Dironda 987 kali
Wedaran sebelumnya: Sebagian pengawal menyaksikan itu lalu bersorak. Orang-orang mengelu-elukan beberapa nama. Mereka tampak begitu lepas.
Cahaya samar di langit telah menyentuh tanah, pepohonan, wajah-wajah para pengawal, dan senjata yang masih berlumur keringat serta debu.
Pertempuran telah meluas ke bagian timur barak pasukan khusu. Beberapa pengawal Menoreh telah datang membantu pasukan khusus yang mencoba menahan pergerakan Ugrasena dan lima orangnya. Ugrasena bertarung dengan garang, senjatanya menyambar-nyambar Sayoga yang lincah berlompatan seperti burung sriti..
Kegeraman Ugrasena belum sepenuhnya pudar ketika sulit menerima kenyataan bahwa lawannya berganti begitu cepat. Ki Sanggabaya digantikan oleh Sayoga dan pengawal Menoreh ini ternyata tidak memberinya waktu untuk bertanya.
Sayoga, untuk sementara, banyak menghindari serangan supaya pengawal Menoreh yang berdatangan dapat menempatkan diri demi mengekang pergerakan musuh.
Sesaat kemudian, Sayoga berbalik arah. Dia balas menerkam dengan serangan-serangan yang baru diperdalamnya atas sentuhan yang sama dengan Sukra: Kyai Bagaswara. Langkah kaki Sayoga terkesan ringan dan membentuk semacam garis atau titik tertentu yang menyulitkan lawannya berkembang.
Tekanan demi tekanan Sayoga melindas, Ugrasena harus terus bergeser. Hingga sejauh itu, Ugrasena belum dapat mengembalikan keseimbangan lalu balas menyerang.
Mereka pun bertarung dengan seru.
Tapi itu ternyata tidak berlangsung lama.
Kinasih datang menggebrak. Seperti biasa, tanpa permisi, tanpa aba-aba dan tanpa suara kaki melangkah.
Gerakannya begitu cepat sehingga Sayoga yang berada dekat dengannya pun sulit menangkap seluruh rangkaian gerak itu. Kinasih menerobos ke dalam jarak pertarungan pada saat Ugrasena sedang melontarkan serangan keras.
Sayoga hanya sempat melihat Kinasih bergeser kemudian terdengar benturan.
Serangan Ugrasena tertolak dengan begitu deras. Pedangnya melenceng dari garis yang semula ditujunya, terlempar mengikuti kekuatan yang mengikuti benturan itu sendiri.
Kinasih telah mengetahui arah senjata itu akan bergerak maka dia tidak menghalanginya.
Pedang tersebut meluncur di sisi tubuhnya dan dalam sekejap menancap tepat pada leher Ugrasena.
Sayoga terdiam. Pengawal Menoreh ini bahkan belum sepenuhnya memahami rangkaian gerakan yang baru saja terjadi. Namun ketika melihat Ugrasena telah tumbang, dia tidak merasa terkejut. Begitulah Kinasih. Kemampuannya memang jauh melampaui perkiraan orang-orang yang melihatnya bertarung.
Sayoga hanya mengangguk kepadanya.
Kinasih membalas dengan pandangan singkat.
Tanpa berkata apa-apa, Sayoga kemudian menghamburkan diri kembali ke dalam pertempuran kelompok. Masih ada beberapa orang lawan yang harus ditundukkan.
Kinasih tetap berdiri di tempatnya. Dan pedang Ugrasena masih menancap pada lehernya.
Hampir sama dengan tempat Sukra bertarung, sorak sorai pun ternyata menggema pula dari bagian timur halaman barak.
Ketika para pengawal Menoreh dari Pringtali maupun mereka yang tadinya berjaga di jalur timur berhamburan masuk ke dalam barak dengan wajah penuh sukacita, tiga bayangan berkelebat menuju pategalan selatan.
Kemenangan telah mulai terasa di dalam barak. Suara orang-orang yang saling memanggil, langkah kaki berderap untuk kewajiban yang tidak terucapkan, dan kegembiraan yang pecah setelah ketegangan panjang membuat suasana berubah dalam waktu singkat. Beberapa orang bahkan telah mulai menyadari bahwa tekanan yang sejak tadi menghimpit mereka perlahan terlepas.
Tetapi tidak demikian dengan Sukra, Sayoga, dan Kinasih.
Ketiganya seolah tidak menaruh perhatian pada keadaan di dalam barak. Mereka bergerak meninggalkan keramaian, mengambil jalur menuju pategalan selatan dengan langkah yang tidak memberi kesempatan kepada kepada waktu untuk menahan.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting bagi mereka bertiga. Mereka bergerak seperti terbang dengan membawa kegelisahan.
