0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 82 – Barak, Ancaman Belum Berakhir!

Dironda 260 kali

Wedaran sebelumnya: Kegelisahan Ki Bekel Dusun Separang dan perempuan Dusun Benda akhirnya tiba di depan Agung Sedayu dan Ki Gede Menoreh.

Agak lama kemudian terdengar desir langkah mendekat, ternyata Pandan Wangi yang segera menggabungkan diri di pringgitan.

Keadaannya telah jauh lebih baik meskipun luka di pundaknya membuat beberapa gerak tubuhnya belum seluwes biasanya. Dia mengambil tempat tidak terlalu jauh dari Ki Gede Menoreh. Saat memandang Agung Sedayu, mereka bertukar pandang lalu mengangguk.

Pandan Wangi dapat merasakan suasana sedikit berubah dengan kedatangannya. Tapi dia tidak ingin bertanya atau mengatakan sesuatu sebelum mempelajari sebagian persoalan yang belum diketahuinya. Dalam keadaan seperti sekarang, Pandan Wangi sadar bahwa suasana tenang Tanah Perdikan bukan pantulan dari keadaan sebenarnya.

Beberapa saat berlalu.

Dari arah gandok kiwo, ada lagi langkah mendekat. Kinasih muncul lalu berhenti sesaat di ambang sebelum melangkah masuk seperti sedang menunggu seseorang. Oh, di belakangnya itu adalah Nyi Banyak Patra yang berjalan sebagaimana wajar orang berusia senja—tenang tanpa kesan tergesa-gesa dari raut wajahnya.

Agung Sedayu mengangkat wajah.

Kinasih bergeser memberikan jalan ketika perempuan tua itu memasuki pringgitan. Nyi Banyak Patra melangkah beberapa tapak, kemudian mengambil tempat yang membuat orang-orang di ruangan itu tidak perlu mengubah kedudukan mereka. Kinasih duduk tidak jauh darinya.

Untuk beberapa saat pringgitan kembali dipenuhi keheningan.

Pandan Wangi sempat memandang Kinasih, kemudian beralih kepada Nyi Banyak Patra. Sementara guru Kinasih itu nyaris memiliki ketenangan yang sulit diguncang oleh keadaan yang sangat berat. Bahkan sorot matanya pun tidak membayangkan bahaya yang sebelumnya datang dari regol kediaman Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu masih berada di tempatnya. Ki Gede Menoreh pun belum mengubah sikap duduknya. Hanya arah pandangan mereka yang sesekali berpindah seperti sedang memberi kesempatan kepada keadaan untuk menemukan menyampaikan sesuatu.

Nyi Banyak Patra akhirnya mengangkat wajah, menatao Ki Gede Menoreh bergantian dengan Agung Sedayu.

“Keadaan di barak sudah jauh lebih baik saat saya meninggalkan mereka,” katanya. “Orang-orang yang terluka telah mendapat perawatan sebagaimana seharusnya.”

Dia berhenti sejenak,lalu memandang Sedayu sedikit lama. Katanya kemudian, “Beberapa prajurit Mataram masih harus berbaring. Ada pula pengawal Tanah Perdikan dan orang-orang Jati Anom yang belum dapat meninggalkan tempat perawatan. Tapi keseluruhan, mereka tidak dalam keadaan mengkhawatirkan.”

Nyi Banyak Patra meneruskan keterangannya dengan nada yang tetap datar. Beberapa orang dari pihak penyerang mengalami luka cukup berat sehingga belum mungkin ditempatkan bersama para tahanan lainnya. Mereka masih berada di tempat perawatan dengan pengawasan para prajurit. Sedangkan mereka yang keadaannya memungkinkan telah dipindahkan ke ruang tahanan.

Ki Gede Menoreh menarik napas perlahan. Dia lantas memandang pula Agung Sedayu sambil berkata, “Saya kira, Ngger, yang parah tetap dirawat. Yang membutuhkan obat tetap diberi obat. Bahkan orang-orang yang belum tentu dapat memberikan keterangan juga diperlakukan dengan cara yang sama.”

Sorot mata Nyi Banyak Patra beralih kepada Agung Sedayu.

“Barak Angger sedang kekurangan orang. Itu bukan keadaan biasa. Tapi aku tidak dapat lebih lama lagi di Tanah Perdikan. Namun begitu, aku akan pergi sendiri dan Kinasih tetap di sini karena mungkin dirinya dapat meringankan Angger Pandan Wangi meski sedikit saja.”

Semua orang mengangguk lalu menunduk.

Ada perubahan pada wajah Nyi Banyak Patra. Sorot matanya menjadi lebih tajam ketika menatap lurus Agung Sedayu. Agak lama perempuan tua itu berdiam diri. Sesuatu agaknya sedang dipikirkannya.

“Ki Tumenggung,” katanya kemudian, “harap menyusul saya setelah keadaan barak dapat diwakilkan.”

