Padepokan Witasem
Prosa Liris

Liris : Keranda Cinta Bersama Alin Tersiana

Bersama salah seorang peserta Kelas Prosa Liris Kepak Sayap Angsa. Satu daya cipta di tengah kesibukan dalam mengerjakan tugas bacaan. Saya perkenalkan, mbak Alin,

=======

Ia mengatakan, “Cinta yang terpatri pada batu candi, akan tergerus oleh hujan.

Dan cinta yang dipahat pada setiap jengkal bagian langit, tak akan runtuh oleh air hujan.”

Para pengembara menulis cinta pada lembar dedaunan dengan tinta yang merintih. Mereka mengatakan bahwa waktu tak cukup tangguh menahan laju cinta yang layu. Mereka tertawa dalam semesta yang diabaikan oleh cinta.

Lantas aku bisa apa?
Jika setiap tetes rindu telah salju di hatinya, sementara di dadaku masih nyala membakar.

Lantas aku apa bisa apa?
Jika cinta telah berpusara dalam ingatannya, telah jadi mumi dalam keranda memori sementara di keningku cinta masih berdetak penuhi udara.

Lantas aku bisa apa?
Jika baginya kini aku bukan siapa-siapa.
Jika baginya kini aku telah tiada.

 

#kelasprosaliris

#kepaksayapangsa

Related posts

Leave a Comment