Dironda 77 kali
Wedaran sebelumnya: Agung Sedayu menerima laporan dari Ki Sanggabaya bahwa Ki Jayaraga memilih tetap bertahan di Dusun Benda. Keputusan itu berkaitan dengan keberadaan sekelompok orang asing yang diduga berkemah di sebelah barat dusun.
Matahari bergulir semakin tinggi ketika pembicaraan beralih pada Ki Lurah Prana Aji. Lurah Mataram ini melaporkan keadaan di sekitar Dusun Separang serta wilayah lereng timur dan utara Gunung Kunir. Beberapa jalur yang dapat digunakan untuk keluar masuk wilayah tersebut telah diperiksa, termasuk jalan-jalan kecil yang tidak banyak dilalui orang.
Setelah Ki Lurah Prana Aji menyelesaikan keterangannya, giliran Ki Lurah Sora Sareh menyampaikan laporan. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada keadaan di sekitar Gunung Kendil, Dusun Ringinlarik, dan Pedukuhan Pringtali.
Dua hari setelah serangan terhadap barak, pasukan khusus memang melakukan perondaan dengan ketat dan cepat. Pengawasan tidak hanya dilakukan pada jalan-jalan utama, tetapi juga pada jalur yang menghubungkan pedukuhan dan dusun di sekitar Tanah Perdikan.
Dalam pekerjaan itu, para prajurit pasukan khusus mendapat bantuan dari para pengawal Tanah Perdikan serta sejumlah prajurit dari Jati Anom. Beberapa cantrik dari Perguruan Orang Bercambuk ikut pula bergerak bersama mereka sehingga wilayah yang harus diawasi dapat dijangkau dalam waktu yang lebih singkat.
Pada selang dua hari itu pula, Agung Sedayu menyempatkan diri mengunjungi Ki Gede Menoreh.
“Ini bukan pertama kalinya orang-orang yang datang dari luar Tanah Perdikan mencoba mengusik Menoreh, Ki Gede,” berkata Agung Sedayu ketika pembicaraan mulai mengarah lebih mendalam.
Ki Gede Menoreh mengangguk.
“Beberapa bulan yang telah lewat, pasar pedukuhan induk berubah menjadi tempat yang tidak aman. Gunung Kendil tidak lagi tenang,” kata Ki Gede. “Semuanya memang telah berlalu dan kita sudah menapak lagi dengan aman sekarang.”
“Tapi saya belum sepenuhnya dapat menikmati seperti kebanyakan orang-orang,” sahut Agung Sedayu dengan sedikit senyum mengembang.
Sesaat dia menarik napas lalu meneruskan, “Kediaman Ki Gede pernah di bawah ancaman.”
Agung Sedayu berhenti sejenak. Sebenarnya dia tidak sedang berusaha menyamakan dua peristiwa yang terpisah oleh waktu itu. Namun serangan terhadap barak, disusul gerakan sekelompok orang menuju kediaman Ki Gede, membuatnya sulit mengabaikan persamaan yang muncul di antara keduanya.
“Waktu itu kita menyebut mereka pendatang,” lanjut Agung Sedayu. “Orang-orang yang tidak mempunyai persoalan terbuka dengan Tanah Perdikan, tetapi tiba-tiba membuat kerusuhan di dalamnya. Lebih sulit lagi ternyata mereka menantang Mataram.”
Ki Gede Menoreh mengangguk perlahan. “Rumah Angger pun mengalami hal yang hampir serupa.”
Agung Sedayu mengangkat wajah.
“Mereka menghancurkan rumahmu, mengancam nyawa Sekar Mirah,” kata Ki Gede lalu menarik napas dalam-dalam. “Setelah itu? Kita tidak pernah tahu yang bakal terjadi kemudian.”
Hanya hela napas panjang yang menjadi tanggapan Agung Sedayu.
Keduanya sama-sama hening untuk beberapa waktu. Kenangan mereka untuk waktu yang tidak begitu lama adalah datangnya Ki Kebo Surongudan, lalu berturut-turut orang-orang dari sejumlah perguruan. Meskipun yang datang belakangan tidak atau belum memperlihatkan gangguan kenyamanan, tapi dua pemuka Tanah Perdikan Menoreh tersebut tidak dapat mengabaikan seperti hembus angin lalu.
Benturan di permukiman usang merupakan pelajaran penting meski belum sampai meluas atau jatuh korban.
Teringat beberapa hari sebelum serangan ke barak, Ki Gede Menoreh lantas mengatakan bahwa para bebahu Dusun Separang meluangkan waktu untuk berbicara dengannya.
“Para pendatang itu mendirikan perkemahan atau permukiman sementara di sekitar Gunung Kunir, kata bebahu pada saya. Mereka juga menerangkan para pendatang itu kemudian berpencaran dalam kelompok-kelompok kecil lalu membuka lahan,” kata Ki Gede. “Memang tidak tetapi mereka tidak memanfaatkan tanah terbuka yang masih dapat dipergunakan. Mereka justru membuka sebagian hutan.”
