Dironda 33 kali
Wedaran sebelumnya: Sebagian pengawal menyaksikan itu lalu bersorak. Orang-orang mengelu-elukan beberapa nama. Mereka tampak begitu lepas.
Cahaya samar di langit telah menyentuh tanah, pepohonan, wajah-wajah para pengawal, dan senjata yang masih berlumur keringat serta debu.
Pertempuran telah meluas ke bagian timur barak pasukan khusu. Beberapa pengawal Menoreh telah datang membantu pasukan khusus yang mencoba menahan pergerakan Ugrasena dan lima orangnya. Ugrasena bertarung dengan garang, senjatanya menyambar-nyambar Sayoga yang lincah berlompatan seperti burung sriti..
Kegeraman Ugrasena belum sepenuhnya pudar ketika sulit menerima kenyataan bahwa lawannya berganti begitu cepat. Ki Sanggabaya digantikan oleh Sayoga dan pengawal Menoreh ini ternyata tidak memberinya waktu untuk bertanya.
Sayoga, untuk sementara, banyak menghindari serangan supaya pengawal Menoreh yang berdatangan dapat menempatkan diri demi mengekang pergerakan musuh.
Sesaat kemudian, Sayoga berbalik arah. Dia balas menerkam dengan serangan-serangan yang baru diperdalamnya atas sentuhan yang sama dengan Sukra: Kyai Bagaswara. Langkah kaki Sayoga terkesan ringan dan membentuk semacam garis atau titik tertentu yang menyulitkan lawannya berkembang.
Tekanan demi tekanan Sayoga melindas, Ugrasena harus terus bergeser. Hingga sejauh itu, Ugrasena belum dapat mengembalikan keseimbangan lalu balas menyerang.
Mereka pun bertarung dengan seru.
Tapi itu ternyata tidak berlangsung lama.
Kinasih datang menggebrak. Seperti biasa, tanpa permisi, tanpa aba-aba dan tanpa suara kaki melangkah.
Gerakannya begitu cepat sehingga Sayoga yang berada dekat dengannya pun sulit menangkap seluruh rangkaian gerak itu. Kinasih menerobos ke dalam jarak pertarungan pada saat Ugrasena sedang melontarkan serangan keras.
Sayoga hanya sempat melihat Kinasih bergeser kemudian terdengar benturan.
Serangan Ugrasena tertolak dengan begitu deras. Pedangnya melenceng dari garis yang semula ditujunya, terlempar mengikuti kekuatan yang mengikuti benturan itu sendiri.
Kinasih telah mengetahui arah senjata itu akan bergerak maka dia tidak menghalanginya.
Pedang tersebut meluncur di sisi tubuhnya dan dalam sekejap menancap tepat pada leher Ugrasena.
Sayoga terdiam. Pengawal Menoreh ini bahkan belum sepenuhnya memahami rangkaian gerakan yang baru saja terjadi. Namun ketika melihat Ugrasena telah tumbang, dia tidak merasa terkejut. Begitulah Kinasih. Kemampuannya memang jauh melampaui perkiraan orang-orang yang melihatnya bertarung.
Sayoga hanya mengangguk kepadanya.
Kinasih membalas dengan pandangan singkat.
Tanpa berkata apa-apa, Sayoga kemudian menghamburkan diri kembali ke dalam pertempuran kelompok. Masih ada beberapa orang lawan yang harus ditundukkan.
Kinasih tetap berdiri di tempatnya. Dan pedang Ugrasena masih menancap pada lehernya.
Hampir sama dengan tempat Sukra bertarung, sorak sorai pun ternyata menggema pula dari bagian timur halaman barak.
Ketika para pengawal Menoreh dari Pringtali maupun mereka yang tadinya berjaga di jalur timur berhamburan masuk ke dalam barak dengan wajah penuh sukacita, tiga bayangan berkelebat menuju pategalan selatan.
