Dironda 62 kali
Dari waktu ke waktu terdengar aba-aba pendek dari salah seorang di antara mereka, dan setiap kali aba-aba itu meluncur, seluruh susunan bergerak serempak tanpa ada guncangan.
Perlahan tetapi pasti, garis pertahanan pasukan khusus mulai terdorong. Pergeseran itu tidak mencolok jika diamati sepintas, namun bagi Glagah Putih itu adalah pertanda yang paling mengkhawatirkan. Arah pertempuran mulai condong ke satu pihak.
Lawan mulai menguasai medan!
Glagah Putih menyerbu lingkaran panjang itu dengan hentakan ilmu yang bersumber dari Panjer Bumi. Sesaat kedudukan pengikut Ki Wirya porak poranda. Tapi lima orang dari mereka berhasil meraih tambang lalu merayap naik dengan cepat.
Tiga atau empat orang laskar Mataram melihat perkembangan itu lalu menyerang dengan kekuatan rangkap yang rapi dan berbahaya. Ujung cambuk memburu musuh yang merayap, dua pedang melesat deras pada lawan yang memanjat, tapi Ki Wirya dengan cara mengagumkan berhasil mendobrak pertahanan pasukan khusus. Ki Wirya sedang mencoba memaksa Glagah kembali dalam ikatan perkelahian. Lalu kurang dari sekejap, sepak terjangnya berhasil membuat gugus tempur Glagah Putih terpental dari barisan.
Glagah Putih cepat membuat keputusan: dia harus kembali menghadang Ki Wirya dan pertarungan itu harus terjadi di delat dinding barak. Jika dia terlambat, maka besar kemungkinan bakal banyak jatuh korban dari pihak Mataram akibat amuk Ki Wirya yang sangat hebat itu.
Yang akan dilakukan oleh Glagah Putih memang sudah diperkirakan oleh lawannya. Maka dua orang ini pun serentak sama-sama menerjang, mengadu kekuatan untuk ke sekian kali di bawah dinding utara barak pasukan khusus.
Saat Glagah Putih mulai menyerang Ki Wirya, saat barisan gugus tempurnya porak poranda, tiga orang cepat merayap naik dan dalam waktu sebentar saja sudah mencapai puncak dinding yang tersusun dari batang-batang kayu tinggi. Setiap batang tidak diikat oleh tambang, tapi disambung dengan pantek hingga saling mengunci, membentuk dinding pertahanan yang kukuh.
Di bawah dinding pertahanan itu, gelanggang Glagah Putih dan Ki Wirya kembali berguncang oleh benturan kekuatan sepenuhnya.
Sementara, orang-orang pilihan dari kedua belah pihak pun cepat terseret ke dalam pusaran pertempuran yang semakin sengit. Mereka seolah tidak lagi mempedulikan luka-luka kecil yang menghiasi tubuh masing-masing. Setiap orang bertempur dengan segenap kemampuan untuk membuka jalan bagi kawan-kawannya atau sekadar menahan lawan agar tidak memperoleh kesempatan bergerak.
Dalam waktu itu, pada pertarungan kedua kali, Ki Wirya sama sekali belum tampak mengendurkan tekanannya. Meskipun dalam hati dia merasa siasat menyusupkan tiga orang ke dalam barak berlangsung sesuai rencana, tapi dia juga harus tetap menjaga jalur untuk kembali. Tidak ada orang yang tahu siasat dari barak, apakah mereka begitu lemah hingga bisa kebobolan atau itu adalah kesengajaan?
Maka Ki Wirya pun tidak ingin memperlihatkan perubahan sedikit pun arus serangannya. Bahkan serangannya justru menjadi semakin rapat dan tajam sehingga mampu memaksa Glagah Putih terus bertahan di gelanggang itu. Dengan demikian, perhatian Glagah Putih dan orang-orangnya tetap terpusat pada pertempuran di bawah dinding, sementara tiga orang yang telah mencapai puncak pertahanan memperoleh kesempatan untuk melanjutkan tugas mereka tanpa banyak gangguan.
