Dironda 103 kali
Wedaran sebelumnya: Ki Panji Danutirta mengarahkan pandangan ke arah Kotaraja. Dia membedal kuda dengan bekal yang tidak dapat diragukan.
Ketika pasukan Jatayu tersedot semakin jauh ke dalam gerbang oleh siasat Ki Demang Brumbung, keadaan di bagian lain barak pasukan khusus ternyata semakin meningkat ketegangannya.
Dalam waktu itu, di pategalan selatan, suara benturan senjata dan letupan cambuk terdengar bersahutan, kadang terputus oleh lengkingan orang-orang yang sedang bertarung. Benturan antarkelompok di tempat itu berlangsung sangat seru. Suasana yang jauh bertolak belakang dengan tiga sisi barak yang lain.
Di pategalan selatan, sama sekali tidak terlihat gelar perang seperti yang berlangsung di bagian lain. Orang-orang bertarung dalam kelompok-kelompok kecil, tapi ada pula yang berkelahi perorangan. Semua orang berusaha mencari celah, sama-sama menerjang, dan seketika bergeser tempat ketika tekanan datang terlalu kuat.
Benar, mereka yang bertempur di sekitar Agung Sedayu adalah para cantrik Perguruan Orang Bercambuk yang datang dari Jati Anom. Meski kerap berhubungan dan bergaul dengan prajurit Mataram di Jati Anom dan diasuh Ki Widura yang mantan senapati Pajang, mereka tidak mendapatkan wawasan tentang pertempuran. Barangkali yang menjadi alasan adalah keberadaan prajurit Mataram di sana dan juga mereka bukan pengawal kademangan atau pedukuhan. Maka seluruhnya pun tidak dapat dibandingkan dengan pengawal Tanah Perdikan Menoreh atau Sangkal Putung yang kerap berlatih bersama dengan pasukan khusus.
Meski begitu, perkelahian yang membakar tempat itu tetaplah menjadi sesuatu yang pantas diperhatikan.
Para cantrik Perguruan Orang Bercambuk memang tidak memiliki pengalaman bertempur sebagai kesatuan, tidak mengenal gelar dan jarang bertemu Agung Sedayu. Meski sering berlatih bersama Ki Lurah Panuju atau Ki Lurah Plaosan, tapi latihan itu bukan bertujuan untuk menang dalam sebuah pertempuran. Hanya sekedar pengenalan dan pengalihan dari rasa jenuh.
Namun demikian, para cantrik Perguruan Orang Bercambuk itu justru seolah sedang memperlihatkan sesuatu yang selama ini hanya dikenal melalui nama perguruan mereka. Kedatangan Ki Hariman yang terbuka menantang Ki Widura dan serangan dari sejumlah orang yang datang dari lereng Gunung Kendil rupanya belum memberikan jawaban yang sebenarnya. Penolakan Ki Widura dan kedatangan cepat prajurit di padepokan membuat kedua peristiwa itu berakhir sebelum para cantrik benar-benar berhadapan dengan keadaan yang memaksa mereka mengerahkan kemampuan.
Di pategalan selatan, keadaan itu akhirnya berbeda. Mereka bertempur sungguh-sungguh dengan Agung Sedayu yang bertarung juga menghadapi Ki Jabon Seta. Dengan demikian, untuk pertama kalinya kemampuan para cantrik dari Jati Anom bersanding kemampuan murid tertua perguruan mereka terlihat dalam satu peristiwa yang sama.
Maka benturan di pategalan selatan bukan semata-mata akan menunjukkan kemampuan dan kekuatan para cantrik dari Jati Anom, tapi bagi mata yang mengamati, perkelahian itu juga sedang membuka ukuran lain: seperti apakah sebenarnya orang yang memimpin pasukan khusus itu?
