Dironda 29 kali
Amuger Klinter tidak melambat, bahkan meningkatkan kecepatan. Dia juga tidak menoleh tapi sudah mengetahui bahwa pengejar itu berhasil menerobos penghadang yang sengaja ditinggalkan untuk menghentikannya.
Empat prajurit jaga yang mendengar tanda bahaya dari barat itu sudah bersiap, berhamburan menghadang jalur menuju gerbang. Tombak dan pedang mereka menyambar hampir bersamaan, menerjang barisan penyerang dengan serangan tajam nyaris tanpa kelemahan.
Sebagian anak buah Amuger Klinter menyongsong dengan wajah dan sikap yang dingin. Tugas mereka adalah menahan prajurit agar tidak mendekati pemimpin mereka.
Dalam sekejap jalur di depan gerbang barat berubah menjadi pertempuran kecil yang sangat sengit.
Ternyata kemampuan pasukan khusus memang tidak berada di bawah lawan-lawan mereka. Tata gerak pasukan khusus Mataram itu sangat cekatan dan mereka berkelahi cukup trengginas.
Namun empat lawan mereka pun bukan pula orang yang berkepandaian biasa saja. Kaki-kaki mereka cukup lincah. Loncatan panjang dan pendek, gerakan memutar mulai diterapkan untuk mengacaukan perhatian prajurit jaga dari pasukan khusus.
Pertempuran gerbang barat pun menjadi semakin seru.
Amuger Klinter terus melaju dengan tubuh sedikit merendah. Tanpa mengurangi kecepatan, Amuger Klinter menghantam daun gerbang dengan dua telapak tangannya.
Ledakan keras terdengar memecah malam yang tak lagi sunyi. Palang gerbang terlepas, engsel berderit keras tapi belum patah. Daun pintu yang berat itu pun menjadi sengkleh, hampir patah dengan sisi berat condong ke bagian dalam ke dalam.
Kurang dari sekejap kemudian, celah pun terbuka.
Amuger Klinter melompati daun pintu yang nyaris roboh. Saat kedua kakinya mendarat di halaman barat, Sabungsari telah sejajar dengannya.
Sementara itu, hampir bersamaan waktunya dengan keputusan Sabungsari saat mengejar bayangan penyusup, Ki Wirya dan sejumlah orang menyerbu barak dengan cara yang sama dengan Amuger Klinter.
Sebelum mencapai pategalan sisi utara, mereka melewati banyak gardu jaga. Tapi anehnya, kelompok ini tidak menyerang prajurit jaga yang seluruhnya berjumlah kurang dari dua belas. Itu jumlah yang sedikit dibandingkan kekuatan mereka.
Pergerakan puluhan bayangan hitam itu jelas memantik perhatian para penjaga gardu.
Ini juga aneh!
Para prajurit Mataram yang bertugas jaga di sisi utara pun tidak terlihat membunyikan tanda bahaya atau mengejar kelompok asing tersebut. Mereka melihat dan sadar bahwa pergerakan itu sudah pasti tidak bertujuan baik.
Adalah Glagah Putih yang seketika muncul dari balik batas halaman yang berpagar bambu berketinggian sedang itu. Bersama sebagian kecil prajurit dari Jati Anom, Glagah Putih berdiri tegak persis di tengah jalur kelompok Ki Wirya.
Dia telah mendengar banyak suara dari arah Sabungsari, termasuk suitan pendek dan bentakan-bentakan yang sangat dikenalnya.
Tak lama kemudian terdengar ledakan keras yang berasal dari gerbang barat.
“Mungkin mereka telah mencapai gerbang lalu menghantam gerbang dengan sangat keras,” ucap Glagah Putih dalam hati tanpa merasa hanyut dengan suasana di barak sebelah barat.
“Menepilah,” seru Ki Wirya dengan kedua kaki yang berderap makin cepat ke arah Glagah Putih.
Glagah Putih justru menjawabnya dengan kaki merenggang dan gerakan tangan sebagai tanda bagi prajurit di sekitarnya agar bersiap memberi perlawanan.