‘Dalam pada itu’, tiga orang yang telah mencapai puncak dinding tidak berhenti barang sekejap. Mereka segera meloloskan diri ke sisi dalam hingga lenyap dari pandangan orang-orang yang masih bertempur di luar barak.
Tidak lama kemudian, dari balik dinding barak pasukan khusus, pertahanan terdengar bunyi suitan pendek susul menyusul dengan satu lengkingan lebih panjang dengan nada tertentu.
Ki Wirya segera mengenali isyarat yang telah disepakati sebelumnya. Tanpa mengurangi tekanan terhadap Glagah Putih, dia seakan bertarung habis-habisan, seakan malam itu adalah malam terakhir baginya hidup di alam ini.
Serangan-serangan ganas Ki Wirya itu ternyata tidak benar-benar ditujukan untuk melumpuhkan Glagah Putih. Bahkan di balik setiap serangan, Ki Wirya meneriakkan aba-aba yang sulit dimengerti tapi perintah itu segera dijalankan oleh orang-orangnya.
Sebentar kemudian, anak buah Ki Wirya mengubah gelar perang menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Mereka saling menutup gerak kawan-kawannya–menjaga sekaligus melindungi sesama dari tekanan kubu Glagah Putih—sehingga dalam waktu singkat terbentuk barisan yang bergeser surut namun tetap kukuh.
Beberapa orang dari pasukan khusus berusaha memecah barisan Ki Wirya yang bergerak mundur, namun usaha mereka belum memperlihatkan hasil.
Glagah Putih menangkap arti bunyi suitan itu. Pengalamannya yang panjang dalam berbagai pertempuran membuatnya tidak memerlukan waktu untuk menebak maksud isyarat tersebut. Itu bukan aba-aba untuk menyerbu, melainkan perintah agar seluruh gugus tempur Ki Wirya segera melepaskan diri dari gelanggang.
Karena itu, Glagah Putih sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawannya. Serangannya bertambah deras, memaksa Ki Wirya mengerahkan hampir seluruh perhatiannya untuk bertahan. Setiap kali Ki Wirya mencoba bergeser atau membuka ruang agar dapat melindungi orang-orangnya yang sedang surut, Glagah Putih telah lebih dahulu memotong geraknya dengan pukulan dan tendangan yang datang bertubi-tubi.
Ki Wirya mulai merasakan maksud lawannya. Glagah Putih tidak berusaha menjatuhkannya dalam waktu singkat, tapi mengikatnya di gelanggang. Ki Wirya pun kehilangan kesempatan untuk mengatur sendiri gerak mundur anak buahnya atau turun tangan apabila barisan mereka tersendat oleh desakan pasukan khusus.
Ki Wirya pun akhirnya mencapai puncak ilmunya. Cukup cepat terjadi ketika hawa yang memancar dari setiap kibas tangannya berubah semakin tajam. Tenaga cadagan itu seakan membalut kedua lengannya seperti pedang atau bilah tajam yang tidak terlihat. Setiap kali ia mengayunkan tangan, tampak warna merah membara membungkus sepanjang lengannya. Warna itu memang tipis, tetapi memancarkan hawa yang demikian panas hingga udara di sekitarnya seolah turut terbakar.
Namun Glagah Putih tetap tenang. Murid Ki Jayaraga itu segera menyesuaikan perubahan yang dilakukan lawannya. Ilmu yang bersumber dari Panjer Bumi mengalir cepat dan kuat memenuhi setiap saluran tenaganya. Tidak tampak gejolak, tidak pula memancar hawa panas dari tubuhnya. Dan setiap kali lengannya bergerak menyongsong serangan Ki Wirya, cahaya merah yang membalut lengan lawannya seolah tersapu oleh kekuatan yang tidak berwujud. Kilatan merah itu berangsur memudar, sedangkan hawa panas yang semula menyengat perlahan-lahan tercerai-berai, lenyap bersama pusaran angin yang timbul dari benturan tenaga mereka.
