Dironda 67 kali
Namun demikian, serangan yang meluap-luap dari simpanan ilmu Ki Wirya membuat Glagah Putih tidak dapat berbuat banyak untuk menjaga keadaan pasukannya. Maka dengan begitu, Glagah Putih yang masih banyak berloncatan menghindar, akhirnya harus segera membalikkan setiap yang diterima dari musuhnya itu. Murid Ki Jayaraga ini maju menyerang dengan dahsyat, meskipun serangannya belum berhasil menyentuh lawan tapi setidaknya dia kembali mengobarkan api perlawanan secara tak langsung.
Perhatian Glagah Putih sepenuhnya tersita.
Ki Wirya tidak memberinya kesempatan untuk mengatur barisan anak buahnya. Ki Wirya dengan cukup ganas dan sekuat tenaga mengalirkan serangan demi serangan yang datang bergelombang. Tata gerak orang ini mempunyai cukup banyak kembangan hingga dapat memaksa Glagah Putih menambah lagi lapisan ilmu yang dimilikinya.
Dalam beberapa kejap kemudian, perkelahian mereka berdua bergulir dengan cara yang sangat hebat. Debu yang tidak terlihat tiba-tiba menyusup ke bagian mata, kadang juga menutup saluran pernapasan karena begitu hebat hempasan tenaga cadangan yang berhamburan dari putaran lengan dan kaki.
Perkelahian satu lawan satu yang sengit, sementara pertempuran di sekeliling mereka terus berkobar tanpa ada orang yang menjadi pimpinan di masing-masing kubu.
Diterangi suram cahaya oncor, sejumlah orang dari kelompok Ki Wirya tiba-tiba melemparkan tambang berpengait ke bagian atas dinding. Sebagian terangkut tapi yang lain tidak dapat menjangkau.
Namun, itu menjadi aneh karena tambang yang tersangkut ternyata dibiarkan menggelantung begitu saja. Jadi, apakah ini?
Gerbang Timur, Ugrasena menghadapi Ki Sanggabaya
Di sisi timur yang menghadap searah ke kediaman Ki Gede Menoreh, Ki Rangga Sanggabaya mengangkat wajah dengan kening berkerut. Dia juga mendengar suitan tanda bahaya dari Sabungsari di bagian barat. Para penjaga dan prajurit pun sudah bersiap di balik gerbang timur yang sengaja tidak dikunci.
Ki Rangga Sanggabaya tidak memilih bersembunyi di balik daun-daun pintu gerbang atau memanfaatkan perlindungan pagar barak. Ia justru berdiri tegak beberapa langkah di depan gerbang timur, didampingi dua orang prajurit dari pasukan khusus. Sikapnya tenang, tetapi sorot matanya tidak pernah lepas dari jalan yang mengarah ke kediaman Ki Gede Menoreh.
Pada saat yang sama, Ki Lurah Prana Aji dan Ki Lurah Sora Sareh tidak ditempatkan di gerbang. Mereka berdua mendapat tugas menjaga ruang tahanan dan bagian lain di dalam barak, mengawasi kemungkinan adanya penyusup yang berhasil menerobos pertahanan atau gangguan yang muncul dari arah lain. Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong tetap memperoleh keleluasaan bergerak di lingkungan barak seperti hari-hari sebelumnya.
Swandaru yang masih terbaring lemah di dalam bilik rawat pun dihinggapi berbagai macam pikiran dan perasaan. Apakah ada penyesalan? Apakah rasa segan dan malu semakin berkembang di dalam dirinya? Tidak ada yang tahu, yang lebih mungkin adalah dia menduga hiruk pikuk di luar sudah pasti berhubungan erat dengan kakak seperguruannya. Hanya sebatas itu.
Selama berdiam diri untuk berlatih di lereng Gunung Kendil, Swandaru tidak mengetahui betapa banyak orang dari berbagai perguruan persilatan yang menantang Agung Sedayu dengan sejumlah alasan dan kepentingan.
Bahkan seandainya benar bahwa keributan di luar itu bertujuan untuk menyerang barak kemudian barak jatuh ke tangan perusuh, bagaimana dengan nasibnya sendiri? Swandaru tidak ingin berangan-angan panjang. Untuk bergerak di atas pembaringan saja dia sudah kepayahan.
