Dironda 57 kali
Maka, pada saat malam hampir kehabisan suram, Ki Jabon Seta dan regu yang dipimpinnya pun menyiapkan diri. Orang ini sudah menduga bahwa benturan tak mungkin dihindari dan dia sudah membagi kelompoknya menjadi dua. Satu gugus bertugas menjebol dinding selatan. Satu lagi akan bersamanya menuju rumah Agung Sedayu.
Namun ternyata rencananya terhadang di tengah jalan. Sekelompok anak muda tampak berlompatan dan menyebar memenuhi ruang kosong yang terbuka antara dirinya dengan regunya yang menuju dinding selatan. Ki Jabon Seta tidak terkepung tapi regunya sudah pasti tidak lagi dapat terhubung karena cantrik yang datang dari Jati Anom berada di sela-sela mereka.
Dua kubu yang berseberangan ini sama-sama tidak menguasai medan. Meskipun orang-orang perguruan Ki Jabon Seta itu datang terlebih dulu, mengamai dan mempelajai lingkungan itu masih belum dianggap menguntungkan.
Sementara anak-anak muda dari Jati Anom bahkan tidak tahu lebih banyak. Mereka baru datang sekitar dua hari, lalu berkeliling tapi bukan untuk mengamati lingkungan. Mereka bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar rumah Agung Sedayu saja. Kehadiran pengawal Tanah Perdikan di antara mereka tidak bertujuan untuk menjadi pandu lingkungan tapi sebagai penghubung antargugus sekaligus jangkar gelar.
Tanpa perintah, tanpa aba-aba, bahkan Agung Sedayu pun tidak berteriak lantang untuk sebuah perintah, tiba-tiba bunyi ledakan bersahut-sahutan.
Maka, sekalipun pertempuran seketika berlangsung sangat keras, tapi dua kubu ini seakan terkekang oleh suasana yang masih gelap.
Fajar masih jauh dari hitungan waktu.
Dalam pertempuran itu, Ki Jabon Seta tidak turut dalam perkelahian. Hampir seluruh anak buahnya telah mengikat belasan anak-anak Jati Anom yang gigih mengerahkan segenap kemampuan.
Membunuh mereka semua memang lebih mudah daripada memijat wohing ranti, tapi itu tidak membuatnya bangga. Bahkan mungkin menjadi perbincangan buruk di kalangan orang-orang kanuragan. Betapa Ki Jabon Seta yang kesaktiannya pilih tanding menjadi pemenang tapi musuhnya hanya cantrik-cantrik muda yang baru belajar kanuragan. Pikiran semacam itu akhirnya menahan gerak Ki Jabon Seta. Tekadnya, menunggu atau mencari Agung Sedayu.
Orang ini berada dalam pertengahan, benarkah Agung Sedayu hanya begitu saja atau ada yang masih disembunyikan olehnya? Banyak orang mengatakan kemampuan Agung Sedayu jauh berada di atas para pangeran Mataram, namun mengapa justru tak sedikit yang merendahkan senapati Mataram itu setelah perang tanding Pancuran Watu Item?
“Baiklah, tidak ada yang seluruhnya dapat dipercaya selain malam ini,” kata Ki Jabon Seta dalam hati.
Di gelanggang pertempuran yang memanjang dan dalam keadaan kalah segi jumlah, cantrik Jati Anom yang dibantu beberapa pengawal Tanah Perdikan mampu menunjukkan kerjasama yang menjadikan mereka sangat sulit ditaklukkan. Yah, sekalipun kemampuan orang-orang dari perguruan Ki Jabon Seta mungkin sedikit di atas mereka, tapi kegigihan dan kepatuhan pada arahan Sedayu membuat hampir segalanya terasa sulit bagi anak buah Ki Jabon Seta.
Pertempuran itu terkesan seperti sebuah kesemrawutan yang benar-benar liar. Padahal tidak seperti yang terlihat sebenarnya.
Orang-orang Perguruan Ki Jabon Seta seakan bertumpu pada kerjasama dan kemampuan kanuragan yang mumpuni. Terlihat dari tata gerak mereka saat menggerakkan senjata, baik berupa pedang, tombak pendek dan keris. Seluruhnya sangat rapi dan mantap.