Dan semakin jauh meninggalkan barak, semakin jelas bahwa tujuan mereka bukan sekadar menyusul orang-orang yang bertempur di selatan. Mereka sedang menuju sebuah gelanggang yang keadaannya sama sekali belum diketahui.
Di belakang mereka, suara kegembiraan para pengawal Menoreh masih terdengar.
Sementara di gerbang timur tempat Ki Demang Brumbung bertempur demi menahan anak buah Jatayu yang masuk dalam perangkap siasat, keseimbangan pertempuran begitu cepat berubah.
Ketika pengikut Jatayu melihat pemimpin regu mereka tidak turut serta memasuki gerbang, seketika keyakinan mereka goyah. Beberapa orang mulai kehilangan keyakinan dalam menyerang. Keraguan tampak membayang pada wajah dan tatap mata mereka. Susunan gelar yang rapat menjadi renggang. Mereka lebih sering menoleh ke arah gerbang daripada memperhatikan lawan yang berada di hadapan.
“Jatayu tidak masuk bersama kita?” Pertanyaan itu tidak segera mendapatkan jawaban.
Mereka hanya tahu bahwa Jatayu telah membawa sebagian orang keluar. Sejak itu, mereka tidak melihatnya lagi.
Seorang di antara mereka kemudian bangkit setelah sempat terdorong beberapa langkah. Dia mengayunkan kembali pedangnya sambil berkata dengan suara yang dapat didengar oleh orang-orang di dekatnya.
“Kita selesaikan rencana ini. Dengan atau tanpa Jatayu.” Beberapa kepala menoleh kepadanya.
“Jatayu tidak mungkin meninggalkan kita,” lanjutnya. “Dia kawan kita sejak kecil. Kita tumbuh bersama. Kalau dia keluar, tentu ada alasan. Tugas kita tetap harus diselesaikan.”
Kata-kata itu seperti mengembalikan sesuatu yang sempat hilang. Satu demi satu mereka kembali merapatkan barisan.
Perlawanan pun bangkit. Bahkan menjadi lebih sengit.
Kelompok Jatayu ini, meski tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat disebut memiliki kemampuan yang jauh melampaui lawan-lawannya. Namun kemampuan mereka cukup merata. Mereka telah lama berlatih bersama, mengenal gerak kawan di sampingnya, dan sedikit banyak memahami gelar perang. Ketika seorang maju, yang lain tahu saat untuk menutup celah. Ketika dua orang mendesak dari depan, yang lain bergerak menyilang untuk memecah perhatian lawan.
Ki Demang Brumbung mulai kerepotan. Rangga Mataram ini tidak menyangka orang-orang yang sempat goyah itu dapat bangkit kembali dengan cepat. Beberapa kali dia harus mengubah arah langkah dan memotong gerak dua orang sekaligus agar mereka tidak menerobos ke bagian dalam barak.
Dalam waktu itu, perintah Agung Sedayu padanya cukup jelas dan sangat jelas: sebisa mungkin mereka ditangkap hidup-hidup.
Untuk itulah, Ki Demang Brumbung tidak dapat sembarangan mengerahkan kemampuan pribadi atau memberi perintah pada prajurit Mataram untuk lekas menghukum para penyerang.
Seumur hidupnya, ini adalah pengalaman menarik sekaligus membahayakan. Tidak dapat dibandingkan dengan saat pasukan khusus datang menumpas mkar Raden Atmandaru. Waktu itu, kabut dan hujan juga mempengaruhi gerak pasukan. Dan kelompok Jatayu ini sedikit berbeda dan salah satu sebab adalah perintah Agung Sedayu.
Karena itu Ki Demang Brumbung lebih banyak mematahkan serangan, menjatuhkan keseimbangan, lalu memaksa mereka bertahan. Dan ketika seorang penghubung mengatakan padanya bahwa Ki Sanggabaya sudah bergerak meninggalkan barak, secepat itu pula Ki Demang Brumbung mengubah siasat.
Melalui aba-aba khusus, Ki Demang Brumbung bersama sejumlah prajurit Mataram perlahan mengubah bentuk tekanan. Ki Demang Brumbung pun menjalankan rencana. Dia dan pasukannya terus memancing mereka bergerak.
Selangkah demi selangkah. Semakin dalam.
Semakin jauh mereka meninggalkan gerbang timur, semakin kecil kesempatan mereka untuk memanfaatkannya sebagai jalan meloloskan diri. Jika pertempuran berlangsung tepat di mulut gerbang, selalu ada kemungkinan seseorang menerobos keluar ketika perhatian terpecah.
Sementara orang-orang Jatayu yang kembali menyala justru mengira mereka berhasil mendesak masuk karena lawan terlihat kewalahan menahan tekanan.
