Dironda 63 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Gede Menoreh membuka persoalan rumah tangga Swandaru dan Pandan Wangi kepada Agung Sedayu. Sebagai seorang ayah, dia semakin sulit melihat putrinya terus menanggung beban akibat keadaan Swandaru, tetapi belum ingin mengambil keputusan dalam kemarahan atau kekecewaan. Agung Sedayu memahami kegelisahan itu dan menegaskan bahwa dia masih berharap Swandaru mampu memperbaiki dirinya, Pandan Wangi tetap memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
“Untuk sementara,” kata Agung Sedayu. “Saya hanya dapat memulangkan Swandaru ke Sangkal Putung. Tidak ada lagi yang bisa saya perbuat.”
Terdengar hela napas panjang dari Ki Gede. Kemudian dia berkata, “Baiklah, aku dapat mengerti. Dan yang Angger lakukan itu sudah cukup membantu. Mengingat betapa sulit menyelesaikan itu tanpa menganggap keberadaan Angger di samping Swandaru sendiri. Betapa pun Angger berdua melewati waktu, tapi Angger Sedayu adalah kakak seperguruannya.”
Demikianlah kedua orang tersebut lantas mengalihkan pembicaraan sedikit demi sedikit hingga batas waktu tersisa memisahkan mereka berdua.
Beberapa hari setelah kedatangannya yang pertama, Ki Adiyasa masih terlihat di sekitar pedukuhan induk. Dia tidak datang setiap hari ke kediaman Ki Gede. Kadang-kadang dia hanya muncul di pasar, berbicara dengan beberapa orang mengenai rumah dan lahan yang dapat disewanya.
Pada kesempatan lain, dia terlihat berjalan ke arah Dusun Benda untuk melihat tempat yang menurut keterangan orang-orang mungkin sesuai dengan keperluannya.
Sikapnya tetap sebagaimana seorang pedagang keliling yang sedang mencari tempat untuk menetap. Dia tidak banyak bertanya tentang urusan orang lain dan tidak pula menunjukkan keinginan untuk terlalu dekat dengan keluarga Ki Gede. Namun, dari beberapa percakapan ringan yang dilakukannya, perlahan dia mulai mengenali keadaan di sekitar pedukuhan induk.
Termasuk keadaan rumah Ki Gede.
Dia mengetahui bahwa Swandaru telah berangkat ke Sangkal Putung.
Berita itu didengarnya dari percakapan biasa ketika dia sedang bertanya mengenai sebuah rumah yang hendak dilihatnya. Tidak ada sesuatu yang membuat orang yang memberitahunya merasa bahwa berita itu penting. Swandaru memang telah meninggalkan Menoreh bersama Ki Lurah Sora Sareh dan beberapa pengawal.
Ki Adiyasa hanya mengangguk.
“Sudah berangkat?”
“Sudah beberapa hari.”
“Ke Sangkal Putung?”
“Begitulah. Katanya keadaan di barak semakin tidak aman.”
Ki Adiyasa tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengucapkan terima kasih lalu meneruskan pembicaraan mengenai rumah dan lahan yang sedang dicarinya.
Tetapi sejak saat itu, sesuatu dalam pikirannya telah berubah.
Pada pagi yang lain, ketika matahari belum terlalu tinggi, Ki Adiyasa kembali berada di pendapa rumah Ki Gede. Kedatangannya kali itu juga tidak membawa maksud yang tampak penting. Ki Gede sedang menerima beberapa orang yang datang membicarakan persoalan pengairan ketika Ki Adiyasa datang dan duduk tidak jauh dari mereka.
Pandan Wangi berada di sisi lain pendapa.
Tidak lama kemudian, terdengar langkah seseorang dari halaman.
Ki Gede mengangkat wajahnya. Seorang lelaki datang seorang diri dan berhenti beberapa langkah dari pendapa. Ki Gede tidak mengenalnya. Karena itu dia hanya memandang sebentar sebelum kembali memperhatikan orang-orang yang sedang berbicara dengannya.
Namun tidak demikian dengan Ki Adiyasa.
Begitu melihat lelaki itu, tubuhnya seperti berhenti bergerak untuk sesaat. Tangannya yang sedang menyentuh tepi cangkir tidak segera terangkat. Pandangannya tertahan pada wajah yang telah lama tidak dilihatnya.
Lelaki itu pun melihat ke arah pendapa.
