0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 69 – Ada Apa Lagi di Dusun Benda?

Dironda 67 kali

Mereka bertiga memang melihat yang sesungguhnya. Agung Sedayu masih terus berpilin menghadapi tekanan Ki Jabon Seta. Sekali lagi tangannya menjulur ke bawah, berusaha mencari tanah yang belum juga dapat disentuhnya. Dia terus berusaha.

Agung Sedayu sadar bahwa dirinya dipaksa bergerak dan bertempur mengikuti aliran serangan Ki Jabon Seta. Walau begitu, setiap kali mendapat sedikit kesempatan, tangannya kembali meraih ke bawah demi mendapatkan satu pijakan saja. Satu kesempatan untuk menghentikan tubuhnya yang terus bergeser dan mengembalikan kedua kakinya ke tanah.

Cambuknya tetap berputar melindungi tubuh, sementara tubuhnya perlahan dipaksa mendekati tanah.

Ketika telapak kakinya dapat merasakan permukaan tanah, Agung Sedayu mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Dia menghentikan putaran tubuh tapi cambuknya makin dahsyat menutup ruang sehingga dia dapat berdiri dengan dua kaki renggang dan merendah.

Namun Ki Jabon Seta masih berada di hadapannya dengan ancaman yang belum usai.

Ki Astaman memperhatikan gerak Ki Jabon Seta dengan saksama. Dia berkata lirih, “Ki Jabon Seta benar-benar menguasai medan dan tahu persis rencana lawannya.”

Ki Warujayeng mengangguk. “Dia tidak memberi Sedayu kesempatan untuk kembali mendapatkan tanah.”

“Menarik,” kata Jaka Awar-Awar. “Sekarang Sedayu sudah menata tata gerak.”

Ketiganya lalu terdiam.

Barulah mereka menyadari kebenaran ucapan Ki Astaman bahwa keadaan Agung Sedayu bukan semata-mata karena belum menemukan pijakan. Tapi Ki Jabon Seta memang berhasil menguasai jarak, waktu, dan arah perkelahian.

Dalam perkiraan Ki Astaman, seandainya Agung Sedayu mengeluarkan ilmu yang terungkap dari kekuatan mata, tentu saja butuh ruang dan waktu untuk memusatkan nalar dan budi. Tapi, apakah Ki Jabon Seta akan memberinya kesempatan?

Nyaris dengan ketegangan pategalan selatan yang memuncak, di halaman timur barak, Sayoga memasuki gelanggang Ki Sanggabaya.

“Nyi Banyak Patra meminta saya ada di sini, Ki Rangga,” ucap Sayoga rendah sambil mempersiapkan diri terjun ke gelanggang.

Ki Sanggabaya melirik sejenak lalu mengangguk. Tidak ada keraguan pada wajahnya. Dia memahami maksud kedatangan Sayoga dan segera memberi ruang.

Berbeda dengan Ugrasena.

Pemuda dari Kotaraja itu menggeram melihat perubahan di hadapannya.

“Prajurit tua pengecut!” umpatnya. Tanpa menunggu lebih lama, dia tetap menerjang Ki Sanggabaya tapi Sayoga cepat memotong dengan sangat cepat dan keras.

Sayoga paham bahwa Ki Sanggabaya tidak semestinya berada di halaman untuk menahan Ugrasena. Nyi Banyak Patra telah membaca semuanya lalu memberinya perintah untuk mengambil alih Ugrasena. Maka Sayoga tak ragu membalas serangan lelaki yang mungkin tak terpaut jauh dari usianya dengan tata gerak yang tak kalah garangnya.

Dan Ugrasena harus memendam keinginannya melampiaskan amarah pada wakil Agung Sedayu itu. Di depannya adalah Sayoga yang deras mengayunkan pedang kayu untuk memberinya tekanan.

Tak lama kemudian, Ki Sanggabaya tidak lagi berada di dekat gelanggang. Dia bergeser—menuju tempat Kinasih berdiri bersama para pengawal Menoreh.

“Nduk,” kata Ki Sanggabaya pada Kinasih. “Saya meminta Anda berkenan membantu Sayoga. Ringkus lawannya secepat mungkin.”

Kinasih mengangguk. Tanpa bersuara, seperti yang sudah-sudah, Kinasih melesat secepat kilat menuju gelanggang Sayoga yang baru saja memulai pertarungan dengan Ugrasena.

Ki Sanggabaya kemudian memandang para pengawal Menoreh. Katanya, “Ki Sanak sekalian, saya mengharap bantuan Anda semua untuk meringkus lawan yang berada di luar halaman barak.” Lalu dia mengatakan beberapa hal pada ketua regu. Orang itu mengangguk dalam-dalam.

