Dironda 33 kali
Dari jalur-jalur yang tidak diperhitungkan oleh Ki Panji Danutirta, sejumlah bayangan melesat, menembus kegelapan malam. Mereka menyebar ke beberapa tempat dan di antaranya adalah kediaman Ki Gede Menoreh.
Ketika penghubung telah memberikan laporan singkat perkembangan barak, Ki Gede tidak langsung mengambil keputusan.
Sejumlah orang yang berada di sekitarnya seperti Nyi Banyak Patra, Kinasih, Pandan Wangi dan Mpu Wisanata turut berdiam diri. Walau mereka ingin segera bergerak tapi sesuatu yang lebih besar justru tampak kokoh menghadang niat mereka.
“Jika yang diserang itu adalah kediaman Ki Tumenggung Agung Sedayu, kita dapat bebas mengulurkan tangan atau berbuat segala yang dapat dilakukan untuk meringankannya,” ucap pelan Ki Gede Menoreh.
“Saya pikir,” kata Nyi Banyak Patra setelah beberapa saat merenung. “Untuk sementara, Ki Gede hendaknya mengabaikan pekewuh karena yang lebih besar dan yang jauh lebih penting.”
Ki Gede menghela napas, katanya, “Nyi Ageng berkata benar, dan saya sepertinya terkungkung sendirian dalam batasan itu.”
“Ayah, kita mungkin sudah kehabisan waktu,” sela Pandan Wangi sambil memandang lurus wajah Ki Gede Menoreh.
“Adakah keterangan lain penghubung yang mungkin saya lewatkan?” tanya Ki Gede sambil memandang satu demi satu orang-orang di dalam pringgitan.
Mpu Wisanata mengangguk lalu berucap, ”Penghubung hanya mengatakan singkat pada saya, Ki Tumenggung berpesan, sampaikan pada salah seorang agar Tanah Perdikan tidak lagi menanggung beban dan kerepotan.”
“Angger Sedayu tidak seharusnya berkata seperti itu, tapi tentu saja tetap akan mengatakan itu karena kita semua sadar dan sangat paham dirinya,” desah Nyi Banyak Patra kemudian menatap Kinasih barang sejenak.
Ucap putri Ki Ageng Pemanahan itu kemudian, “Kita dapat melampaui batasan itu tanpa sungkan maupun segan terhadap Mataram, Ki Gede.”
Ki Gede mengerutkan kening kemudian berkata lirih sedikit cemas, “Kita tidak dalam keadaan terbaik. Luka-lukamu belum pulih seluruhnya, Wangi.”
Nyi Banyak Patra berkata tenang,”Ki Gede, mari kita letakkan dulu keadaan Angger Pandan Wangi yang sudah tentu akan saya larang turut bertempur.”
Lebih lanjut, saudara Panembahan Senapati itu mengatakan sesuatu yang melegakan, “Saya dan Kinasih adalah orang yang tidak terjangkau paugeran dan juga tidak terikat sebab akibat hubungan Mataram dengan Menoreh. Pada dasarnya, kami berdua adalah orang Pengging. Kami berdua dapat mengisi gugus tempur dari pengawal Tanah Perdikan.”
Seketika beban setiap orang yang mendengar ucapan Nyi Banyak Patra itu pun langsung terangkat. Benar, sebagai orang Pengging, mereka berdua dapat bergerak lebih leluasa. Langkah mereka tidak dibelenggu oleh paugeran maupun simpul kepentingan yang mengikat hubungan Mataram dengan Menoreh.
Pandan Wangi menghembus napas lega lalu mencondongkan tubuh lebih dekat pada meja. Setengah berbisik, dia mengungkapkan rencana yang diharapkan olehnya dapat sejalan dengan siasat Agung Sedayu.
Nyi Banyak Patra segera mengangkat wajah, menatap lekat Pandan Wangi dengan sorot mata tenang tapi tajam.
Sementara, Ki Gede Menoreh menyandarkan punggungnya pada sandaran. Kerutan di dahinya yang sejak tadi belum mengendur perlahan menghilang. Kecemasan berangsur sirna. Kehadiran Nyi Banyak Patra, Kinasih dan Mpu Wisanata adalah sebab tambahan yang menenangkannya.
Kinasih dan Mpu Wisanata tampak manggut-manggut dengan dahi yang menyiratkan bahwa pikiran mereka pun sedang bekerja keras.
Tak lama setelah Pandan Wangi menguraikan rencana lalu menimbang beberapa pendapat orang, pringgitan diliputi kesunyian ketika satu demi satu dari mereka menyiapkan diri menjalankan siasat dari putri Ki Gede Menoreh tersebut.
Pategalan Selatan, Agung Sedayu melawan Ki Jabon Seta
Lengkingan Sabungsari ternyata dapat menjangkau gardu pendem yang terletak di pategalan yang membujur sepanjang jalur yang menghubungkan barak dengan rumah Agung Sedayu.