Agung Sedayu tidak pernah melantangkan aba-aba keprajuritan. Sekali-kali dia berteriak tentang semangat dan daya juang. Namun kehadiran dan keberadaannya sendiri sudah menjadi semacam nyala api yang membakar segenap yang tersimpan dalam diri cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Yang terjadi kemudian di arena pertarungan kelompok adalah para cantrik itu bertempur dengan cara dan kekuatan yang melampaui perkiraan orang-orang Ki Jabon Seta! Melampaui pula seluruh isi benak orang-orang perguruan lain yang datang diam-diam untuk mengukur kemampuan Agung Sedayu.
Mereka memang pernah menyaksikan perang tanding di Pancuran Watu Item, tetapi yang terlihat di sana belum sepenuhnya membuka ukuran yang mereka cari. Di Pancuran Watu Item, Agung Sedayu bertarung sebagai seorang lawan yang berhadapan dengan lawan. Di pategalan selatan, keadaan ternyata berbeda. Mereka dapat melihatnya bertarung, sekaligus melihat pengaruh dari keberadaannya yang mampu menghidupkan kekuatan orang-orang di sekitarnya.
Dalam pada itu, senjata cantrik Perguruan Orang Bercambuk benar-benar menjadi kesulitan yang tidak terduga bagi orang-orang Ki Jabon Seta. Seakan-akan setiap putaran cambuk yang meliuk, sabetan mendatar dan segala bentuk cara berayun terasa seperti siksaan bagi lawan mereka. Betapa tidak, meski seorang cantrik sedang menghadapi lawan di depan mereka tapi ujung cambuknya tiba-tiba bisa saja menyabet lawan yang berada di samping atau belakang.
Secara keseluruhan, laga di pategalan selatan lebih tampak seperti aliran bergerak cepat dan keras yang membentur susunan batu yang tidak teratur tapi sangat kuat. Namun begitu, keadaan belum tampak berat sebelah meski sebagian mulai menitikkan darah. Kemenangan kecil dalam pertempuran kelompok itu belum mampu menjadi unsur yang dapat mempengaruhi keseimbangan.
Pada gelanggang Agung Sedayu.
Udara yang berputar-putar di sekitar gelanggang senapati Mataram itu terasa semakin panas. Setiap kulit yang terpapar laju udara dari gelanggang dapat merasakan panas seperti air mendidih yang sudah mungkal-mungkal. Namun demikian, perang tanding dua orang sakti itu belum mencapai puncak!
Debu membumbung semakin tinggi ketika Ki Jabon Seta memutuskan untuk menghentak tenaga cadangan selapis lebih tinggi. Tata gerak Agung Sedayu memang terasa janggal dan aneh baginya tapi itu belum cukup untuk benar-benar membuat dirinya kesulitan. Bebatuan kecil, rerumputan yang tercerabut dan debu agaknya dapat diubah oleh Ki Jabon Seta menjadi alat untuk menekan pemimpin pasukan khusus kembali ke keadaan yang wajar.
Agung Sedayu sadar bahwa dirinya tidak dapat terus-menerus membalik rangkaian gerak yang bersumber pada jalur ilmu Ki Sadewa. Meski merepotkan musuhnya tapi itu belum cukup untuk mengalahkan penerus Ki Mahoni dalam perang tanding tersebut. Hingga kemudian, tekanan yang diberikan Ki Jabon Seta telah mencapai tujuannya. Agung Sedayu pun berjumpalitan singkat di udara, namun sebelum kakinya menyentuh tanah, Ki Jabon Seta sudah menerjang dengan sepasang keris yang tiba-tiba tergenggam di tangan.
Memanglah dalam diri dua petarung ini tersimpan kecepatan yang sulit dinalar. Tanpa dapat dilihat mata meski oleh orang berkanuragan tinggi, tangan Agung Sedayu pun telah tergenggam cambuk yang sudah terurai padahal senjata itu rapi melilit pinggang sebelumnya.
Agung Sedayu mengayunkan cambuk ketika tubuhnya masih melayang. Benturan terjadi. Tubuhnya terpental dan melayang surut, sementara Ki Jabon Seta terhenti sesaat. Tetapi hanya sesaat. Sepasang keris di tangannya segera menyusul dengan serangan berikutnya.