“Saya, Nyi.”

Nyi Banyak Patra mengangguk. Pandan Wangi mengubah sikap duduknya. Memandang Kinasih lebih lama dan lebih tajam.

Kinasih seakan tahu lalu berpaling sambil memberi isyarat tangan seolah mengatakan, apakah perempuan tangguh itu ada keperluan atau sesuatu pada Nyi Banyak Patra?

Kinasih kemudian menyentuh punggung tangan gurunya. Nyi Banyak Patra menoleh sedikit kepadanya lalu mengangguk.

Pandan Wangi segera mengetahui bahwa Nyi Banyak Patra tidak lagi mempunyai sesuatu yang hendak disampaikan. Dia menarik napas perlahan.

“Sehari atau dua hari setelah serangan ke barak, beberapa perempuan datang mencari Ayah,” katanya.

Ki Gede Menoreh menatap Pandan Wangi.

“Dua orang di antara mereka adalah istri bebahu Dusun Benda. Waktu itu Ayah sedang melawat ke beberapa pedukuhan sehingga saya yang menerima mereka.”

Pandan Wangi berhenti sejenak sebelum meneruskan.

“Mereka sebenarnya tidak membawa laporan mengenai sesuatu atau ada ketidakbersan. Tidak ada orang yang diganggu atau mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Mereka hanya menyampaikan bahwa beberapa perempuan di Dusun Benda mulai merasa tidak nyaman.”

Agung Sedayu mengerutkan kening ketika mendengar kalimat terakhir Pandan Wangi lalu sedikit mengangkat kepala.

“Terutama mereka yang biasa pergi ke sungai atau berada di luar rumah menjelang gelap,” lanjut Pandan Wangi. “Menurut mereka, sejak beberapa waktu terakhir ada orang-orang yang tidak mereka kenal terlihat di sekitar dusun. Kadang hanya seorang, kadang dua atau tiga orang. Mereka tidak melakukan sesuatu yang dapat dipersoalkan, tapi kehadiran mereka mulai diperhatikan.”

Pandan Wangi kemudian menambahkan, “Para perempuan itu datang karena mereka tidak tahu apakah keadaan tersebut cukup penting untuk disampaikan kepada bebahu. Dua istri bebahu yang bersama mereka akhirnya memilih membawa persoalan itu langsung kemari.”

Ki Gede bertukar pandang dengan Agung Sedayu—seperti sedang memikirkan keadaan yang sama.

Pengawal Dusun Benda tidak pernah meninggalkan tugas mereka. Demikian pula para prajurit Mataram yang berada di bawah pimpinan Agung Sedayu. Mereka tetap meronda dan berjaga. Sekali waktu bahkan memeriksa jalan-jalan yang menghubungkan ke dusun-dusun di sekitarnya hingga lereng Gunung Kunir.

Namun keterangan Pandan Wangi mengenai keadaan yang dialami beberapa perempuan di Dusun Benda membuat suasana pembicaraan menjadi tidak biasa.

Agung Sedayu menarik napas perlahan. Keterangan Pandan Wangi segera dihubungkannya dengan laporan yang disampaikan Ki Sanggabaya. Beberapa orang yang tidak dikenal memang telah terlihat di sekitar Dusun Benda. Memang benar sampai sejauh ini belum ada alasan untuk menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang perlu dicemaskan. Orang datang dan pergi melalui jalan-jalan di Tanah Perdikan bukanlah hal yang luar biasa.

Tetapi kini keterangan itu datang dari arah yang berbeda.

“Apakah mereka dapat mengenali orang-orang itu jika melihatnya kembali?” tanya Agung Sedayu.

Pandan Wangi menggeleng perlahan. “Saya tidak bertanya sejauh itu, Kakang. Tetapi menurut mereka, orang-orang itu tidak selalu sama.”

Kening Agung Sedayu berkerut semakin dalam.

Ki Gede kemudian berkata, “Kalau mereka hanya melintas, barangkali tidak seorang pun akan mengingatnya.”

“Ya, Ki Gede,” sahut Agung Sedayu. “Tetapi kalau kehadiran mereka sampai dirasakan oleh perempuan-perempuan yang setiap hari pergi ke sungai, berarti mereka cukup sering terlihat.”

Agung Sedayu segera menduga keterangan Ki Jayaraga yang diteruskan padanya melalui Ki Sanggabaya. Bahwa orang-orang yang terlihat di sekitar Dusun Benda tidak datang dari tempat yang terlalu jauh. Bahkan menurut pengamatan Ki Jayaraga, mereka mungkin mempunyai tempat untuk bermalam di sekitar aliran sungai, terutama di sebelah barat dusun.

