Dironda 63 kali
Wedaran sebelumnya: Serangan terhadap barak pasukan khusus ternyata diikuti pergerakan lain di sekitar Dusun Benda. Ki Jayaraga yang memimpin para pengawal berhasil menutup jalur hingga sekelompok orang asing memilih mundur saat fajar tiba. Namun keadaan belum sepenuhnya reda.
Pada saat hari terang, tidak banyak orang yang melewati jalur tersebut. Bila ada seseorang atau rombongan kecil, maka tubuh pelintas kadang tampak di balik pepohonan, kadang-kadang seakan menghilang ketika jalur melandai turun. Tapi tetap dapat terpantau hingga berbelok di samping gumuk kecil yang terlindung pohon preh raksasa.
Orang itu agaknya tidak membutuhkan lebih dari itu.
Tidak banyak yang dia lakukan selain bermalam di tempat yang bukan sulit dijangkau tetapi sunyi dari lalu lalang orang. Lingkungan itu berada di sebelah barat Dusun Benda, tidak persis di samping hutan kecil tetapi masih berdekatan dengan tanah terbuka yang memanjang di sisi tanggul. Tempat itu sebenarnya bukan tempat yang tepat untuk dijadikan sebagai titik pengamatan.
Namun demikian, sebagian jalan yang menghubungkan Dusun Benda dengan jalur menuju Gunung Kunir masih dapat terlihat. Pada saat hari terang, hanya terlihat sedikit orang yang melewati jalur tersebut. Bila pun ada, itu pun seseorang atau rombongan kecil, maka tubuh pelintas kadang tampak di balik pepohonan, kadang-kadang seakan menghilang ketika jalur melandai turun. Tapi tetap dapat terpantau hingga berbelok di samping gumuk kecil yang terlindung pohon preh raksasa. Namun orang asing tersebut agaknya tidak membutuhkan lebih dari itu.
Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah simpang tiga kecil lalu mengambil jalan yang berbelok menjauhi dusun. Jalan itu semakin sempit dan akhirnya membawanya ke sebuah hutan kecil. Di sisi luar hutan, dia berhenti, mengikat kuda lalu berdiri diam seperti sedang menunggu atau akan melakukan sesuatu.
Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah simpang tiga kecil lalu mengambil jalan yang berbelok menjauhi dusun. Jalan itu semakin sempit dan akhirnya membawanya ke sebuah hutan kecil.
Dia berhenti, mengikat kuda kemudian berdiri diam seperti sedang menunggu atau akan melakukan sesuatu.
Malam pun tiba dan meminta semua orang untuk mengurangi kegiatan, termasuk pada lelaki tersebut. Dia memilih sebuah tempat di tepi hutan yang cukup terlindung oleh pepohonan untuk melewatkan malam. Kudanya ditambatkan tidak jauh darinya, sementara dirinya beristirahat sekadarnya hingga cahaya pagi mulai menyusup di antara dedaunan.
Ketika hari telah cukup terang, dia meninggalkan tempat itu beserta kudanya..
Melangkah tenang tapi tidak cukup pelan saat memasuki Dusun Benda. Dia mengambil jalan yang membawanya menuju pasar yang sejak pagi telah dipenuhi orang.
Tidak dibutuhkan waktu lama baginya untuk mendengar pembicaraan mengenai serangan terhadap barak pasukan khusus.
Beberapa orang membicarakan kerusakan yang ditimbulkan oleh pertempuran. Di tempat lain terdengar cerita mengenai para pengawal yang bertempur hingga menjelang pagi. Nama Agung Sedayu sesekali disebut, demikian pula kediaman Ki Gede Menoreh yang kabarnya sempat menjadi sasaran.
Lelaki itu mendengarkan sambil terus berjalan.
Namun semakin lama berada di pasar, justru keadaan lain yang menarik perhatiannya. Pikirnya, orang-orang memang membicarakan serangan itu, tetapi hampir tidak ada kecemasan pada wajah mereka. Pedagang tetap menawarkan barang dengan suara keras. Seorang perempuan menawar beberapa ikat sayuran sambil sesekali tertawa. Di bagian lain, dua orang berselisih mengenai harga seekor ayam, sedangkan seorang penjual makanan sibuk melayani pembeli yang berdiri mengelilinginya.
