Dironda 77 kali
Wedaran sebelumnya: Jatayu tetap dapat menjangkau perubahan kecil yang sekiranya dapat mengacaukan keseimbangan gelanggang.
Saat pasukannya bergerak maju, mendesak prajurit Mataram sedikit menusuk ke dalam, Jatayu tiba-tiba menyadari sesuatu yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Arus pertempuran yang sejak tadi diikutinya, yang semula diperkirakan dalam kendalinya ternyata membawa sebagian pasukannya ke arah yang justru disediakan oleh Ki Demang Brumbung.
Tiga orang yang sengaja dilepaskan dari barisan bukan sekadar membuka ruang bagi mereka untuk mendekati Ki Sanggabaya. Jumlah yang berkurang mengesankan ada ruang kosong di sela barisan Ki Demang Brumbung. Penyesuaian siasat yang diperintahkan oleh Ki Sanggabaya, tanpa disadari Jatayu, malah menarik anak muda itu bersama sebagian orangnya ke bagian dalam barak pasukan khusus.
Barulah dia memahami tujuan Ki Demang Brumbung: mereka sedang dipancing masuk ke dalam barak.
Kesadaran itu datang terlambat.
Jatayu cepat menoleh ke belakang. Beberapa orangnya masih berada di luar, tetapi jumlah mereka sudah tidak lagi sama dengan ketika barisan tadi berdiri utuh. Selisih itu mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk membuat susunan yang hendak ditarik kembali menjadi tidak mudah dikendalikan.
Jatayu bersuit nyaring sekaligus memberi tanda agar orang-orangnya bergerak mundur.
Namun keadaan telah berubah.
Sebagian pasukannya tertahan di balik gerbang timur. Mereka terlalu jauh ke masuk bagian halaman tengah, sementara lawan terus menekan dari beberapa arah. Ruang yang sebelumnya dapat digunakan untuk keluar kini mulai dipenuhi tubuh dan gerak senjata.
Jatayu mengatupkan rahang. Dia berpikir keras. Terlambat beberapa langkah saja telah membuat perbedaan tapi dia masih dapat membawa sebagian orangnya keluar, tetapi tidak lagi dengan mudah menarik seluruh kelompok keluar dari lingkungan barak pasukan khusus.
“Aku terperangkap,” desis Jatayu dalam hati. Sedikit kesal, dia merasa sudah di atas angin saat pasukannya selangkah demi selangkah berhasil mendesak pasukan lawan kembali masuk barak. Namun nyatanya? Justru dia mulai kesulitan mencari jalan keluar.
Nyaris bersamaan dengan perubahan gelanggang timur barak, Nyi Banyak Patra melihat beberapa bayangan bergerak menjauh dari gerbang. Mereka adalah Jatayu dan sebagian orangnya yang sudah tidak lagi bertahan di tempat semula. Mereka bergerak ke utara, kemudian perlahan mengarah ke timur.
Nyi Banyak Patra mengikuti gerakan itu dengan pandangan tajam. Sejenak kemudian, sorot matanya memandang gelanggang Ki Sanggabaya. Nyi Banyak Patra tidak memberi penilaian, tetapi cukup mengerti karena pengalaman dan keluasan wawasan.
“Sayoga,” katanya pelan.
Sayoga segera mendekat.
“Masuklah ke dalam gelanggang Ki Sanggabaya.”
Sayoga mengangguk.
“Dekati beliau dan katakan bahwa kau datang atas perintah saya. Minta agar kendali gelanggang itu dipindahkan kepadamu.”
Sayoga memandang ke arah gerbang lalu mengangguk. Katanya, “Saya bersedia.”
Nyi Banyak Patra mengusap bahu pengawal Menoreh itu dan Sayoga bergerak menuju gelanggang Ki Sanggabaya.
Pandangan Nyi Banyak Patra kini tertuju pada jalur yang ditempuh Jatayu dan orang-orangnya. Sesuatu sedang berubah di dalam barak, dan perubahan itu tampaknya belum selesai, pikirnya.