Ki Wirya terus melaju, bahkan sudah tampak berancang-ancang tanpa mengurangi kecepatan. Demikian pula sejumlah orang yang bergerak cepat pula di samping kiri dan kanan darinya.
Para prajurit dari pasukan khusus membuka gelar Jurang Grawah. Mereka menyusun barisan yang lebih mirip dengan tali busur yang sedang melengkung.
Sepintas susunan semacam itu akan dapat dengan mudah menarik lawan hingga masuk dalam jebakan. Tapi yang terjadi kemudian adalah Ki Wirya meneriakkan aba-aba yang hanya dipahami oleh kelompoknya. Seperti banjir yang datang dari sungai meluap, orang-orang itu menerjang maju tanpa teriakan perang.
Pasukan khusus Mataram yang mungkin berjumlah sama dengan lawannya itu tetap bergeming. Mereka bertahan dalam kedudukan yang biasa diterapkan.
Namun kelompok Ki Wirya ternyata menyambut gelar Jurang Grawah dengan cara yang mengejutkan.
Di bawah satu kalimat aba-aba Ki Wirya, kelompok ini memecah bagian menjadi sejumlah gugusan kecil yang masing-masing terdiri dari dua orang. Mereka tetap bergerak serempak dengan kecapatan yang nyaris tidak berubah, dan sepertinya sudah tahu titik lemah gelar perang tersebut.
Lengkungan barisan pasukan khusus Mataram yang semula tampak kokoh kini terancam daya gempurnya. Rasanya agak lambat tapi kekuatan Jurang Grawah dapat terkikis ketika lawan tidak memasuki pusat jebakan.
Pada gebrakan pertama, pengiring Ki Wirya justru menghantam seluruh bagian—tanpa memilih bagian atau sesuatu yang mereka anggap sebagai lubang. Mereka bergerak berpasangan. Setiap dua orang bertempur sebagai satu kesatuan dengan tata gerak yang tidak dapat disebut biasa.
Dentang senjata beradu memecah malam ketika dua kubu saling membenturkan kemampuan dengan kekuatan penuh. Seruan-seruan pendek terdengar bersahutan.
Namun satuan pasukan khusus yang berjaga di halaman utara itu bukan kelompok orang yang cengeng. Meski lawan tampaknya mempunyai kemampuan yang sedikit di atas rata-rata, prajurit Mataram ini masih dapat menutup celah-celah yang muncul kemudian. Sekalipun tekanan selanjutnya datang bertubi-tubi tapi regu Glagah Putih ini tidak mudah terdesak. Bahkan mereka mampu mengembangkan gelar perang itu hingga dapat memaksa lawan melangkah mundur.
Hanya saja, dalam kemelut halaman utara itu, Glagah Putih terikat sepenuhnya dengan pertarungan yang dapat menentukan—menghadang laju serangan Ki Wirya.
Mereka saling memandang, tapi kurang dari sekejap, Ki Wirya menyerang dengan kelincahan yang luar biasa. Tandang orang ini sepertinya tidak dapat dibatasi oleh usia. Serangannya mengalir dengan kekuatan yang sepertinya masih ditahan olehnya. Walau demikian, sambaran tangannya menimbulkan desing tajam, seperti bilah pedang yang disabetkan dengan kecepatan luar biasa.
Sadar bahwa lawannya tidak sedang dalam tahap penjajagan, Glagah Putih segera menggandakan daya tahan. Selanjutnya sepupu Agung Sedayu ini bertahan dalam kedudukan itu. Namun demikian, setiap serangannya terasa seperti tombak yang menyusup di antara pertahanan yang sedikit bercelah.
Dua orang ini sepertinya sudah tidak sungkan-sungkan lagi untuk mengerahkan selapis demi selapis tingkat kemampuan masing-masing. Ayunan lengan dan sambaran kaki mendobrak sangat cepat dan cukup garang. Dan sejauh itu, keseimbangan masih belum memilih tempat untuk berpijak.
Perjumpaan dua kekuatan besar sepanjang dinding barak benar-benar berlangsung seru.
Sepertinya kelompok Ki Wirya ini bukan penyusup yang berasal dari kalangan biasa atau perguruan kecil, tapi besar kemungkinan lebih tinggi dari itu.
