0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 67 – Kabar Tentang Agung Sedayu yang Segera Diterima Pangeran Purbaya dan Sinuhun

Dironda 52 kali

Wedaran sebelumnya: Jatayu cepat membuat perubahan karena kemunculan Surka benar-benar di luar perhitungan banyak orang.

Di dekat sebuah lekukan sungai, beberapa orang yang sejak tadi menjalankan tugas sebagai pengamat akhirnya tiba di hadapan Ki Panji Danutirta. Mereka tidak datang bersamaan. Seorang muncul dari arah barat, disusul dua orang lain dari jalur yang lebih dekat dengan tepian sungai.

Ki Panji Danutirta menatap mereka satu demi satu.

“Bagaimana?”

“Gerbang barat telah jebol, Ki Panji. Orang-orang kita berhasil masuk.”

“Gerbang timur juga telah ditembus,” sambung yang lain. “Sebagian pasukan masuk melalui gerbang itu. Sebagian lagi memilih memutar karena Ugrasena masih terikat dengan Ki Sanggabaya.”

Ki Panji Danutirta mengangguk perlahan. “Bagian utara?”

Pengamat yang terakhir menarik napas sebelum menjawab. Lalu katanya, “Dinding utara sudah berhasil ditembus. Tetapi ada kabar buruk. Ki Wirya tumbang di tangan seorang lurah Mataram yang agaknya masih muda.”

Ki Panji Danutirta tidak segera menjawab kemudian mendesis seprti mengingat sebuah nama, “Glagah Putih.”

Pengamat itu mengangguk. Ucapnya, Sepertinya dia terluka parah. Pertarungan mereka sangat mematikan.”

Ki Panji Danutirta kembali mengangguk. Sampai di sini, berita yang dibawakan para pengamat masih sesuai dengan perkiraannya. Gerbang barat telah terbuka. Timur mulai ditembus. Utara sudah pecah. Dengan keadaan seperti itu, jalan menuju kediaman Ki Gede Menoreh seharusnya semakin terbuka.

Tetapi ia masih menunggu satu berita. “Bagaimana dengan sisi selatan?”

Ketiga pengamat itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka kemudian menyahut, “Kami tidak bertemu dengan penghubung selatan, Ki Panji.”

Ki Panji Danutirta mengembuskan napas perlahan. Dia bertanya perlahan tapi tidak ditujukan pada seorang pun,”Apakah dia terhalang atau terseret perkelahian?”

Tiga orang di sekitarnya hanya saling bertukar pandang tanpa kata-kata.

Keadaan itulah yang kemudian membuat pikirannya tidak lagi tenang. Sesaat dia membayangkan bahwa di sisi selatan kemungkinan besar Ki Jabon Seta telah berhadapan langsung dengan Agung Sedayu. Pertempuran keras dan benturan kekuatan saktu di tempat itu tentu tidak mudah dihindari. Namun seharusnya seseorang sudah datang membawa kabar tentang perkembangannya.

Ketiadaan berita mulai terasa mengganggu daripada kabar buruk.

Ki Panji Danutirta memandang ke arah gelap yang membentang di balik lekukan sungai. Beberapa saat kemudian, keputusan pun terbentuk dalam pikirannya.

“Kalau begitu, kita tidak menunggu lagi.”

Para pengamat menunggu.

“Kita bergerak sekarang.”

Tidak ada seorang pun yang bertanya. Mereka memahami bahwa yang dimaksud adalah serangan langsung ke kediaman Ki Gede Menoreh.

Sekelompok orang lantas bangkit berdiri, membenahi diri dan senjata. Setelah mempertimbangkan keadaan di barak dan kemungkinan benturan yang masih berlangsung di berbagai sisi, Ki Panji Danutirta membawa orang-orangnya sedikit memutar. Mereka bergerak mengikuti tepian sungai untuk beberapa saat, kemudian mengubah arah menuju kawasan pategalan selatan.

Agaknya Ki Panji ingin meliha lebih dekat keadaan di pategalan selatan. Bukan untuk mencari berita salah seorang penghubungnya tapi sesuatu yang mungkin dapat menjadi bekal jika dia kembali ke Kotaraja.

Dalam pikirannya, jika Ki Jabon Seta mampu mengikat Agung Sedayu sangat ketat, jika pasukannya dapat menjaga jarak jangkauan, maka dari sanalah mungkin ada jalan yang paling menguntungkan untuk menjalankan siasat cadangannya—menyerang Ki Gede Menoreh.

