0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 63 – Pendar Ajian Namaskara di Ambang Kekuatan Puncak Glagah Putih

Dironda 118 kali

Pada saat itulah Sabungsari memperlihatkan puncak penguasaan ilmunya yang tidak sama dengan ayahnya, Ki Gede Telengan.

Sepasang tangan dan kakinya tidak lagi tampak sebagai anggota tubuh yang bergerak sendiri-sendiri. Setiap ayunan lengan, setiap putaran bahu, setiap sentakan kaki sudah menyatu dalam dalam tata gerak yang bersumber dari jalur Perguruan Windujati. Dia sepenuhnya bertumpu pada wawasan baru yang disesapnya dari Ki Widura, paman Agung Sedayu.

‘Dalam pada itu’, serangan lurah Mataram tersebut mengalir tanpa putus. Sabungsari seakan sedang memainkan empat cambuk yang tidak terlihat mata wadag.

Satu kejap mata kemudian, lengan Sabungsari meluncur dengan hentakan yang pendek tetapi tajam, udara di depannya seolah terkoyak.

Ledakan pendek itu mengguncang ruang di sekitar mereka.

Amuger Klinter terkejut.

Bukan karena kedahsyatan tenaga yang datang mengancamnya, tapi kenyataan yang tidak dapat diterimanya.

“Bagaimana mungkin?” desis batinnya. “Telapak tangan dapat menimbulkan ledakan seperti lecutan cambuk?”

Kesadaran itu hanya berlangsung sekejap tapi itulah celah dan titik kelengahan pengikut Ki Tumenggung Adiyasa yang paling membahayakan.

Sabungsari melihat lubang terkecil. Begitu melihat perhatian Amuger Klinter terpecah, dia meluncur satu langkah pendek yang nyaris tidak tampak.

Lurah Mataram ini tiba-tiba telah berada di dalam jarak yang sangat dijaga Amuger Klinter.

Seketika telapak tangannya menghentak lurus ke depan. Tidak ada gerak yang berlebihan. Tidak didahului teriakan.

Hanya sebuah dorongan yang sepntas tampak remeh. Telapak tangan Sabungsari menggedor dada Amuger Klinter.

Tubuh petarung ini terlontar dari pijakannya. Sesaat melayang sebelum akhirnya terpental beberapa tombak ke belakang. Debu berhamburan ketika punggungnya menghantam tanah.

Sabungsari cepat menghampiri lalu menyaksikan dada lawannya bergerak pelan naik-turun dengan tatap mata lemah.

“Bertahanlah,” bisik Sabungsari.

Amuger Klinter menggeleng. Dia tidak ingin hidup dalam keadaan menjadi tahanan Mataram. Bukan memalukan tapi cukup sulit jika kemudian berhadapan wajah dengan orang yang menyuruhnya, Ki Tumenggung Adiyasa.

“Pergilah, tinggalkan aku. Aku sudah selesai,” kata Amuger Klinter terbata-bata.

Sabungsari mengarahkan pandangan pada Ki Prana Aji seakan meminta pertimbangan ataukah bantuan? Tapi yang terlihat justru gerakan tangan Ki Prana Aji yang menyerahkan urusan Amuger Klinter pada dirinya.

Saat tatap matanya beralih ke Amuger Klinter, wajah orang yang datang dari Kotaraja itu telah berubah. Sabungsari memandang wajahnya sesaat. Garis-garis tegang itu perlahan memudar. Bibirnya tetap sedikit terbuka, tetapi tidak ada lagi udara yang keluar. Dadanya pun berhenti bergerak.

Sabungsari kemudian bangkit. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menyerahkan Amuger Klinter pada seorang prajurit yang mendekat untuk mendapatkan penghormatan sewajarnya.

Penentuan Pertahanan Dinding Utara

Tak jauh beda dengan gerbang barat yang jebol akibat hantaman Amuger Klinter, dinding utara pun mampu diterobos anak buah Ki Wirya. Jumlah penyusup tak lagi tiga orang tapi terus bertambah.