Kemenangan telah mulai terasa di dalam barak. Suara orang-orang yang saling memanggil, langkah kaki berderap untuk kewajiban yang tidak terucapkan, dan kegembiraan yang pecah setelah ketegangan panjang membuat suasana berubah dalam waktu singkat. Beberapa orang bahkan telah mulai menyadari bahwa tekanan yang sejak tadi menghimpit mereka perlahan terlepas.
Tetapi tidak demikian dengan Sukra, Sayoga, dan Kinasih.
Ketiganya seolah tidak menaruh perhatian pada keadaan di dalam barak. Mereka bergerak meninggalkan keramaian, mengambil jalur menuju pategalan selatan dengan langkah yang tidak memberi kesempatan kepada kepada waktu untuk menahan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting bagi mereka bertiga. Mereka bergerak seperti terbang dengan membawa kegelisahan.
Dan semakin jauh meninggalkan barak, semakin jelas bahwa tujuan mereka bukan sekadar menyusul orang-orang yang bertempur di selatan. Mereka sedang menuju sebuah gelanggang yang keadaannya sama sekali belum diketahui.
Di belakang mereka, suara kegembiraan para pengawal Menoreh masih terdengar.
Di depan, pategalan selatan menunggu dalam kesunyian yang berbeda.
Sukra mempercepat langkah. Sayoga dan Kinasih mengimbangi mengikuti dengan kecepatan seimbang.
Di pategalan selatan.
Agung Sedayu berdiri di tempatnya. Dua telapak kakinya telah menapak utuh. Kakinya renggang, tubuhnya tegak dan tegar, sementara cambuk di tangannya masih bergerak menutup ruang di sekeliling tubuh. Setelah sekian lama tubuhnya dipaksa mengikuti aliran serangan lawan, kini dia bangkit dari tekanan dengan perubahan pada sikapnya.
Cambuk tak lagi berayun ketika dua lengan Sedayu menggantung di samping tubuhnya. Dengan lutut agak merendah, pandangan murid Kyai Gringsing ini tertuju lurus kepada Ki Jabon Seta. Agung Sedayu seperti telah menemukan kembali pusat kekuatan tubuhnya. Ada keteguhan tertentu pada cara Sedayu berdiri. Itu seperti seluruh tenaga tubuhnya sedang dikumpulkan pada satu pusat. Wajahnya menjadi hening. Pandangannya lurus kepada lawan.
Dari tempatnya mengamati, Ki Astaman menangkap perubahan itu. Benar. Sedayu telah mendapatkan pijakan. Bahkan lebih dari itu. Sikap tubuh Sedayu menunjukkan bahwa dia tidak sekadar hendak bertahan. Ada sesuatu yang sedang disiapkannya. Sesuatu yang membutuhkan ketenangan, ruang, dan waktu meski sedikit sekali.
Ki Astaman tidak mengalihkan pandangan. Pikirannya bertanya, “Apakah Sedayu akan mengungkapkan kedahsyatan ilmu melalui dua matanya?”
Menurut Ki Astaman, seandainya Agung Sedayu hendak menggunakan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya, maka inilah saat yang paling mungkin.
Di samping Ki Astaman, Jaka Awar-awar dan Ki Warujayeng juga sudah menduga-duga bahkan berharap bahwa mereka dapat menyaksikan kehebatan Agung Sedayu yang sudah lama tersiar di kalangan perguruan kanuragan.
Keadaan yang sama juga terbaca oleh Ki Jabon Seta. Kedudukan Agung Sedayu jauh berbeda dengan yang belum tampak sejak pertarungan dimulai. Tapi dia tidak akan memberi kesempatan kepada Sedayu untuk mempertahankan keadaan barunya.
Ki Jabon Seta teryata terus bergerak, dengan cepat dia mengayun langkah membuat lintasan memutari lawannya sambil sekali-kali melontarkan serangan berbahaya. Agung Sedayu pun akhirnya bergeser pula dengan cambuk yang sesekali juga berayun menangkis serangan Ki Jabon Seta.