Dua pengawal Tanah Perdikan segera berderap menuju rumah Agung Sedayu. Mereka mengerti bahwa suitan itu adalah tanda bahaya yang harus segera diketahui oleh Agung Sedayu atau Ki Jayaraga—yang hanya semalam menginap di kediaman Ki Gede Menoreh.
Tampak oleh mereka diterangi nyala oncor yang malas, Agung Sedayu berdiri dilingkari sejumlah anak muda yang seluruhnya adalah cantrik Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom.
Mengetahui kehadiran orang lain sedang mendekati lingkungan rumahnya, Agung Sedayu lantas memandang arah kedatangan dua pengawal itu. Tapi mereka justru menghentikan langkah beberapa tombak dari serambi. Sejenak keduanya saling berpandangan.
“Apakah kita tetap menyampaikan laporan itu?” desis salah seorang. “Barangkali Ki Tumenggung sudah mendengar suitan itu.”
Kawannya menggeleng pelan. “Tanda bahaya harus tetap dilaporkan. Kita tidak boleh menduga-duga.”
Mereka pun melangkah mendekat, lalu membungkuk hormat.
“Ki Tumenggung,” kata salah seorang pengawal, “kami mendengar suitan tanda bahaya dari arah barak.”
Agung Sedayu menganggukkan kepala seolah memang telah menunggu laporan itu, lantas berkata. “Marilah, kalian gabungkan diri dengan orang-orang Jati Anom.”
Dua pengawal itu segera berdiri di antara para cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Agung Sedayu lalu memandang wajah mereka satu demi satu. Dengan suara tenang, tetapi jelas dan tegas, dia menjelaskan pembagian tugas yang harus segera dijalankan. Tidak ada kata-kata yang berlebihan. Setiap perintah disampaikan sesederhana mungkin sehingga mudah dipahami, tapi di balik siasat sederhana itu tersembunyi hal-hal yang dapat menghindarkan mereka melakukan kesalahan dalam pelaksanaan.
Para cantrik mengangguk hampir bersamaan. Mereka dapat memahami bagian masing-masing tanpa perlu mengajukan pertanyaan. Di antara mereka ada Sukra dan Sayoga yang menerima tugas yang berbeda. Sejumlah orang bergabung menjadi dalam beberapa regu. Sesaat kemudian mereka berpencaran, bergerak cepat meninggalkan halaman rumah.
Sukra berlari menuju barak, sedangkan Sayoga melesat ke rumah Ki Gede Menoreh.
Dalam waktu itu, Ki Jayaraga pun mendapatkan tugas khusus, yaitu menjadi jangkar dan berkedudukan tepat di ruang yang berada di antara rumah Agung Sedayu dengan kediaman Ki Gede Menoreh.
Kekuatan di rumah Agung Sedayu berjumlah sekitar lima belas orang Perguruan Orang Bercambuk dan ditambah sedikit pengawal Menoreh—sehingga mungkin kurang dari tiga puluh orang keseluruhan.
Menyadari kenyataan itu, pandangan Ki Jayaraga menghunjam tanah yang diinjaknya. Bukan membandingkan kekuatan maupun kemampuan mereka dengan kubu lawan yang sudah jelas berlatar belakang sebuah perguruan besar, Ki Jayaraga tidak merasa cemas karena perbedaan itu. Tapi yang tertinggal di dalam pikirannya: apa tujuan dari sejumlah kerusuhan yang dalam waktu berdekatan belakangan ini?
Saat tatap matanya beralih ke wajah Agung Sedayu yang tampak dari samping, Ki Jayaraga menarik napas panjang.
Hanya saja, senapati Mataram tersebut seolah sedang berada di dunia yang berbeda. Pandang mata tumenggung Mataram itu kerap beralih dari punggung ke punggung, dari bayangan ke bayangan yang bergerak cepat menjauhi rumahnya.
“Mudah-mudahan anak-anak, seluruh cantrik dan pengawal ini, dalam perlindungan Yang Maha Kuasa,” desis Sedayu lalu menunduk dengan segala kerendahan diri.
Ki Jayaraga mengangguk perlahan dengan harapan yang sama tapi tidak terucap olehnya.
“Marilah, Kyai,” ucap Agung Sedayu beberapa saat kemudian. “Saya akan mengambil jalur lurus dari sini.”
Sambil mengangguk-angguk seakan sedang bicara dalam hati pada dirinya sendiri, Ki Jayaraga mengusap pundak Agung Sedayu lalu bergegas melangkah ke wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Sekedip mata berlalu dan tiba-tiba tubuh Agung Sedayu menghilang dari tempatnya—bergerak maju ke gardu pendem yang terletak di sebelah utara dari rumahnya.
Saat tiba di tujuannya, senapati Mataran ini tidak segera menggabungkan diri dengan dua pengawal Menoreh yang berjaga di gardu pendem itu. Dia menghentikan langkah beberapa tombak di belakang gardu, lalu menyatu dengan gelap malam sambil mengamati keadaan di sekitarnya.