Padahal Ki Demang Brumbung justru sedang membawa mereka menuju tempat yang telah dipilihnya: menjauh dari gerbang sebagai jalan keluar.
Di sisi utara, Ki Lurah Sora Sareh masih bertahan.
Lima orang yang dihadapinya memang bukan jumlah yang besar. Tetapi bagi Sora Sareh, jumlah itu sudah cukup membuatnya kewalahan. Sebagai pemimpin pasukan berkuda pasukan khusus, Ki Lurah Sora sareh adalah pengecualian dari seluruh pemimpin prajurit di barak. Empat puluh orang tidak akan begitu berarti baginya selama pertarungan dilakukannya di atas punggung kuda. Tetapi malam itu tidak ada satu ekor kuda pun di dalam barak. Seluruhnya tetap berada di dalam kandang di bagian belakang di samping dinding barat.
Ki Lurah Sora Sareh memang masih mampu bertahan tapi jumlah penyusup semakin bertambah saat Glagah Putih di sisi luar makin sibuk meladeni Ki Wirya.
Dari tempatnya, Ki Prana Aji memahami keadaan itu. Maka lurah prajurit ini pun meluncur deras ke gelanggang utara setelah menyerahkan pengawasan ruang tahanan dan sekitarnya pada Sabungsari yang telah menuntaskan kewajiban.
Maka ketika Ki Prana Aji memasuki gelanggang, Ki Lurah Sora Sareh mendapatkan ruang geraknya lagi setelah menyempit beberapa lama.
Sisi utara pun memiliki lapisan pertahanan yang baru. Sabungsari tetap berada di tempatnya.
Dari kedudukan itu, dia tidak hanya memperhatikan yang terjadi di dekat ruang tahanan dan ruang perawatan. Pandangannya sesekali menyapu halaman dan bagian-bagian barak yang masih dapat dijangkaunya.
Perhatian Sabungsari tertahan pada gerakan pasukan Ki Demang Brumbung.
Barisan itu semakin jauh masuk ke dalam.
Semula mereka masih tampak berada di sekitar gerbang timur, tetapi arus pertempuran telah membawa sebagian besar orang-orang semakin mendekati bagian dalam halaman. Sabungsari memperhatikan beberapa saat, mencoba memahami arah perkembangan pertempuran yang terus bergeser.
Namun dia tidak dapat berlama-lama memperhatikannya. Sabungsari menoleh ke barat.
Bagian dalam gerbang barat masih belum menjadi gelanggang di dalam halaman tapi pertempuran telah berlangsung di bagian luar. Suara benturan senjata dan teriakan banyak orang bahkan terdengar jelas sampai ke tempatnya berdiri.
Lurah prajurit Jati Anom ini lantas menangkap sesuatu: sekelompok orang yang bertempur di sana seperti bukan bagian dari kelompok pertama yang telah kalah. Pergerakan mereka sama cepat tapi tata geraknya berlainan. Dan itu terlihat sangat jelas oleh Sabungsari.
Sabungsari mengerti bahwa yang sekarang berjaga dan bertempur dengan kelompok baru itu adalah barisan pengawal Tanah Perdikan. Dia mengerutkan kening.
Mereka datang dari arah luar lalu melabrak orang-orang Menoreh yang berjaga di sekitar gerbang. Gerakan mereka tidak seperti orang-orang yang yang bertempur sebelumnya. Adakah dengan tujuan yang berbeda? Berasal dari kelompok yang berbeda? Atau kelompok berbeda dengan tujuan yang sama? Siapa mereka?
Sabungsari menggelengkan kepala sekali, dua kali.
Dia segera mengalihkan pandangan ke arah gelanggang di utara, kemudian kembali melihat barat. Untuk beberapa saat dia berdiri tanpa bergerak, seperti seseorang yang ditempatkan di tempat tinggi untuk membaca seluruh perubahan di sekelilingnya.
- Saat mendengar berita buruk itu, Agung Sedayu menyahut,“Tidak!” Tapi pengawal itu tidak berbohong. Kebakaran dan kerusuhan itu memang terjadi. Tapi Agung Sedayu dengan sedikit tidak percaya, dia tetep bergegas menuju Agung Sedayu Terperdaya 19.
- Karena tiba-tiba saja serangkum angin dahsyat menghantam dari belakang, tepat pada tengkuk Mas Karebet ketika terjadi badai topan Wedhus Gembel 3. Dan Agung Sedayu tidak mengetahui keadaan itu karena serangan itu terjadi di lereng Gunung Merbabu.
- Ketidaktahuan itu tetap tidak serta-merta menjadi alasan bagi senapati Mataram berpangkat tumenggung itu untuk mengabaikan Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh yang makin menyesakkan.
*** Mohon maaf ada sedikit pembenahan. Sekarang kisah sudah sesuai aslinya. Ngapunten.***