‘Dalam pada itu’, tiba-tiba Ki Jabon Seta menyerang Agung Sedayu dengan kekuatan penuh. Serangan yang sangat dahsyat! Agung Sedayu tidak sempat menjaga jarak maka benturan senjata pun tidak terhindarkan. Ujung senjata mereka mengeluarkan dentuman yang sangat kuat hingga mampu mengguncang isi dada orang-orang yang bertarung di sebelah gelanggang mereka. Untuk sesaat, perkelahian kelompok antara Perguruan Orang Bercambuk dengan pengikut Ki Jabon Seta sempat terhenti!
Sebelum perkelahian kelompok itu berhenti sejenak.
Benturan dua perguruan yang masing-masing berjumlah agak besar itu masih berlangsung sengit. Bahkan mungkin lebih sengit dan keras jika dibandingkan dengan gerbang barat dan timur. Dua kelompok itu tidak mempunyai pemimpin yang dapat beradu siasat tempur. Masing-masing dari mereka bertempur perorangan.
Semula, pengikut Ki Jabon Seta lincah berloncatan dengan sikap merendahkan kemampuan cantrik yang datang dari Jati Anom, tapi kemudian yang tersisa adalah keterkejutan yang tak cepat habis. Betapa mereka mendapati bahwa para cantrik itu ternyata cukup tangkas dan mempunyai keberanian yang tak mudah dipatahkan dengan gertakan. Beberapa orang lantas terikat dalam perkelahian satu lawan satu lalu mulai menyebar, hampir memenuhi pategalan selatan.
Agak lama atau memang sulit untuk menakar waktu, kedatangan tiga anak muda dari timur itu secara mengejutkan mengubah keseimbangan. Kinasih memang tidak terjun langsung ke gelanggang, tapi berloncatan menutup ruang gerak atau mendorong paksa lawan kembali ke pertempuran. Gadis ini tidak perlu bertanya karena sudah mengenali tata gerak dan juga dari senjata bahwa para pemegang cambuk itu pasti orang-orang yang sempat dibicarakan kehadirannya di kediaman Ki Gede Menoreh. Terlebih lagi Sukra dan Sayoga pun langsung mengambil orang yang menjadi lawan cantrik Perguruan Orang Bercambuk.
”Siapakah kalian ini?” bertanya salah seorang pengikut Ki Jabon Seta.
”Sudah, diamlah. Berkelahi saja karena aku juga tidak tahu asal dan nama dusunku,” sahut Sukra sekenanya.
”Cah edan,” geram seorang lagi dari kubu Ki Jabon Seta.
Kedatangan Surka dan Sayoga sepertinya justru seperti sedang menyiram di atas kobaran api yang sedang menyala. Perlawanan orang-orang asing kian ulet dan liat. Mereka bertahan dengan sangat gigih.
Dalam benturan di pategalan selatan, Sayoga dan Sukra tampaknya sudah sepakat meski tidak terucap bahwa pertempuran harus segera diakhiri. Maka dua anak muda kepercayaan Agung Sedayu ini pun serta-merta menghentak kemampuan dan bertarung dengan sangat garang.
- Saat mendengar berita buruk itu, Agung Sedayu menyahut,“Tidak!” Tapi pengawal itu tidak berbohong. Kebakaran dan kerusuhan itu memang terjadi. Tapi Agung Sedayu dengan sedikit tidak percaya, dia tetep bergegas menuju Agung Sedayu Terperdaya 19.
- Karena tiba-tiba saja serangkum angin dahsyat menghantam dari belakang, tepat pada tengkuk Mas Karebet ketika terjadi badai topan Wedhus Gembel 3. Dan Agung Sedayu tidak mengetahui keadaan itu karena serangan itu terjadi di lereng Gunung Merbabu.
- Ketidaktahuan itu tetap tidak serta-merta menjadi alasan bagi senapati Mataram berpangkat tumenggung itu untuk mengabaikan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh yang makin menyesakkan.
