Padepokan Witasem
Bab 4 Kiai Plered

Kiai Plered 18 – Pedukuhan Janti

“Berhenti!” perintah kepala jaga. “Apa keperluan kalian?”

“Kami ingin bertemu Ki Rangga.”

“Sebut nama dan asal dusun kalian?”

“Apa untungnya buat kalian bertanya seperti itu pada kami?” Sukro bertanya balik.

“Bagus. Pertanyaan yang bagus untuk mengalihkan perhatian. Hey, kalian. Bila bukan pesuruh Raden Atmandaru untuk menyusup malam-malam begini, apakah kalian akan mengaku sebagai utusan Ki Patih Mandraka?”

“Oh, orang-orang dusun memang tak pernah tahu susila. Pantas saja kademangan kalian selalu berhasil membuat penduduknya seperti pembajak sawah,” geram Sukro membalas lontaran kata para peronda.

Tidak adanya waktu untuk mengambil masa istirahat menjadikan para peronda seperti kehilangan akal sehat. Begitu pula Sukro yang telah memendam gusar sejak Tanah Perdikan dibakar. Ditambah suasana yang semakin memanas dan tegang di tiga wilayah yang sebenarnya mendapat tempat di hatinya. Keadaan semakin tidak terkendali ketika seorang peronda menantang Sukro untuk berkelahi. Sayoga berusaha menarik lengan Sukro agar tidak melayani anak muda Sangkal Putung, tetapi Sukro telah merendahkan tubuh.

Sayoga menggeleng-gelengkan kepala lalu mengangkat dua tangannya ke arah para peronda sambil bersuara, “Tahan diri kalian! Sukro, cukup, cukup!”

“Katakan pada kawanmu itu, Sangkal Putung bukan tempat tinggal orang-orang yang kasar dan berbudi rendah.”

“Benar. Bila kawanmu memang benar mengenal Ki Rangga, lalu mengapa ia berlaku sombong? Apakah kawanmu itu sudah melebihi Ki Rangga?”

“Diam, kataku, diam! Mari berkelahi! Kita selesaikan ini setelah seorang dari kami kalah!” tukas Sukro dengan mata berkilat-kilat.

Seoarng anak muda pun tertantang. Ia melangkah tegap, menyibak kerumunan kawan-kawannya yang lebih tua. ”Cukup, cukup! Sudah cukup engkau menghamburkan air liur di depan rumah Ki Demang. Sekarang, majulah!” berkata anak muda dengan cukup tenang.

Sejenak kemudian Sukro telah berhadap-hadapan dengan anak muda pemberani itu. Mereka bergeser setapak demi setepak ke samping. Mencoba mencari kelengahan masing-masing. Selangkah, dua, tiga hingga delapan atau sembilan langkah mereka berputar-putar seperti sedang mengukur kepandaian masing-masing. Dua pasang mata saling beradu pandang. Dua pasang lengan masih menggantung di sisi tubuh mereka. Dua pasang kaki masih melangkah memutar, keduanya seperti sepakat untuk membuat lingkaran.

Ketegangan makin memuncak sementara Sukro dan anak muda itu sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang.

Dalam waktu itu, lawan Sukro mencoba mengganggu ketenangan Sukro dengan gerakan-gerakan yang sekedar pancingan. Namun Sukro telah berpengalaman. Sebagai seorang pengawal Tanah Perdikan, maka pancingan-pancingan itu membuatnya bergeming. Meski demikian, Sukro mengakui dalam hatinya bahwa anak muda yang menjadi lawannya ternyata mampu menunjukkan kekuatan jiwani yang tangguh.

Setelah usahanya tidak membuahkan hasil, diam-diam anak muda itu berkata dalam hatinya, “Gila! Lalu aku harus menyerangnya dari sisi mana? Sepertinya penyusup itu sangat kuat menerima pukulanku. Dan bisa jadi kepalanku seperti membentur batu hitam. Bagaimana tadi aku tiba-tiba menantangnya berkelahi? Jika aku mundur sekarang, tentu malu akan menjadi pakaianku di Sangkal Putung. Menyerah? Seharusnya begitu tapi apa alasanku? Berkelahi pun aku belum pernah sebelum sekarang ini!” Diumpatnya dirinya sendiri yang semula yakin dapat meredakan ketegangan. Selanjutnya, anak muda itu berharap keajaiban datang menolongnya.

Dharmana cekatan menuruni tangga pendapa dan segera melerai perselisihan itu. Ia tersenyum kemudian berkata, “Orang yang baru datang itu adalah Sukro. Ia telah berada di rumah Ki Rangga sejak Ki Rangga bermukim di Menoreh. Sedangkan temannya, maaf, aku belum mengenalnya.” Dharmana lantas berpaling pada Sayoga, lantas berucap kata, “Ki Sanak, sediakah sebut nama?”

“Sayoga, Paman.”

“Nah, sekarang telah benderang bagi kita semua. Kita dan mereka bukan musuh dalam selimut. Hanya saja, aku ingin tertawa. Geli melihat Sarwana ingin beradu kuat dengan Sukro. Bagaimana mungkin? Hey, Sarwana. Perlu engkau tahu bahwa Sukro adalah pengawal Tanah Perdikan. Bila tidak ada halangan, tahun depan ia akan mengikuti pendadaran pasukan khusus.”

“Saya bermaksud mengurai ketegangan, Paman. Tetapi, terlanjur menguak kerumunan dan ternyata tidak ada seorang pun yang benar-benar berusaha melerai. Mereka semua, termasuk Sayoga, sepertinya memang menunggu kami berbenturan. Bukan begitu, teman-teman?”

“Tidak,” serempak kata para peronda, termasuk Sayoga yang mengucapkan itu dengan senyum lebar.

Sukro terlihat bermuka masam saat mengetahui anak muda itu tidak bersungguh-sungguh menantangnya berkelahi. Namun, seandainya benar-benar terjadi, lalu bagaimana ia akan memukul sebatang pohon pisang? pikir Sukro ketika banyak mata memandang padanya.

Maka pecahlah tawa di antara para penjaga gardu dan dua orang dari Tanah Perdikan. Untuk sesaat, mereka dapat mengurangi ketegangan. Kemudian Dharmana berucap, “Ki Rangga sedang menunggu Nyi Sekar Mirah.  Kiai Bagaswara pun telah berada di dalam. Lebih baik, jika kalian setuju, bergabunglah bersama kami di banjar pedukuhan. Atau mungkin kalian lebih suka menunggu Ki Rangga di sini bersama mereka.” Lantas Dharmana menunjuk pada arah anak muda dan kawan-kawannya.

Sejenak Sayoga bertukar pandan dengan Sukro. Sinar mata Sukro seolah meminta Sayoga yang memutuskan. Kemudian kata Sayoga, “Kami akan berada di sini. Bisa jadi Kiai Bagaswara bertanya tentang keadaan kami. Karena kami bertiga bersama-sama berangkat dari Menoreh, kemudian saya dan Sukro tertinggal di Pedukuhan Jagaprayan.”

“Oh, tertinggal? Sangat menarik untuk mendengar ketertinggalan kalian. Baiklah, aku minta diri untuk pergi ke banjar. Selamat malam.”

“Selamat malam, Paman,” kata Sayoga dan Sukro hampir bersamaan.

Related posts

Leave a Comment