0%
Still working...

Waru Geni 21 – Perondaan ke Dusun Benda

Dironda 51 kali

Wedaran sebelumnya: Ki Jayaraga masih duduk di tempatnya. Pandangannya kembali tertuju pada jalan kecil yang membujur di antara pepohonan. Dia belum mengetahui dapat menduga tujuan senjata itu dikeluarkan dari pedukuhan. Apakah mereka masih satu kelompok dengan penyerang barak beberapa waktu sebelumnya atau mereka hadir dengan tujuan yang sama sekali baru?

Langit di sebelah timur belum memperlihatkan warna terang ketika udara masih terasa dingin dan embun membasahi rerumputan di sepanjang jalan.

Pagi-pagi sekali, Ki Jayaraga tampak meninggalkan gardu di sudut pedukuhan.

Glagah Putih berjalan di sebelah Ki Jayaraga. Rara Wulan berada tidak jauh di belakang mereka, diikuti oleh tujuh orang pengawal yang telah dipilih sebelumnya.

Ketika mereka tiba di lingkungan rumah sewaan yang dimaksud, beberapa orang telah tampak melakukan kegiatan. Ada yang sedang menyapu halaman, ada pula yang duduk di beranda. Namun, suasana di sekitar rumah itu terasa berbeda dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk lainnya. Beberapa orang segera menghentikan kegiatan mereka ketika melihat kedatangan Ki Jayaraga.

Seorang laki-laki terlihat keluar dari salah satu bangunan. Dia berjalan menyambut rombongan itu dengan sikap yang cukup tenang.

“Selamat pagi, Ki Sanak sekalian,” kata Ki Jalawangsa sambil menganggukkan kepala.

Ki Jayaraga membalas sapaan itu dengan ramah. Lalu katanya, “Saya Ki Jayaraga dan kami mewakili bebahu pedukuhan ingin melihat sesuatu dari dalam rumah Ki Sanak.”

Ki Jalawangsa tersenyum kemudian mengangguk dan berkata, “Nama saya Ki Jalawangsa.”

Sikap tubuhnya agak berbeda ketika Ki Jayaraga terang-terangan mengutarakan maksud mereka.

 “Apakah ada sesuatu yang kurang berkenan?”

“Kami belum bisa memastikan dan juga belum mendapatkan kepastian hingga dapat melihat sebagian isi rumah ini,” kata Glagah Putih dari samping Ki Jayaraga.

Ki Jalawangsa tidak segera menjawab dan memandang Glagah Putih agak lama lalu beralih ke Rara Wulan.

Orang ini sepertinya bukan orang dusun biasa. Mungkin dia ini prajurit Mataram, pikir Ki Jalawangsa saat mencoba menerka Glagah Putih tapi dia tidak menebak Rara Wulan. Kemudian Ki Jalawangsa berkata dengan nada sopan, “Mohon maaf, Ki Sanak. Rasanya tidak perlu sampai ke bagian dalam. Kami tidak sedang melakukan sesuatu yang mengusik ketenangan pedukuhan.”

Ki Jayaraga memandang laki-laki itu dengan tenang. “Dia ini Glagah Putih supaya Ki Jalawangsa lebih nyaman saat berbincang dengannya.”

Ki Jalawangsa mengangguk sekali lagi. “Tetapi kami memang tidak ada niatan atau sesuatu perbuatan yang sekiranya mengganggu ketentraman pedukuhan.”

“Saya tidak mengatakan bahwa kalian sedang atau sudah mengganggu. Saya hanya ingin melihat keadaan rumah ini,” kata Ki Jayaraga.

“Sekali lagi, mohon maaf. Kami tidak mempunyai sesuatu yang sepatutnya disembunyikan dari Ki Sanak. Jadi, saya pikir Ki Jayaraga tidak perlu menaruh kecurigaan pada kami yang hanya tahu urusan dagang dan sejenisnya.”

Jawaban itu disampaikan dengan halus. Bahkan Ki Jalawangsa masih memperlihatkan sikap hormat.