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Hanya sekejap mata yang saling mengenali sebelum keduanya sama-sama memalingkan pandangan.
Ki Wira Sentanu kemudian berjalan mendekat kepada Ki Gede, sementara Ki Adiyasa tetap duduk seperti tidak terjadi apa-apa. Demikian pula Ki Wira Sentanu tidak menunjukkan bahwa dia mengenal seorang pun yang berada di pendapa itu.
Ki Gede mempersilakannya duduk. “Silakan, Ki Sanak.”
Ki Wira Sentanu mengangguk lalu mengambil tempat.
Pandan Wangi yang sejak tadi memperhatikan keadaan itu sempat melihat wajah Ki Adiyasa. Ada perubahan yang sangat kecil, hampir tidak dapat disebut sebagai perubahan. Tetapi kali ini Pandan Wangi kembali melihat sesuatu yang sama seperti ketika lelaki itu pertama kali memperkenalkan dirinya beberapa hari sebelumnya.
“Dia sepertinya mengetahui sesuatu,’ kata Pandan Wangi dalam hatinya.
Sementara itu, Ki Wira Sentanu mulai berbicara kepada Ki Gede mengenai urusan yang wajar. Percakapan mereka berjalan sebagaimana percakapan seorang tamu dengan pemimpin Tanah Perdikan.
Tidak sekali pun Ki Wira Sentanu menoleh kepada Ki Adiyasa. Tidak sekali pun Ki Adiyasa mencoba mencari tatapannya. Tetapi keduanya telah saling mengenali. Dan bagi mereka, pertemuan itu bukan sesuatu yang mereka kehendaki terjadi di tempat seperti ini.
Ki Adiyasa tetap duduk untuk beberapa saat, tetapi perhatiannya tidak lagi sepenuhnya tertuju pada percakapan di pendapa. Pikirannya sibuk bertanya, “Ada kepentingan apa Ki Wira Sentanu datang ke sini?”
Pertanyaan itu berulang di dalam benaknya.
Dia mengenal Ki Wira Sentanu cukup lama untuk mengetahui bahwa kedatangannya ke rumah Ki Gede bukanlah sesuatu yang dapat dianggap kebetulan begitu saja. Namun, Ki Adiyasa tidak mengetahui yang menjadi tujuan sebenarnya. Apalagi sekarang lelaki itu justru datang ke kediaman Ki Gede.
“Ataukah ada persoalan lain yang membawanya kemari?” tanya Ki Adiyasa tapi ucapan itu tidak terlontar dari bibirnya. Maka dia pun tidak menemukan jawabannya.
Ketika merasa pembicaraan mulai menjurus lebih jauh, Ki Gede kemudian memperkenalkan Ki Adiyasa pada Ki Wira Sentanu.
“Ki Adiyasa,” kata Ki Gede kemudian, “aku perkenalkan dengan Ki Wira Sentanu.”
Ki Adiyasa mengangkat wajahnya. Pandangannya bertemu dengan Ki Wira Sentanu hanya sekejap sebelum keduanya sama-sama mengangguk.
Setelah dua orang itu saling menyebut diri, Ki Gede kemudian berkata, “Ki Adiyasa sedang singgah di sini beberapa hari. Kebetulan beliau juga ada urusan di sekitar Tanah Perdikan.”
“Semoga urusannya berjalan lancar,” kata Ki Wira Sentanu.
“Terima kasih, Ki.”
Ki Adiyasa lalu menggeser duduknya sedikit. “Ki Wira sendiri datang dari Kotaraja?”
“Benar. Ada keperluan yang harus saya sampaikan kepada Ki Gede.”
“Oh, begitu.”
Ki Adiyasa tidak bertanya lebih jauh. Ki Wira Sentanu pun tidak menjelaskan yang dimaksud dengan keperluannya. Keduanya seperti memahami bahwa pertanyaan lebih jauh justru akan membuat percakapan sederhana itu terasa tidak wajar.
Ki Gede kemudian kembali melanjutkan pembicaraan mengenai urusan Tanah Perdikan.
Ki Adiyasa mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Ki Wira Sentanu juga tampak memperhatikan setiap perkataan Ki Gede.
Tidak ada lagi tatapan yang saling mencari. Namun keduanya sama-sama tahu bahwa perkenalan singkat tadi tidak sesederhana yang tampak.
