0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 70 – Hari Ketika Menoreh Bersorak

Dironda 81 kali

Wedaran sebelumnya; Tiba-tiba muncul sekelompok pengawal Menoreh yang menutup jalur pergerakan kelompok lawan.

Di tempat terpisah, Jatayu berkelahi dengan penuh rasa cemas setelah mendapati kenyataan bahwa Sukra jauh lebih kuat dari yang dia bayangkan. Sampai pada saat itu, Jatayu bahkan belum berani membayangkan dapat keluar sebagai pemenang. Yah, jika dia berhasil mengalahkan Sukra tapi anak buahnya tumbang, lalu?

Sukra, dengan gerakan yang tampaknya sederhana tapi itu semua adalah rangkaian tata gerak yang banyak mengalami perubahan sejak mendapatkan petunjuk singkat Kyai Bagaswara.

Banyak orang berpengaruh yang berkenan memberi sentuhan pada pengawal Menoreh itu sehingga tandang sukra menjadi lebihteratur dengan banyak kembangan tidak terduga. Sukra kadang-kadang melambari serangan-serangannya dengan tenaga cadangan pemberian Ki Patih Mandaraka, kadang pula dengan hasil latihan dengan arahan Agung Sedayu maka tekanan Sukra benar-benar dirasakan sangat berat oleh Jatayu.

Meski tak mudah terpancing dengan gerakan-gerakan Sukra, Jatayu tetap menyadari kemungkinan masih terbuka untuk melepaskanserangan balik. Dia tidak butuh kemenangan dalam waktu singkat, tapi Sukra pun tampaknya tidak tergesa-gesa.

Demikianlah, gelanggang mereka berdua pun seakan sering dilanda perubahan yang pasang surut sesuai dengan perhitungan masing-masing.

Namun ketika Jatayu tiba-tiba tersengat kenyataan bahwa dirinya pun tak mungkin selamat, maka maka dia menerjang Sukra dengan segenap kemampuan. Segala pengetahuan yang disadapnya dari sejumlah perguruan kanuragan di sekitar Kotaraja terhimpun dengan cepat. Serangannya pun mulai berubah sama sekali. Putaran pedang Jatayu terus mengeluarkan gaung dan desing yang menganggu pendengaran musuhnya.

Tetapi anak muda yang menjadi lawannya adalah Sukra yang serba sedikit juga mempunyai pengalaman tempur yang memadai. Sebab itu, Sukra seolah tidak terguncang dengan segala perubahan yang ditempuh Jatayu. Bahkan sebaliknya, setiap kali Jatayu menambah kedalaman ilmunya, setiap kali itu pula Sukra juga meningkatkan pertarungan. Sehingga yang dirasakan oleh Jatayu adalah dia seperti menemui tembok yang berlapis-lapis. Meski Sukra hanya bersenjata tongkat dan dirinya memegang pedang, tapi tongkat itu justru jauh lebih kuat dibandingkan baja biasa.

Sukra yang ternyata masih mampu meningkatkan ilmunya lebih tinggi lagi pun membuat keputusan cepat ketika sudut matanya melirik keadaan pengawal Pringtali yang mulai dapat mengendalikan pertempuran.

Pada serangan berikutnya, Sukra meningkatkan tekanan dan menjadi semakin berat pula tenaga cadangan yang mneyertai. Tongkat kayu pendek miliknya menebas datar bagian pinggang Jatayu, tapi setengah jalan kemudian tiba-tiba meluncur ke dada. Jatayu yang sempat mengelak selangkah surut benar-benar terkejut karena perubahan arah serangan itu berlangsung begitu cepat.

Jatayu yang semula telah bersiap menghindari tebasan mendatar ke pinggang tidak lagi mempunyai cukup waktu untuk mengubah langkah. Ketika ujung tongkat Sukra meluncur ke arah dadanya, Jatayu melemparkan tubuhnya jauh ke belakang.

Namun sebelum Jatayu benar-benar menginjak tanah, Sukra telah mengejarnya.

Langkah pengawal Menoreh ini meluncur deras. Tongkat pendeknya terus berayun dari atas ke bawah seolah membentuk lingkaran pendek. Jatayu terus menangkis sedapat mungkin dengan jejak kaki yang terhuyung-huyung, berusaha menarik tubuhnya lebih jauh, tetapi ruang untuk beringsut telah semakin sempit.

Dengan juluran tongkat yang tiba-tiba memanjang mengikuti putaran tubuhnya, Sukra menghantam pinggang Jatayu.

Jatayu terlontar  ke samping. Napasnya seakan terputus sesaat tapi Sukra tidak memberinya kesempatan untuk memulihkan diri.

Jatayu tetap bertempur sambil menahan pinggangnya yang didera rasa nyeri yang hebat. Rasa panas menjalar di bagian dalam tubuhnya. Untuk dia bertahan lalu pikirannya tiba-tiba menjadi gelap.

Pikirannya menembus batas. Dia tidak mungkin pulang menemui ayahnya dalam keadaan kalah. Lebih buruk lagi jika  pulang sebagai orang yang terluka atau sebagai tahanan pasukan khusus. Dia tahu akibat yang akan menantinya. Kekalahan itu bukan sekadar kegagalan dalam sebuah pertempuran. Di hadapan ayahnya, kekalahan semacam itu akan menjadi kehinaan yang sulit ditebus.

Jatayu mengepalkan tangannya pada gagang pedang. Tidak. Pikirnya, lebih baik mati di sini daripada pulang sebagai orang yang tunduk.