Setelah mengambil waktu untuk berpikir sejenak, Ki Jayaraga memutuskan untuk tidak mendesak. Kemudian dia berkata, “Baiklah. Kalau begitu, saya tidak akan memaksa.”

Selama percakapan itu berlangsung, Glagah Putih telah memperhatikan beberapa orang yang berdiri di sekitar halaman. Dia kemudian memberi isyarat kepada dua orang pengawal untuk melihat keadaan di sisi bangunan.

Mereka berjalan perlahan seolah-olah hanya ingin memperhatikan lingkungan rumah sewaan itu. Beberapa langkah kemudian, seorang laki-laki mendekati mereka.

“Maaf, Ki. Bagian belakang hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tidak lagi diperlukan.”

Pengawal itu berhenti lalu berucap, “Kami hanya melihat keadaan sekitar.”

“Tidak ada sesuatu yang menarik di sana, Ki. Jalan di sebelah sini juga sempit.”

Di bagian lain, dua orang pengawal yang mencoba berkeliling melalui sisi samping bangunan juga mendapat sambutan serupa. Beberapa orang berdiri di tempat yang dapat menghalangi pengawal pedukuhan, sebagian sedang melakukan pekerjaan ringan. Tapi kegiatan mereka dilakukan secara halus sehingga membuat pengawal tidak dapat melanjutkan langkah tanpa harus melewati atau meminta jalan kepada mereka.

Tidak ada suara keras yang berisi sindiran atau sesuatu yang mengarah ke sana. Tidak ada pula gerakan yang dapat dianggap sebagai ancaman. Tetapi Glagah Putih serta Ki Jayaraga sadar bahwa orang-orang itu memang tidak menghendaki orang lain dapat melihat bagian dalam lingkungan rumah sewaan tersebut.

Rara Wulan yang berdiri tidak jauh dari Ki Jayaraga juga memperhatikan perkembangan. Sejenak dia berusaha mengenali orang-orang yang mungkin sempat dilihatnya ketika mengikuti kelompok pembawa bakul. Dan ternyata memang tidak semua orang yang berada di halaman itu pernah dilihatnya.

Ki Jayaraga mengangguk sekali lagi kemudian berkata, “Baiklah, saya tidak dapat memaksakan diri. Demikian pula para pengawal yang juga segera menarik diri sehingga kegiatan Ki Sanak tidak terganggu lebih lama. Mudah-mudahan kita tetap dapat menjaga ketenteraman Dusun Benda.”

Ki Jalawangsa merendahkan tubuh lalu diikuti sejumlah orang.

Ki Jayaraga kemudian memutar langkah. Demikian juga. Glagah Putih dan Rara Wulan yang segera mengikuti kepergiannya. Para pengawal pun meninggalkan halaman rumah sewaan itu dengan tertib.

Tidak seorang pun di antara mereka memperlihatkan kekecewaan. Namun, seperti dalam dugaan Ki Jayaraga dan Glagah Putih yang sudah menduga akan ada penolakan. Maka selanjutnya adalah menjalankan rencana sebelumnya.

Setelah rombongan itu berjalan cukup jauh dan tidak lagi berada dalam pandangan langsung Ki Jalawangsa, Ki Jayaraga memperlambat langkahnya lalu memberi isyarat kepada salah seorang pengawal.

“Panggil dua orang kawanmu dan tambahkan pula beberapa lagi jika bertemu di gardu atau pematang. Kalian harus segera menuju jalur barat kemudian perhatikan setiap orang yang melintas. Hentikan jika dipandang perlu,” kata Ki Jayaraga.

“Saya, Kyai,” ucap pengawal itu dan segera memisahkan diri.

Ki Jayaraga kemudian berpaling ke arah lainnya. Dia mengatakan yang hampir serupa pada mereka untuk jalur utara yang menghubungkan Dusun Benda dengan Pudak Lawang. Tiga pengawal itu kemudian bergegas menjalankan tugas.