Nyi Banyak Patra lantas berkata pada Kinasih, “Tetaplah di sini dengan seluruh pengawal. Lakukan sesuatu bila kau anggap genting dan perlu.”
Setelah menebar pandangan, menatap satu demi satu wajah pengawal Menoreh yang berbaris rapi di belakang mereka, Nyi Banyak Patra mengangguk, lalu berkata agak lantang, “Saya harap Ki Sanak sekalian tidak ada keberatan untuk mengikuti Kinasih. Mohon diluruskan jika Kinasih keluar dari gelar.”
Seorang ketua regu mengangguk lalu berseru, “Kami selalu di belakang kata-kata Ki Gede, Nyi.”
Percakapan pendek itu bukan berarti Kinasih akan memimpin masuk ke dalam pertempuran. Tapi pengawal Menoreh mempunyai keleluasaan untuk menempatkan Kinasih di salah satu sayap atau bagian lain yang diperlukan. Atau jika mengikuti kebiasaan, mereka akan membebaskan Kinasih memilih lawan. Yah, Kinasih bukan sekali melewati pertempuran bersama pengawal Menoreh. Mereka sudah saling mengerti dan memahami batas kemampuan masing-masing.
Bahkan bagi sebagian pengawal Menoreh, ketiadaan Pandan Wangi sudah tergantikan oleh Kinasih. Dalam beberapa keadaan, mereka mengganggap itu sudah lebih dari cukup.
“Terima kasih,” sahut Nyi Banyak Patra disertai anggukan kepala.
Kepada muridnya itu, dia berpesan agar tetap memandang perintah ketua regu pengawal.
Kinasih mengangguk dan hendak melangkah ke arah barisan pengawal tapi Nyi Banyak Patra menahannya sejenak.
Kinasih memandang wajah gurunya.
Nyi Banyak Patra mengalihkan pandangan ke arah kediaman Ki Gede Menoreh. “Aku akan kembali ke kediaman Ki Gede.”
Kinasih menatap mata gurunya, mengangguk dengan pikiran bahwa panggraita gurunya tentu telah mendapatkan peringatan terlebih dulu.
Kinasih memahami maksud itu lalu mengikuti kepergian gurunya ke jurusan timur—kediaman Ki Gede Menoreh. Sebentar kemudian, murid satu-satunya Nyi Banyak Patra itu menggabungkan diri ke barisan pengawal.
‘Dalam pada itu’, Jatayu dan orang-orangnya terus bergerak ke utara lalu berbelok ke timur. Mereka tidak lagi berusaha memaksa jalan melalui gelanggang yang telah berubah menjadi perangkap. Tujuan mereka kini adalah mencapai sisi lain dari barak, sekaligus menjaga agar Ugrasena tidak terlepas dari perhatian mereka.
Mungkin terkesan memutar, tapi siapa yang dapat memastikan tidak ada jebakan di tengah halaman timur barak?
Tapi, tak lama setelah pergeseran tempat itu… Pada jalur yang akan mereka lalui…
“Gandrik!” umpat Jatayu ketika sekelompok bayangan mendadak keluar dari rumbuk semak dan pohon randu alas.
Sukra telah menunggu dengan sejumlah pengawal yang didatangkan Agung Sedayu melalui Ki demang Brumbung dari Dusun Pringtali.
Pengawal Menoreh yang tumbuh dan berkembang di rumah Agung Sedayu itu ternyata tidak mendapat tugas untuk bertahan di sisi barat ataupun selatan. Ternyata justru diperintahkan memutari barak dan mencapai tempat tersebut sebelum arus pertempuran menjalar lebih jauh. Dan sebenarnya tempat Sukra menunggu bersama pengawal Pringtali itu agak jauh dari dinding utara yang dijaga Glagah Putih.
Agaknya Agung Sedayu sudah memperhitungkan bahwa menyerahkan bagian utara sepenuhnya pada Glagah Putih tidak akan dapat berjalan dengan baik. Untuk itulah, senapati pasukan khusus Mataram ini mengatur penjagaan yang berlapis.
Sukra berdiri paling depan seorang diri.