Mereka bertarung dua lawan dua, satu lawan satu bahkan sesekali berkembang menjadi tiga lawan tiga. Mereka melepas satu orang, mengikat lawan lain yang terdekat lalu kembali ke lawan pertama seperti sedang terjadi tawuran liar.
Padahal tidak seperti itu!
Di balik gerakan-gerakan yang seolah tanpa aturan atau perang sampyuh, sesungguhnya tersimpan siasat yang sangat rapi.
Mereka bergantian mengambil tempat. Seorang yang telah terdesak akan memutar, lalu temannya mengambil alih tekanan. Dalam kejap berikutnya, orang pertama telah berada di sisi yang lebih menguntungkan, sementara prajurit Mataram tanpa sadar dipaksa ikut masuk dalam siasat yang dijalankan kelompok Ki Wirya.
Orang-orang Ki Wirya bertempur tanpa membuat kesan mendesak tapi hanya bertahan sambil berusaha merebut keseimbangan gelanggang sedikit demi sedikit. Yang demikian itu berlangsung terus-menerus. Tidak tergesa-gesa, tetapi juga tidak pernah berhenti. Seolah-olah mereka sedang mengetrapkan gelar Cakrabyuha di bawah perintah yang hanya sekali dilantangkan oleh Ki Wirya.
Para prajurit Mataram yang berasal dari Jati Anom dan juga pasukan khusus bukan tidak menyadari cara itu. Sebagian bahkan lebih sigap meneriakkan peringatan agar barisan Mataram tetap dalam satu ikatan.
Mereka pun menjadi lebih tangkas dalam menyerang maupun bertahan dengan tetap mempertahankan kedudukan masing-masing. Bahkan, yang datang dari Jati Anom pun sudah menggantikan senjatanya dengan senjata khas Perguruan Orang Bercambuk. Maka, ledakan cambuk dalam sekejap sudah memenuhi udara bagian utara barak pasukan khusus.
Dan tentu saja perubahan kecil itu tiba-tiba dirasakan seperti serangan yang mengejutkan oleh kelompok Ki Wirya. Panjang cambuk pun mendatangkan masalah baru bagi mereka. Jika sebelumnya keberhasilan mengurai ikatan para prajurit terasa muda, kali ini bentang cambuk menjadi penghalang yang liat.
Lecut cambuk yang dilontarkan oleh prajurit Jati Anom mematuk-matuk liar. Mereka mampu menahan keseimbangan yang hampir timpang. Cambuk-cambuk mereka berayun datar, menyilang dan menyapu kaki-kaki lawan dengan kecepatan luar biasa.
Namun, lawan mereka itu cukup tenang dan seolah perhatian mereka bukan pada keharusan memenangkan pertempuran di halaman utara. Tampaknya memang ada kenyataan yang tidak dapat diingkari pada akhir malam itu: kelompok yang menjadi lawan pasukan Mataram sama sekali tidak menggunakan api. Itu sangat jauh berbeda dengan para pengikut Raden Atmandaru di masa lalu.
Lambat laun dan sedikit demi sedikit meski perlahan, anak buah Ki Wirya berhasil menggeser titik pusat pertempuran lebih dekat dengan dinding barak.
Glagah Putih menangkap kejanggalan itu.
Dia melihat beberapa lawan dari prajurit Mataram ternyata mampu melepaskan ikatan dan kembali bertukar tempat.
“Jika mereka tidak bertempur hingga tuntas lalu dekat dengan dinding, kemudian apa?” tanya Glagah Putih dalam hati.
- Glagah Putih menangkap kejanggalan yang terjadi pada salah satu malam di Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Sementara itu, di tempat yang lain, tak lama setelah berita diculiknya Arum Sari di Penculikan 2 tersiar, para prajurit di Wringin Anom sudah terlihat di berbagai sudut-sudut jalan.
- Tapi di sebuah hutan yang terletak ratusan tombak dari Gerbang Demak 5, Arya Penangsang mengalirkan getar tenaga inti melalui udara yang dihembuskan dari rongga dada menuju lubang seruling.