Tak lama setelah itu,  Ki Jayaraga kembali berjalan bersama Glagah Putih dan Rara Wulan.

“Menurutmu, mana yang paling mungkin ditempuh orang-orang itu bila pergi dalam kelompok kecil-kecil?” tanya Ki Jayaraga kepada Glagah Putih.

“Ke barat, itu hampir tidak mungkin karena tidak ada permukiman lagi yang terdekat. Hutan pun terlalu lebat meski untuk sekadar perkemahan sementara,” ungkap Glagah Putih. “Satu hal penting, Guru, mereka akan kesulitan dengan air karena sungai yang terjangkau pun masih berada di dekat Dusun Benda.”

Ki Jayaraga diam sejenak, lalu berkata, “Jadi yang paling mungkin menurutmu adalah arah ke Pudak Lawang?”

Glagah Putih memandang sekilas ke arah jalan yang membentang menuju barat lalu ke utara. utara, kemudian berkata, “Kurang lebih seperti itu. Meski agak jauh dan sedikit memutar tetapi Pudak Lawang mempunyai segalanya. Mereka mempunyai air, permukiman dan bukan termasuk daerah yang benar-benar sepi.”

Ki Jayaraga mengangguk-angguk. Pandangannya lurus menatap arah ke rumah sewaan. Sambil mengulang ingatan mengenai pengamatan Rara Wulan, dia berkata, “Keluar dengan senjata yang disembunyikan di dalam bakul-bakul dan pikulan, lalu kembali masuk tanpa membawa lagi barang yang sama. Setidaknya mereka kembali ke Benda tanpa pikulan dan bakul. Bila ada, mungkin sebagian saja yang terisi barang-barang lain.”

Rara Wulan mengangguk.

Ki Jayaraga lalu memberi isyarat agar mereka memutari rumah sewaan lalu menuju arah Pudak Lawang.

“Kita tidak dapat segera masuk ke sana,” kata Ki Jayaraga selanjutnya. “Mereka sudah pasti belajar dari pengalaman hari ini.”

“Saya pikir mereka tentu sudah merasa tidak aman nyaman ketika kita datang,” kata Glagah Putih. “Tetapi mereka juga mungkin belum mempunyai kesempatan untuk mengubah jalur perpindahan seandainya akan bergeser tempat.”

Ki Jayaraga dan Rara Wulan mengangguk.

Dan benarlah dugaan Ki Jayaraga maupun Glagah Putih. Sejumlah orang mulai bergerak cepat sejak mereka meninggalkan rumah itu. Sebagiran orang mulai mempercepat langkah. Salah seorang di antara mereka beberapa kali menoleh ke belakang.

“Mereka agaknya telah mengetahui sesuatu,” katanya dengan suara tertahan.

“Belum tentu,” sahut kawannya.

“Kalau begitu, mengapa mereka pagi-pagi datang dengan pertanyaan yang tidak biasa?”

Tidak ada jawaban yang terdengar. Mereka terus berjalan. Salah seorang bahkan mengingatkan agar mereka segera meninggalkan lingkungan Dusun Benda sebelum keadaan berubah. Dalam kegelisahan itu, mereka masih dapat memilih jalur yang dianggap lebih singkat untuk mencapai batas dusun. Demikianlah mereka pun memintas, memotong pategalan dan kebun. Pergerakan mereka juga cukup cepat karena tidak berjalan bergerombol atau jumlah besar. Sehingga, sekali lagi, usaha mereka pun tidak terpantau para pengawal pedukuhan yang berada di gardu-gardu.

  • “Seandainya ia tertangkap, apakah Sukra pun akan menjadi bagian perjanjian Ki Tunggul Pitu? Namun aku tidak dapat menjadi pengiringnya,” desis Agung Sedayu dalam hatinya ketika berada di Kiai Plered 56.
  • Sedangkan di lereng Gunung Wilis 9, secara mengejutkan, Ki Arumbaya meluncur deras dari jarak yang sangat dekat dengan kecepatan dahsyat.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.