Tidak ada seorang pun yang dapat menduga arah perkembangan dari kerusuhan yang meledak di sekitar barak. Pada jalur yang dipilih Ki Danutirta yang menurut pemandunya dapat membawa ke arah kediaman Ki Gede Menoreh, sementara dari jurusan yang berlawanan, Ki Astaman bersama Jaka Awar-Awar dan Ki Warujayeng juga sedang menempuh jalur yang sama.

Mereka baru menyadari keberadaan satu sama lain ketika jarak di antara kedua kelompok itu telah cukup dekat.

Ki Panji Danutirta tidak menghentikan langkah. Dia hanya mengangkat wajah, lurus memandang satu demi satu orang yang berjalan dari arah yang berlawanan.

Jalur itu bukanlah jalan setapak atau lebih besar lagi. Jalur itu adalah bulak kering yang lebih tepat disebut tanah lapang yang penuh dengan belukar dan rerumputan yang tinggi. Meski demikian, keadaan sudah tidak terlampau gelap karena ufuk timur tampak sedikit remang-remang.

Ki Astaman pun demikian. Pandangannya sempat bertemu dengan mata Ki Panji Danutirta, tetapi tidak ada teguran atau pertanyaan yang terlontar. Jaka Awar-Awar dan Ki Warujayeng juga tidak membuat gerakan yang dapat dianggap sebagai tantangan.

Mereka berpapasan dalam keheningan.

Beberapa langkah setelah melintasi sebuah cekungan, Ki Astaman berhenti lalu menoleh kepada dua orang yang berjalan bersamanya. Katanya, “Kita berbalik.”

Jaka Awar-awar memandangnya, tetapi tidak bertanya. Ki Warujayeng hanya mengangkat wajah.

Ki Astaman menunjuk ke arah lain. “Kita sudah melihat keadaan di sebelah timur. Utara pun tak kalah kacau. Yang belum kita lihat adalah sisi selatan.”

Ki Warujayeng tampak hendak membuka bibir.

“Mungkin di sanalah Agung Sedayu berada. Saya kira Ki Sanak berdua perlu untuk melihat lagi seberapa dalam Agung Sedayu,” lanjut cepat Ki Astaman.

Jaka Awar-awar mengangguk lantas berpaling pada Ki Warujayeng, katanya, “Tidak ada salahnya, Kyai.”

“Baiklah,” ucap Ki Warujayeng.

Tiga orang ini segera mengubah arah. Mereka bukan membayangi rombongan Ki Panji Danutirta yang juga bergerak menuju selatan.

Beberapa waktu lamanya, ledakan cambuk dan riuh orang bertempur telah terdengar dari tempat dua iring-iringan yang berbeda maksud itu berjalan. Ki Astaman mengambil jalur menuju gelanggang, sementara Ki Panji Danutirta terus berjalan menuju kediaman Ki Gede Menoreh.

Setelah beberapa saat, pasukan Ki Panji Danutirta sudah tampak mendekati kediaman Ki Gede Menoreh. Dengan beberapa isyarat, dia memberi tanda pada kepada orang-orangnya.

Beberapa orang segera menyebar. Mereka tidak membentuk barisan untuk sebuah serbuan besar. Ki Panji Danutirta rupanya sudah mempertimbangkan bahwa membunuh Ki Gede adalah pekerjaan yang mustahil dilakukan. Dan dia memang tidak bertujuan melakukan itu.

Baginya, jumlah orang yang tergabung dengannya di sekitar kediaman Ki Gede sudah cukup untuk memberi pesan pada Sinuhun dan Pangeran Purbaya. Untuk membuktikan barak pasukan khusus cukup lemah dalam menjaga Tanah Perdikan, kerusuhan di barak dan serangan kecil pada Ki Gede Menoreh tampaknya sudah lebih dari cukup.

Gerak orang-orang Ki Panji Danutirta ini sangatlah senyap. derap kaki mereka nyaris tidak didengar oleh para penjaga gardu di regol kediaman. Maka, tiba-tiba, pengawal Menoreh yang berjaga itu terkejut ketika banyak bayangan hitam bergerak cepat, meluncur ke arah mereka dengan serangan kilat.

