0%
Still working...

Toh Kuning – Konflik Kerajaan Kediri Makin Runcing, Akhir Periode? (Kilas Kisah Pengepungan 2)

Dironda 23 kali

Malam di Tumapel membawa Toh Kuning dan pasukan khusus Selakurung pada sebuah penyelesaian yang tidak serta-merta menutup persoalan. Kata-kata yang didengarnya di tengah kerasnya pertempuran justru meninggalkan sesuatu dalam pikirannya. Ketika pasukan khusus meninggalkan Tumapel, Toh Kuning mungkin telah menuntaskan tugasnya sebagai prajurit, tetapi tidak semua yang terjadi dapat ditinggalkan begitu saja.

Hari-hari kemudian berjalan seperti biasa. Toh Kuning kembali ke Selakurung, sedangkan Ken Arok tetap menempuh jalannya di Tumapel. Jarak memisahkan keduanya, tetapi masa lalu telah mengikat mereka terlalu kuat untuk benar-benar saling mengabaikan. Mereka pernah berjalan bersama, menghadapi bahaya bersama, bahkan menyimpan impian yang pernah terasa begitu dekat.

Hingga seorang utusan dari Kotaraja datang membawa pesan Sri Baginda Kertajaya, dan ketenangan barak pun berakhir.

Para perwira segera dikumpulkan. Perintah mulai disusun dan sebuah nama tempat disebut di tengah pembicaraan yang semakin tegang: Ganter. Anehnya, ketika kekuatan Kediri mulai dipersiapkan menghadapi yang mungkin terjadi di sana, Toh Kuning justru menerima perintah yang tidak diduga oleh sebagian besar perwira.

gerbang demak 3

  • “Lambemu! Jancuk!” umpat anak buah Ki Sor Dondong itu. Suasana riuh dan caci maki memenuhi padang Karang Dawa di Geger Alas Krapyak 26.
  • Ada orang yan gmengumpat, tetapi ada pula yang penuh penghormatan pada orang lain seperti Adipati Hadiwijaya kepada Arya Penangsang di Gerbang Demak pintu 3.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.