Di pihak lain, cantrik-cantrik Perguruan Orang Bercambuk tidak pernah membiarkan seorang pun bertempur sendiri. Mereka juga tidak pernah meninggalkan lubang dalam waktu lama. Anak-anak muda juga tangkas bertempur dalam barisan yang seakan bagian dai sebuah gelar perang. Keadaan itu menjadi sesuatu yang wajar karena mereka berkembang di bawah bimbingan Ki Widura, mantan senapati Pajang.
Pada malam itu, setiap gugus yang beranggota tiga atau empat orang menghadapi lima sampai tujuh lawan, tetapi tiga cambuk yang berayun seolah-olah adalah satu kesatuan. Satu sabetan cambuk mereka mampu menghadang dua atau tiga orang, satu orang lagi memukul dari sisi lain, seorang lainnya menyusup pada celah yang ada di barisan lawan.
Kerumitan tempur yang disajikan laskar gabungan Jati Anom dan pengawal Menoreh, sungguh, membuat beberapa orang Jabon Seta tertantang memecahkan susunan itu.
Dua orang menerjang dari depan, sementara tiga lainnya berusaha melingkar dengan satu aba-aba pendek yang terdengar.
Cantrik yang berada paling kanan segera melenting beberapa langkah, untuk bergabung pada kelompok yang sedang menerima tekanan lebih berat.
Dalam sekejap, tempat yang ditinggalkannya kosong namun itu tidak berlangsung lama.
Dari kelompok yang berada beberapa tombak di belakang, dua pengawal Menoreh bergeser menyilang. Seorang mengambil kedudukan yang kosong, seorang lagi menajwa kawannya dari serangan yang bisa saja muncul dari segala arah.
Sesaat kemudian, barisan dari laskar gabungan ini kembali membentuk jalinan yang rapat.
Perubahan kemudian terjadi dan mengalir seperti tidak akan terhalang oleh sesuatu pun dan memang anak Ki Jabon Seta kerap kehilangan sasaran yang semula dibdik.
Keadaan semacam itu tidak hanya terjadi di satu tempat, tetapi hampir di setiap kemelut sepanjang dinding selatan barak.
Punjung, dari gardu yang menempel dinding, dapat melihat perkelahian yang berlangsung tak jauh dari tempatnya. Dia memperhatikan beberapa benda yang dijadikannya sebagai patokan jangkauan serang.
Sesaat dia berpaling ke kiri dan kanan—memastikan kesiapan prajurit Mataram di sekitarnya.
Mungkin dalam tiga kejapan mata, perintah memukul kentongan pun diberikan pada prajurit Mataram yang bertugas sebagai penghubung antarlini.
Udara di sebelah selatan pun kemudian dikejutkan dengan nada titir dari kentongan yang dipukul prajurit Mataram itu.
Perubahan kembali terjadi.
Pengawal Menoreh meneriakkan aba-aba yang hanya dimengerti oleh kawan-kawannya termasuk cantrik Perguruan Orang Bercambuk.
Gayam atau bayam, kata-kata itulah yang terdengar sebagai aba-aba yang berkumandang sejenak setelah nada titir kentogan telah lenyap.
Dalam sekejap, susunan atau barisan laskar gabungan nyaris serempak bergeser dan bertukar tempat. Satu orang keluar dari gugusnya, dua orang masuk. Di sisi lain, bahkan lima cantrik bergeser dalam waktu bersamaan. Mereka teus mengalir dan mencari celah meksi terkesan justru melakukan hal sebaliknya.
Orang-orang Perguruan Ki Jabon Seta mulai merasakan kesulitan yang tidak mereka pahami. Berkali-kali mereka merasa telah memperoleh keunggulan jumlah pada sebuah kelompok, tetapi sebelum tekanan itu membuahkan hasil, susunan lawan telah berubah. Mereka kembali menghadapi jumlah yang hampir seimbang, sementara tekanan Menoreh berada dalam kekuatan yang tetap.
Cambuk-cambuk Jati Anom bersliweran seperti sedang menampilkan diri sebagai satu-satunya penghalang yang harus dilewati banyak senjata lawan. Tidak mudah memang untuk memukul mundur mereka walau jumlah penyerang justru lebih banyak.
Para pengawal Menoreh tidak berhenti berseru dengan aba-aba, cantrik Perguruan Orang Bercambuk tidak pula membantah atau merasa lebih unggul. Mereka berada dalam satu ikatan: Agung Sedayu.
Perlahan, keseimbangan pertempuran pun menyerah—mengikuti perubahan susunan tersebut yang tidak pernah terpusat pada satu titik.