Dalam pada itu, tubuh Agung Sedayu berpilin di udara. Cambuknya berayun mengitari tubuh, membentuk lingkaran yang seolah menjadi perisai. Tubuhnya terus bergerak dalam pilinan itu, sementara ujung cambuk menyambar ke segala arah untuk membalas serangan sekaligus menahan rapatnya serangan sepasang keris Ki Jabon Seta.
Pergeseran tubuh Agung Sedayu yang melayang surut bukan semata-mata akibat benturan kedua senjata. Dalam keadaan yang sesungguhnya sangat tidak menguntungkan itu, rupanya Agung Sedayu mampu memanfaatkan setiap benturan sebagai titik belok untuk mengubah arah tubuhnya. Satu benturan mendorongnya menjauh, benturan berikutnya mengubah arah pilin tubuhnya, dan setelah itu cambuknya menyambar Ki Jabon Seta.
Namun keadaan itu tetap tidak dapat disebut menguntungkan bagi Agung Sedayu. Tubuh yang masih melayang tidak mempunyai pijakan untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tanpa pijakan, serangan dan pertahanan murid Kyai Gringsing ini akan terasa sia-sia. Dapat dianggap dia hanya dapat mengulur waktu tanpa mampu memberikan tekanan balik atau menyusun pertahanan yang sempurna.
Agung Sedayu berada dalam keadaan terjepit, sementara Ki Jabon Seta terus mempunyai kesempatan untuk menyusulkan serangan. Tekanan itu berlangsung beberapa lama. Agung Sedayu masih terus bergeser dan berpilin di udara, dan buruknya, cambuknya belum juga menemukan batang pohon atau sesuatu yang dapat memberinya tumpuan untuk kembali menyentuh tanah.
Keadaan itu semakin menekan. Selama belum mendapatkan pijakan, setiap serangan harus dihadapi dalam gerak yang terus mengalir, sementara Ki Jabon Seta tidak memberi kesempatan untuk mengubah keadaan.
Dari balik rimbun pepohonan dan semak-semak di pategalan selatan, tiga orang tajam mengamati pertarungan sangar tersebut.
Ki Astaman, Ki Warujayeng dan Jaka Awar-Awar saling berpandangan. Mereka pernah melihat Agung Sedayu bertarung di Pancuran Watu Item, tetapi keadaan yang mereka saksikan sekarang jauh berbeda.
“Di Pancuran Watu Item tidak seperti ini,” ujar Ki Warujayeng.
Ki Astaman mengangguk.
Mereka kembali memandang gelanggang.
“Setinggi apa pun ilmu seseorang, tentu ada batasnya,” ucap Ki Astaman
Jaka Awar-Awar masih menyorot pertempuran yang bakal sulit diulang lagi. Maka dia tidak segera menjawab meski jalan-jalan pikirannya sudah sibuk dengan berbagai kemungkinan hasil pengamatan
“Tidak ada ruang,” katanya perlahan kemudian. “Tidak ada waktu. Debu masih berterbangan dan Ki Jabon Seta terus menyerang. Sampai sekarang, Sedayu tidak mempunyai kesempatan mengembangkan ilmunya?” Ki Astaman mengangguk lagi. “Saya kira Agung Sedayu hanya dapat mengulur waktu untuk bertahan.”
- Sementara itu, ratusan tahun sebelumnya, di Lembah Merbabu 18, pada lingkar yang berjarak puluhan langkah dari perkelahian Ki Getas Pendawa, sekali-kali sorot mata Batara Keling berubah menjadi merah.
- Tapi suara lantang Swandaru, “Aku adalah Swandaru Geni! Kalian tidak akan mampu mengalahkanku!” Lalu dengan mendadak, ia mengubah tata geraknya di Jati Anom Obong 15.
- Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh ini adalah bab sembilan tapi nantinya akan terbit sebagai Buku ke-8 dari Semesta Kitab Kyai Gringsing. Saat ini kami masih mesu raga dengan ketat. Untuk itu, Padepokan berharap keberlangsungan kisah dapat terjaga dan terwujud melalui kerjasama serta pengertian yang sama baiknya.