Ki Wirya mengatupkan rahangnya. Beberapa kali dia berusaha meningkatkan lagi desakan ilmunya, tetapi setiap kali itu pula Glagah Putih menyambutnya dengan gerak yang sederhana, nyaris tanpa tenaga yang meledak-ledak.
Gerbang Timur Nyaris Roboh, Ugrasena menghadapi Ki Sanggabaya
Kening Ugrasena sedikit berkerut. Semula dia mengira Ki Rangga Sanggabaya akan memutar arah dan menyambutnya dalam perkelahian terbuka. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Senapati Mataram itu tetap melaju tanpa menoleh sekali pun.
Tapi justru arah lintasan Ki Sanggabayalah yang berubah.
Wakil dari Agung Sedayu ini memotong lintasan tepat di tengah-tengah setiap lingkar perkelahian orang-orang. Namun tidak selalu begitu, kadang-kadang Ki Sanggabaya memutar jalur. Tentu saja dia mempunyai tujuan dengan pergerakan acak dan dilakukan sangat cepat itu.
Sekejap kemudian Ugrasena memahami maksud lawannya.
Rupanya Ki Sanggabaya sedang mengarahkan tujuan tidak secara langsung. Dia memutar untuk mengecoh dan memecah perhatian Ugrasena. Benar, Ki Sanggabaya mengarahkan jalurnya menuju bagian gelanggang yang sudah direbut dan sedang dipertahankan oleh kelompok Ugrasena.
Ugrasena mengangguk dan mengerti bahwa Ki Sanggabaya sengaja tidak menerima tantangannya. Dia justru menyeret Ugrasena kembali ke tengah barisan penyerang yang dipimpinnya sendiri. Dengan demikian, setiap benturan yang terjadi di belakang langkah Ki Sanggabaya akan mengguncang susunan gelar Ugrasena. Orang-orangnya dipaksa membuka jalan bagi pemimpinnya sendiri, sementara pasukan khusus Mataram telah mengetahui gelagat itu sehingga segera menutup setiap celah yang muncul.
Ugrasena menggertakkan giginya. Kini dia berada dalam keadaan yang tidak sepenuhnya menguntungkan. Apabila terus mengejar Ki Sanggabaya, barisannya sendiri semakin tercerai-berai. Namun apabila menghentikan pengejaran, senapati Mataram itu pasti lebih leluasa mengendalikan gelar Gedong Minep yang perlahan-lahan mulai menyebar ke seluruh gelanggang.
Namun, selalu ada kejutan dalam setiap pertempuran.
Ki Panji Danutirta ternyata telah memperhitungkan kemungkinan seperti itu. Karena itulah Ugrasena tidak datang sebagai pemimpin tunggal. Di belakangnya masih ada Jatayu yang dipercaya menjadi senapati pendamping. Keadaan yang tidak disampaikan terbuka oleh Ki Panji Danutirta pada orang kepercayaan Ki Tumenggung Adiyasa tersebut.
Ketika Jatayu melihat Ugrasena memburu seseorang dari pasukan khusus, dia cepat mengambil alih kendali kelompok penyerang. Dan agaknya kecakapan ki Panji Danutirta ini tampak dari perintahnya pada Jatayu.
Anak muda ini sama sekali tidak bersuara untuk memberi perintah lanjutan. Dia hanya bergerak sambil tetap memberi tekanan pada prajurit Mataram. Meski begitu, setiap kali berada di dekat gugus tempur kelompoknya maka satu tanda diberikan. Lalu berikutnya adalah terjadi perubahan arah atau bentuk gelar di sela-sela benturan senjata.