Dalam pengamatannya, segala yang terlihat tampak berjalan wajar. Tidak ada penjagaan atau pengamatan khusus. Semua orang tidak tampak berlebihan dalam kewaspadaan.
Orang ini lantas melambatkan langkah.
Barak pasukan khusus baru saja diserang. Kediaman pemimpin Tanah Perdikan pun tidak luput dari ancaman. Menurut perkiraannya, dua peristiwa itu setidaknya cukup untuk membuat orang-orang lebih berhati-hati keluar rumah. Namun demikian, kenyataan yang terlihat olehnya justru menyatakan keadaan yang berbeda.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri mengamati, di sisi lain dari pasar, terlihat sekelompok anak muda dan beberapa lelaki yang lebih dewasa berkumpul. Sebagian duduk di atas balok kayu, sedangkan lainnya berada di dalam gardu sambil menikmati makanan.
Lelaki pendatang itu mengamati sesaat dari pakaian dan sikap mereka. Untuk sementara dia berkesimpulan bahwa memang sulit mengetahui pekerjaan masing-masing orang. Mungkin mereka sedang mempunyai waktu senggang sebelum kembali bekerja. Mungkin pula satu atau dua di antaranya adalah pengawal Tanah Perdikan atau bahkan mempunyai hubungan dengan pasukan khusus. Dia berharap pada kemungkinan yang terakhir maka kakinya pun berayun mendekati orang-orang itu.
Dia berhenti di sebuah tempat yang cukup wajar bagi orang yang sedang menunggu atau sekadar melewatkan waktu di pasar. Jarak yang cukup untuk mendengar percakapan mereka.
“Kalau yang diserang hanya barak, aku masih dapat mengerti,” terdengar seorang lelaki berkata. “Tetapi mereka juga bergerak ke kediaman Ki Gede.”
Seorang anak muda yang duduk di atas balok kayu mengangguk. “Itu yang membuat orang-orang marah.”
“Yah, tapi kemarahan mereka tidak terlalu lama,” sahut yang lain. “Para tamu Ki Gede Menoreh terlampau hebat untuk dikalahkan. Aku dengar hanya seorang saja yang menebas habis kelompok orang yang menyerang itu. Hebat sekali.”
Beberapa orang mengangguk tapi sorot mata mereka menunjukkan kewaspadaan yang cukup.
“Repot juga jadinya Ki Tumenggung sekarang,” timpal seorang lelaki yang mungkin berusia empat puluhan akhir. “Barak sedang ditinggali sedikit orang tetapi pekerjaan justru makin bertambah banyak.”
“Benar, selain tahanan perang, Ki Tumenggung juga merawat pula orang-orang yang terluka,” kata seorang anak muda lalu menambahkan sambil menggerakkan kepala, “dan kita menpaat bagian mengubur yang tiada.”
Lelaki asing itu semakin memperhatikan mereka.
Percakapan terhenti sebentar ketika seorang pedagang melintas di antara mereka. Setelah orang itu menjauh, seorang anak muda berkata, “Menyerang barak berarti berurusan dengan pasukan Mataram. Tetapi datang ke rumah Ki Gede berarti mereka datang kepada Menoreh.”
Beberapa kepala mengangguk.
Yang agak berumur kemudian berkata, “Tapi apa bedanya menyerang barak dengan menyerang Menoreh? Ki Gede dan Ki Tumenggung tidak pernah membedakan dua itu.”
“Ya, ya, benar, benar. Menyerang Menoreh sama juga melukai Mataram dan sebaliknya,” kata lelaki berperawakan tegap.
Tidak ada suara keras. Tidak ada pula nada kemarahan atau kagum di antara mereka. Orang-orang ini bertukar kata hampir seperti sedang membicarakan batas ladang yang harus dijaga agar tidak diterobos ternak.
Namun keadaan itulah yang membuat lelaki asing tersebut semakin sulit memahami orang-orang di sekitarnya. Dia berpikir sejenak, mereka mengetahui barak telah ditembus. Mereka sadar Ki Gede dalam ancaman, tetapi yang didengarnya bukan percakapan orang-orang yang merasa terancam.