Ki Adiyasa tidak ingin terlalu lama berada di tempat yang sama dengan Ki Wira Sentanu. Jika dia tetap duduk di sana, kemungkinan percakapan atau tatapan yang tidak semestinya justru dapat menarik perhatian Ki Gede. Karena itu, setelah beberapa saat, Ki Adiyasa bangkit.
“Ki Gede, saya mohon diri lebih dahulu,” kata Ki Adiyasa sambil menambahkan ada keperluan lain yang masih menunggu.
Ki Gede menoleh dan mengangguk. “Silakan.”
Ki Adiyasa membungkukkan kepala sedikit, lalu meninggalkan pendapa dengan langkah yang tetap tenang. Namun sesaat setelah melewati regol halaman, langkahnya menjadi sedikit lebih cepat.
Percakapan Ki Wira Sentanu dengan Ki Gede terus berlangsung. Sesekali Ki Wira Sentanu memberikan tanggapan mengenai keadaan di sekitar Menoreh, sementara Ki Gede menyampaikan beberapa hal yang dianggapnya perlu diketahui.
Namun di sela-sela pembicaraan itu, pikiran Ki Wira Sentanu masih sempat kembali kepada lelaki yang baru saja meninggalkan pendapa.
“Apa kepentingan Ki Adiyasa berada di sini?” dia bertanya dalam hati. Pertanyaan itu muncul begitu saja, tetapi semakin dipikirkannya semakin sulit diabaikan.
Setahunya, setelah orang-orang mereka mengalami kekalahan, Ki Adiyasa seharusnya masih berada di Kotaraja. Setidaknya demikianlah keadaan yang terakhir diketahuinya. Tidak pernah ada kabar bahwa lelaki itu meninggalkan tempat tersebut, apalagi menuju Tanah Perdikan Menoreh.
“Seharusnya dia masih muncul di Kotaraja,” dia masih berkata dalam hati. Untuk sesaaat kemudian, Ki Wira Sentanu menahan napas sejenak.
“Dia mengatakan pada saya bahwa pekerjaanya adalah berdagang keliling,” kata Ki Gede kemudian ketika obrolan mereka lebih mengalir.
Sudut bibir Ki Wira Sentanu bergerak tetapi tidak hampir seperti sebuah senyum yang benar-benar jadi—sudah jelas dia tidak dapat mempercayainya. Namun untuk saat ini, dia tidak akan menanyakan sedikit pun di depan Ki Gede.
Ki Wira Sentanu kembali memusatkan perhatian kepada Ki Gede. Setelah beberapa saat membicarakan keadaan di Tanah Perdikan, Ki Wira Sentanu akhirnya mengubah pokok pembicaraan.
Dia merogoh bagian dalam pakaiannya lalu mengeluarkan sebuah lencana. Benda itu diletakkannya sejenak di telapak tangan, kemudian disodorkannya kepada Ki Gede.
Ki Gede memandang lencana itu tanpa mengambilnya tetapi tidak berkata-kata.
Ki Wira Sentanu berkata dengan tenang, “Saya ingin menyampaikan sesuatu, Ki Gede.”
Ki Gede mengangguk pelan.
Setelah terdiam sesaat, Ki Wira Sentanu berkata lagi, “Mewakili Pangeran Purbaya, kami meminta agar Ki Tumenggung Agung Sedayu dicopot dari kedudukannya sebagai pemimpin pasukan khusus di Tanah Perdikan Menoreh.”
Ki Gede diam saja. Pandangannya tidak berubah, demikian pula garis wajahnya. Tatap matanya kembali memandang lencana yang masih berada di hadapan mereka.
“Diganti?” ulang Ki Gede perlahan.
“Begitulah maksudnya.”
“Dan Ki Sanak datang membawa ini kepada saya?”
“Saya hanya menyampaikan.”
Ki Gede menatap Ki Wira Sentanu cukup lama. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya, tetapi satu hal segera terasa lebih penting daripada yang lain. Dia bertanya, “Apakah Agung Sedayu mengetahui perkara ini?”
Ki Wira Sentanu menjawab, “Belum.”
Pandan Wangi yang berada tidak jauh dari mereka sempat mengangkat wajahnya ketika mendengar kata-kata itu.