“Kami siap sedia, Ki Rangga,” tegas ketua regu tersebut.

Perintah itu diterima.

Ketua regu itu lantas menggerakkan tangan, membagi pengawal Menoreh menjadi dua kelompok. Pada kelompok pertama, tanda bagi mereka sudah jelas: bergerak mengikuti arah yang telah ditunjukkan Ki Sanggabaya. Sementara kelompok dua berlari-lari cepat menuju tempat penjagaan Sukra.

Demikianlah lingkungan timur yang sebelumnya sempat menjadi pembuka harapan mulai berubah menjadi tekanan yang tidak diperkirakan Ugrasena sebelumnya. Dia tidak menduga bahwa ternyata ada sekelompok orang yang siap sedia agak jauh dari halaman timur.

Setelah perintah-perintah itu dilaksanakan, Ki Sanggabaya sejenak memastikan bahwa keadaan telah berjalan sebagaimana yang direncanakan Agung Sedayu. Dia kemudian bergerak ke selatan. Sambil melangkah, pandangannya dilepaskan jauh ke dalam barak melalui gerbang timur yang masih terbuka. Ki Sanggabaya mengangguk. Kemudian dia berlari cepat menuju pategalan selatan.

Namun Ki Sanggabaya tidak langsung menuju pategalan selatan. Beberapa langkah sebelum mencapai jalur yang mengarah ke sana, dia membelok menuju sebuah gardu yang berdiri tidak jauh dari barak.

Seorang penjaga berada di dalam gardu. Melihat Ki Sanggabaya datang, dia segera berdiri.

Ki Sanggabaya tidak berhenti lama. Pandangannya segera mengarah ke belakang gardu. Di tempat yang agak tersembunyi dari pandangan orang yang melintas, seekor kuda telah diikat di sana.

“Apakah Ki Jayaraga sudah melapor ke sini?”

Penjaga itu memberikan jawaban. Orang ini juga memberi tahu bahwa dari utara bahwa sebelumnya datang seorang penghubung dari pengawal Menoreh. Menurut keterangan penghubung, keadaan di utara masih terkendali.

“Tetapi dia sekarang berada di gerbang barat karena melihat benturan membesar. Mungkin sudah ikut bertempur di sana, Ki Rangga,” kata penjaga itu dengan polos.

Ki Sanggabaya mengangguk. Dia tidak bertanya lebih jauh dan juga tidak berpendapat mengenai sikap atau keputusan penghubung Menoreh. Yang pasti, Ki Sanggabaya tidak menyalahkannya karena penghubung itu tidak terikat dengan paugeran keprajuritan, sepenuhnya karena mematuhi rancangan besar Agung Sedayu. Maka rangga Mataram ini mengayun langkah menuju kuda yang telah disiapkan di belakang gardu.

Beberapa saat kemudian, dia telah menaiki punggung kuda itu dan mengarahkannya ke pategalan selatan.

Tidak terlalu lama kemudian, Ki Sanggabaya tiba di sekitar pategalan selatan. Dari tempat itu, dia dapat melihat gelanggang Agung Sedayu dan para cantrik Perguruan Orang Bercambuk dari Jati Anom yang sedang bertempur menghadapi orang-orang Ki Jabon Seta.

Ki Sanggabaya menarik napas panjang menyaksikan kedahsyatan gelanggang Agung Sedayu. Dia sempat menggelengkan kepala ketika pandang matanya tertumbuk pertempuran antarkelompok yang agak jauh darinya.

Setelah memastikan keadaan di pategalan selatan dan menimbang perkembangan, Ki Sanggabaya memacu kudanya, bergerak menuju gerbang barat.

Ki Sanggabaya memperlambat kudanya ketika gerbang barat mulai tampak di hadapannya.

Keterangan penjaga gardu tadi ternyata benar. Gerbang itu menganga lebar. Salah satu daun pintunya bahkan tampak sengkleh—tergantung pada bagian yang masih menahannya. Dari dalam gerbang, suara benturan senjata terdengar semakin jelas. Teriakan perang bercampur dengan caci maki juga terdengar jelas olehnya. Pertempuran rupanya berlangsung sengit, bahkan sebagian orang telah bertarung sampai jauh bagian halaman dalam barak.

Kening Ki Sanggabaya berkerut. Jadi, gerbang ini telah jebol?

Dia tidak menghentikan kuda lebih lama.. Pandangannya hanya menyapu gelanggang sesaat, mencoba menangkap perkembangan yang dapat dilihat dari tempatnya melintas. Setelah itu dia kembali mengarahkan kudanya ke jalan yang menuju Dusun Benda.

Ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya. Sedang terjadi apakah di Dusun Benda hingga Ki Jayaraga belum juga melapor?

Beberapa saat kemudian, suara pertempuran di belakangnya semakin jauh. Ki Sanggabaya terus memacu kudanya ke jurusan Dusun Beda dengan pikiran berkecamuk, sementara cahaya pagi perlahan mulai mengusir gelap yang menyelimuti lingkungan. Langit di sebelah timur telah berubah menjadi kelabu samar. Bentuk pepohonan mulai dapat dilihat, demikian pula jalan tanah yang membentang di hadapannya, meskipun kabut tipis masih menggantung rendah di antara halaman dan pepohonan.

Namun kedamaian dan ketenangan pagi tidak benar-benar datang di Tanah Perdikan Menoreh.

Dari lingkungan halaman timur masih terdengar suara benturan senjata dan pekik perang bersahut-sahutan.

Pertempuran di bagian lain yang agak berdekatan dengan dinding utara pun tidak terhindarkan lagi. Beberapa orang segera mengeluarkan tandang dengan sikap garang dengan wajah yang menyimpan berbagai perasaan.

Mereka sebenarnya tidak datang untuk mati. Mereka dibayar untuk membuat kerusuhan, tapi siapa sangka justru keadaan makin menghimpit dengan luar biasa? Mereka mengikuti Jatayu karena alasan: hubungan baik dan kedudukan Jatayu sebagai anak salah seorang pembesar Mataram. Dan mereka pun datang tidak dengan hubungan baik yang akan terjalin pada masa depan, tidak sepenuhnya kehendak bebas.

Tapi tekanan pertempuran di lingkungan timur tidak memberi mereka ruang untuk menyesal atau berpikir yang lain. Senjata pengawal dari Pringtali telah terayun deras, membelah udara dan mengarah pada bagian-bagian penting tubuh mereka.

Pengawal Pringtali masih bertarung menghadapi sisa anak buah Jatayu. Beberapa orang telah terdesak ke halaman yang lebih terbuka, sementara yang lain bertahan di antara bangunan dan pepohonan. Dalam cahaya pagi yang semakin jelas, sosok-sosok mereka mulai tampak lebih nyata di tengah tanah yang telah terinjak-injak oleh kaki dan senjata.

Tiba-tiba terdengar derap kaki mendekat. Sekelompok pengawal Menoreh muncul dari balik jajaran pepohonan. Mereka segera mengenali dan sudah menduga arah perkembangan. Tanpa banyak bicara, beberapa orang langsung bergerak mendekati Sukra—melingkari gelanggang Belalang Tempur Pangeran Purabaya tersebut.

Kehadiran pengawal Menoreh mengubah keseimbangan pertempuran.

Sejenak kemudian, orang-orang dari Kotaraja ini sadar bahwa sudah tidak ada lagi jalan keluar. Maka dengan hati yang sempat dihinggapi gelisah, mereka pun bertarung walau tak lagi menyimpan harapan.

Perlawanan orang-orang dari Kotaraja ini sangat gigih meski kalah jumlah. Kemampuan mereka sebenarnya di atas rata-rata pengawal Pringtali tapi jumlah berhasil merebut keadaan.

Walau demikian, pertempuran tidak dapat segera diselesaikan.

  • Di sela kerusuhan yang melanda barak pasukan khusus, Dusun Benda disebut-sebut lagi. Ki Jayaraga, apa kabarmu di sana?
  • Dan segala sesuatu memang belum berakhir ketika Dyah Murti melihat Kayu Merang menghunus senjata dengan wajah memancarkan rasa takut yang belum pernah disaksikan manusia. Nir Wuk Tanpa Jalu 7.
  • Belum pernah disaksikan bukan berarti belum pernah membaca novel PDF,  Bara di Bukit Menoreh sebagai bagian dari Kitab Kyai Gringsing itu serasa menelusuri catatan pinggir Babad Jawa yang pudar. Pelan, tegang, dan kacamata berulang kali harus dibetulkan posisinya.
  • Tidak ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan novel PDF ini. Namun sebuah kisah tidak terus berjalan hanya karena dapat dibaca secara gratis. Peran serta Anda menjadi salah satu alasan halaman berikutnya tetap ditulis, kisah berikutnya tetap hadir, dan perjalanan Kitab Kyai Gringsing tidak berhenti di episode yang sedang Anda baca. Jika ada kehendak untuk ikut menjaga perjalanan kisah ini, peran serta Anda dapat dialirkan melalui rekening yang tertera di bawah.
  • BCA 822 05 22297
  • BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.