Tidak ada lagi perhitungan yang sebelumnya masih tersisa. Tidak ada lagi keinginan untuk mencari celah, menunggu kesempatan, atau memperpanjang pertarungan sampai lawannya melakukan kesalahan.

Yang tersisa hanyalah satu keputusan. Kalau jalan untuk keluar dari gelanggang telah tertutup, maka dia harus membuka jalan kematian.

Sukra melihat perubahan itu dan terus menekan dengan serangan membadai. Sukra tidak peduli dengan keadaan lawan yang masih dapat berdiri dan melawan. Hanya itu yang dilihatnya, selainnya? Tidak.

Jatayu terus menghentak kemampuan, membangkitkan yang tersisa meski bukan lagi untuk mencari kemenangan. Pedangnya bergerak liar dan cepat, berusaha menahan gelombang serangan yang datang tanpa memberi kesempatan untuk bernapas.

Di sekitar mereka, pertempuran lain belum berhenti.

Sukra tidak menoleh.

Seluruh perhatiannya tertuju kepada Jatayu. Dia sadar sepenuhnya lawannya yang mungkin sepantaran dengannya itu mulai menurun. Setiap serangannya lebih mudah menyentuh bahu, perut dan pundak. Benar, Jatayu masih berusaha menyerang, tetapi tubuhnya telah terlambat mengikuti kehendak pikirannya.

Kesempatan terbuka.

Tongkat pendek Sukra berputar deras, menyabet silang, menyingkirkan ujung pedang Jatayu, lalu meluncur lurus ke depan. Jatayu sempat melihat gerakan itu, tetapi tubuhnya sudah tidak lagi mampu menghindar dengan sempurna. Cepat dan penuh balutan tenaga cadangan! Ujung tongkat yang tumpul menghantam tepat ke bagian dadanya.

Tubuh Jatayu terdorong dengan napas terputus seketika.

Sebagian pengawal menyaksikan itu lalu bersorak.

Sorak yang semula hanya terdengar dari beberapa orang segera berubah menjadi gemuruh. Teriakan pecah dari berbagai penjuru gelanggang. Para pengawal Menoreh seakan tidak lagi peduli pada keteraturan. Mereka mengangkat senjata, menghentakkan kaki, saling menepuk bahu, bahkan ada yang berteriak sampai suaranya serak.

“Sukra!”

“Mataram!”

“Ki Gede!”

Nama-nama itu diteriakkan berkali-kali.

Bukan hanya nama anak muda yang baru saja memenangkan pertarungan. Nama yang lain juga menjadi jalan bagi segala kemenangan yang selama ini seperti terkurung di dalam dada.

Tanah Perdikan Menoreh telah terlalu lama memenangkan pertempuran tanpa kesempatan untuk bersuka ria.

Mereka pernah menang ketika bayang-bayang kematian masih begitu pekat. Mereka pernah berdiri sebagai orang-orang yang selamat di lereng Gunung Kendil ketika berhasil menumpas kelompok Raden Atmandaru, tetapi mereka tidak dapat mengangkat suara karena kepergian Panembahan Hanykrawati beberapa waktu sebelum keberhasilan itu.

Mereka pernah merasakan kemenangan ketika ancaman yang sedang mengintai Ki Patih Mandaraka. Bahkan ketika pertempuran berakhir, mereka selalu seperti harus menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan kawan atau keluarga kematian yang menunggu.

Kali ini tidak.

Kali ini mereka membiarkan diri mereka bersorak.

Teriakan semakin liar. Beberapa pengawal bahkan berpelukan, yang lain tertawa dengan wajah penuh debu dan keringat. Ada yang mengangkat senjatanya tinggi-tinggi sambil berteriak sampai suaranya pecah. Mereka tidak sedang menjaga wibawa pasukan. Tidak sedang memikirkan tata krama gelanggang. Mereka bahkan seakan mengabaikan kawan-kawan yang sedang berjibaku menundukkan sisa kelompok Jatayu tapi itu tidak lama. Sorak sorai itu turut mengerubung sisa perlawanan hingga padam. Sukra berdiri mematung menyaksikan sesuatu yang tidak pernah dilihat olehnya. Sejenak kemudian, dia berpaling—memandang Jatayu yang tumbang, lalu mengalihkan tatap matanya ke arah Sayoga bertarung dengan pertanyaan di dalam hati: bagaimana keadaan mereka?

  • Tapi kerusuhan Besar di Bukit Menoreh bukan tempat untuk merayakan kemenangan. Terlalu dini dan terlampau jauh untuk melakukan itu.
  • Bukan tanpa alasan jika saya mencari tahu penyebabnya karena ada bayangan kabur mulai tampak dari balik batas hutan. Saat itu, saya melihat Pandan Wangi bergeser maju mengikuti Ki Jayaraga ketika tercium ancaman dari belakang rumah ayahnya, Ki Gede Menoreh, Hari Bising di Bukit Menoreh 15.
  • Tapi tiba-tiba, Pangeran Purbaya berkata lirih, ““Mereka begitu pandai mengguncang perasaan lawan.” Yah, karena Pandan Wangi sudah mengangguk jadi mari kita pergi, melihat keadaan mereka di Geger Alas Krapyak 22. Anda boleh tetap di sini untuk melihat kerusuhan di Tanah Perdikan. Saya pergi ke Alas Krapyak karena yakin nantinya Agung Sedayu akan melakukan sesuatu.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.