Padepokan Witasem
Bab 7 Pemberontakan Senyap

Pemberontakan Senyap 6

“Ki, bukanlah karena kehebatanku tetapi nama Ki Cendhala Geni mampu menembus sekat-sekat yang ada,” Laksa Jaya berkata sambil tersenyum.

“Baiklah. Apa keperluanmu kemari? Aku seorang patih di kota ini!”

“Saya ke mari untuk membantu Anda menuntaskan perhitungan dengan Ken Banawa.”

“Jangan menjadi gila dengan ucapan semacam itu! Kau seorang lurah prajurit yang tidak mengerti tata keprajuritan. Sekali lagi aku katakan padamu, aku seorang patih di kota ini dan nyawamu saat ini ada berada di ujung jariku,” Ki Cendhala Geni membentak. Ia  merasa diremehkan oleh Laksa Jaya ketika kawan Patraman ini menyebut nama Ken Banawa.

“Tidak, Tuan Patih,” sesal Laksa Jaya yang segera menyadari kesalahannya. Lalu, ”Ini sama sekali bukan kegilaan. Saya datang kemari dengan kerja sama yang saling menguntungkan. Saya akan membawa Kademangan Wringin Anom untuk tunduk padamu.”

“Kau benar-benar tidak tahu diri, anak muda!” kata Ki Cendhala Geni lalu tawanya berderai. Kemudian, ”Engkau bukanlah seseorang yang mempunyai arti di wilayah itu. Kemudian kau datang dan bicara padaku seolah Wringin Anom adalah tanah yang mudah untuk ditundukkan.” Sorot pandang Ki Cendhala Geni tepat menusuk jantung Laksa Jaya. Ki Cendhala Geni telah menerima berita yang tidak lagi seperti angin semilir yang membawa aroma tidak nyaman. Ia telah bertemu dengan pengikut Pang Randu. Ki Sura Tenggulun.

Ia melanjutkan, “Tetapi aku akan menghargai niat yang mungkin kau anggap baik bagiku. Meskipun aku mengenal kademangan itu sangat baik tetapi baiklah, jelaskan!”

“Saya membawa sebuah rencana besar dengan pengorbanan yang sedikit. Satu hasil yang lebih besar akan berada di tangan Tuan.” Laksa Jaya berhenti mengatur napas. Lanjutnya kemudian, “Ki Demang Wringin Anom mempunyai seorang anak gadis yang bernama Arum Sari. Perempuan inI akan menjadi jalan bagi Kahuripan untuk menempatkan diri secara baik.”

Menyadari bahwa orang yang berdiri di hadapannya mempunyai perangai yang sulit ditebak, Laksa Jaya bergegas menambahkan, “Tentu Tuan sebagai patih telah memiliki perhitungan cermat tentang letak kademangan itu. Tuan bahkan telah mengetahui kekuatan Majapahit yang tersimpan di balik gerbang kademangan. Maka saya beritahu Anda tentang kelemahan terbesar kademangan itu.

“Anak gadis Ki Demang adalah satu-satunya senjata yang dapat melumpuhkan seluruh daya yang dimiliki Wringin Anom.”

Laksa Jaya beringsut maju setapak. Ia berkata-kata dengan lutut masih menyentuh tanah.

“Aku masih mendengarkanmu, Laksa Jaya.”

“Ia adalah anak perempuan Ki Demang Wringin Anom. Dan prajurit yang di sana telah berada dalam satu perintah.”

“Siapa lurah di sana?”

“Patraman,” tegas Laksa Jaya menjawab.

Ki Cendhala Geni menganggukkan kepala, pikirnya, tentu tidak semudah itu kau dapat menggunakan tenagaku. Harga adalah sebuah kesepakatan yang harus engkau lewati.

Orang yang mengangkat dirinya sebagai Patih Kahuripan ini segera berhitung. Ia tidak ingin mengorbankan kedudukannya dengan menjadi pelaku utama penculikan. Ia telah menduga arah pembicaraan Laksa Jaya.

Related posts

Leave a Comment