tidak benar-benar sibuk dengan kerja itu. Mereka juga tidak menghiraukan apakah banyak orang yang berdatangan di rumah Ki Putuhu. Yang penting mereka bekerja dirumah itu dengan upah yang memadai.

Hari itu, Kebo Lorog dan seorang kawannya akan bermalam di rumah Ki Putuhu, Seorang yang mengendalikan para pengikut Kebo Lorog yang ada di lingkungannya. Namun yang oleh tetangga-tetangganya dianggap seorang yang baik, dermawan dan rendah hati.

Menjelang malam, Kebo Lorog dan kawannya bersama Ki Putuhu sempat melihat persiapan keramaian merti desa yang akan diselengarakan esok malam.

“Tampaknya mereka bersungguh-sungguh” berkata Kebo Lorog.

“Tayub,” sahut Ki Putuhu, ”dengan menyelenggarakan tari tayub sebagai pernyataan terima kasih atas keberhasilan panen mereka kepada Dewi Padi, mereka berharap bahwa pada kesempatan lain, panen mereka akan semakin baik.”

Kebo Lorog itu mengangguk-angguk. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia merasa heran, kenapa orang-orang padukuhan itu masih juga berani menyelenggarakan keramaian jika untuk beberapa lama selalu dibayangi ketakutan karena hantu keranda itu. Hampir di luar sadarnya ia berkata, ”Ternyata hantu-hatuan kalian tidak berhasil menakut-nakuti orang padukuhan itu.”

“Selama ini padukuhan itu menjadi sepi, Kakang. Bukan hanya padukuhan itu, tetapi beberapa padukuhan yang lain. Aku tidak tahu, apakah demikian kuatnya dorongan naluri mereka untuk menyelenggarakan keramaian itu sehingga mengatasi perasaan takut mereka. Tetapi besok kita akan membuktikan, bahwa mereka akan menjadi ketakutan.”

Kebo Lorog mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa baginya tidak menjadi terlalu penting, apakah nereka menjadi ketakutan atau tidak. Yang menjadi perhatian utamanya adalah justru keberhasilan kerja para pengikutnya di lingkungan itu. Karena itu, maka Kebo Lorog tidak memperhatikan persiapan keramaian itu lebih lama lagi. Ia menjadi tertarik untuk melihat-lihat padukuhan-padukuhan yang lain di sekitarnya.

Lewat tengah malam, mereka telah berada di rumah Ki Putuhu kembali. Kebo Lorog dan kawannya yang sudah merasa letih dipersilahkan beristirahat. Di hari berikutnya, mereka lebih banyak berada dirumah. Duduk-duduk sambil berbincang. Bersama beberapa orang pengikutnya yang hari itu ada di rumah Ki Putuhu, mereka tengah merencanakan niat Kebo Lorog untuk melihat harta benda yang disembunyikan di kuburan.

“Aku tidak akan mengganggu milik kalian selain yang memang sudah kalian siapkan untuk kalian berikan kepadaku. Yang lain itu hak kalian,” berkata Kebo Lorog.

Ki Putuhu mengangguk-angguk. Katanya, ”Kita sudah memisahkan yang terbaik yang akan kami serahkan kepadamu, Kakang.”

“Aku juga tidak akan menyebutkan, apa yang aku inginkan dari barang-barang yang kalian simpan itu. Terserahlah kepada kalian,” berkata Kebo Lorog itu pula.

“Setelah kita bermain-main dengan hantu-hantuan itu, kita akan ke kuburan.”

“Persetan dengan keramaian itu,” desis Kebo Lorog.

Ki Putuhu mengerutkan dahinya Tetapi ia tidak menjawab. Permainan yang akan menjadi salah satu tontonan yang menarik itu ternyata tidak dianggap penting oleh Kebo Lorog. “Tetapi ia akan senang melihatnya,” berkata Ki Putuhu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, dua orang pengikut Kebo Lorog telah memeritahukan, bahwa gamelan telah diletakkan di bawah tratag yang dibuat di tengah sawah itu. Mereka tidak lagi merasa ragu, bahwa keramaian itu akan berlangsung siang hari. “Keramaian itu tentu akan diselenggarakan seperti biasanya, di malam hari” berkata salah seorang dari keduanya.

Ki Putuhu tersenyum. Katanya, ”Aku sedikit curiga, bahwa untuk mengatasi rasa takut mereka akan menyelenggarakan keramaian di siang hari.”

“Tetapi tayub dan upacara terima kasih itu biasanya memang dilakukan di malam hari. Pada saat kegelapan menyelimuti bulak sawah yang luas itu, karena kegelapan merupakan bagian dari upacara itu sendiri,” berkata salah seorang dari antara mereka.

Kebo Lorog yang juga mendengar hanya mengangguk-angguk saja.Ia tidak menanggapinya.

Demikianlah. semakin rendah matahari, maka di sekitar tempat keramaian itu memang menjadi semakin banyak dikunjungi orang.

Wedaran Terkait

Jejak di Balik Kabut 5 (Jilid 2)

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 3

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 2

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 1

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.