Pasukan Ki Wirya mencapai kemajuan itu bukan tanpa sebab. Selain kegigihan yang tidak pernah mengendur, mereka ternyata memiliki kecakapan bertempur berkelompok yang mengagumkan. Prajurit-prajurit Jati Anom yang bersenjata cambuk tidak lagi memperoleh ruang untuk memainkan keunggulannya. Setiap kali seorang pemegang cambuk bergerak membuka serangan, dua, tiga, bahkan empat orang anak buah Ki Wirya serentak menutup seluruh arah geraknya. Mereka seolah menerapkan gelar Emprit Neba dengan ketepatan yang nyaris tanpa cela.

Sepintas tampak seakan ada bagian barisan Ki Wirya yang menipis sehingga membuka celah bagi lawan untuk menerobos. Namun sebelum pasukan khusus memanfaatkannya, ruang kosong itu telah tertutup oleh pergeseran yang datang dari sisi lain. Susunan mereka berubah demikian cepat, saling mengisi dan saling menutup tanpa menimbulkan kekacauan sedikit pun.

Dari perubahan-perubahan itulah, mereka pun dapat membuka lorong sempit yang terus mengarah ke dinding pertahanan. Sedikit demi sedikit garis pertahanan pasukan khusus terdorong tanpa mampu menghentikan laju lawan.

Setiap kali prajurit dari Jati Anom hendak menghadang, maka dalam sekejap dia sudah kembali terkurung oleh beberapa lawan. Benar-benar menyulitkan.

Pada saat yang sama, pertempuran Glagah Putih melawan Ki Wirya meningkat mencapai tingkat yang lebih berbahaya. Ki Wirya tidak lagi hanya bertumpu pada kecepatan gerak, tetapi mulai melepaskan seluruh daya cadangan ilmunya. Setiap kibasan tangan mengiris udara dengan suara melengking tajam. Angin yang lahir dari ayunannya tidak lagi sekadar menggoyangkan dedaunan, tapi sanggup mungguncang lingkungan. Lepasan tenaga cadangan yang tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali Ki Wirya menghantam batang-batang pohon di sekitar gelanggang. Sebagian berguncang keras hingga dedaunannya luruh berhamburan, sedangkan sebagian yang lain kehilangan kulit batangnya. Lembaran-lembaran kulit kayu tercabik panjang, beterbangan seperti disayat bilah-bilah tajam yang tidak kasatmata.Serpihan kulit kayu beterbangan setiap kali gelombang tenaga itu menyambar ruang kosong.

Suasana pun mejadi agak gelap meski fajar akan datang menjelang. Hempasan tenaga cadangan yang berhamburan liar menerjang beberapa oncor hingga patah.

‘Dalam pada itu’, Glagah Putih menyadari bahwa dirinya tidak dapat terus menerus dalam ketahanan yang sama. Lapisan ilmu harus dihentak lebih dalam lagi, pikirnya.

Maka sekejap kemudian dia meningkatkan lapisan daya tahannya. Hawa tenaga cadangan menguar dari seluruh tubuhnya, membentuk lapisan yang tidak terlihat mata. Namun usaha Glagah Putih ternyata belum dapat menahan sepenuhnya gelombang serangan Ki Wirya. Kemampuan orang ini tetap sanggup menembus pertahanan Glagah Putih hingga merobek beberapa bagian pakaiannya. Sejumlah goresan merah pun muncul di kulitnya, lalu darah menitik perlahan.

Tidak butuh waktu lama ketika pertarungan sengit antara Glagah Putih melawan Ki Wirya meningkat lebih nggrigisi. Dua petarung itu saling melepaskan serangan yang semuanya lebih mirip banjir bandang.

Baik Ki Wirya maupun Glagah Putih seolah sudah sama-sama tidak peduli lagi dengan segala perkembangan di kerumunan pertempuran di sekitar mereka. Berapa penyusup yang berhasil menerobos? Berapa orang yang terpental lalu balik bertarung?  Sudah tidak lagi berkelebat di masing-masing benak mereka berdua.

