Dironda 76 kali
Sepasang tangan Ki Jabon Seta yang tersembunyi di balik kain yang mengikat pinggangnya tidak lagi menanti kesempatan memukul. Satu lengan Ki Jabon Seta seketika terangkat tinggi-tinggi seolah sedang menghirup seluruh udara pategalan kering itu. Orang ini menerjang dengan kekuatan yang terasa seperti hembusan yang akan berubah menjadi serangan dahsyat!
Agung Sedayu masih menatap Ki Jabon Seta dengan sinar mata yang seakan menembus orang yang menyimpan dendam padanya itu.
Saat serangan Ki Jabon Seta berjarak kurang dari sejengkal, Agung Sedayu melangkah ringan ke samping lalu membalas serangan dengan rangkaian pukulan yang mengalir sangat cepat.
Penerus Ki Mahoni yang datang dari sebelah timur Menoreh itu cepat mengelak dengan mudah. Dia sudah menduga kemungkinan Agung Sedayu akan mengikatnya dalam perkelahian jarak dekat. Namun tandang orang ini belum berubah dari tujuan semula: berusaha menghindari ikatan jarak dari Sedayu.
Perkelahian dua orang berkemampuan tinggi itu tidak berjalan lambat atau merayap pelan dari tingkat dasar sebagai penjajagan.
Ki Jabon Seta langsung menghentak—menggunakan jurus lapisan puncak dari seluruh yang dikuasainya. Maka pertempuran itu pun cepat meningkat dan mengubah susunan gelanggang. Perkelahian sengit itu seakan mempunyai daya untuk meminggirkan orang-orang yang bertempur kuat di sekeliling gelanggang.
Agung Sedayu tidak serta-merta mengimbangi musuhnya dengan tata gerak yang bersumber Perguruan Windujati. Kurang lebih sama dengan perkelahian Pancuran Watu Item saat menghadapi Swandaaru, Agung Sedayu hampir sepenuhnya bertumpu pada jalur ilmu Ki Sadewa.
Meski begitu, kendali pertarungan tidak segera beralih ke tangan Ki Jabon Seta dengan mudah. Bahkan sebaliknya, harapan Ki Jabon Seta bahwa Agung Sedayu langsung menggunakan inti Perguruan Orang Bercambuk pun pupus.
Tata gerak Agung Sedayu memancing perhatian lebih dari orang itu. Bahwa sepasang lutut Agung Sedayu lebih rendah dari kebanyakan kuda-kuda yang diajarkan perguruan pada cantrik membuat senapati Mataram tampak lebih pendek dari sebenarnya.
Keadaan itu cukup menyulitkan Ki Jabon Seta. Beberapa kali dia harus mengubah titik tumpu untuk menyerang karena arah gerak lawan Agung Sedayu sukar ditebak. Tidak hanya itu. Pergeseran tempat Agung Sedayu pun dirasa aneh karena tubuh senapati Mataram itu tetap pendek setiap melompat panjang dan pendek, dari depan ke belakang. Sudut pandang terhadap pinggang dan bahu lawannya ikut pula berubah, akibatnya setiap perkiraan tentang lintasan serangan berikutnya selalu terlambat sesaat.
Kuda-kuda yang rendah itu membuat Agung Sedayu seperti melekat pada tanah, namun dalam sekejap dapat melenting ke sisi yang sama sekali tidak diduga Ki Jabon Seta.
Keadaan itu berlangsung beberapa saat tanpa perubahan yang berarti. Sepanjang waktu itu, Ki Jabon Seta tetap belum menemukan jalan keluar yang dapat memecahkan tata gerak unik dari lawannya.
Agung Sedayu, sekali-kali, bahkan seperti berjalan dan berlari dengan berjongkok. Tapi murid Kyai Gringsing tetap dapat menyerang dengan cara-cara yang sulit dimengerti.
Tiba-tiba…
Ki Jabon Seta mengubah keputusan. Dia tidak lagi berdiri berhadapan dalam satu garis. Tubuhnya meluncur mengitari Agung Sedayu sambil melontarkan rangkaian serangan yang tidak terputus. Sebuah tendangan rendah menyambar lebih dahulu, disusul kepalan tangan yang menghunjam ke arah lambung. Sambil melakukan rangkaian gerakan itu, Ki Jabon Seta berputar ke sisi lain sambil mengalirkan arus serangan dengan cara yang berbeda pula. Pukulan demi pukulan datang menghujani lambung, kepala dan cukup berani menabrak kuda-kuda Agung Sedayu dengan sapuan tendangan yang sangat cepat.
Gerakan Ki Jabon Seta menyerupai lingkaran yang tidak tampak putus. Kadang lingkaran itu melebar, kadang pula menyempit tapi setiap kali berpindah tempat, selalu ada kaki atau tangan yang menyerang. Serangan itu semakin cepat bahkan terasa pula tenaga cadangan Ki Jabon Seta sedang menanjak diam-diam. sehingga bayangan tubuh Ki Jabon Seta terkesan mengalir mengelilingi Agung Sedayu.