Kelompok-kelompok kecil terus bergerak dan berganti-ganti orang. Terbentuk gugus baru, terurai kemudian bersatu kembali dalam bentuk yang berbeda.
Walau demikian, orang-orang Ki Jabon Seta tetap bertempur dengan keberanian yang sama, tetapi mereka dipaksa lebih memusatkan perhatian demi mengejar sasaran yang terus berganti dan tidak pernah menetap pada satu kedudukan.
Sementara itu, cantrik-cantrik Perguruan Orang Bercambuk terus mempertahankan siasat mereka hingga memaksa lawan mereka mengerutkan dahi.
Kurang dari sekejap, tekanan anak buah Ki Jabon Seta sempat terhenti. Mereka mengamati perkembangan dengan kening berkerut. Dengan agak heran dan sedikit penasaran, mereka bertanya-tanya dalam pikiran masing-masing: setelah pergumulan ketat itu, mengapa lawan mereka justru mengambil langkah yang semakin dekat dengan dinding selatan? Apakah ada jebakan di sana?
Dan seperti yang dilihat dan dirasakan oleh anak buah Ki Jabon Seta, laskar gabungan Jati Anom dan Menoreh nyata bergeser setapak demi setapak lebih dekat dengan garis paling akhir pertahanan.
Saat Ki Jabon Seta berdiam diri sambil menebar pandangan guna mencari keberadaan Agung Sedayu, senapati Mataram itu seolah tidak sedang menghadapi pertarungan yang dapat mengubah Menoreh di masa mendatang.
Berjalan tenang di antara gelar kecil yang tidak berhenti berputar, sikap Agung Sedayu justru tampak seperti seorang guru yang sedang menawasi cantrik-cantriknya berlatih. Sorot mata dan wajahnya tidak memperlihatkan kegugupan saat satu atau dua gugus dalam tekanan. Bahkan dia pun seakan tidak melihat hal itu terjadi meski berlangsung di samping atau di depannya.
Sebenarnyalah, Agung Sedayu pun sedang mencari pusat kekuatan lawan yang sama sekali belum terlihat. Panggraitanya menyatakan pasti ada kendali di balik serangan. Tapi karena tidak adanya hentakan tenaga atau barisan yang jebol maka itu adalah keheningan yang tersembunyi sangat rapi.
Hingga akhirnya.
Tanpa kesengajaan menghadang atau menarik perhatian, Agung Sedayu pun tiba kemudian di belakang seseorang yang berdiri tenang menyaksikan pertempuran.
“Selamat malam,” sapa Agung Sedayu pada orang itu.
Orang yang dituju, Ki Jabon Seta, berpaling ke belakang sambil mengerutkan kening.
Setelah saling bertatap mata sesaat, Ki Jabon Seta yang semula ragu mengenai orang yang menyapanya itu, mulai menduga bahwa dia adalah Agung Sedayu.
Aneh, pikirnya. Dia mendengar langkah kaki dengan cukup jelas meski tetap kalah keras dengan dentang senjata serta pekik perang. Seperti jejak kaki orang yang tidak menguasai cara menyerap bunyi atau meringankan tubuh. Bahkan menurutnya, langkah orang itu justru terdengar seperti ayun kaki seorang petani.
Ki Jabon Seta memutar tubuh sepenuhnya dan mereka pun saling berhadapan dalam jarak yang mungkin kurang dari empat atau lima langkah.
Hanya saling menatap, tanpa membuat gerakan sedikit pun.
Namun sebenarnyalah mereka sedang menjajagi kedalaman ruang batin masing-masing.
Ki Jabon Seta tidak segera membuka pembicaraan. Orang yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda hendak menyerang. Sorot matanya tenang dengan napas panjang yang teratur. Maka Ki Jabon Seta pun semakin waspada.
Tidak mungkin orang ini sengaja membiarkan dirinya terbuka, desisnya dalam hati. Atau… dia memang tidak mempunyai celah?
Pada perjumpaan itu, Agung Sedayu pun tidak berusaha menembus tatapan lawannya dengan kekuatan kehendak. Dia tetap memandang langsung mata Ki Jabon Seta dengan panggraita yang bekerja tanpa henti.
Sejenak dia mencoba menyusuri lembar-lembar perjalanan hidupnya di masa lalu. Wajah itu memang asing baginya, tetapi ada sesuatu yang sukar dijelaskan. Melihat caranya berdiri dan mengawasi jalannya pertempuran, maka sudah jelas lapisan jiwani dan ketinggian ilmu orang itu.