Dia pun berpikir. dicopot dari kedudukan sebagai pemimpin pasukan khusus? Atas kesalahan apa? Bukankah baru-baru ini Agung Sedayu juga dari Kotaraja? Tetapi, memang, Agung Sedayu tidak mengatakan sesuatu pun pada mereka. Dan sampai hari itu, Agung Sedayu baru sekali saja datang ke rumah mereka. Hanya sebuah kedatangan saja dan belum berbicara banyak karena kesibukan dan urusan yang perlu perhatian.
Pandan Wangi kembali tenang, sementara Ki Gede dan Ki Wira Sentanu meneruskan pembicaraan mereka.
“Kyai,” kata Ki Gede Menoreh. “Saya tidak dapat menilai Ki Tumenggung Agung Sedayu seperti orang lain menimbang hail pekerjaannya.”
Ki Wira Sentanu diam tapi otaknya mulai bekerja.
“Terus terang, Angger Sedayu di tempat ini sudah seperti anak saya sendiri. Jadi, jika seseorang datang lalu mengatakan bahwa dia sepantasnya dicopot atau digantikan orang lain, mungkin orang itu belum mengenal Sunan Agung atau Pangeran Purbaya.’
Dahi Ki Wira Sentanu berkerut. Bukankah justru dirinya datang karena perintah Pangeran Purbaya? Yang memberi lencana itu juga Pangeran Purbaya? Lalu, sekarang?
Ki Gede menyandarkan tubuhnya sedikit kemudian dengan nada diturunkan, dia berkata seakan pada dirinya sendiri, ”Saya diminta menerima atau membuat sebuah keputusan, tetapi saya tidak diberi tahu orang yang akan mengambil kedudukan itu.”
Ki Wira Sentanu tidak segera menjawab.
Ki Gede mengangkat wajahnya. Tatapannya menjadi lebih dalam. Katanya lagi, “Agung Sedayu memimpin pasukan khusus di sini ketika keadaan sedang tidak sederhana. Mengubah kedudukan itu berarti mengubah banyak hal. Menggantikan dirinya itu seperti mencabut semua akar kepercayaan yang ada, membongkar kembali hubungan saya dengan banyak unsur di Tanah Perdikan. Dengan kata lain yang lebih keras dan kasar, mengganti Agung Sedayu sama seperti mengabaikan kepercayaan saya padanya. Saya harap Kyai paham.”
“Saya, Ki Gede,” ucap Ki Wira Sentanu.
Pandan Wangi yang sejak tadi diam kembali memandang keduanya. Keterkejutan yang sempat tampak pada wajahnya telah hilang. Dia kembali tenang, tetapi pendengarannya tidak melewatkan satu pun kata yang terucap.
Lencana itu tetap berada di atas meja untuk beberapa lama.
Ki Wira Sentanu bangkit perlahan lalu berkata, “Saya sudah menyampaikan yang harus saya sampaikan.”
Ki Gede mengangguk. “Saya sudah katakan yang harus dikatakan.”
Setelah Ki Wira Sentanu meninggalkan pendapa, suasana di sana menjadi lebih sunyi. Pandan Wangi masih berada di tempatnya. Untuk beberapa saat dia tidak berkata apa-apa.
Kemudian dia memandang ayahnya sambil bertanya, “Ayah mengetahui maksud mereka?”
Ki Gede menatap agak lama ke arah Ki Wira Sentanu baru saja menghilang, kemudian memandang kembali lencana yang tampak sengaja ditinggal olehnya. Sambil mengangguk, Ki Gede berkata, “Aku tidak tahu tetapi aku rasa mulai mengenalnya.”
- Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh ini segera berakhir. Perhatian dan dukungan Anda mewarnai pula perjalanan panjang, Buku 7, Waru Geni. Donasi Anda dapat membantu keberlangsungan kisah. Lumbung padepokan 822 0522 297 BCA. 3135 0102 1624 530 BRI. Keduanya atas nama Roni Dwi Risdianto.
- Tetapi di luar dugaan Ki Gede sendiri, Sukra justru melepaskan senjata, lantas membiarkan tubuhnya – dengan kepala di bawah – terjun bebas ke permukaan sungai yang dipenuhi batu saat Geger Alas Krapyak 3.
- Dalam waktu itu, tanpa melihat keadaan Sukra, Raden Trenggana berpikir ulang tentang siasat yang sedang digelar. Kemampuan perang yang dimiliki prajurit Blambangan, meski tidak membuatnya terkejut, tetap saja mendatangkan kecemasan dalam hatinya. Lamun Parastra ing Pungkasan 8 menjadi titik balik perubahan gelar perang.