Di tengah lingkaran, Agung Sedayu dapat pula merasakan peningkatan kekuatan serangan. Hawa tenaga cadangan seakan menjadi mampat. Setiap lepasan ilmu Ki Jabon Seta lalu tertolak oleh Agung Sedayu maka yang tersisa tidak mempunyai jalan keluar—dua kekuatan yang berdesakan itu seperti tertutup oleh putaran gerak Ki Jabon Seta yang tidak pernah berhenti bergeser. Lingkaran semu itu seolah menjadi dinding yang mengurung hamburan liar tenaga cadangan dua belah pihak.
Tekanan itu sangat cepat memunculkan keanehan. Hamburan tenaga cadangan yang tidak memperoleh jalan keluar berputar kembali ke dalam, beradu dengan arus yang lain, lalu membentuk pusaran-pusaran kecil yang saling mengejar. Semakin cepat Ki Jabon Seta bergerak, semakin banyak pusaran itu bermunculan, seolah angin beliung-beliung kecil sedang berputar di sekeliling Agung Sedayu.
Agung Sedayu benar-benar merasakan udara di sekelilingnya berubah. Setiap kali dia menggerakkan tangan atau menggeser kaki, selalu ada arus yang membentur dan membelokkannya, seakan-akan puluhan putaran angin yang tidak tampak sedang saling bertaut dalam ruang yang semakin sempit. Meski seolah sedang terkurung dalam lingkaran serang Ki Jabon Seta, Agung Sedayu tetap bertahan dan masih mampu mengikuti perpindahan lawan. Kuda-kudanya tetap rendah, sedangkan kedua lengannya bergerak pendek menangkis, kadang justru melompat panjang ketika Ki Jabon Seta terkesan menjauh.
Pertarungan ini seperti sedang mengingatkan Agung Sedayu pada Ki Mahoni. Saat dirinya berada di tengah pusaran tenaga yang seakan sanggup menghisap seluruh kekuatannya. Pada masa yang telah lampau itu, Agung Sedayu bahkan merasa pening hingga sempat kehilangan pengamatan pada lawannya.
Bahkan dalam sekejap, dalam benak murid Kyai Gringsing itu sempat terlintas pertanyaan, apakah musuhnya itu murid atau saudara seperguruan Ki Mahoni? Dan tentu saja Agung Sedayu tidak akan berlama-lama dalam angan untuk menemukan jawaban untuk pertanyaan itu.
Hingga kemudian, pada akhir malam itu, tiba-tiba Agung Sedayu mengubah tata geraknya dengan cara yang sama sekali tidak diduga. Tubuhnya dijatuhkan ke tanah hingga terlentang, sementara kedua telapak tangannya segera menekan tanah sebagai tumpuan. Dalam sekejap, dua lengannya menggantikan tugas kaki untuk menyangga dan menggeser tubuh, sedangkan sepasang kakinya berubah menjadi senjata utama yang menyambar dari berbagai arah.
Sekejap terperanjat tapi Ki Jabon Seta yang sedang mengitari lawannya lantas mengubah lintasan serang. Sasaran yang semula berada setinggi dada kini mendadak turun hampir sejajar tanah. Beberapa pukulannya hanya menyambar ruang kosong, sedangkan tendangan-tendangan Agung Sedayu meluncur pendek dari bawah dengan arah yang sukar diperhitungkan.
Kedua telapak tangan Agung Sedayu bergantian mencengkeram tanah, mendorong, kemudian memutar tubuhnya. Kadang bertumpu pada satu tangan dan sebelah bahu, kadang pada kedua telapak tangan bersamaan, sehingga tubuhnya bergeser tanpa kehilangan keseimbangan. Debu kering segera beterbangan oleh gesekan punggung, lengan, dan tumitnya, bercampur dengan putaran angin yang dibangun Ki Jabon Seta.
Saat Ki Jabon Seta melompat surut dengan panjang, Agung Sedayu memutar balik tubuh, mengejar dengan kecepatan yang setara dengan musuhnya. Maka, sulitlah bagi Ki Jabon Seta untuk mengendalikan jarak yang semula dianggapnya akan mampu mengunci Agung Sedayu.
Dalam waktu itu, putaran tubuh murid Kyai Gringsing itu semakin cepat dan kuat sehingga debu serta rumput yang semula malas beterbangan, kini berubah menjadi selimut kelabu yang berputar mengikuti arus besar pertarungan.
Benda pada yang halus itu beterbangan tanpa mengenal kawan maupun lawan. Sebagiannya menyelinap ke mata Agung Sedayu, sebagian lagi menerpa wajah Ki Jabon Seta yang masih berputar mengelilinginya.