Agung Sedayu mendengarkan tanpa menyela.
“Menurut keterangan para bebahu,” lanjut Ki Gede, “pembukaan lahan itu pun belum dapat disebut sebagai persoalan. Bagian hutan yang dibuka masih sedikit. Kebutuhan mereka terhadap air juga belum mengganggu penduduk di sekitarnya. Belum ada keluhan mengenai tempat mengambil air atau kebutuhan lain yang biasanya mudah menimbulkan persoalan antara orang-orang yang baru datang dengan penduduk yang telah lama menetap.”
“Tetapi beberapa perempuan mulai merasa tidak nyaman turun ke sungai apabila hari mulai gelap,” lanjut Ki Gede.
Wajah Agung Sedayu sedikit berubah. Rahangnya mengeras.
“Sejauh ini memang belum ada gangguan atau apa saja yang mengarah ke sana,” ucap Ki Gede meneruskan keterangannya. “Setidaknya belum pernah ada laporan mengenai seseorang yang diganggu. Hanya saja mereka merasa tidak lagi leluasa seperti sebelumnya.”
Para bebahu, menurut Ki Gede, berada dalam keadaan yang tidak mudah. Mereka mengetahui kegelisahan itu dan beberapa kali telah mengamati keadaan di sekitar tempat orang-orang tersebut tinggal. Namun tidak banyak yang dapat dilakukan. Tidak ada perselisihan, tidak ada orang yang dapat dicurigai telah melakukan pelanggaran, sementara membuka sedikit lahan dan mengambil air untuk kebutuhan hidup bukan alasan yang cukup untuk mengusir seseorang dari wilayah itu.
“Tapi, sampai kapan keadaan itu berlangsung?” tanya Agung Sedayu pelan dan nada suaranya itu seakan ditujukan pada dirinya sendiri.
Ki Gede juga menambahkan bahwa Kepala Dusun Separang pernah berniat mendatangi mereka. Bukan untuk meminta mereka pergi, tapi hendak menanyakan sesuatu termasuk izin Tanah Perdikan.
“Dia berulang kali menunda niat itu,” kata Ki Gede.
Kening Agung Sedayu berkerut. “Tentu ada penghalang yang bisa jadi arahnya bukan kekerasan atau jerih. Saya kira ada hal lain yang agak berbeda.”
Ki Gede mengangguk, katanya, “Memang ada sedikit segan.”
Agung Sedayu memandangnya dengan penuh perhatian.
Menurut keterangan yang diterima Ki Gede, beberapa kali terlihat orang-orang lain keluar masuk tempat tinggal sementara itu. Tidak terlalu sering tapi cukup menarik perhatian sehingga kerap diketahui oleh mereka yang setiap hari berada di sekitar Gunung Kunir. Orang-orang tersebut bukan penduduk dusun terdekat. Para bebahu juga merasa cukup mengenal orang-orang Menoreh sehingga dapat mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka bukan berasal dari Tanah Perdikan.
Mereka datang, berada di tempat itu untuk beberapa waktu, kemudian pergi lagi.
Tidak seorang pun dapat memberikan keterangan yang benar-benar jelas mengenai orang-orang tersebut. Ada yang mengatakan mereka pedagang atau orang-orang yang mempunyai kepentingan dengan para pendatang. Namun pernah pula terdengar keterangan yang membuat kepala dusun itu memilih untuk tidak tergesa-gesa mendatangi tempat tersebut.
“Katanya ada yang berasal dari kalangan istana Kotaraja,” lanjut Ki Gede.
Agung Sedayu merapatkan silang jari-jarinya
“Saya tidak dapat menambahkan atau mengurangi keterangan bebahu dusun. Mereka pun hanya menyampaikan yang didengar dan terlihat. Apalagi yang katanya orang dari Keraton, saya pikir mereka sudah cukup berhati-hati dengan tidak gegabah mendatangi perkemahan. Ki Martayuda tentu tidak ingin tindakannya terhadap para pendatang justru menyentuh urusan yang berada di luar kewenangannya,’ kata Ki Gede sedikit panjang.
“Orang dari Keraton,’ ucap Agung Sedayu lalu menarik napas panjang. “Sudah barang tentu seharusnya dia ke tempat Ki Gede. Entah berbasa-basi atau sekadar bertukar kata walau tidak penting.”
Dengan sedikit merendahkan suara, Agung Sedayu mengatakan beberapa hal pada Ki Gede Menoreh.
- Tiba-tiba tubuhku berputar, melesat maju dan sepasang tanganku bergerak, menyambitkan sujen-sujen pada orang yang menyerangku di Bulan Telanjang 20. Untuk sementara, aku selamat sebelum lari kepadamu, mendekat pada batang lehermu.
- Dan saat itu Sayoga mengerti maksud lawannya, Ki Sarjuma ingin membunuhnya perlahan di Jati Anom Obong 28.
- Setelah Kerusuhan Besar ini, dapatkah selanjutnya kita bergerak menuju Bab 10?
