Dironda 38 kali
Pada banyak kesempatan, ketika salah seorang prajurit pasukan khusus melancarkan serangan, tiga atau dua cambuk itu seketika terbuka memberi jalan. Tetapi sesaat kemudian kembali menutup sambil meluncurkan lecutan-lecutan ke segala arah—memaksa lawan mengurungkan niat mengejar.
Dengan demikian, pasukan khusus memperoleh kesempatan lebih leluasa untuk bertempur dari jarak yang paling menguntungkan bagi mereka. Sebaliknya, anak buah Amuger Klinter harus membagi perhatian antara menghadapi serangan di depan mata dan menghindari ujung-ujung cambuk yang sewaktu-waktu dapat menyambar dari arah yang sama sekali tidak terduga.
Ki Prana Aji yang sejak awal juga turut bertempur segera dapat melihat kemungkinan lebih besaar untuk mengubah keseimbangan pertempuran. Sambil menyerang dua musuh di dekatnya, dia meneriakkan sebuah aba-aba yang hanya dimengerti oleh pasukan khusus.
Dalam sekejap, para prajurit pilihan itu bergerak serempak.
Prajurit-prajurit Jati Anom sempat saling berpandangan dengan dahi berkerut. Mereka tidak mengenal sandi yang diteriakkan Ki Prana Aji. Namun, pengalaman mereka bertempur membuat mereka segera memahami arah perubahan yang sedang terjadi. Tanpa menunggu penjelasan, mereka melebur ke dalam arus gerak pasukan khusus.
Ternyata aba-aba itu adalah isyarat untuk menyusun gelar Emprit Neba.
Sejenak, pasukan khusus seolah-olah tercerai-berai. Mereka membelah diri menjadi beberapa gugus kecil yang kemudian cepat menyerang lawan-lawan yang berada paling jauh dari pusat pertempuran.
Sepintas lalu, itu adalah keputusan dan pergeseran yang tidak masuk akal. Aneh. Sejumlah anak buah Amuger Klinter yang berada paling dekat bahkan mengira lawan mereka sedang berusaha menerobos kepungan.
Mereka segera bergerak mengejar.
Justru itulah yang dikehendaki Ki Prana Aji.
Pada saat barisan mereka memanjang karena mengejar sasaran yang tampaknya terbuka, prajurit-prajurit Jati Anom telah lebih dahulu menutup ruang-ruang kosong itu. Anyaman cambuk menyambar hampir serempak, memutus hubungan antarkelompok kecil lawan. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, gugus-gugus pasukan khusus yang tadi menghentak ke depan pun cepat berbalik menyerbu dari arah yang sama sekali tidak diperhitungkan.
Seketika susunan tempur anak buah Amuger Klinter yang sejak tadi begitu padu mulai tercerai-berai. Memang mereka masih bertempur dengan keberanian yang sama, tetapi tidak lagi dapat saling menopang seperti sebelumnya.
Ki Prana Aji melantangkan sekali lagi sebuah perintah khusus dan rupanya itu menjadi akhir bagi kelompok Amuger Klinter.
Gugus-gugus tempur Mataram yang semula bergerak terpisah segera menyempitkan kepungan. Anak buah Amuger Klinter yang masih bertahan berusaha memecahkan lingkaran itu dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Sebagian berhasil merobohkan seorang atau dua orang lawannya sebelum akhirnya dapat dilumpuhkan. Sebagian lagi memilih bertempur sampai hembusan napas yang terakhir. Sedangkan mereka yang masih mempunyai kesempatan untuk bertahan hidup akhirnya dapat diringkus setelah benar-benar menyulitkan pasukan khusus atau prajurit Jati Anom.
Begitu benturan senjata terakhir mereda, perintah-perintah Ki Prana Aji terdengar bersahutan.
Mayat-mayat yang bergelimpangan cepat disingkirkan dari halaman dan lorong-lorong menuju tempat yang telah ditentukan. Mereka yang terluka, baik prajurit Mataram maupun orang-orang dari kelompok Amuger Klinter, segera diangkat keluar dari gelanggang untuk memperoleh pertolongan menurut kadarnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, halaman di dekat ruang tahanan kembali berubah menjadi tempat yang tertib, seolah-olah hiruk-pikuk pertempuran yang baru saja berlangsung hanyalah bayang-bayang yang telah lewat.
Ki Prana Aji memandang ke arah ruang tahanan. Saat itu dia juga melihat Ki Lurah Sora Sareh disibukkan oleh para penyusup yang mampu melintasi ketinggian dinding utara yang dijaga Glagah Putih. Tidak lagi tiga orang tapi sudah bertambah jumlahnya. Maka benak lurah Mataram ini segera bertanya-tanya, apakah Glagah Putih benar-benar sudah kewalahan? Anggapan semesti itu memang wajar jika muncul dalam pikirannnya. Dia mampu memadamkan tekanan gerbang barat karena pemimpin lawan disulitkan oleh Sabungsari. Tapi di dinding utara, Glagah Putih pasti bertarung dengan ketua regu dari lawan lalu ketimpandan terjadi dalam pertempuran kelompok.
Dengan wajah menyiratkan kecemasan, sejenak kemudian, Ki Prana Aji segera memanggil dua orang prajurit pasukan khusus, lantas mengatakan sesuatu pada mereka.
Kedua prajurit itu mengerutkan kening barang sejenak, tapi kemudian mengangguk. Lalu kembali ke prajurit yang lain sambil menyampaikan perintah Ki Prana Aji. Tiga atau empat orang bergegas bangkit. Enam orang pun kemudian menjalankan tugasnya melalui lorong yang masih dipenuhi bekas-bekas pertempuran.