Sekalipun Jatayu tidak memiliki penguasaan gelar perang sebaik Ugrasena tapi begitu patuh menjalankan perintah Ki Panji Danutirta. Jatayu ternyata juga tidak mencoba menyusun kembali seluruh barisan yang telah bergeser atau mengubah berdasarkan kehendaknya sendiri. Ditunjang naluri tempurnya yang tajam, dia pun dapat menyesuaikan perintah Ki Panji Danutirta untuk memanfaatkan setiap celah yang hendak dimanfaatkan pasukan khusus.
Setiap kali prajurit-prajurit Mataram bergerak merapat guna menutup ruang yang ditinggalkan Ugrasena, Jatayu atau satuan kecil lainnya segera menerjang bagian itu dengan serangan yang keras dan beruntun.
Akibatnya, usaha pasukan khusus untuk memutus hubungan antarkelompok penyerang tidak pernah dapat berlangsung sempurna. Celah yang hampir tertutup kembali terbuka, lalu tertutup lagi, kemudian terbuka sekali lagi oleh amukan Jatayu beserta orang-orang di sekitarnya.
Ki Rangga Sanggabaya sadar dengan perubahan yang berkembang itu. Walaupun pengejaran Ugrasena berhasil mengganggu susunan lawan, tapi kelompok penyerang belum kehilangan keseimbangannya. Kehadiran seorang lagi yang berusia muda membuat mereka tetap mampu bertahan sebagai satu kesatuan yang berbahaya.
Pada saat yang genting itu, perubahan yang sama sekali tidak diperhitungkan pun terjadi.
Seorang lelaki cermat mengamati setiap perkembangan. Begitu melihat Ki Rangga Sanggabaya bergerak di tengah gelanggang, seluruh perhatiannya langsung tertuju pada senapati Mataram itu. Saat mengetahui seorang lain sedang mengejar Ki Sanggabaya, lelaki masih berdiam diri sejenak.
Dari celah sempit di antara sisi timur dan selatan barak, tiba-tiba dia melesat deras menerobos gelanggang. Orang ini sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kedatangannya. Setiap prajurit yang mencoba menghadang langsung disingkirkan dengan pukulan atau tendangan yang keras.
Tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya, dia menerjang lurus dengan serangan yang mengandung seluruh luapan kemarahannya.
Perubahan itu membuat Ugrasena tertegun sesaat. Bahkan Jatayu yang sedang berusaha mempertahankan keseimbangan kelompoknya pun sempat menoleh dengan wajah berkerut. Kemunculan pendatang gelap, demikian tanggapan dalam pikiran mereka berdua, benar-benar di luar perhitungan!
- Pandan Wangi terkejut. Sepasang matanya segera mencari sumber suara. Ini bukan suara orang yang tidak berkemampuan, sebaliknya, ia cukup hebat membatasi gema suaranya. Begitu pun para penjaga regol yang merasakan jantung mereka serasa putus. Pucat wajah para pengawal. Mereka beringsut setapak mundur, setapak lagi lalu berhenti. Yang mereka rasakan adalah getaran ini adalah getaran yang sanggup melumat isi dada, sungguh! Sungguh, peristiwa mengejukan ini terjadi di Geger Alas Krapyak 11.
- Hujan, kabut dan lumpur tenyata tidak menghalangi Agung Sedayu memberi perintah pada pasukan khusus dan pengawal Menoreh untuk bergerak. Hari Bising 13 adalah surat perintah yang dikeluarkan olehnya untuk memulai langkah awal menggempur Raden Atmandaru di Gunung Kendil. Kita berangkat ke sana!.
- Jika rasa lelah menghampiri, ketika jiwani lemah menghadapi, silakan berjalan ke Tanah Perdikan Menoreh. Kita alirkan perasaan yang onar melalui Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh.
- Pala pandem, kacang rebus dan wedang kopi bisa dijadikan bekal. Mari, sertakan bekal terbaik melalui BCA 822 05 22297
- BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.