Tidak perlu waktu lama bagi suasana mencekam terasa seperti hantu yang kebingungan ketika bayang-bayang gelap mulai bergerak cepat dari kejauhan. Semakin lama semakin jelas, membentuk barisan yang berlari tanpa banyak mengeluarkan suara.
Di barisan terdepan tampak Ugrasena memimpin kelompoknya dengan langkah panjang dan mantap. Mereka tidak ada niat untuk memberi kesempatan sedikit pun kepada Mataram untuk mengatur napas.
Ki Sanggabaya memicingkan mata. Asing, dia tidak mengenal Ugrasena yang datang dengan kecepatan seperti demit.
Daun gerbang yang sejak semula terbuka sempit, perlahan dibuka lebar-lebar. Ini terkesan seperti bakal membiarkan lawan masuk. Dan tentu saja, Ugrasena tidak akan percaya tapi justru memberi tanda agar setiap orang di belakangya lebih waspada.
Hampir serentak pasukan khusus yang tersisa di barak terlihat melesat keluar, menyongsong penyerang sebelum benturan terjadi tepat di mulut gerbang.
Ki Sanggabaya memilih gelanggang sedikit agak jauh dari gerbang tapi tidak benar-benar di halaman timur barak. Sebagian pasukan khusus sudah mencapai sisi luar halaman barak.
Dalam sekejap, dentang senjata memecah kesunyian malam.
Perlawanan yang ditunjukkan Ugrasena dan orang-orang yang mengikutinya benar-benar mengejutkan. Ki Sanggabaya melihat benturan itu dengan hati sedikit berdebar. Kemampuan orang per orang dari barisan penyerang itu tidak berada di bawah pasukan khusus. Mungkin agak mendekati jika bukan benar-benar setara atau bahkan di atas prajurit Mataram.
Yang pertama kali dilakukan oleh Ki Sanggabaya bukan terjun langsung untuk mengendalikan dari dalam gelanggang. Wakil pemimpin pasukan khusus ini menyerukan sejumlah perintah yang hanya dimengerti oleh orang-orangnya, sementara kedudukannya masih tetap tidak jauh dari pintu masuk utama barak. Dengan demikian, Ki Sanggabaya pun dapat melakukan dua pekerjaan sekaligus: memimpin pertempuran dan juga menjaga kedalaman barak pasukan khusus.
Gelar perang Gedong Minep yang sejak semula dipersiapkan untuk menghadapi serangan mendadak perlahan berubah seiring perintah pendek dan suitan nyaring dari Ki Sanggabaya. Barisan depan tidak lagi memaksakan diri untuk menghantam lawan, tapi menahan setiap desakan dengan cara menutup gerakan lawan dengan langkah-langkah pendek yang berdektan dengan sesama pasukan Mataram. Celah pun tertutup dan pagar betis hidup dapat bergerak maju.
Sementara itu, lapis kedua bergerak sebagai penyanggah dan pelapis yang bergantian menyusup untuk menggantikan rekan yang bergeser tempat.
Dalam waktu itu, Ugrasena segera merasakan bahwa lawan di hadapannya bukan sekadar prajurit pilihan yang mengandalkan keberanian. Mereka bertempur dengan susunan perang yang sulit ditebak. Dia mengamati setiap kali seorang anak buahnya berhasil mendesak seorang prajurit Mataram, dua orang lain muncul dari samping atau belakang untuk memecah tekanan lalu mengubahnya menjadi dorongan yang memaksa mereka melangkah surut.
Gelar Gedong Minep tetap utuh meskipun berkali-kali diterjang kekuatan yang nyaris seimbang.
Gelombang senjata terus berayun dan semakin rapat. Kilatan pedang dan tombak pendek berseliweran di bawah cahaya bulan yang makin tenggelam.
Perlahan tapi pasti, keunggulan pasukan khusus mulai tampak.
Sedikit demi sedikit garis pertempuran bergeser keluar. Tanpa terasa kelompok Ugrasena yang semula telah berhasil menginjak bagian tengah halaman timur barak mulai terdorong kembali ke arah jalan di luar gerbang. Walau demikian, mereka tetap memberikan perlawanan sengit dan masih menjadi lawan yang sukar ditaklukan pasukan khusus.