Mereka berloncatan panjang dan pendek, saling melingkar lalu memotong lintasan dengan tata gerak yang sudah tidak lagi terlihat  dengan jelas. Dan, anehnya, semakin deras serangan yang mereka lepaskan, semakin cepat pergerakan mereka maka semakin rapat pula pertahanan yang mereka bangun. Hampir setiap pukulan jarak dekat berhasil dipatahkan sebelum mencapai sasaran, sedangkan lepasan tenaga cadangan yang meluncur dari kejauhan segera dibentur oleh kekuatan sepadan hingga buyar di tengah gelanggang. Tidak ada lagi serangan yang benar-benar memperoleh ruang untuk menembus pertahanan lawannya.

Glagah Putih tiba-tiba meningkatkan kecepatan geraknya. Tubuhnya lenyap sekejap dari tempat semula, lalu muncul pada sudut yang sama sekali berbeda.

Namun perubahan itu tidak mengejutkan Ki Wirya. Orang itu justru dapat mengimbanginya dengan laju yang tidak kalah cepat. Berkali-kali telapak tangannya menyambar mengikuti bayangan Glagah Putih. Walau beberapa serangan hanya menyapu ruang kosong atau meleset sejengkal dari sasaran, tekanan yang ditimbulkannya tetap memaksa Glagah Putih agar selalu mengubah arah gerak tanpa henti.

Glagah Putih sadar bahwa dirinya tidak dapat membiarkan Ki Wirya terus mengatur keseimbangan. Maka meski belum  dapat membuka ruang yang cukup untuk serangan balasan, Glagah Putih tetap berupaya keras melontarkan rentetan serangan yang sangat deras dan keras.

Saling menyerang, dengan keleluasaan maupun keterbatasan ruang, pun berlangsung hebat. Pada kecepatan yang nyaris mustahil diikuti pandangan mata, beberapa serangan berhasil lolos dari pertahanan. Pakaian keduanya mulai koyak di sana-sini. Garis-garis darah bermunculan pada lengan, bahu, dan dada mereka. Luka-luka itu memang tidak dalam, tetapi sudah cukup menjadi tanda bahwa pertarungan telah memasuki tataran yang lebih mematikan.

Di gelanggang Glagah Putih, suasana tidak lagi sesuram beberapa saat sebelumnya. Fajar semakin dekat, tetapi di antara bayang-bayang pepohonan masih tersisa remang malam. Pada saat itulah dari telapak tangan Glagah Putih tampak pendar kehijauan. Warna itu muncul lalu tenggelam, kemudian muncul kembali dengan cahaya yang tidak seterang dan tidak sekilau api oncor.

Pendar itu hanya berlangsung sesaat, tetapi bagi orang yang memahami perubahan tenaga cadangan, dua orang yang sedang bertarung itu akan berada pada tingkat yang sama: Glagah Putih sepertinya telah mencapai tahap puncak dalam penguasaan Ajian Namaskara.

Tenaga Ajian Namaskara mengalir penuh mengikuti setiap perubahan tubuh Glagah Putih. Pendar kehijauan yang sebelumnya hanya timbul tenggelam di telapak tangannya kini tampak lebih nyata, meskipun tetap tidak seterang nyala api. Tidak ada cahaya yang meluncur dari tangannya. Tidak ada ledakan yang menghambur ke segala penjuru. Hanya perubahan gerak yang demikian luwes, sementara tenaga yang melambarinya terasa memenuhi setiap bagian dari tata gerak itu.

Glagah Putih meneruskan rangkaian geraknya.

  • Sementara di tempat terpisah yang berjarak ratusan tahun, Adipati Hadiwijaya menambah lapisan benteng bagi tubuhnya dengan Tameng Waja. Walau demikian, bagian inti dari ilmu Jagat Manunggal mulai menyakitinya. Duel sangar ini tergelar di Wedhus Gembel 3.
  • Sedikit mereda, sedikit ketegangan saat berlangsung percakapan Toh Kuning yang senggol-senggol Ken Arok. Waktu itu, di Pengepungan 8 tertera “Ken Arok telah memilih orang yang tepat untuk kedudukan yang tepat.”
  • Bila berminat untuk membuat storytelling, Padepokan Witasem terbuka untuk kerjasama.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.