Semakin cepat keduanya bergerak, semakin liar debu itu menari. Setiap tarikan napas terasa kasar. Hidung dipenuhi bau tanah yang kering, sedangkan pandangan mulai terhalang oleh butir-butir yang terus berputar tanpa sempat mengendap.
Ki Jabon Seta tiba-tiba mempercepat putarannya.
Lingkaran yang semula masih dapat diikuti mata kini berubah menjadi pusaran yang seolah hendak menyedot segala sesuatu ke dalam pusatnya. Debu yang berputar rendah ikut terangkat, dan terus bergolak mengikuti hembusan udara yang berasal dari lontaran tenaga cadangan penerus Ki Mahoni itu.
Agung Sedayu tidak berusaha memutus putaran itu dengan lompatan atau hentakan tenaga. Sebaliknya, tubuhnya larut ke dalam pusaran yang dipaksakan lawannya. Kedua telapak tangannya hanya sempat menyentuh tanah sekejap sebelum berganti dengan bahu, punggung, lalu kedua kakinya yang kembali menyambar dalam putaran berikutnya. Tangan dan kaki seperti saling bertukar tempat tanpa dapat lagi dibedakan antara yang sedang menjadi tumpuan dan yang sedang menyerang.
Putaran tubuh Agung Sedayu semakin rapat.
Punggung yang sesekali bergesekan dengan tanah menghamburkan debu lebih banyak, sementara kedua kakinya terus menyambar dari arah yang tidak lagi mudah diterka. Setiap kali telapak tangannya menyentuh bumi, sentuhan itu hanya berlangsung sesaat, sekadar memberi arah bagi putaran berikutnya yang segera melontarkan tubuhnya kembali.
Dari kejauhan, Agung Sedayu tidak lagi tampak sebagai seorang yang sedang bertarung. Dia lebih serupa dengan kitiran yang diputar angin kencang. Tangan, kaki, debu, dan putaran tubuhnya melebur menjadi satu lingkaran yang terus bergerak.
Perubahan yang mengejutkan itu sangat menyulitkan Ki Jabon Seta saat kelemahan pertahanan Agung Sedayu tertutup sangat rapat. Justru yang kemudian terjadi adalah lepasan kilatan lengan dan kaki yang menyambar-nyambar disertai tenaga cadangan yang luar biasa hingga terasa perih di kulit.
Mereka berdua tidak lagi menampakkan bahwa keseimbangan pertarungan. Tidak ada yang terlihat sedang berusaha merebut kendali perkelahian. Yang tampak hanyalah dua kekuatan ilmu yang sudah saling melibat dan membelit.
Satu orang bertempur dengan lutut yang rendah dengan serangan-serangan yang sulit dimengerti. Satu lagi bertarung dengan cara yang tidak wajar—tubuhnya rata dengan tanah, berputar-putar seperti sedang mencampur udara dengan debu padahal yang dilakukannya adalah mengimbangi arus putaran penuh tenaga dari Ki Jabon Seta.
Sejauh pertarungan sengit itu, Ki Jabon Seta mempunyai arah pergerakan ke kanan untuk melingkari Agung Sedayu. Sedangkan demi mengimbangi hisapan bertenaga raksasa itu, Agung Sedayu memutar tubuhnya ke arah kiri dan terus menerus hingga batas di antara mereka perlahan mulai kabur dan kian melebur.
“Gila! Tata gerak dari perguruan manakah ini?” geram Ki Jabon Seta yang benar-benar merasa rumit dengan sepak terjang Agung Sedayu.
Yah, memang benar dan sudah sepantasnya pertanyaan itu muncul karena Agung Sedayu hanya dan sedang membalik rangkaian tata gerak jalur perguruan Ki Sadewa.
- Kegilaan yang terlihat dari tata gerak ini justru tidak mengusik Ki Widura. Paman Agung Sedayu ini berkata, “Apakah engkau menemui pilihan sulit jika itu menyangkut kitab dari Kiai Gringsing?” Rontal kuno yang tersimpan di bangsal Membidik 5 menerangkan sangat jelas. Beberapa orang sudah melihatnya tapi mungkin beliau semua tidak mengabarkan pada Anda.
- Nyaris sama atau sebanding dengan keadaan Lembu Ancak yang gugup di depan Arya Penangsang dan Gagak Panji. Mereka sedang membahas cara mengejar komplotan yang membunuh Raedn Trenggana di Panarukan 5. Sejenak kemudian, Arya Penangsang menarik napas panjang. Walaupun dilakukannya dengan sangat halus, tetapi pendengaran orang-orang sakti di sekitarnya tidak dapat dilampaui. Dan, seketika, orang-orang segera memandangnya dengan rasa bertanya-tanya.
- Tapi mereka tidak bertanya apa sebab terjadi Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh. Untuk persoalan ini, kita serahkan sepenuhnya pada pemangku Padepokan Witasem. Sertakan pula donasi agar ketahanan padepokan dapat berlipat ganda menyelesaikan kerusuhan ini. Rahayu