Ki Rangga Sanggabaya sendiri tidak terpaku pada satu tempat. Di terus bergerak dari dari satu sisi ke sisi lain. Kadang muncul di belakang lapis pertama, lalu dalam sekejap telah berada di dekat sayap kanan. Dari setiap tempat yang disinggahinya selalu lahir aba-aba pendek yang segera mengubah arah tekanan pasukan khusus. Kecakapannya sebagai pemimpin perang memang nyata dan sepantasnya menjadi orang kedua di barak pasukan khusus. Saat itu hampir seluruh gelanggang itu berada di dalam genggamannya.
Rasa dongkol seketika menguasai hati Ugrasena. Lelaki muda ini memandang Ki Sanggabaya dengan rasa geram sambil mengatupkan rahang.
“Orang itu,” desisnya dalam hati. “Selama masih berada di tengah gelanggang, aku tidak akan dapat membuka gerbang atau membuat celah. Seluruhnya hampir sempurna dan sangat kuat.”
Pikirannya bekerja setajam ujung keris. Tidak ada gunanya terus menguras tenaga melawan seluruh pasukan khusus. Kekuatan dan keseimbangan mereka hanya bertumpu pada seorang pengendali. Apabila Ki Rangga Sanggabaya dapat dihentikan, walau hanya sesaat, gelar perang itu tentu akan kehilangan penyanggah.
Ugrasena membuat keputusan kilat.
Tanpa suara, dia menghentakkan sepasang kakinya. Meluncur deras, melabrak dua prajurit Mataram yang berusaha menghadangnya. Kemudian melenting tinggi, melampaui dua orang yang sedang bertempur.
Gerakannya sangat ringan, cepat sekaligus buas, seperti seekor rajawali yang tiba-tiba menukik tajam, menyambar mangsa dari angkasa. Pedangnya berkelebat, membuka jalan darah, menerobos garis pertahanan orang-orang Mataram.
Ugrasena sedang mengawali usahanya memburu Ki Sanggabaya.
“Lawanlah aku!” serunya keras pada Ki Sanggabaya ketika kedudukannya sudah semakin dekat.
Ki Rangga Sanggabaya mendengar dan tahu orang yang dimaksud oleh lelaki muda itu adalah dirinya tapi dia tidak menoleh seluruhnya. Sebaliknya senapati pilihan Mataram ini justru menyelinap di antara gerak tempur banyak orang tanpa peduli letak barisan.
Sebenarnya Ki Sanggabaya bukan termasuk orang yang pengecut. Dia bergerak sedemikian rupa dengan tujuan tertentu.
Ugrasena sadar bahwa buruannya sedang menerapkan siasat tersendiri untuk dirinya dan dia terus mengejar salah satu pimpinan pasukan khusus itu.
Maka yang terjadi kemudian adalah dua orang yang berkejaran dengan lompatan-lompatan panjang, membelah gelanggang dan juga menghantam setiap orang yang berada di dekat mereka.
Ki Sanggabaya selalu rmerobek pertahanan penyerang gelap barak pasukan Mataram yang berada di jalurnya.
Demikian juga Ugrasena yang sungguh-sungguh mengimbangi setiap serangan Ki Sanggabaya dengan cara menghantam prajurit Mataram yang ada di samping kiri atau kanan, di depan atau belakang tanpa benar-benar tertinggal dari senapati Mataram itu. Akibatnya dapat diduga: gelar perang kecil Mataram pun menjadi morat-marit.
- Bahaya dan semakin bahaya ketika Ki Garu Wesi benar-benar menunjukkan kecerdasannya saat menjadi panglima perang kubu Raden Atmandaru. Sebuah wilayah Kademangan Sangkal Putung diambang kejatuhan. Pedukuhan Janti 19
Ketangguhan Padepokan Witasem demi menjaga akses gratis agar dapat dibaca semua kalangan pun berawal dari dukungan Panjenengan sekalian. Donasi dapat sukarela dengan nominal bebas. Informasi masih Menyala.
- Sementara itu, sambil menjaga nyala api, Raden Trenggana berkata pada Mas Karebet di Gerbang Demak 8, “Aku mendapat laporan bahwa kau sempat terperangkap dalam kebakaran di hutan.”
