Dironda 73 kali
Keadaan di gerbang timur pun meningkat tajam dan bergelombang.
Ki Demang Brumbung dengan segala pengalaman dan kemampuan tempurnya ternyata menemukan lawan yang sepadan di pihak lawan. Jatayu memang belum mencapai usia tiga puluh tahun. Barangkali usianya tidak jauh dari Sukra atau Sayoga, tetapi ketenangan dan kecakapannya memimpin barisan membuatnya tampak jauh lebih matang.
Di tengah gemuruh pertempuran gerbang timur, Jatayu tidak sekadar mengandalkan ketangkasan. Dia mampu membaca arah serangan, mengenali celah sebelum benar-benar terbuka, dan menggeser orang-orangnya pada saat yang tepat. Beberapa kali serangan Ki Demang Brumbung dan pasukan khusus yang semula tampak akan memecah barisan akhirnya tertahan karena Jatayu telah lebih dahulu membaca alirannya.
Pertempuran dua barisan besar itu berlangsung semakin sengit. Dua pasukan yang ternyata saling mendesak itu tampaknya berada dalam kemampuan yang seimbang. Gelanggang yang mulai menjangkalu bagian luar halaman timur itu hanya berisik dengan dentang senjata serta pekik perang.
Namun di antara keributan itu, Ki Demang Brumbung dan Jatayu seperti memiliki gelanggang mereka sendiri. Yang seorang bertumpu pada pengalaman panjang, sedangkan yang lain bergerak dengan ketenangan seorang pemimpin muda yang telah terbiasa menghadapi keadaan sulit.
Dalam waktu itu, Ki Demang Brumbung merasa bahwa usia ternyata tidak selalu menggambarkan kemampuan maupun kematangan jiwani.
Tanggapan balasan dari Jatayu sudah membuktikan ketika setiap kali Ki Demang Brumbung melantangkan aba-aba. Hampir bersamaan, suara Jatayu terdengar dari arah yang berlawanan. Saat sayap kiri barisan Ki Demang bergerak maju, kemudian bagian tengahnya bergeser surut. Jatayu cepat mengubah susunan orang-orangnya. Dua sayapnya mernagsek maju, menutup ruang yang terbuka sambil tetap memberi tekanan.
Ki Demang kembali meneriakkan perintah. Arus pasukannya pun berubah. Mereka bergeser, membuka jalan gugus tempur lain untuk menyusup dari samping.
Jatayu cepat menjawab. Barisan di hadapannya seolah mengempis sesaat, lalu mengembang kembali dari arah yang tidak diduga.
Begitulah keduanya saling meneriakkan perintah dan saling serang tanpa harus berhadapan langsung. Satu aba-aba melahirkan gerakan, gerakan itu segera dibalas gerakan lain. Gelombang manusia bergerak maju, surut, melebar, menyempit, kemudian kembali menghantam dengan bentuk yang berbeda.
Di antara tekanan, kecepatan, ketepatan dan semua itu, Ki Demang Brumbung dan Jatayu tetap mencari celah di antara arus manusia. Mereka tidak sekadar berhadapan dengan senjata di tangan, tetapi juga dengan siasat cerdas yang bergerak cepat di balik setiap perubahan gelanggang.
Namun pertempuran di gerbang timur yang melibatkan Ki Demang Brumbung dengan Jatayu bukanlah gelanggang penentu akhir.
Pada bagian lain, Ki Sanggabaya justru sedang menimbang siasat yang dikembangkan dari rencana besar Agung Sedayu. Dia sedang berusaha mengetrapkan pesan-pesan rahasia dari pemimpin barak pasukan khusus itu.
Di hadapannya, Ugrasena bergerak dengan ketenangan yang agak mengejutkan. Usianya masih muda dan pengalaman tempurnya memang belum sepanjang Ki Sanggabaya. Namun ketika keduanya bertukar serangan, perbedaan itu seperti gagal menemukan tempat untuk menunjukkan keunggulannya.
Ki Sanggabaya beberapa kali mengubah arah serangan, memancing lawannya membuka ruang yang sekilas tampak cukup lebar. Tapi Ugrasena tidak tergesa-gesa menyambutnya. Dia membaca gerak itu dengan cepat lalu menggeser tubuh, menghindari sambaran tajam sekaligus mengirim balasan yang memaksa Ki Sanggabaya mengubah langkah.