Letak perkemahan dan waktu yang cukup karena belum dapat dikatakan lama yang mengusik pikiran Agung Sedayu. Bukan karena orang-orang asing itu telah berbuat sesuatu, tapi keberadaan mereka di sekitar Dusun Benda mulai menimbulkan kegelisahan. Hanya saja, jika hanya keberadaan maka sudah barang tentu belum cukup menjadi alasan kepada pengawal ataupun prajurit untuk menghentikan atau mengusir mereka.

Nyi Banyak Patra agaknya memandang dirinya sudah tidak sepatutnya duduk lebih lama di pringgitan. Beberapa persoalan telah datang ke Menoreh dan sebagian di antaranya membutuhkan keputusan yang tidak perlu melibatkan dirinya. Jika dia kembali ke biliknya, Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu akan lebih leluasa membicarakan apa saja yang dianggap perlu.

“Ki Gede,” kata lirih Nyi Banyak Patra, “sepertinya saya memang tidak dapat duduk lebih lama dengan yang lebih muda. Biarlah saya ditemani Kinasih berbenah diri untuk keberangkatan besok pagi-pagi”

Perempuan tua itu pun bangkit. Kinasih segera mengikutinya. Masih ada beberapa keperluan yang harus mereka bereskan karena pagi-pagi Nyi Banyak Patra akan kembali ke kotaraja.

Ki Gede menangguk disertai sikap yang sepantasnya untuk Nyi Banyak Patra, demikian puala Pandan Wangi yang mengikuti ayahnya.

Sementara Agung Sedayu menawarkan orang untuk mengiringi perjalanan itu.

“Saya kira Ki Lurah Prana Aji bisa mengiringi Nyi Ageng hingga Kepatihan seorang diri,” kata Agung Sedayu.

“Barak belum dapat ditinggal oleh banyak orang. Ki Demang Brumbung bila belum kembali dari Kotaraja, tentu barak semakin kekurangan orang,” ucap Nyi Banyak Patra Nyi Banyak Patra sambil memandang Agung Sedayu, tetapi akhirnya mengangguk.

Setelah saudari Panembahan Senapati itu meninggalkan pringgitan bersama Kinasih, perhatian Agung Sedayu kembali kepada persoalan yang sudah memenuhi pikirannya. Ada beberapa hal yang harus segera dilakukan. Beberapa di antaranya perlu dibicarakannya dengan Ki Sanggabaya pada esok hari seperti biasanya.

Dalam dua hari yang berselang sejak serangan terhadap barak pasukan khusus, Ki Winih Jambe dan orang-orangnya juga tidak tinggal diam.

Ki Dawar Blandong telah kembali ke perkemahan menjelang pagi bersama orang-orang yang dibawanya. Ki Winih Jambe mendengarkan seluruh keterangannya, termasuk yang terjadi di gerbang barat hingga kemunculan seseorang yang bertelekan pada tongkat.

“Bahkan Kakang Ki Dawar Blandong sempat berseru keras-keras, apakah hanya seperti itu kemampuan pasukan khusus Mataram,” sela salah seorang pengikutnya.

Beberapa orang tertawa kecil.

Ki Winih Jambe memandang anak muridnya itu dengan tatapan dingin. Perhatiannya seakan terhisap pada orang tua bertongkat yang disebut Ki Dawar Blandong. Pikirnya, orang itu tidak ikut bertempur, tetapi setiap perintah darinya seakan menjadi pemecah kebuntuan barisan pengawal. Kehadirannya telah membuat keadaan di sekitar gerbang berubah dengan cepat.

Ki Winih Jambe tidak ingin mengabaikan hal tersebut. Lantas dia bertanya pada Ki Dawar Blandong, “Apakah orang itu terlihat seperti pemimpin prajurit atau justru senapati wreda?”

Ki Dawar Blandong menggeleng, jawabnya, “Saya tidak dapat memastikan. Hanya saja, perintahnya memang tidak segera dipatuhi orang-orang. Orang itu berkata pada seseorang yang lain, yang mungkin usianya tidak jauh dengan saya, lalu ada pengawal yang memintanya untuk melakukan ucapan orang tua itu. Demikian itu hampir berulang tiga atau empat kali.”

“Ya, ya, saya sempat mendengar jika Agung Sedayu sudah percaya padanya, maka pengawal pun tidak ada alasan untuk menolak,” sahut seorang pengikut Ki Winih Jambe.

  • Kerusuhan, sampai kapankah itu melanda Tanah Perdikan Menoreh?
  • Sementara kehebatan Agung Sedayu memainkan cambuk telah membuat Ki Tunggul Pitu menderita di Jati Anom Obong 67 ketika Agung Sedayu menjadikan tangkai cambuk sebagai ujung yang dilecutkan!
  • Bukan Dyah Murti Hansa Gurunwangi, tetapi sebuah kekuatan rahasia, kekuatan asing yang sulit diungkapkan dengan kata-kata atau dituliskan di Nir Wuk Tanpa Jalu 11.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.