Sepasang pengawal itu tidak mengetahui kehadirannya. Mereka tetap bertahan pada tempat masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Pandangan Agung Sedayu tertuju ke arah barat. Di sela-sela remang malam tampak bayangan-bayangan bergerak cepat, yang kadang tersembunyi oleh batang-batang pohon dan semak sehingga cukup sulit untuk dilihat sepenuhnya. Meski begitu, pengetrapan Sapta Pandulu cukup membantunya semakin dalam membaca perkembangan.
Gerak orang-orang tampak lebih jelas. Mereka melaju teratur dalam kelompok-kelompok kecil dengan kesan yang menyiratkan sudah mengenal jalur yang ditempuh.
Agung Sedayu sudah tentu tidak dapat menghitung jumlah mereka karena timbul dan tenggelam di sela-sela semak dan pohon. Namun, menurut perkiraannya, orang-orang yang bergerak dari arah barat itu tidak kurang dari dua puluh lima orang.
Dalam perhitungan Agung Sedayu, waktu yang sengaja diberinya itu tentu tidak terbuang sia-sia. Sukra agaknya telah menempuh lebih dari separuh perjalanan menuju barak pasukan khusus Mataram. Jika tidak mengalami hambatan, keadaan di barak dapat diarahkan sesuai dengan pesan yang berasal darinya.
Demikian pula dengan Sayoga. Agung Sedayu memperkirakan anak muda itu pun telah bergerak cukup jauh menuju arah yang menjadi tugasnya. Dengan demikian, apabila serangan itu benar-benar ditujukan ke kediaman Ki Gede Menoreh, maka berita benturan di barak dapat diketahui Pandan Wangi sehingga ada yang dapat direncanakan kemudian oleh kelompok pengawal.
Pikiran-pikiran itu berkelebat cepat di benak Agung Sedayu. dengan kewaspadaan yang sama sekali tidak berkurang. Pandangan matanya tetap tertuju ke arah barat, mengikuti setiap perubahan yang sekecil apa pun pada deretan bayangan yang terus bergerak mendekat.
Setelah menimbang sejenak, saat merasa waktu yang diberinya telah cukup, Agung Sedayu melangkah mendekati gardu pendem. Sebelum mencapai kedua pengawal Menoreh, dia memberi tanda agar mereka tidak terkejut. Sebelah lengannya terangkat lalu memutar dan menunjuk ke beberapa jurusan.
Dua pengawal itu mengangguk mantap lalu mengenggam erat senjata yang masih menggantung di pinggang.
“Kita tidak menunggu,” bisik Agung Sedayu. “Lantangkan tanda, bersuitlah senyaring mungkin.”
Satu orang mengangguk lalu bergeser tempat—ke bagian yang sedikit terbuka.
Kelompok kecil dari Perguruan Orang Bercambuk sedang dalam perjalanan ketika mendengar suitan melengking itu. Mereka belum tiba di tempat yang dikehendaki Agung Sedayu, tapi aba-aba telah digaungkan. Maka tetap kemudian merayap cepat ke dinding selatan yang dijaga oleh Punjung dan kawan-kawan sambil berusaha memotong lintasan lawan.
Ki Jabon Seta tersenyum kecut.
Sebenarnya dia dan Ki Panji Danutirta sudah memperkirakan bakal ada penjagaan di daerah tersebut, tapi siapa sangka justru pihak Agung Sedayu yang terlebih dulu melakukan sergapan?
“Sedayu sudah tentu akan meningkatkan penjagaan, perondaan bahkan menugaskan petugas sandi menyusup jauh lebih dalam,” ucap Ki Panji Danutirta sesaat sebelum kelompoknya menyerang barak “Keputusannya bukan hampir mungkin tapi pasti dilakukannya mengingat keonaran yang mulai sering terjadi di Tanah Perdikan ini.” Saat itu Ki Panji Danutirta menyingkap pula kemungkinan Agung Sedayu akan memasang beberapa lapis pertahanan di antara rumahnya. Meski tidak mendalam tapi Ki Wirya, Ki Jabon Seta, Ugrasena dan Amuger Klinter tekun menyimak kata demi kata Ki Panji Danutirta.
- Kami cemas dan khawatir jika serangan ke barak ini belum puncak Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Kasihan Ki Gede yang sudah sepuh dan juga pasti berakibat buruk pada jabatan Agung Sedayu.
- Dalam pada itu, para pengikut Raden Atmandaru nyata adanya membuktikan ancaman mereka bukan gertak sambal. Kali ini, tekanan hebat mengancam kepala pengawal Pedukuhan Janti 20. Janti tumbang, Sangkal Putung akan terkapar.
- Nir Wuk Tanpa Jalu 5 dikisahkah oleh Dyah Murti bahwa sungai-sungai di Mataram akan menyusut kemudian bocah-bocah menangis seperti bayi yang terpisah dari payudara ibunya yang penuh berisi susu.