Ki Sanggabaya mengerutkan kening. Bukan karena merasa terdesak, tapi lawan di hadapannya ternyata jauh lebih matang daripada usianya.
Dalam sebuah kesempatan, Ugrasena menyerang bertubi-tubi dengan gerak yang tidak berlebihan, setiap langkah dan ayunan mempunyai tujuan. Tampaknya dia tidak sedang mengincar kemenangan dengan keganasan yang membabi buta. Tata geraknya benar-benar terkendali sehingga setiap tekanannya sangat terukur dan seolah penuh pertimbangan.
Saat Ki Sanggabaya menahan satu serangan dengan cara berputar lalu melangkah ke samping. Pada saat yang sama, Ugrasena sudah mengubah pijakan lantas keduanya kembali berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.
Oleh karenanya, Ki Sanggabaya memahami bahwa dia tidak sedang menghadapi anak muda yang mengandalkan keberanian dan tenaga. Walaupun Ugrasena belum banyak makan asam garam pertempuran, tetapi kemampuan yang dimilikinya sudah memadai untuk menutup kekurangan pengalaman itu.
Pertarungan mereka tetap berlangsung sengit.
Sehinggalah pikiran Ki Sanggabaya kembali kepada rencana besar yang seharusnya sudah bergerak di belakang gelanggang.
Sedikit keputusan yang dilandasi siasat, Ki Sanggabaya pun menggeser arah pertarungan. Sedikit demi sedikit, langkah mereka menjauh dari tempat semula dan bergerak mendekati gelanggang Ki Demang Brumbung. Ugrasena terus mengalirkan serangan tanpa sadar arena sudah semakin dekat dengan kerumunan pasukannya.
Sejauh itu, Ki Demang Brumbung dan Jatayu belum juga beradu dada. Keduanya masih saling menggerakkan barisan, saling mencari celah di antara arus manusia yang bergerak maju dan surut. Hanya sesekali saja mereka bertukar serangan secara langsung.
Saat kedudukan Ki Demang Brumbung sudah terjangkau dengan aba-aba, Ki Sanggabaya segerap melantangkan melepaskan beberapa seruan pendek. Tangannya terangkat, memberi isyarat ke arah tertentu.
Ki Demang Brumbung dapat melihatnya dan segera memahami peritnah baru itu. Dia membalas dengan seruan pula. Namun seruan senapati pasukan khusus terdengar aneh. Bukan seperti aba-aba biasa yang dilontarkan kepada pasukannya. Suaranya lebih menyerupai salak anjing yang bersahut-sahutan, atau lolongan srigala yang terputus sebelum mencapai panjangnya.
Ki Sanggabaya tidak menunggu lebih lama.
Tekanan serangannya tiba-tiba meningkat. Ugrasena yang semula masih dapat menjaga jarak seketika terpaksa bergerak surut. Walau demikian, dia masih tampak berusaha mengambil ruang untuk mengembangkan serangan, hanya saja musuhnya selalu lebih cepat menutup alurnya. Dan Ugrasena sendiri agaknya hanyut dalam arus serangan yang digencarkan oleh Ki Sanggabaya.
Lambat laun Ugrasena menyadari bahwa gelanggang mereka telah bergeser. Sekali-kali dia dapat menangkap gerakan-gerakan orang bertempur di sekitar gelanggangnya. Sejenak kemudian, orang yang datang dari Kotaraja ini dapat mengikuti arah pergeseran pertarungan mereka.
Perlahan, kedua orang itu semakin dekat dengan pagar sisi timur halaman.
Ki Sanggabaya tetap menekan tapi dia tidak benar-benar ingin menghabisi Ugrasena seoalah ada sesuatu yang menjadi penghalan rangga Mataram tersebut. Dan gelanggang mereka pun bergerak ke luar halaman barak pasukan khusus.
Ki Demang Brumbung segera memberi perintah kepada tiga orang prajuritnya. Ketiganya meninggalkan gelanggang lalu bergerak menyusuri tepi pertempuran, mengambil jalur yang perlahan membawa mereka mendekati tempat Ki Sanggabaya dan Ugrasena bertarung. Pesan yang dibawa mereka cukup singkat dan hanya ditujukan kepada orang-orang yang telah memahami tanda-tanda sebelumnya.
