Padepokan Witasem
Bab 15 Pertempuran Hari Kedua

Pertempuran Hari Kedua 5

Ki Jayapawira ingin memengaruhi pertempuran secara menyeluruh. Kemenangan yang diraihnya akan menghempaskan semangat lawan-lawannya. Pasukan yang dipimpinnya semakin bersemangat mendesak lawan-lawannya.

Ubandhana yang mendampingi Pragola berada pada sayap yang sama dengan Ki Jayapawira. Ia melihat kemunduran pasukan yang berada pada sayapnya. Ia menebar pandang untuk mencari pemimpin dari sayap lawan. Dari jarak yang agak jauh, ia melihat Ki Jayapawira mengamuk dan memukul roboh setiap prajurit yang mendekatinya. “Agaknya senapati berusia lanjut itu yang menebar ancaman maut bagi pasukanku,” desis Ubandhana dalam hati. Ia memutar-mutar tombak pendeknya sangat kuat. Seperti burung rajawali ia berloncatan, memukul dan melemparkan prajurit lawan, membongkar garis serang pasukan sayap Ki Jayapawira. Banyak pengawal Sumur Welut roboh bergelimpangan menahan serangan Ubandhana yang merangsek maju mendekati Ki Jayapawira.

Seruan-seruan pasukan Sumur Welut memberi tahu senapatinya tentang Ubandhana yang mengamuk dan mengacaukan garis depan sayap mereka. Ki Jayapawira melompat surut menjauhi garis serang sayap Ubandhana. Keningnya berkerut, ia melihat amukan Ubandhana. Seketika ia menggebrak orang kepercayaan Ki Cendhala Geni dengan tombak menjulur panjang. Serangan yang begitu dahsyat dan mematikan. Mengarah pada tiga bagian tubuh yang berbahaya.

Ubandhana menyambut serangan dengan tatap mata bengis. Dengan senjata yang sama dengan musuhnya, Ubandhana menangkis dengan gerak satu putaran melingkar. Dua senjata pun bertemu di udara lalu terjadilah benturan yang menyebabkan udara sekitarnya menjadi bergetar. Keduanya sama-sa ameloncat surut, menjauh untuk bersiap kembali. Sekejap kemudian dua tombak telah saling berayun deras, membidik bagian tubuh yang berbahaya. Namun Ki Jayapawira telah matang dalam pertempuran besar, satu telapak tangannya membentuk seperti cakar harimau siap merobek lambung Ubandhana yang kemudian berseru, terkejut, lalu ia memapas tangan lawannya ke samping. Ki Jayapawira menarik tangannya dan bersamaan dengan itu ia mendorong tombaknya dengan ujung telunjuknya sejengkal lebih maju menuju dahi Ubandhana.

Ubandhana gesit melempar tubuhnya ke belakang sambil mengumpati lawannya dengan kata-kata kotor.  Ia berdiri tegak dengan wajah penuh amarah. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan dengan kaki merendah bergeser depan belakang. Ubandhana merasa harus lebih berhati-hati menghadapi lawan yang sudah berusia dua kali lebih banyak dari usianya.

Ubandhana menerjang cepat sekali mendahului Ki Jayapawira. Ki Jayapawira sengaja membenturkan senjata untuk mempersingkat pertarungan. Kedua tombak itu mengulang benturan keras. Pertemuan senjata yang kemudian disusul dengan gerakan hebat. Dua tubuh berkelebat meloncat segala arah untuk mencari sudut lemah pada lawan. Bayangan mereka sulit diikuti pandangan mata biasa. Sekali lagi, mereka mengadu kekuatan! Tubuh keduanya terhuyung ke belakang, namun kesempatan itu tidak dilewatkan oleh Ki Jayapawira yang cepat memperbaiki keseimbangan lalu melesat deras dengan tombak panjang yang digenggamnya pada bagian tengah. Sementara Ubandhana yang mengalami sakit nyeri pada dadanya akibat pertemuan keras kedua senjata, masih membenahi tata geraknya. Melihat bahaya datang dengan deras, ia mencoba menjauhi Ki Jayapawira denga membuang tubuhnya ke samping. Gerakan deras Ki Jayapawira datang lebih cepat dari Ubandhana, pergelangan tangannya mengayunkan tombak yang kini lebih deras meluncur ke dada Ubandhana. Pada saat yang bersamaan kepalan Ki Jayapawira mengancam bagian leher Ubandhana.

Dua serangan berbahaya itu tak terelakkan oleh Ubandhananya. Ujung lancip tombak Ki Jayapawira kuat menggapai dadanya.  Serentak bersamaan dengan robohnya Ubandhana, prajurit Sumur Welut dan Wringin Anom berteriak kencang tentang kematian Ubandhana. Sorak gembira dan pekik kemenangan tiba-tiba membahana pada udara di atas mereka.

Kematian Ubandhana seperti mempercepat jatuhnya semangat pasukan Ki Sentot yang berhadapan dengan pasukan Ki Jayapawira. Sekejap kemudian terjadi kekacauan yang hebat, setiap prajurit Ki Sentot seperti tidak siap menerima akibat tak terduga. Sebagian langsung melemparkan senjata. Melihat kenyataan itu, Pragola berteriak-teriak seperti orang gila, ia mencoba membakar semangat anak buahnya.

Related posts

Pertempuran Hari Kedua 7

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua 6

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua 4

kibanjarasman

Pertempuran Hari Kedua 3

kibanjarasman

Leave a Comment