Di sekitar mereka, dentang senjata dan pekik pertempuran masih bersahut-sahutan.
Namun bagi dua orang itu, segala bunyi adalah sesuatu yang tanpa arti.
Di dalam pikirannya, Ki Jabon Seta seakan ingin memastikan bawah yang di depannya itu, benarkah orang yang telah mengakhiri perjalanan Ki Mahoni? Meski sudah melihat Agung Sedayu di Pancuran Watu Item tapi itu dari kejauhan. Saat berdekatan seperti sekarang walau masih gelap, Ki Jabon Seta sudah merasa yakin orang itu adalah Agung Sedayu. Perkiraan rentang usia, bentuk tubuh dan sikap seperti mendekati gambaran yang dikatakan saudagar yang menemuinya di Pegunungan Sewu dan juga keterangan Ki Panji Danutirta.
Tidak tampak sedikit pun rasa gugup maupun cemas pada wajahnya. Oleh karena itu, Ki Jabon Seta juga bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah itu memang wataknya, atau sekadar kepandaian menyembunyikan isi hati? Atau sebuah siasat?”
Menilik sikap dan kedudukannya di medan tempur, Agung Sedayu menduga bahwa besar kemungkinan orang itu memang sengaja mencarinya atau sedang menunggu dirinya. Dia tidak memimpin pertempuran dari depan tapi dari tengah gelanggang tanpa turun tangan atau meneriakkan aba-aba. Apakah dia tidak sekadar bertujuan menyerbu Menoreh? Jika tidak, apa yang sedang diincarnya?
“Saya tidak mengenal dan tidak mempunyai kepentingan dengan Ki Sanak,” kata Agung Sedayu memecah keheningan di antara mereka. “”Yang saya lihat adalah orang-orang Ki Sanak telah menyerbu Menoreh.”
Agung Sedayu membagi pandangan lalu berkata tegas saat wajahnya lurus menusuk Ki Jabon Seta, “Perintahkan mundur bagi mereka lalu pergilah kalian semua.”
Lalu Ki Jabon Seta membalas,”Apakah setiap orang yang datang ke Menoreh selalu diusir tanpa lebih dahulu didengar?”
Agung Sedayu menjawab singkat, “Tidak.”
Ki Jabon Seta bertanya lagi, “Lalu mengapa aku diperintahkan pergi?”
“Ki Sanak datang tanpa nama, tanpa maksud, tanpa pemberitahuan pada Ki Gede Menoreh tetapi membawa senjata. Dalam keadaan seperti itu, saya tidak melihat alasan untuk membiarkan Ki Sanak tetap berdiri di tanah Menoreh,” sahut tegas Agung Sedayu.
Dia menambahkan kemudian, “Saya kira sudah sangat jelas. Pergilah.”
Ki Jabon Seta mengangguk-angguk lalu tersenyum. Katanya kemudian, “Bagaimana bila aku tidak pergi?”
“Tentu saja saya akan kehilangan waktu istirahat karena sebentar lagi pagi akan tiba,” ucap Sedayu tanpa melontarkan ancaman atau berkata lebih keras lagi.
Bagi Ki Jabon Seta, ucapan itu adalah penghinaan yang luar biasa. Dia merasa direndahkan Agung Sedayu yang benar-benar tidak menganggap dirinya. Sadar bahwa mereka memang tidak pernah bertemu, tapi, apakah pantas seorang senapati merendahkan harga dirinya? Sesungguhnyalah itu cara Agung Sedayu agar orang itu cepat mengeluarkan kemampuan yang mungkin akan dapat dikenalinya lalu menduga asal perguruan atau kedatangannya.
- Sementara di zaman Mataram Kuno, Ra Gawa tetap berada dalam keadaannya selama Dyah Murti menanggalkan segala yang melekat. Demikian pula Gita Nervati dan Anindita Rukmi. Di rontal pelepah daun pisang raja itu tertulis Nir Wuk Tanpa Jalu 6.
- “Bergabunglah bersama orang-orang kalah,” tukas Ken Arok. Ucapan ini terpahat pada dinding candi di Tanah Larangan 3. Saya tidak akan berpikir dua kali dengan ajakan Ken Arok itu. Sudah barang tentu ada sesuatu yang disembunyikan oleh pengarang kisah. Mari kita buktikan.
- Dan kita perlu lebih rinci lagi mengumpulkan bukti untuk membuktikan terjadinya Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh ini.