Namun, tanpa pernah diduga Ki Panji Danutirta, tiba-tiba dua bayangan berkelebat dari arah samping. Gerakannya demikian cepat sehingga hampir tidak sempat ditangkap mata. Dalam satu lintasan, dua bayangan itu menyapu hampir seluruh orang yang berada di barisan depan. Beberapa orang terhuyung, sebagian terpental menjauh, sementara yang lain segera mengubah langkah—mundur untuk menghindari serangan berikutnya.

Ki Panji Danutirta masih berdiri di tempatnya, memandang peristiwa menakjubkan yang berlangsung sangat di depan matanya. Dia sendiri kesulitan melihat dua orang yang kecepatannya mungkin setara dengan siluman.

Dua bayangan itu berhenti lalu berdiri di bawah regol kediaman.

“Nyi Banyak Patra,” ucap Ki Panji lirih. Dia melihat seorang lagi yang usianya tak terpaut jauh dari Nyi Banyak Patra tapi Ki Panji Danutirta tidak mengenalnya.

Untuk beberapa saat dia tidak berpikir. Kemudian pandangannya bergerak dari Nyi Banyak Patra kepada orang-orangnya yang telah kehilangan keberanian untuk melanjutkan gerakan. Sejumlah pengawal Menoreh dibantu lelaki tua yang datang bersama Nyi Banyak Patra cepat meringkus orang-orang Ki Panji Danutirta.

Sudah cukup. Pikir Ki Panji Danutirta. Dia mundur perlahan dari balik pohon ketapang besar yang tumbuh di pekarangan seberang jalan dari kediaman Ki Gede.

Orang ini tidak tertarik mempertaruhkan lebih banyak orang hanya untuk mendapatkan sebuah keributan yang sebenarnya tidak lagi memberikan keuntungan. Apalagi dia sudah melihat sosok tua yang berdiri kuaat di belakang Agung Sedayu.

Ki Panji Danutirta berbalik arah, mengarahkan kaki ke jurusan Kotaraja. Tidak perlu ada penjelasan dalam pikirannya. Tidak perlu pula penyesalan.

Tujuannya datang ke Menoreh sudah tercapai. Barak pasukan khusus telah diguncang. Gerbang-gerbang telah ditembus. Pasukan Menoreh telah dipaksa menunjukkan kekuatan mereka. Kediaman Ki Gede menampakkan kerapuhan karena tidak seorang pun dari prajurit Mataram yang berjaga di sana. Dan yang paling penting, semua itu dapat menjadi bahan yang cukup untuk dibawa ke Kotaraja.

Tentang Ki Jabon Seta, biarlah. Walaupun mereka masih dapat disebut kerabat seperguruan, tetapi Ki Panji Danutirta tidak merasa perlu mempertaruhkan kepentingannya demi orang itu. Ki Jabon Seta datang demi nama Ki Mahoni dan sudah barang tentu mampu menanggung akibatnya sendiri.

Demikian pula orang-orang Ki Tumenggung Adiyasa. Mereka datang untuk menunjang tujuan yang disepakati bersama antara dirinya, Ki Wira Sentanu dan Ki Tumenggung Adiyasa sendiri. Jika sebagian dari mereka tertinggal di medan pertempuran, itu bukan urusannya. Ki Tumenggung Adiyasa tentu sudah memberikan perhatian yang dianggap perlu kepada orang-orangnya.

Yang paling penting, pikir Ki Panji Danutirta, adalah kabar yang dapat diucapkannya di depan Pangeran Purbaya dan Sunan Agung. Tanah Perdikan Menoreh telah diguncang. Barak pasukan khusus telah diruntuhkan. Dan Agung Sedayu berada di tengah-tengahnya. Itu sudah cukup. Selesai.

Ki Panji Danutirta pun meninggalkan tempat itu, melangkah sendiri tanpa kekhawatiran rahasianya dibongkar oleh orang-orangnya yang tertangkap pengawal Menoreh. Atau mungkin … bocor dari mereka yang ditangkap pasukan khusus? Tapi Ki Panji Danutirta yakin bahwa tujuan pada akhir malam ini akan tertutup sangat rapat.

  • Dan Panggraita mereka mengatakan bahwa belasan pasang mata sedang mengawasi dari balik dinding-dinding bambu. Namun mereka tidak mengincar Ki Panji Danutirta. Yang mereka inginkan adalah Arya Penangsang, Gagak Panji dan Serat Lelayu 7.
  • Agung Sedayu tidak sedang Membidik sasaran 6 ketika berkata, “bahwa pertaruhan memang sungguh-sungguh terjadi.”

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.