Lelaki itu menundukkan wajah sejenak. Benaknya bekerja keras; ada sesuatu yang belum dipahaminya tentang Tanah Perdikan Menoreh. Wilayah dan tanah mungkin sudah mempunyai batas-batas dalam otaknya, tapi kehidupan mereka?
Pagi telah berkembang terang di atas barak pasukan khusus.
Langit bersih dan cahaya matahari hampir tanpa penghalang saat menyentuh permukaan halaman dan lapangan yang sempat menjadi gelanggang pertempuran. Kesibukan telah kembali terlihat sejak pagi, meskipun bekas-bekas pertempuran belum seluruhnya dapat disingkirkan.
Beberapa bagian pagar masih tampak rusak. Tanah di sejumlah tempat menyisakan bekas injakan yang dalam dan tidak beraturan, sementara pada salah satu sisi bangunan terlihat bagian yang sedang diperbaiki. Beberapa prajurit dari Jati Anom dan barak sendiri terlihat sibuk mengangkut kayu dan membersihkan sisa kerusakan. Pengawal lainnya telah kembali menjalankan tugas sebagaimana hari-hari biasa.
Di salah satu ruangan, Ki Tumenggung Agung Sedayu duduk melingkar di atas tikar pandan bersama Ki Rangga Sanggabaya, Ki Lurah Prana Aji, dan Ki Lurah Sora Sareh.
Tidak ada hidangan selain minuman yang diletakkan di tengah lingkaran. Sejak beberapa saat sebelumnya, pembicaraan mereka bergerak dari satu bagian peristiwa ke bagian lainnya. Mereka tidak membahas gerbang barat yang hampir jebol seluruhnya atau pintu timur yang terbuka lebar, tapi menimbang seluruh kemungkinan yang menjadi sebab maupun akibat dari serangan fjar tersebut.
Glagah Putih tidak tampak bersama mereka. Luka-lukanya membuatnya masih harus berada di bilik rawat, meskipun keadaannya telah jauh lebih baik dibandingkan ketika pertempuran berakhir.
Sabungsari juga tidak terlihat di ruangan itu.
Sejak pagi dia lebih banyak berada di luar, tidak jauh dari ruang tahanan. Beberapa orang yang tertangkap dalam pertempuran masih ditempatkan di sana dengan penjagaan yang lebih rapat daripada biasanya.
Ki Tumenggung Agung Sedayu mengangkat wajah. Pandangannya beralih dari Ki Rangga Sanggabaya kepada dua lurah yang duduk di hadapannya. Sesaat kemudian pandangannya kembali beralih kepada Ki Sanggabaya.
“Bagaimana keadaan Ki Jayaraga, Ki Rangga?”
“Ki Jayaraga dalam keadaan baik, Ki Tumenggung,” jawab Ki Sanggabaya. “Beliau meminta izin untuk tetap bertahan di Dusun Benda.”
Agung Sedayu mengangguk karena memahami bahwa permintaan itu memberi arti harus ada dua orang pada jalur perantara. Sukra atau Sayoga dapat menjalankan tugas itu secara bergantian sesuai dengan keadaan.
“Apakah Ki Jayaraga mengatakan sebabnya sehingga memandang perlu untuk tetap berada di sana?” tanya Agung Sedayu.
“Saya, Ki Tumenggung,” jawab Ki Sanggabaya. Kemudian dia menjelaskan bahwa ada sekelompok orang yang diduga berkemah di sebelah barat Dusun Benda. Tempatnya cukup jauh dari jalur yang menghubungkan Dusun Benda dengan Gunung Kunir.
Ki Sanggabaya juga menambahkan beberapa keterangan yang diberikan oleh Ki Jayaraga dan bebahu Dusun Benda.
- Sedangkan beberapa waktu sebelumnya, Agung Sedayu berkelebat lebih cepat dari sebelumnya, ia memburu wujud asli Ki Prayoga yang tidak berhenti bergerak bertukar tempat dengan dua wujud semunya saat pertarungan Jati Anom Obong 19.
- Tepian Kali Progo saat itu benar-benar rusuh meski tak sepanjang Kerusuhan di Bukit Menoreh.
- Usai perang tanding Kali Progo, di Membidik 14, Agung Sedayu belum berhenti membuat kejutan. kali ini dengan rencana yang di luar nalar!