Usai memerintahkan seorang lagi menjadi penghubung sekaligus pengamat medan, Ki Prana Aji lantas mengalihkan perhatiannya ke gelanggang Sabungsari.
Amuger Klinter tampaknya betul-betul kesal karena kenyataannya Sabungsari bukanlah lawan yang mudah ditundukkan. Satu sesalnya, mengapa petugas sandi Ki umenggung Adiyasa tidak menyampaikan keadaan sesungguhnya? Mengapa hanya keterangan barak mengalami kekurangan orang?
Hingga kemudian dia berpikir pula, apakah Sabungsari dan prajurit bercambuk itu bagian dari pasukan khusus?
Bahwa pasukan khusus itu memang di atas rata-rata kemampuan prajurit Mataram adalah kenyataan tidak terbantahkan, tapi bagaimana mereka mampu memainkan cambuk dengan sangat garang? Setiap lecutan sudah jelas bukan asal sabetan belaka tapi tata gerak yang mendukung segalanya, itu berasal dari mana?
Amuger Klinter menyadari satu hal yang sudah mempunyai hasil: kelompoknya dapat ditundukkan oleh prajurit Mataram. Sebagian hidup dengan luka-luka, sementara yang lain sudah berkalang tanah.
Begitulah kesibukan jiwani dari Amuger Klinter. Tekadnya untuk tetap tidak menggunakan senjata semakin kuat saat menemui tantangan hidup yang bernama Sabungsari. Secara mata wadag, dia memang tidak beradu senjata tapi yang dirasakan dan yang sedang dilawannya adalah sesuatu yang belum pernah dia saksikan.
Tata gerak Sabungsari mengalir luwes dan tanpa keraguan. Serangan demi serangan meski kerap berubah watak tapi peralihan keras menjadi lembut, lembut beralih keras dapat terangkai dengan ketenangan luar biasa.
Bukan dia tidak siap menghadapi keanehan yang ditunjukkan Sabungsari, tapi Amuger Klinter butuh waktu untuk membuat penyesuaian. Jejaknya yang cukup panjang sebagai orang yang menguasai mendalami kanuragan akhirnya sampai pula pada keadaan yang sulit dibantah.
Kelompoknya tercerai-berai dan gerbang barat telah dikuasai lawan meski pada sisi utara orang-orang Ki Wirya satu demi satu berhasil memasuki barak. Namun di hadapannya masih ada Sabungsari yang bertempur tanpa menunjukkan kegelisahan.
Jika pada awal dia merencanakan segera mengumpulkan kembali anak buahnya, menerobos kepungan, lalu meninggalkan barak sebelum fajar benar-benar menyingsing tapi harapan itu hanya tinggal bayangan.
Jalan keluar sudah tidak ada lagi.
Amuger Klinter berhenti menghitung kemungkinan untuk menyelamatkan diri. Bukan karena ingin mengakhiri hidupnya, tapi karena menyadari bahwa perkelahian tidak dapat lagi dijalani dengan pikiran yang terus dibebani jalan keluar. Jika jalan selamat masih ada dan dapat dibuka lebar-lebar, maka itu harus diperoleh melalui perlawanan yang sangat kuat.
Maka Amuger Klinter pun bertarung menurut tabiat dasar seorang petarung.
Tidak ada lagi gerak yang disisakan untuk berjaga-jaga demi pelarian. Tidak ada tenaga yang ditahan untuk menghadapi kemungkinan yang sudah tidak ada lagi. Setiap langkah, setiap serangan dan langkah bertahan dilakukannya dengan kebulatan tekad seorang yang telah menerima seluruh akibat dari pilihannya.
Amuger Klinter bertempur lebih lepas dan leluasa!
Serangannya semakin berani menghujani musuhnya tanpa perlu menoleh pada pengikutnya. Berulang-ulang pertahanan Sabungsari dapat ditembusnya hingga sejumlah hantaman mendarat hampir tanpa tangkisan. Dan beberapa kali pula Sabungsari terpaksa mengubah arah serangannya sendiri karena Amuger Klinter kerap mendahului memasuki jarak yang sangat berbahaya.
Sabungsari pun menghentak daya tahan serta kemampuannya selapis demi selapis mengimbangi tandang Amuger Klinter yang kian membadai.
Kali ini…
Jarak di antara mereka tidak pernah benar-benar rapat, tetapi juga tidak cukup jauh menjadi ruang menghindar. Mereka berdua seolah berada dalam lingkaran yang terus menyempit dan melebar, kadang pula memanjang tapi tiba-tia sangat rapat. Pergerakan mereka benar-benar sulit ditebak.
Pada saat itulah Sabungsari memperlihatkan puncak penguasaan ilmunya.
- Namun justru pada saat yang berbeda, Gubah Baleman sedang mendengarkan Toh kuning. Perwira Kerajaan Kediri ini mengatakan, “Sri Baginda dapat menugaskan Ki Rangga untuk memberi teguran pada Ken Arok.” Jadi, apa yang sedang terjadi hingga mereka membahas nasib Ken Arok? Judulnya Pengepungan 7, tapi topiknya Ken Arok. Menarik!
- Sementara Raden Trenggana agaknya benar-benar tidak ingin mengalami kekalahan dalam perjalanan menuju Panarukan ini. Nah, yang bagian ini ada di bangsal 2 komplek Sabuk Inten.
- Penguasaan berbagai ilmu, selain Sabungsari, juga terpapar dan berderet-deret di Kerusuhan Besar Bukit Menoreh.
