Padepokan Witasem
Prosa Liris

Songsong Bukan Puisi

Tanpa sunting..Berlangsung begitu saja..Alamiah..

=====

Jilat api tak mampu gapai kulit pohon talok..
Percik api melejit rendah bagai kunang-kunang..
Kalimat elok bukan aksara tak berbalok..
Ia meliuk..ia menari..ia melompat berulang kali..

Kelas! Bahagia hati menjadi saksi gores yang mulai berarti..

Dalam baris…ku mengais tau.

Bersama waktu yang belum tentu untukku.

Ki…. Aq bingung… kudu piye to…

Apa yang kupunya?
Sedang aksara di kepala mulai kerontang, layu, mati tanpa pusara

Aku menatap hampa pada layar tipis di hadapan
Berbagai aksara bertebaran di sana
Ada yang bernyawa, ada yang berirama
Aku?
Tetap terpaku pada dinding bisu.

Lelah.

Penat.

Aku tak punya apa-apa
Selain sesal yang menggumpal
Tentang kamu, yang kutinggalkan sebelum kugenggam

“Kumohon. Jangan pergi dulu.”

Nunggu momen..lha balapan sih..

Hanya cahaya kunang-kunang yang
Menemani dengan setia

Sebuah penantian

Tentang kamu,

Tentang sesal,

Tentang aksara yang tak lagi bernyawa.

“Boleh kah aku menyerah saja, Ki?” Saat aku tersesat di belukar aksara ini. Aku tak mampu menyamai jejakmu. Mungkin akan kututup saja lembar kertas bersama pena yang tak kunjung tajam ini.

“Boleh, kah?”

Aku lelah…

_Lha, kok mandeg_ ?

Otw nggih…

Sah ?? ?

Dan aku tak akan menyerah
Rawe-rawe rantas malang-malang Putung
Pantang bagiku mundur sebelum hancur

aku tak tahu, jika cinta itu berawal dari sampah berserakan, baru ku rasakan aksara itu indah

Cinta?

Yang kurasakan adalah bahagia, ketika kugoreskan pena di antara rimba aksara

Apakah ini cinta? Siapapun, tolonglah jawab aku

“Cinta adalah rasa. Menjejak jika sampah terlihat,” begitulah dia katakan padaku.

Lalu, terkait apa antara cinta dan aksara yang terus meliuk dalam kepala?

Cinta dan aksara?
Keduanya sempat buatku gila
Karena tak sanggup kutata
Apalagi kukata
Aku buta!

Hanya hadirmu Ki!
Dengan segudang sampah-sampah itu
Bak kacamata yang mampu membuka mata
Hingga cinta dan aksara terjejak nyata

Di sini aku mengintip malu dan ragu
Sekilas kagumi deretan jejak aksara pembuai rasa
Persis kura-kura dalam cangkangnya

Eits, jangan katakan katak dan tempurungnya!

Karena katak tak cukup indah mewakili cinta dan aksara
Namun, kuucapkan terimakasih padanya
Karena orkestranya yang memekakkan telinga
Mengusik lelapku dengan satu bisikan mesra

“Menulislah, sebelum pagi datang. Mungkin sampah yang kau tebar tak kan terlihat oleh tatap jeli si Akang.”

Malu-malu dan sedikit ragu, kugoreskan pena. Menambahkan jejak cinta dalam rangkaian aksara-aksara

 

 

Hari terakhir.

Kelas Prosa Liris

30 April 2019

Bait-bait keroyokan yang ditulis tanpa tekanan dan ancaman pemangsa.

 

Related posts

Leave a Comment