Setelah ketiganya meninggalkan barisan, Ki Demang Brumbung mengubah susunan pasukannya. Dia memundurkan beberapa orang lebih dahulu, kemudian bagian lain mengikuti. Gerakan itu dilakukan secara bertahap sehingga tidak tampak seperti penarikan diri yang disengaja.
Jatayu segera menangkap perubahan tersebut. Secepat itu pula dia memutuskan untuk tidak membiarkan barisannya dalam jarak yang cukup longgar dengan kelompok lawan. Perintahnya agar tetap menekan dan mejaga jarak digaungkan dengan siasat yang sedikit berbeda.
Beberapa bagian pasukan yang bergerak maju dialirkannya ke samping, sementara gugus lain mengisi bagian yang berubah. Dengan cepat susunan pasukannya menyesuaikan gerak lawan tanpa kehilangan bentuk keseluruhan.
Ki Demang Brumbung terus memundurkan barisan dan Jatayu pun tetap menggeser orang-orangnya.
Pertempuran yang sebelumnya berlangsung dengan tekanan berimbang kembali berubah arah. Ruang di antara kedua barisan melebar pada satu bagian, lalu menyempit pada bagian lain. Jatayu tidak mengejar surutnya pasukan lawannya secara tergesa-gesa. Dia tetap menjaga agar setiap perubahan masih berada dalam kendalinya.
Jatayu yang juga melihat pergerakan dari tiga prajurit Mataram ternyata tidak melakukan sesuatu untuk membayangi atau menghadang mereka. Tiga orang itu semakin lama pun semakin jauh dari gelanggang pertempuran kelompok.
Ketika Jatayu kembali memperhatikan tepi gelanggang. Tiga prajurit yang dilihat meninggalkan barisan Ki Demang Brumbung ternyata jelas mengarah ke tempat Ki Sanggabaya bertarung.
Pikiran Jatayu segera menangkap maksud perubahan itu: Ugrasena sedang diarahkan untuk diringkus hidup-hidup.
Jatayu tidak membiarkan kemungkinan itu berkembang lebih jauh. Dia memilih lima orang dari bagian paling belakang barisannya dan mengirim mereka bergerak mengikuti tepi gelanggang. Kelimanya mendapat tugas untuk memberi tekanan kepada Ki Sanggabaya dari arah yang berbeda, tepat ketika tiga prajurit khusus Brumbung semakin mendekati arena pertarungannya dengan Ugrasena.
Gerakan itu berlangsung cepat.
Lima orang tersebut segera meninggalkan barisan utama dan menyusuri sisi gelanggang. Dengan demikian, arah pertempuran kembali berubah. Ki Sanggabaya yang sedang menekan Ugrasena kini menghadapi kemungkinan tekanan baru dari sisi belakang.
Sementara itu, tiga prajurit Ki Demang Brumbung terus bergerak mendekat.
Jatayu tetap berada di belakang barisannya, mengamati perubahan itu dengan saksama. Dia tidak mengubah seluruh susunan pasukannya. Hanya sebagian kecil yang dialirkannya ke arah baru, sementara barisan utama tetap mempertahankan tekanan terhadap Ki Demang Brumbung.
Dengan cara itu, Jatayu tetap dapat menjangkau perubahan kecil yang sekiranya dapat mengacaukan keseimbangan gelanggang. Selain itu, dia juga tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengambil Ugrasena tanpa perlawanan.
- Tapi cara Jatayu itu tidak dapat membuatku aku terkurung oleh hujan serangan pemuda Jatiraga itu. Aku bertempur tanpa kesadaran. Tanpa pemahaman. Tanpa panduan. Dan aku adalah Dyah Murti. Yang aku ceritakan padamu adalah kemampuanku saat bertarung di Bulan Telanjang 16.
- Gajah Mada, orang yang banyak dibicarakan pada masa terakhir ini, belum dilahirkan ke dunia ini ketika aku sudah berpeluh keringat dalam pertempuran berbahaya. Pertanyaan untukmu, apakah di antara senapati muda yang disebut di Pemberontakan Senyap 2 itu ada yang bernama Gajah Mada?
- Aku selalu menghargai keputusanmu dan berterima kasih karena tetap menyimak wedaran demi wedaran yang rapi tertulis pada rontal pelepah daun siwalan: Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
