Padepokan Witasem
Langit Hitam majapahit, silat Bondan, Padepokan Witasem, Gajah Mada, Majapahit
Bab 13 Rencana Lain

Rencana Lain 2

“Sumur Welut masih cukup tangguh untuk bertahan hingga dua tiga hari ke depan,” kata Ra Pawagal memberi penilaian. Garis wajah gelisah tidak lagi tergambar pada wajahnya. sekalipun pada mulanya ia sedikit terkejut saat mengetahui tentang kehadiran pasukan gajah di barisan lawan

“Apa yang akan kau katakan tentang rencana kawanmu ini?” Ki Patih menghadap wajah Kebo Pameling yang masih bingung dengan suasana di sekitarnya.

Sedikit tergagap ia menatap Gajah Mada lalu menjawab, ”Saya tidak tahu sedikitpun rencananya.”

Ra Pawagal tersenyum lalu berkata, ”Katakan, Gajah Mada. Segera kita tuntaskan masalah yang dihadapi Sumur Welut.” Suara tegas dan dalam terucap dari bibirnya ketika pandang matanya lurus menatap Gajah Mada.

loading...

Setelah menarik napas panjang, Gajah Mada berkata, ”Tuan Patih, Kebo Pameling adalah senapati yang membawahi seratus prajurit berkuda. Dan saya berharap Anda berkenan memberinya tugas untuk membantu paman Ken Banawa di Sumur Welut.”

Kebo Pameling memandang Gajah Mada dengan air muka sungguh-sungguh. Ia menunggu uraian Gajah Mada lebih lanjut.

“Tentu saja hal itu akan menjadikan tepi utara Kahruipan akan rapuh. Tetapi saya akan mengisi kekosongan itu dengan sekelompok prajurit dan orang-orang padepokan,” lanjut Gajah Mada.

Ra Pawagal mengerutkan keningnya, kemudian bertanya, ”Prajurit mana yang kau maksudkan? Dan padepokan mana yang bersedia menjadi benteng  Kahuripan?”

“Sekitar tiga puluh prajurit berada dalam tanggung jawab saya. Merekalah yang bersembunyi di balik benteng kota ketika Ki Srengganan merebut Kahuripan,” kata Gajah Mada kemudian berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkan kata-katanya, ”Saya telah bertemu dengan pemimpin Padepokan Kumboro Geni beberapa waktu yang lalu.”

Terhenyak Ra Pawagal mendengar Padepokan Kumboro Geni disebutkan. Semasa muda, Ra Pawagal adalah salah seorang murid dari padepokan yang disebutkan Gajah Mada. Dada Ra Pawagal berdesir tajam lalu ia memandang Gajah Mada dan Kebo Pameling bergantian.

Sejenak kemudian ia berkata, ”Aku sungguh tidak mengira kau telah melangkah sejauh itu, dan tidak terpikir olehku untuk meminta bantuan mereka. Baiklah aku mendengarkan permintaanmu, Gajah Mada.

“Tetapi, bukan Kebo Pameling yang akan memimpin pasukannya ke Sumur Welut. Kau adalah pengganti kedudukan Kebo Pameling, tentu saja kau akan bertanya tentang alasanku ini. Para prajurit Kebo Pameling tidak akan keberatan jika kau pimpin mereka, dan Kebo Pameling sendiri juga tidak akan menerima penolakan dari Padepokan Kumbara Geni. Dan kalian berdua harus mengerti, orang-orang Kahuripan akan lebih tenang jika Kebo Pameling berada di tengah-tengah mereka.”

Gajah Mada dan Kebo Pameling mengangguk.

Ra Pawagal berpaling pada Gajah Mada kemudian meneruskan, ”Aku harap kau tidak salah mengerti. Selama ini orang Kahuripan mengenalmu sebagai senapati yang tidak mempunyai pasukan yang cukup besar. Aku tidak ingin muncul anggapan bahwasanya keselamatan dan keamanan Kahuripan dibebankan pada senapati yang tidak berpengalaman.”

“Saya mengerti, Bapak,” kata Gajah Mada tegas.

“Selain itu, waktu yang sekarang ini kita dapatkan adalah kesempatan bagimu untuk menunjukkan kecakapan dalam memimpin pasukan. Meskipun kau bukan pasukan yang utama, tetapi bantuanmu pada Sumur Welut tentu akan menjadi pertimbangan khusus bagi saudara-saudaramu,” berkata Ki Patih Ra Pawagal.

Ia kemudian bertanya pada Kebo Pameling, ”Bagaimana menurutmu, Kebo Pameling?”

“Saya sepenuh hati mendukung Bapak dengan rencana itu. Sekarang adalah waktu yang dapat menjadi milik Gajah Mada untuk mengeluarkan kekuatan yang selama ini bersembunyi dalam dirinya.” Wajah cerah Kebo Pameling menyertai jawabannya. Ia tampak senang dengan kepercayaan yang diberikan Patih Ra Pawagal pada Gajah Mada. Bahkan ia nyaris saja melompat dari duduknya untuk memberi selamat pada rekannya yang bernalar tajam dan berwawasan sangat jauh itu. Hanya saja kewibawaan Ra Pawagal dapat mengekang keinginan Kebo Pameling.

“Demikianlah, Gajah Mada,” tandas Ra Pawagal. “Setelah pertemuan ini, kau harus mengikuti petunjuk dan pesan Kebo Pameling sebelum mempersiapkan pasukan berkuda. Dan aku kira memang sebaiknya kalian berdua segera bangkit untuk bersiap.”

Patih Ra Pawagal mengakhiri pertemuan itu dengan sepatah dua patah pesan penting bagi dua lurah prajurit muda itu.

Sejenak kemudian Gajah Mada dan Kebo Pameling telah berada di luar halaman kepatihan. Mereka berjalan beriringan menuju barak pasukan berkuda yang dipimpin oleh Kebo Pameling.

Wedaran Terkait

Rencana Lain 1

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.