Padepokan Witasem
Bab 7 Pemberontakan Senyap

Pemberontakan Senyap 4

“Baiklah. Katakan padanya, aku menunggu tanda baik darinya. Pulanglah sekarang!”

“Baik, Ki. Saya mohon diri,” prajurit itu mengucapkan kata-kata masih dengan kepala menunduk. Segera ia memutar tubuh dan melangkah keluar kemudian memacu kudanya secepat ia meninggalkan barak prajurit.

Setelah prajurit itu melalu, Ki Cendhala Geni memerintahkan semua orang yang berada di dalam rumah untuk berkumpul di sanggar. Maka menjelang malam hari, telah berkumpul banyak orang di dalam sanggar. Mereka membicarakan langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk mengambil alih Kahuripan yang akan ditinggalkan Bhre Kahuripan untuk pergi ke kotaraja.

Bersamaan dengan pembicaraan yang dipimpin Ki Cendhala Geni, di barak prajurit pun juga berlangsung pertemuan para senapati yang dipimpin oleh Ki Srengganan.

Selama dua hari keadaan kota Kahuripan seperti tidak terjadi adanya persiapan yang akan mengguncang hidup keseharian. Para petani, pedagang dan para pegawai kerajaan masih melakukan kegiatan seperti biasa mereka lakukan.

###

Pada saat hari menjelang siang, Bhre Kahuripan yang disertai belasan pengawal berkuda berangkat menuju kotaraja. Sebelum itu, ia mengumpulkan para senapati dan memberikan pesan yang harus mereka patuhi. Bergantian dengan para senapati, ia juga mengadakan pembicaraan dengan sejumlah tumenggung yang akan menggantikannya melakukan beberapa tugas. Setelah ia merasa cukup untuk peralihan sementara, maka ia bergegas menyiapkan diri berangkat ke kotaraja.

Pada hari ketiga sebelum bintang mulai meredupkan cahayanya, satu kelompok besar berjalan kaki beriringan menuju Kahuripan. Mereka berjalan dengan senjata telanjang dan nyaris tidak terdengar suara dari kelompok besar itu. Di sebuah simpang tiga, mereka membagi diri dan memasuki Kahuripan dari tiga arah. Ki Srengganan telah mempersiapkan jalan masuk bagi mereka, dan ketika fajar mulai menyingsing keadaan Kahuripan telah dikuasai Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni tanpa pertumpahan darah! Para senapati telah memberikan kesetiaan pada Ki Srengganan. Mereka membuat rencana perebutan itu menjadi mudah. Bahkan tidak terjadi keributan atau salah paham tatkala orang-orang kepercayaan Ki Cendhala Geni mengambil alih gudang senjata. Meskipun ada keberatan di antara bawahan Ki Srengganan, tetapi mereka menyatakan satu perintah di bawah Ki Srengganan. Oleh karena itu sulit dipercaya apabila semua senapati dan lurah prajurit begitu mudah menyerahkan janji setia pada Ki Srengganan.

Di luar sepengetahuan mereka, seorang perwira berpangkat rendah dapat pergi meninggalkan Kahuripan yang dijaga sangat rapat. Perwira ini adalah perwira muda yang berbicara langsung dengan Bhre Kahuripan beberapa waktu yang lalu. Ia memanfaatkan suasana lengang ketika terjadi pergantian penjaga dan peronda, lalu menghilang dalam gelap malam kemudian keluar dari Kahuripan. Ia memang tidak tinggal di barak prajurit karena ia hanya berkedudukan sebagai senapati cadangan dalam susunan prajurit di Kahuripan.

Waktu itu setelah Kahuripan dikuasai kawanan Ki Srengganan dan Ki Cendhala Geni, di setiap jalan-jalan besar selalu ada kelompok prajurit yang bercampur dengan orang-orang Ki Cendhala Geni yang berjaga-jaga. Sementara jalanan setapak yang bercabang-cabang selalu saja ada kelompok peronda yang mengawasi, maka dengan demikian nyaris tidak ada celah yang dapat dimanfaatkan untuk keluar atau masuk kota Kahuripan. Senapati ini berjalan kaki menyusur jalan menuju kotaraja menyusul rombongan Bhre Kahuripan yang telah berangkat sehari sebelumnya.

Demikianlah keadaan Kahuripan ketika kuda Laksa Jaya menapak masuk gerbang kota. Seorang prajurit dengan tombak yang telah merunduk bergegas menghampirinya.

“Aku melihatmu dalam pakaian seorang prajurit, Ki Sanak. Sebutkan nama dan asalmu!” perintah prajurit itu.

Laksa Jaya mengernyitkan keningnya bertanya-tanya dalam hati.

“Menurutku telah jelas, Ki Sanak. Aku seorang prajurit Majapahit dan kau dapat mengetahui itu dari  tanda tempatku berasal,” jawab Laksa Jaya sambil menunjukkan kain yang terjahit di depan pakaian yang ia kenakan.

“Tidak. Aku ingin mendengarmu sendiri berkata darimana kau berasal!” sahut prajurit itu sedikit melotot.

“Sombong!” Hampir saja tangan kanan Laksa Jaya yang mengembang itu menampar muka prajurit yang berdiri di depannya. Namun ia masih dapat menguasai diri dengan melihat kepentingan yang lebih besar daripada sekedar menuruti keinginan hatinya.

Related posts

Leave a Comment