Di belakangnya telah menunggu dua pasukan khusus dan beberapa orang pengawal dari Pringtali. Mereka tidak membuat barisan yang terlalu rapat. Masing-masing mengambil tempat yang memungkinkan mereka bergerak ketika bentrokan terjadi.
Bentrokan keras pun pecah!
Kelompok Jatayu yang semula bergerak dalam susunan yang masih dapat dikendalikan mendadak harus menghadapi orang-orang yang telah menunggu dari arah berbeda. Tidak ada lagi bentuk barisan yang rapi. Senjata segera berayun. Setiap tata gerak sudah mulai saling mendesak dan menekan. Sebagian orang terdorong menjauh, sebagian terseret mendekat tapi yang pasti adalah masing-masing dari mereka bertemu dengan lawan yang tidak mereka perkirakan.
Di antara laskar gabungan Mataram itu sudah terjalin kerja sama. Bahkan mereka saling mengenal dalam keseharian maka aba-aba dari salah seorang pasukan khusus itu menjadi hal yang tak asing bagi pengawal. Mereka cepat menyesuaikan diri, keseimbangan perlahan-lahan mulai dapat ditegakkan kembali.
Jatayu sendiri tidak sempat mengatur semuanya. Untuk berteriak saja sudah sulit karena Sukra telah menghujaninya dengan serangan beruntun yang luar biasa.
Sukra bergerak cepat, memaksa Jatayu mencurahkan perhatian kepadanya. Geraknya tidak memberi banyak ruang untuk berpikir. Setiap kali Jatayu hendak mengangkat pandangan untuk membaca keadaan kelompoknya, Sukra telah lebih dahulu menyambar dengan serangan berikutnya.
Orang-orang Mataram bernapas longgar ketika sudut mata mereka menangkap sepak terjang Sukra. Inilah belalang tempur Pangeran Purbaya, begitu isi pikiran mereka.
Kesan yang berbeda muncul di dalam benak dua pasukan khusus, akhirnya mereka memahami bahwa pemuda yang selama ini tumbuh di rumah Agung Sedayu ternyata bukan sekadar pengawal yang ditempatkan untuk mengisi sisi pertahanan.
Sukra adalah bagian dari siasat. Setidaknya, Sukra dapat menghambat laju pergerakan lawan seandainya mereka ingin melarikan diri atau berbuat sesuatu yang berbeda.
Kendali gelanggang berada di tangan salah satu pasukan khusus. Aba-aba lancar mengalir dari orang itu, laskar gabungan terus menerus mengikuti diikuti aba-aba. Perlahan, laskar Mataram mulai dapat mengembalik bentuk dan ketangguhan mereka sebenarnya.
Sebaliknya, orang-orang Jatayu semakin sulit mempertahankan susunan. Mereka datang dengan satu tujuan, tetapi sekarang harus menghadapi beberapa arah tekanan sekaligus.
Jatayu menggeram dalam hati. Dia belum kehilangan kemampuan untuk bertahan, tetapi perubahan menggilas mereka terlampau cepat.
Dia harus menghadapi Sukra, sedangkan kelompoknya sedang berhadapan dengan perang yang tidak lagi dapat dikendalikan dengan aba-aba sederhana.
- Kitab Kyai Gringsing telah selesai 5 buku. Untuk dapat membaca offline/luar jaringan, Anda dapat melakukannya tanpa keharusan membeli. Cukup kontribusi agar Padepokan Witasem tetap dapat berkarya.
- Sedangkan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh ini akan menjadi buku yang keenam.
- Dalam pada itu, Jaka Tingkir atau yang juga dikenal Adipati Hadiwijaya terlihat mulai berjuang melawan maut yang datang mengancam jiwanya di Wedhus Gembel 2. Diungkapkan bahwa Lembu Jati ternyata mengincar hidup Jaka Tingkir saat kakinya bergeser hingga menyebabkan udara bergerak seperti dihentak dengan kipas raksasa.
- Rusuh! Hanya satu kata itu yang tepat dilontarkan ketika mereka membakar pasar pedukuhan induk! Sukra benar-benar geram. Agung Sedayu Terperdaya wedaran 16 membuatnya lebih benderang.
