Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Keranda Cinta Bersama Mey Ameyda

Ia bernama Mey Ameyda dalam pena. Berkata kepadaku tentang membaca. Dan inilah :

=========

Ia mengatakan, “Cinta yang terpatri pada batu candi, akan tergerus oleh hujan.

Dan cinta yang dipahat pada setiap jengkal bagian langit, tak akan runtuh oleh air hujan.”

Para pengembara menulis cinta pada lembar dedaunan dengan tinta yang merintih. Mereka mengatakan bahwa waktu tak cukup tangguh menahan laju cinta yang layu. Mereka tertawa dalam semesta yang diabaikan oleh cinta.

Kini, benci telah membunuh cinta.
Hujan telah meluruhkan setiap penggal cerita tentang kita. Tak peduli di candi, di awan atau di dedaunan. Semua musnah.

Lalu aku harus ke mana? Untuk menuliskan kisah perih dengan tinta air mataku? Karena sesungguhnya luka tak pernah kering.

Tertawalah, hingga airmata habis di danaunya. Karena, sungguh tak ada yang mampu menghapus duka cita selain kematian.

Related posts

Leave a Comment