Padepokan Witasem
Bab 9 Rawa-rawa

Penculikan 10

Sorak hati Arum Sari mendadak terbungkam. Mulanya ia melihat ada kesempatan untuk melepaskan diri ketika Ubandhana dan Patraman terlibat percekcokan. Tetapi suara Laksa Jaya terdengar seperti tetes air hujan me-nimpa dedaunan. Suasana mendadak dingin dan kesempatan itu hilang!

Malam semakin larut, angin laut berhembus semilir membelai setiap benda yang dilaluinya. Ketiga lelaki ini tidak benar-benar beristirahat,  sekalipun mereka memejamkan mata dan bernapas dengan teratur. Ada rasa saling curiga dan khawatir kalah dalam perebutan. Ubandhana menyadari Patraman benar-benar menginginkan Arum Sari, seperti dirinya yang berperasaan sama walau perbedaan mereka sangat tipis.

Kebekuan kembali menghampiri tempat itu, hanya Ubandhana yang sesekali bergerak untuk menjaga nyala api unggun.

Patraman mengawasinya sambil berpikir mengenai Ubandhana. Mungkinkah ia tertarik pada Arum Sari? Aku dapat melihat itu dari balik matanya. Ini bukan lagi hubungan kerja, tetapi persaingan antar lelaki.

Sekilas mereka seperti orang-orang yang hidup dalam kedamaian. Debur ombak, angin berhembus perlahan dan kerlip bintang seperti memberi tanda bagi itu semua. Kedamaian. Tetapi jantung yang tak henti berdetak seolah menghitung mundur untuk sebuah ledakan. Satu gerakan salah dari seorang di antara pemuda itu akan menjadi awal sebuah benturan yang sangat keras. Nyawa dan darah yang mengaliri tanah menjadi kemungkinan yang sulit untuk dihindari.

“Apa yang kalian tunggu?” Sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan yang menyelubungi mereka berempat.

Sekejap kemudian Laksa Jaya bersuit nyaring. Belasan orang melompat berhamburan keluar dari semak-semak di sekitar mereka. Mereka berlari lalu menempatkan diri pada jarak tertentu, obor kecil menerangi para pengikut Laksa Jaya. Mereka bergerak membentuk lingkaran yang mengitari empat orang yang berada di dekat api unggun. Sebagian kecil berada di dekat Arum Sari.

Kedatangan Ki Cendhala Geni sama sekali tidak mereka ketahui. Bahkan mereka tidak menyadari ketika Ki Cendhala Geni melangkah di antara mereka padahal syaraf terlatih mereka juga dalam keadaan waspada. Ini menjadi bukti ketinggian ilmu meringankan tubuh dan memusnahkan bunyi yang luar biasa. Ubandhana, Laksa jaya dan Patraman hanya mampu membuka mulut tanpa kata-kata.

“Apakah ini?” Ki Cendhala Geni menatap bergantian Laksa Jaya dan Patraman, “jebakan untukku lalu kalian mengambil hadiah setelah menukar kepalaku?”

“Harap memaafkan kami,” Laksa Jaya selangkah maju sambil berkata-kata, “harap tidak salah paham, Kiai. Mereka adalah orang-orang yang akan menyertai kami ke Wringin Anom.” Laksa Jaya mengangkat dua tangannya di depan dada. Ia menambahkan, “Kapal segera tiba dan menepi jika mereka melihat sekumpulan obor ini.” Laksa Jaya mengarahkan telunjuk ke sekelilingnya.

“Hebat! Engkau sungguh benar-benar cerdik, Laksa Jaya,” bisik Patraman. “Ini tidak termasuk dalam rencanaku tetapi kau mampu menutupnya.”

Tiba-tiba.

“Awas!” seru Ki Cendhala Geni pada semua orang sambil memutar kapaknya yang bertangkai panjang. Ia mengedarkan mata menyapu sekelilingnya.

Ubandhana mengayunkan tombak memutar, menutup seluruh tubuhnya tanpa mengetahui asal serangan. Ia beruntung ketika sebuah anak panah yang membidik lehernya berhasil digagalkan dengan kibasan tombak.

Mata Ki Cendhala Geni menangkap  bayangan yang melesat cepat ke arahnya, ia masih memutar-mutar kapak namun sikap tubuhnya telah berubah. Ki Cendhala Geni bersiap untuk menyambutnya. Selarik cahaya yang memantul dari batang pedang menghantam sisi lengkung kapak Ki Cendhala Geni.

Tidak ada percakapan yang mendahului perkelahian mereka berdua, meski Ki Cendhala Geni berniat membuka mulut tapi ia harus membatalkannya. Serangan yang datang mendadak ini terus menerjang seperti banjir bandang yang merobohkan tanggul sungai kemudian menyapu seisi desa.

Tak berhenti pada Ki Cendhala Geni.

Di bagian lain, seorang lelaki muda meluncur deras memasuki gelanggang dengan keris terhunus. Dengan tubuh berputar-putar seperti angin beliung datang, ia menghantam lalu membuat porak poranda lingkaran para pengawal Laksa Jaya.

Ubandhana yang belum mengenali penyerang  ini segera menyambutnya dengan tombak terayun kuat. Dentang senjata beradu segera terdengar cukup keras. Tombak Ubandhana tertolak keris Bondan kemudian kaki Bondan menyeruak, menerobos masuk ke dada Ubandhana dengan kecepatan yang sukar diperhitungkan, lengan Ubadhana segera menutup dada yang terbuka. Ubandhana terdorong ke belakang beberapa langkah sekalipun berhasil melindungi dadanya dari kaki Bondan.

Related posts

Leave a Comment